Laman

Minggu, 13 Juli 2014

Grow Up

"Bibibibi balabalabala mama papa bweeek" kata anak bayi dan sederajat.

"Aku ingin segera SMP, pasti seru!" kata anak SD.

"Masa SMA itu katanya masa yang paling indah. Cepet deh ke SMA! Kya!" kata anak SMP.

"Sedikit lagi kuliah! Semangat! Yuhuuuuu" kata anak SMA.

"Bosan kuliaaaaaaaah! Mau kerja aja ya allah atau nikah aja deh nikah!" kata anak kuliahan.


Well, people is people.

------------------------------------------------------------------------------


sumber : google

Kalau kata orang bijak sih, ngga semua orang mengalami 'grow up', yang ada hanya 'bertambah tua'. Well, that does matter if we're speaking about mindset. Namun kali ini, literatur kita adalah buku biologi SD yang mana  jelas menakdirkan bahwa ciri-ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Well that's grow up. Kenapa mendadak topik ini muncul ke permukaan? Karena gue udah mau masuk tahun keempat di dunia perkuliahan. Tahun keempat. Tahun keempat. Ta-hun ke-em-pat... *liat cermin* *pecahin cerminnya*

Iya. Tahun keempat. Periode dimana halusinasi gambaran pelaminan secara ajaib sering muncul dalam benak kaum hawa, sedangkan golongan kaum adam pura-pura tidak mendengar. Periode yang merupakan saksi bisu bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. That is the most kampret fact so far. Capek loh. Ketemu, kenalan, deket, pisah, dadah-dadah. Ketemu lagi, kenalan lagi, pisah lagi, dadah-dadah lagi. Sebuah skenario yang luar biasa apik. Ya udah. Aku mah ngga apa-apa. Aku mah apa, hanya artis yang bertopang pada sutradara semesta bermodalkan gaji berupa oksigen yang menjalar lembut sepanjang aliran tubuh. Kita hanya bisa berperan dan bersyukur. Alhamdulillah belum waktunya dipecat sebagai artis.

Oke. Kembali ke topik. Grow Up.

Di usia gue yang sudah.... sudah begini, gue mulai kebayang gimana rasanya jadi orangtua kita dulu, om-tante kita, atau tetangga-tetangga kita yang lebih tua. Iya. Kebayang rasanya menjadi saksi mata atas  metamorfosisnya seorang bocah yang berkawan dengan popok menjadi pria tinggi berbadan tegap atau wanita anggun dewasa yang matanya meneduhkan seantero khatulistiwa. Gila. Entah akan berapa juta bayi yang gue saksikan metamorfosisnya (emangnya lo kerja di bidan dew sampai bisa liat jutaan bayi?).

Ngga usah jauh-jauh, gue bahkan melihat perubahan tetangga gue yang alamak luarbiasa. Namanya ipo. Nama tidak disamarkan. Sejak jamannya tamiya masih beken, gue sering main sama ipo dan liqo. Mereka itu tetangga di depan rumah gue. Lebih muda. Gue kayak cewek dewasa yang ngasuh bocah gitu deh. Masih TK kali ya mereka, gue juga lupa. Gue nya SD. Duh, pas masih bocah tuh ya lagi masa-masa nya 'uuuu lutuna anak mama uuuuu'. Kecil-kecil lagi mereka berdua badannya. Sekarang......... "Ipo, yuk jalan sama tante". HUAHAHAHA. Ganteng sob! Tinggi, suaranya udah baligh, cool cool gimana gitu huahaha. Beda banget sama pas bocah. Ya... alhamdulillah sih. Ngga kebayang kalau dia masih nangis kemana-mana bawa popok. Yassalam. Bagian menyedihkannya adalah mereka udah ngga bebas dimainin lagi :/ Bayi itu mainan terbaik. Huft!

Iya. Begitu pula yang kira-kira dirasakan orangtua kita.

Kalau saat kecil, kita masih punya waktu untuk bersorak sorai gembira menanti kepulangan ayah ibu kita dari kantor. Senyum mengembang sempurna di wajah kecil kita. Tulus. Kayak malaikat. Adenosin trifosfat pun ngga mampu menyaingi energi yang bisa kita kasih ke orangtua kita saat itu.

Perhatian.

Perhatian kita bercabang seiring tumbuh dan berkembang. Teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, teknologi baru.

"Ini semua karena teknologi yang semakin canggih nih! Yang dekat jadi jauh. Nempel mulu sama HP"

Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadget yang memanjakan kita - apalagi nyalahin koko koko penjual gadget. Kita lah yang memilih alat-alat itu untuk memenjarakan diri kita sendiri. Kita memilih. Karena tentu alat itu tidak bisa menghipnotis kita. Mereka mati, dan hanya yang bernyawalah yang bisa menentukan. 

Kita semakin lupa menyisakan waktu untuk sekedar mengobrol, memberi sapa, kabar, bertukar cerita, atau mengobrak-abrik mimpi bersama orangtua kita. Kemana dong waktunya? Ups. Maaf, si teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, dan teknologi baru udah nge booking duluan. Anda kurang beruntung. Cobalah sekali lagi.

............................................

"Mereka agak bawel. Kepo. Banyak nanya. Aduh males ceritanya. Malu ah"

Lah? Emang temen ngga kepo? Emang mereka ngga banyak nanya? Lah kalau ada yang udah bersedia dengerin kita selama 24 jam, ngapain nyari orang lain buat curhat yang bisa aja sebenarnya mereka lebih suka dengerin rongrongan serigala jam 12 malem ketimbang dengerin kita curhat mulu.

Semakin lama. Semakin jauh. Banyak ruang yang kita tutup pintunya buat orangtua. Banyak gembok yang kuncinya telah kita simpan rapat dalam usus dua belas jari. Jarak terbentang. Kita di indonesia, orangtua jauh melebar menuju kutub utara. Dingin. Kira-kira begitu rasanya. Mereka juga sedih, kita bukanlah lagi mainan kesayangan mereka dulu. Bukanlah lagi malaikat kecil mereka yang pasti ada di balik pintu sambil mengintip nakal ibu dan ayahnya yang baru pulang kerja. Kita bukanlah lagi... orang yang memprioritaskan mereka. 

"Hey! Gue selalu berdoa kok buat mereka! Gue sayang sama mereka! Gue juga kadang telepon-teleponan sama orangtua gue"

Alhamdulillah. Anak yang berbakti :) 

Semoga ngga cuma selesai di doa ya. Karena mau bagaimana pun juga, manusia ngga tau kalau mereka didoain. Ngga ada notificationnya soalnya kalau abis tiap didoain. Gebetan sekali ngga ngasih kabar aja sedih. Gebetan lebih asik sama temennya aja sedih. Gebetan jarang ngobrol sama kita... "udah ah cari gebetan yang lain aja! Bete!".

Gimana tuh kalau orangtua kita yang bilang gitu? "Udah ah cari anak yang lain aja! Bete!"

Talk less do more kalau kata iklan rokok mah.

Aksi dong. Tunjukin perhatian kalian. Joget-joget kek gitu di depan orangtua biar interaktif *yakali*

Orangtua juga manusia biasa. Bahkan semakin tua, kita semakin ingin diperhatikan loh. Mungkin karena tingkat ke insecure-an melonjak naik. Merasa tua, jelek dan lemah. Mereka mulai takut apakah orang-orang terdekat mereka masih sayang sama mereka atau tidak. Pola pikir normal manusia yang sudah lanjut usia. Nanti gue juga bakalan gitu. Pasti. Kecuali kalau Allah punya skenario lain untuk hidup gue. Ya........ semoga sih masih bisa sempat lihat anak gue menikah kelak hehe.

Buat laki-laki nih, terkhusus laki-laki...

Sering makhluk yang bernama laki-laki ini menyepelekan komunikasi dan  jarang mengobrol basa basi dengan orangtua. Mereka ingin sekali mengobrol sama kita loh. Ingin sekali. Gimana sih ya, "Nanti kalau kalian udah punya anak pasti mengerti dan merasakan". Kira-kira itu yang mama gue selalu bilang. Gue jadi takut. 

So? Daripada kalian buang-buang SMS "lagi apa? sudah makan belum?" untuk makhluk yang ngga jelas kehalalannya buat kalian, dan belum tentu juga bakalan gembira nerima pesan kalian, mending kirim ke orangtua kalian. Hehe. Insya allah kalau ada lebih, kalian bisa dapet bonus uang jajan :p

Oh, postingan ini bukan tertuju khusus untuk kalian. Males amat bikin postingan panjang-panjang cuma buat kalian. Hih *kibas kerudung*

Postingan ini buat perempuan yang lagi nulis postingan ini. Biar sadar. Biar bisa gerakin badannya. Buang HP nya. Buka mulutnya. Lebih terbuka sama mama ayah. Lebih sering nangis bareng mama ayah. Lebih sering break dance sama mama ayah.... Ya pokoknya gitu. Sadar dong. Jangan sampai kamu disadarinnya sama air mata.


*PS 
Makasih buat ayah yang ngga pernah absen buat ngambilin permen FOX kesukaan gue tiap naik pesawat garuda. Gue cuma nyebut sekali aja kalau gue suka permen itu. Itu pun pas jaman friendster masih keren. Beliau selalu dan selalu bawa permennya. Selalu. Dengan muka bahagia beliau mengulurkan tangan "ini permen dewi". Dan gue nangis diem-diem. He is the most lovable man ever. Gue ngga akan pernah ngerasa lebih jatuh cinta lagi ke pria manapun selain ayah. Semoga imam gue kelak juga bisa bikin anak gue jatuh cinta.  Buat mama, yang udah ngga keitung lagi berapa banyak pengorbanannya. Mama yang kuat. Mama yang semakin lama semakin menua tapi masih aja sering gue bully. Mama yang ngga pernah marah walau kita ledekin. Terkadang kita suka kelewatan dan berujung dengan air mata *nyengir*  Mama yang ngga akan pernah bisa gue saingi pesonanya. Mama yang selalu gue kecewakan. Oke, ini terlalu panjang untuk sebuah pesan tambahan. Mata gue pun basah. Dadah semuanya.

Let's grow up. Yey. 

Tidak ada komentar: