Laman

Selasa, 25 April 2017

Tonight's flow

Assalamu'alaikum! Halooo! Anyeong! Konbanwa! Gute nacht!

Ceritanya gue sedang rindu menceritakan hal-hal remeh mengenai aktivitas gue hehehe. Izinkan kali ini gue bercerita panjang lebar dan saling kait mengait seperti jaring laba-laba. 

Jika kalian bertanya "apa ada hal spesial yang terjadi malam ini?". Gue akan jawab, "setiap hari adalah spesial". Gue yakin itu terdengar sebagai omong kosong belaka haha. Dan gue tidak akan menyalahkan kalian jika interpretasi itu yang ada di dalam kepala kalian. I'm okay. Yet, i really mean it.

Kelebihannya hari ini adalah gue merindu pada spontanitas dan kerajinan diri gue menulis di zaman dulu (wah tua sekali rasanya saya sekarang ya *periksa ada uban apa engga*).  Ah, gue harap kalian selalu dalam keadaan berbahagia. Mari baca sedikit kebahagiaan versi saya. Kalau belum ada waktu, bisa dicoba lain hari. Santai, in sya Allah jika diberi waktu, kita bertemu lagi.


PILOXING

Sebenarnya gue awalnya ngga ingin bercerita soal aktivitas yang mulai gue coba tekuni sejak awal tahun 2017 ini, takut ngga konsisten hahaha Yap, aktivitas rutin berolahraga. Wah, ini bukan hal yang mudah untuk gue yang lebih memilih menjadi suporter di bangku penonton tiap ada kompetisi olahraga kampus atau yang berolahraga hanya bila mendapat nilai. Kalau boleh jujur, dari lubuk hati yang terdalam, gue bersyukur mengalami peningkatan berat badan. Banyak yang bisa gue ambil hikmahnya : bahwa tubuh gue perlu diperhatikan dan orang-orang tak akan pernah bisa kita puaskan secara bersamaan. 

Teman gue pernah bertanya begini "Ikutan olahraga kayak gitu bukannya ngga bikin tambah kurus ya?". Sepertinya gue bilang saat itu bahwa ya bukan kurus kok tujuan utama nya. Lalu dia dan nada sinisnya (wkwk) menjawab ulang "Yakin? Jujur lah, ngga usah munafik. Pasti mau kan berat badannya turun?". Gue diam sambil merespon pelan dan tak percaya diri "Ya... mau sih". 

Sekarang, setelah gue berpikir ulang, izinkan gue klarifikasi. Kalau ditanya "apakah gue mau berat badan gue menurun?" Oh tentu saja mau. Mengapa tidak? Ya kan? Namun, yang gue lupa tekankan saat itu adalah tetap saja, jujur, bukan itu yang gue benar-benar inginkan. Gue ingin badan gue kuat. Gue ingin otot gue terbentuk agar tidak kendor dimana-mana. Ya, ngga usah berotot-otot amat kayak atlet angkat besi juga ya. Gue ingin merasa.. kencang? Haha. Dan kedua, gue ingin menantang diri gue sendiri untuk berubah. Gue ingin benar-benar peduli pada kesehatan dan kekuatan tubuh gue. Itu! *menunjuk ke arah penonton* Kurus? Bonus~ Hahaha.

Oh soal pernyataan "orang-orang tak akan pernah bisa kita puaskan secara bersamaan", itu maksudnya adalah setiap orang punya selera masing-masing. Seriously, ada yang bilang badan gue bagus pas berisi begini, di sisi lain ada juga yang menyarankan (dengan keras) untuk menurunkan berat badan, sementara di sisi seberang ada juga yang ngga peduli dan ngga membahas (terima kasih Tuhan telah melahirkan orang tipe yang ketiga hahaha). Jadi? Gue akan mengurus badan gue sesuai dengan yang gue harapkan karena gue lah yang dititipkan tubuh ini oleh Allah. Yeah, swag.

Ngomong-ngomong... ITU BARU PARAGRAF PEMBUKA LOH HAHAHA

Gue mau bercerita tentang olahraga piloxing yang gue alami malam ini padahal hehehe. Yaudah, gue persingkat deh wk. Sebelumnya gue pernah mengikuti piloxing sekali, dan..... banyak duduknya. Gue kabur. Hahaha. Pegal pakbos! Piloxing di tempat gue itu ya gabungan boxing, pilates dan dance katanya. Sebenarnya kalau gue pikirkan baik-baik, gerakannya biasa aja. Sederhana. Tapi kok ya pas gue praktekin rasanya badan ini menjadi lunglai tak berdaya. Kelamaan dimanja sih badannya. Peserta lain ada yang tumbang bersama gue, namun lebih banyak yang bertahan. Nah, itu pengalaman pertama gue. Malam ini adalah pengalaman kedua. Gue sempat ragu, cuma berhubung gue baru saja membuat dosa di siang hari (makan 4 potong pizza meat lovers pinggiran sosis ukuran medium yang ternyata sangat memenuhi rongga perut gue) dan bolos yoga di pagi hari, akhirnya gue menguatkan niat untuk piloxing. Oh anyway, gue itu olahraganya suka beda-beda, kadang yoga, kadang zumba, sekarang lagi coba piloxing. Ya, mumpung paketnya bisa milih jenis olahraga sesuka hati ya mengapa tidak kan, sahabat super.



Gue datang lebih awal di saat yang lain belum tiba. Gue mengitari ruangan yang berisi hiasan pajangan kata-kata motivasi untuk berolahraga. Salah satunya adalah foto yang gue pampang di atas. Gue merenung cukup lama pada pajangan ini hingga secara tidak sadar ternyata kalimat ini meresap begitu dalam masuk ke kulit hingga aliran darah (oke, suka-suka lo). Interpretasi kalimat ini buat gue adalah : Kaki lo ngga capek woy, otak lo aja yang kasih instruksi buat menyerah. Dasar labu siam kaleng! Lembek!

Nah, dengan semangat itu gue memulai piloxing yang alhamdulillah berakhir tidak selemah sesi pertama. Yey! Kali ini gue coba menerapkan cara bernapasnya yang pada pertemuan sebelumnya tidak gue ketahui. Beda ternyata cara bernapasnya sama yoga *nyengir. Dan tak lupa, sambil dihantui kalimat petuah dari pajangan itu, gue berusaha sekuat tenaga untuk tidak manja. Sesekali gue berhenti sebentar atau mengendurkan tenaga gue, namun gue merasa lebih puas di sesi ini daripada sebelumnya. Progress yes.

"Pas pertama kali piloxing kamu banyak istirahatnya ya, sekarang udah lebih bagus" kata mbak-mbak instruktor manis yang terlihat lebih muda dari gue (atau seumuran tapi gue nya aja yang agak boros wk hiks).

Wah gue senang dia mengingat gue, plus gue jadi lebih merasa semangat karena dihargai prosesnya. Jadi maloe. Unch. Apakah gue akan lanjut piloxing lagi? Lihat saja nanti bung hahaha.


BIG BANG - WINNER

Tepat setelah gue selesai pulang dari piloxing, sahabat gue tersayang yang sedang sibuk-sibuknya mengamati tren Kpop menawarkan gue untuk menonton suatu variety show yang ada bigbang nya. Oh, gue juga sukses diracuni bigbang olehnya. Terima kasih kupanjatkan, wahai sahabat sejati (lafalkan menggunakan nada meledek). Variety show kali ini tentang sekelompok trainee dari YG entertainment yang sedang memperebutkan posisi debut. And I was like "wow.... life is tough". Dan gue sangat salut pada agensi korea yang betul-betul memoles talent nya sebening dan seberkualitas mungkin sebelum diluncurkan ke publik. Ditempa selama bertahun-tahun..... gila sih. Udah gitu sebelum bisa debut, harus bertarung dulu dengan sesama trainee lain. Gila sih. Luar biasa!

Oh bigbang sebagai juri kok by the way haha. Winner adalah salah satu tim yang sedang dievaluasi di variety show itu. Sahabat gue tersayang ini sedang jatuh-jatuhnya sama Winner jadi doi kini hobi mengulik segala macam sejarah hidup Winner haha.

Melalui segala obrolan kpop ini, gue percaya bahwa memang sifat kerja keras dan pantang menyerah itu selalu penting. Dimanapun, kapan pun, apapun ceritanya. Pastikan berjuang di jalan yang benar yah hehe. Benar menurut apa? Kalau gue sih masih pakai acuan agama, ngga tau yang lain. Dan satu hal lagi, perasaan manusia benar mudah sekali dibolak-balikkan hahaha.

Rasanya kemarin gue dan sahabat gue ini hanya tau nama TOP, tanpa tau bahwa dia adalah anggota bigbang. Perlahan mengetahui anggota yang lain lalu kemudian menjadi suka pada satu kesatuan bigbang. Oh, sejak dulu (SMA), gue mengakui lagu mereka enak didengar sih, cuma gue ngga pernah lihat muka anggota bigbang sebelumnya. 

Rasanya kemarin gue dan sahabat gue cuma membahas winner sebagai lelucon untuk seungri. Perlahan, sahabat terniat jika ingin ini pun kecantol dan menjadi inner circle (sebutan fans winner). Kali ini, gue hanya menyemangati saja di sisi seberang. Gue tidak ikutan haha. 

Rasanya.. akan lebih banyak lagi yang berubah untuk ke depannya. Semoga untuk hal yang lebih baik.

Dear sahabat, jangan lama-lama fan girling nya, diurus itu ya proyek minuman coklat nya hahaha. Aku mendoakanmu selalu.


CITA-CITA


Ini adalah chat ter-halu yang gue dapet malam ini. Hahaha. Gue? Mau jadi guru? Wah. Luar biasa. Entah beliau sedang mabuk skripsi atau emang ingatannya lagi kecampur-campur bareng cendol. Gue tidak pernah menyatakan keinginan gue sebagai guru kecuali saat gue masih duduk di bangku SD. Itu pun tak bertahan selama sehari dan segera berubah menjadi "aku mau jadi dokter". Sungguh tak setia.

Lucu sekali. Gue jadi tertawa. Gue merasa profesi guru itu adalah pekerjaan yang... sangat berat. Untuk itu gue tidak merasa ingin melakukannya haha. Gue akan memulai menjadi guru untuk diri gue sendiri dulu dan anak-anak gue nanti. Kalau untuk anak orang lain.... gue pertimbangkan lain kali yah. Siapatau kelak gue punya keberanian dan ilmu yang berlebih, in sya Allah tidak ada yang tidak mungkin hehe. 


Ah ngomong-ngomong, ini adalah foto yang teman gue bilang cakep dan tidak berdosa. Itu gue. Sekian dan terima kasih. Silahkan pergi saja buat kalian yang tidak percaya. Enyah lah dari dunia Dewi! Hahaha.


Wah! Sudah tiba akhirnya di penghujung tulisan. Bahagia sekali rasanya menulis acak begini. Hehe. Berhubung lagi bicara tentang menulis, ada satu kalimat Raditya Dika yang entah mengapa selalu menempel di kepala "Cara untuk menulis yang bagus adalah dengan menjadi jujur pada tulisan lo". Wah, sederhana tapi merdu.

Begitulah. Gue ngga bisa bilang tulisan gue ini bagus atau tidak, tapi gue coba menyuguhkan kejujuran dalam setiap kata. Pada akhirnya, yang menyukai akan tetap bertahan membaca, dan yang tidak sesuai dengan seleranya akan pergi tanpa disuruh. Berlaku untuk segala situasi. Hehe.


Oke. Sekian dan gue akan pamit undur diri. Terima kasih! Selamat berbahagia! Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


Rabu, 19 April 2017

Bila sejarah divisualisasikan

Rabu 19 April 2017


KARTINI

Kali ini gue tidak akan menulis terlalu banyak review. Pun tak perlu membahas akting para pemeran karena memang mayoritas semuanya adalah aktor artis veteran. Siapalah gue ini untuk membahas kemampuan mereka hahaha. Permainan apik dan penekanan emosi yang pas tentu mereka ciptakan dengan brilian.

Gue cukup terpuaskan dan terserap pada keseluruhan cerita film ini. Saat sejarah divisualisasikan... mungkin tidak semua elemen bisa disampaikan terperinci dalam sebuah film berdurasi kurang lebih 120 menit. Namun menurut gue ini merupakan media pembelajaran yang menyenangkan. Setidaknya penonton bisa menerima inti pesan yang disampaikan pejuang dahulu melalui akting cerdas para pemeran. Harapannya minimal penonton Indonesia bisa membawa pulang bekal rasa semangat nasionalisme itu atau lebih bagus lagi jika mereka turut serta membungkus rasa ingin tahu lebih mengenai kehidupan para pahlawan yang diharapkan bisa memacu motivasi generasi muda untuk menjadi lebih baik. 

Apapun itu, film berkonten mendidik dan penuh makna tentu harus dibudidayakan kan? Hehe I'm happy :)

Sekilas cuplikan dialog...

"Apa yang sudah kamu pelajari dari aksara londo tersebut Ni?"

"Kebebasan"

"Apa yang tidak kamu pelajari dari aksara londo itu?"

"... Ni tidak tahu bu"

"Bakti, nak. Bakti"




P.S. Hanya satu orang yang mendistraksi gue di film ini : mas Dwi Sasono. Ya ampun, karakter mas Adi terlalu melekat di relung sukma gue. Sepertinya, dengan sangat menyesal, gue tidak akan pernah bisa melihat beliau sebagai mas Dwi Sasono lagi, tapi mas Adi :(

Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 18 April 2017

Malam panjang atau terakhir?

Minggu 9 April 2017


NIGHT BUS

Singkat cerita film ini mengisahkan perjalanan sekelompok massa menuju daerah rawan konflik. Dipercaya bahwa konflik antara warga dan aparat timbul dikarenakan adanya gerakan separatis di daerah Sampar. Namun apa benar sesederhana itu?

Gue pribadi menyukai ide cerita nya. Sederhana, namun banyak yang bisa terjadi dalam perjalanan satu malam. Pengangkatan isu konflik di suatu daerah juga merupakan poin spesial. Belum banyak yang menyoroti fenomena ini walau sebenarnya mungkin sudah banyak kejadian mengerikan di daerah merah yang tidak terekspos. Pada akhirnya semua harus paham bahwa tidak ada hal baik yang terjadi dari suatu perpecahan.

Sepanjang film gue berpikir "Jelek sekali bus ini ya". Mau bagaimana, penampilan bus ini memang dekil wk. Oke, itu tidak terlalu penting. Justru semakin memperlihatkan bahwa bus ini merupakan bus veteran yang sudah sering beroperasi hehe.

Pemeran favorit gue di film ini adalah yang menjadi kenek bus. Man, he is so natural. Lol. Benar-benar selayaknya abang-abang kenek. Centil selama ada kesempatan, konyol, jagoan, tempramental, gentle jugak, dan memiliki preferensi lagu melayu atau dangdut. Digoyang mang digoyang~ Ah satu lagi poin tambahan detail yang menurut gue bagus : abang kenek ini tidak bisa membaca. Terasa lebih nyata dan masuk akal. Terlebih, karakter abang kenek ini adalah karakter anak terlantar yang akhirnya diasuh oleh sang sopir. Melihat background kehidupannya yang hanya berkutat dengan bus dan trayek daerah pedesaan, wajar saja tak ada waktu belajar. Bertahan hidup hingga besok saja sudah bahagia. Jadi entah mengapa gue suka detail itu hehehe. Setelah abang kenek, gue akan mengambil peran om tio pakusadewo dan om toro margen sebagai peran yang gue suka. Mereka berdua sukses menjadi orang yang sangat menyebalkan. Sangat. Hahaha. Pada dasarnya masing-masing pemerannya udah oke kok. Anyway pemeran sang nenek dan cucunya cantik dua-duanya euy. Cantik elegan. Gue suka banget muka neneknya.Walau gue sempat agak kesel ke nenek ini di tengah-tengah karena agak sok fearless gitu. Ditembak aja nek. Duar. Berpisah nanti sama burung kakak tua nek. Huh. 

Oh, film ini didukung oleh CGI juga. Gue agak belum terbiasa menikmati suguhan CGI (ekstrem) di film Indonesia. Jadi agak terkaget sedikit. Ada beberapa adegan yang terasa sekali sentuhan CGI nya, ada juga yang lolos sensor. Jujur, gue masih menikmati film ini walau terkadang ada sentuhan CGI yang gue harapkan tidak perlu ada di dalam film itu wkwk. Lumayan tricky memang penerapan efek dalam film. Namun senang rasanya jika semakin banyak yang berani memainkan efek-efek lebih ekstrem lagi di film-film Indonesia berikutnya. Semoga semakin rapi, berkembang dan berjaya~ Yey~

Segi cerita.. Mengalir lembut seperti air jernih di pegunungan. Lumayan memerangkap gue di bangku bioskop sambil deg-degan membayangkan "Ya Allah, ada apa lagi abis ini? ADA APA LAGI?! DAMN!".  Begitulah, Ada satu pertanyaan "kenapa" yang belum terjawab dengan lugas sesungguhnya. Namun gue bisa sedikit berkompromi dan mengarang alasannya sendiri sehingga gue tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Gue pun suka cara pengantaran secarik pesan penting untuk yang dituju di Sampar. Ada elemen surprise nya, walau tidak sebanyak yang gue harapkan. Terpenting, pesan yang ingin diucapkan di film  ini berbobot. 

Buat gue ada dua yang utama : Satu, perpecahan tak pernah melahirkan solusi, yang terpenting adalah keamanan. Dua, setan tidak hanya berada di antara dua orang yang sedang dimabuk asmara, namun juga di antara dua kubu yang terlibat dalam pertikaian. Katakanlah, setan yang berwujud manusia. Sebut saja nama lainnya yang lebih komersil, provokator. Begitulah. 

Oh gue lupa, ada satu lagi pesan utama yang menjadi tagline film ini : conflict doesn't choose its victims.


Totally agree. Totally scary.

Ah salah satu hal yang bisa diperbaiki untuk peningkatan mutu berikutnya adalah : suara pemain. Ada beberapa adegan yang menenggelamkan suara pemainnya. Hilang, sirna, pudar. Bahkan, pada adegan-adegan genting, semisal percakapan antara pak sopir dan laki-laki misterius. Itu sungguh mengganggu. Gaya bicara pemain yang tersengal-sengal dilengkapi nada suara yang rendah menyempurnakan ketidak jelasan artikulasi dan kata-kata yang ia lafalkan. Modyar sudah penonton dengan taraf penangkapan suara tak terlampau tinggi seperti gue ini.

Buat kalian yang ngga terlalu suka melihat kekerasan, hm, mungkin nonton nya yang lain aja. Atau, nonton bareng temen kamu yang hobi melawak, biar jadi ngga serius-serius amat ehe ehe ehehe. Overall, it was an exciting movie. Oh, anyway, selamat datang pada tren film menggantung. Hahahaha.


Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.