Laman

Kamis, 29 Desember 2016

Desember ceria (part 1)

Jumat 9 Desember 2016


BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA 2

Halo. Aca dan abimana kembali hadir pada sekuel bulan terbelah di langit amerika yang kedua. Setelah membahas 'akankah dunia lebih baik tanpa islam?' di film pertamanya, kini bulan terbelah part 2 (mari kita singkat judulnya, karena terlalu panjang. yeu) mengangkat tema 'apakah muslim penemu amerika?'

Topik yang menarik bukan? Apa filmnya semenarik tag line nya?

Dari segi pemain, gue tidak merasa ada masalah sama sekali di film ini. Akting semua peran sama bagusnya, meyakinkan. Gue suka gaya boy william di sini by the way, tengil gitu, tapi menurut gue pas dengan karakter perannya. Kalau di film sebelumnya sempat ada masalah (menurut gue) di bagian crowd, kini di film ini tak ada lagi masalah itu. Crowd nya cukup dan pas sesuai skenario.

Mari masuk ke bagian cerita. Bulan terbelah part 2 kembali mencampurkan sub cerita yang lain selain menu utamanya (kisah hanum dan tugasnya mencari berita mengenai penemu amerika). Sub ceritanya ada dua, yaitu kisah asmara stefan dan hubungan antara azima dengan ibunya.

Sayang sekali, film ini kurang berhasil dalam menggarap cerita yang menjadi menu utamanya. Sangat dangkal dan tanpa simpulan yang memuaskan. Gue hanya bisa terbengong dan menggumam saat melihat film nya sudah selesai "Oh? Udah selesai?". Sayang, padahal dari segi visual, akting, audio maupun instrumen pendukung lain nya udah oke. Namun kontennya dangkal sekali. Sedih. Gitu deh. Paling penting adalah : gue merasa pertanyaan 'apakah muslim penemu amerika' belum terjawab.

Sub cerita nya lumayan membantu film ini agar terlihat masih menarik. Stefan menggemaskan. Anaknya azima cantik sekali #salahfokus.

Ya, apapun filmnya, penting untuk memastikan bahwa pesannya sampai ke penonton. Be.. Begitulah (ngga tau lagi ngomong apa sebenernya wkwk).


Minggu 11 Desember 2016


HEADSHOT

Ini film iko uwais pertama yang pernah gue tonton. Banyak yang memuji beliau, gue jadi penasaran seperti apa sepak terjangnya. Film ini menggunakan alur campuran ya, banyak flash back nya. Gue suka film yang alurnya maju-mundur begini, entah bagaimana terlihat lebih berseni haha. Pemain-pemainnya menarik. Gue ingin memuji julie estelle pertama kali. Dia sangat terlihat seksi, eh, keren maksudnya hahaha. Eh serius deh, julie estelle ini keren sekali. Beneran kayak kriminal bule yang cantik tapi berbahaya. Untuk iko uwais... akting berantemnya memang dahsyat. Doi memang cocok sekali kalau jadi peran yang banyak berantemnya begini dengan gaya kaku dan cool. Chelsea islan? Bagus bagus bagus. Ng.. gue agak terganggu dengan pemeran lee. Bukan, bukan karena aktingnya jelek kok, bukan. Gue hanya sedikit kaget dengan suaranya. Suaranya agak lebih tinggi dari yang gue harapkan. Ini hanya stereotipe di kepala gue sih. Menurut gue, kepala mafia itu harus punya suara yang berat dan dalam. Hahaha. 

Beberapa teman gue ada yang nanya ke gue "Gimana cerita headshot?". Lalu gue biasanya akan jawab sambil berpose mengangkat senjata "Ini akan merangkum segalanya. Dor dor dor dor dorrrrrr dorrrr dooorrrrr". Pfff. Ya, kurang lebih begitulah ceritanya. Tentang dunia mafia dan seseorang yang ingin keluar dari dunia itu. Sepanjang film, gue agak mengkritik beberapa hal. Well, sebenarnya gue hanya ingin menganggu aniki yang nonton bersama gue saat itu (hey ini film kedua gue dan aniki! yay!). 

Hal-hal tersebut antara lain :

1. Bus yang dinaiki chelsea islan konon (katakanlah, dari kota X) akan pergi ke arah jakarta. Kemudian, iko uwais mengejar bus tersebut karena curiga telah terjadi sesuatu (iko datang dari kota X). Pertanyaan : kenapa arah datang iko berlawanan dengan arah datang bus? Harusnya sama dong. Justru iko datang dari arah jakarta. Sungguh, terlalu.

2. Iko dikunci di dalam bus yang penuh api membara. Iko terlihat panik karena tidak ada jalan keluar. Gue cuma penasaran sih, emang jendela bus nya gabisa dibuka ya? Hm. Kecil sih jendelanya. Mungkin itu alasannya mas iko lebih memilih menghancurkan kaca belakang bus dengan cara yang jantan, heroik dan dramatis. 

3. Dua orang bersenjata dikirim untuk melumpuhkan iko. Salah satu orang pergi (kalau gasalah karena lampu mendadak padam dan dia mau menyalakannya atau karena apapun alasannya yang sudah gue lupakan, salah satu dari mereka pokoknya pergi dulu) dan membiarkan satu temannya (yang tentunya bersenjata) menangani iko (yang tanpa senjata). Teman ini dan iko sudah bergelut dengan menghabiskan waktu yang begitu lama. Tapi, KEMANA YANG SATU LAGI? KOK NGGA BALIK BALIK?

4. Akhirnya salah satu orang yang tadi pergi telah kembali, setelah temannya mati. Bagus. Setidaknya masih ada satu orang lain bersenjata yang bisa menghabisi iko.  Namun apa yang terjadi bung? Orang itu melempar senjatanya ke lantai dan membiarkan pertempuran antara dirinya dan iko sama-sama bertangan kosong. WHAT? SERIOUSLY DUDE? Baiklah, hanya ada beberapa pilihan penjelasan atas apa yang terjadi di sini : a) sebagai seorang petarung, dia sangat gentle karena tidak menginginkan pertandingan yang tak seimbang; atau b) sebagai seorang individu, dia sangat arogan karena berpikir pasti bisa menaklukkan iko walau tanpa senjata; atau c) sebagai seorang bawahan yang diberi tugas oleh bos nya untuk menangkap seseorang, dia sangat bodoh.

Kira-kira begitu. Eh anyway, walau gue mengkritik hal-hal di atas, gue sangat menikmati film ini kok. Kebetulan, gue memang suka adegan berantem hehe. Dan untungnya, memang koreografi berantem mereka sangat bagus dan indah untuk dinikmati. Efek slow motion pada gerakan tertentunya juga cerdas, membuat gerakan menjadi lebih dramatis. Sukak! Adegan julie dan iko di pantai juga indah! Engga.. mereka ngga bergenggaman tangan sambil bertatapan dengan latar matahari terbenam di lautan kok. Mereka berantem dan ada selipan scene masa lalunya gitu hehe Selain adegan bela diri nya yang aduhai, latar tempatnya juga bagus, dapet gitu feel nya. Markas nya, sumur nya, suka :)

In simply, cerita nya ngga terlalu ribet sih. Kalau kamu bukan penikmat adegan berantem.... mungkin bisa cari tontonan yang lain saja. Kalau kamu penikmat iko uwais atau chelsea islan, segera tonton film ini sebelum turun layar hahah :p 

Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 25 November 2016

Malaikat juga tahu siapa yang bukan malaikat

Jumat 25 November 2016


RUMAH MALAIKAT

Pujian pertama, poster film ini menarik. Auranya sudah dibangun dengan baik melalui poster. Rumah malaikat terdengar mencurigakan sekaligus cukup mengundang untuk ditonton. Pujian kedua, pemilihan judulnya sangat indah. Kombinasi antara poster beraura penuh kejanggalan dengan judul film yang kontras membuat gue yakin "Pasti thriller. Gue akan menonton film ini". Gue sudah sebulat itu tekadnya walau belum membaca sinopsis ceritanya. Dan menunggu kedatangan film ini... kalau tidak salah, sudah sejak beberapa bulan belakangan. Itulah bagaimana poster dan judul film yang tepat bisa bekerja secara efektif dalam melakukan persuasi terhadap audiens. Sudah keliatan sok belum gue? Bagos. Wkwk.

Mari kita bahas segi pemainnya. Oh gue sangat suka ibu panti asuhannya. Aura elegan, berkelas dan otoriternya terpancar di balik gulungan rapi rambut, air wajah dan bahasa tubuhnya. Asisten sang ibu panti, sebaliknya memiliki aura dingin dan tegas yang mutlak dimiliki oleh kebanyakan karakter tangan kanan. Gue juga suka asisten ini, muka dinginnya minta dikasih jeruk sama air kelapa. Segar. Pada dasarnya, gue merasa semua pemain di film ini bermain dengan sangat baik. Bahkan di adegan berteriak yang biasanya sangat riskan pun terlalui dengan memuaskan. Anak-anak panti asuhannya juga bagus-bagus. Ada yang didesain lucu - dan sungguh benar lucu, ada pula yang didesain menyebalkan laksana bos bandit kecil - dan muka tengil sok berkuasanya mendukung. Jangan lupakan pemeran utama, kak Alex, mahasiswi yang menawarkan dirinya untuk menjadi pengasuh sementara di panti asuhan itu. Gue suka tiap gerakan perempuan ini. Memenuhi standar artis yang baik lah. Kayak apa tuh standar artis / aktor yang baik? Aktingnya membuat gue percaya #serahlodew. Satu lagi, karakter yang pasti paling lelah di antara pemain yang lain, Ario. Ario ini tukang kebun di panti asuhan tersebut dan memiliki keterbelakangan mental. Gue sangat menikmati bagaimana pemeran Ario ini mematah-matahkan gerakan kepalanya agar terlihat terbelakang. Menurut gue, setiap karakter di film ini telah dimasukkan ke dalam tubuh yang tepat.    

Mari beralih ke latar tempat. Pujian ke sekian kalinya, lokasi panti asuhan ini sangatlah apik. Desain panti asuhan yang klasik dan tua mendukung suasana tegang dalam film. Pintu dan jendela bergaya tua ala rumah belanda menumbuhkan kesan misterius lebih mendalam. So? Ya gue suka pemilihan latar tempatnya.

Sekarang kemana kita? Masuk ke cerita kah? Baik, silahkan masuk *buka pintu*

Billy christian (author and director of this movie) is insane. That's all. Thankyou. Good bye and see you #slapped

Bercanda... walau setengah serius. Gue suka bagaimana mas Billy ini menebar banyak tanda tanya dan menyiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang ada. Kekurangan beberapa film horor adalah saat begitu banyak tanya yang sudah beterbangan di dalam kepala, namun hanya segelintir yang terjawab. Itu menyebalkan. Bahkan suatu kejadian yang tadinya tidak gue jadikan sebuah "kenapa", ternyata memiliki "karena". He is that considerate. I'm so touched *sob* Gue rasa mas Billy ini penganut ideologi "ada aksi, ada reaksi" atau "tak ada asap, bila tak ada api". Gue juga ngga tau lagi ngomong apa, tapi biarkanlah gue begini. Film ini menjadi tegang karena ada ketidak beresan yang pasti terjadi tapi belum diketahui. Film ini berhasil membuat gue... terdiam... dan mual. Wkwkwk. Sebenarnya perasaan gue agak tidak bisa dideskripsikan. Ngga ada adegan menggelikan kok, gue cuma mual tanpa alasan aja. Lalu gue juga setuju bagaimana mas Billy menggambarkan roh penasaran di film ini. Tidak mengerikan sama sekali. Tidak perlu mengerikan, karena yang diperlukan hanya "kenapa". Dan, ya, gue menyukai film ini. Bahkan walau ending nya begitu, yang mana normalnya akan gue kritik, entah kenapa gue setuju saja. Gue bahkan sangat setuju ada satu adegan terakhir itu. Gue merasa itu adil. Walau.... tak bisa dipungkiri, scene itu aneh dan cenderung... konyol. Tidak, tapi entah mengapa gue membiarkan itu. Tapi... memang aneh. Tapi... gue membiarkannya. Tapi... #braceyourself #endlessmonologuewillcome Ide cerita ini brilian kok. Menyenangkan, apalagi untuk kamu pecinta 'kenapa'. Yuk ditonton! 



Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 21 November 2016

Keroyokan

Sabtu 10 September 2016

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS (Part 1)

Film Warkop DKI punya kenangan tersendiri untuk gue dan mungkin sebagian dari kalian. Lantas saat wacana bahwa film ini akan kembali dibawakan oleh aktor muda, tentu saja gue antusias. Tak lama, sekumpulan nama pemain yang akan memerankan om Dono, Kasino dan Indro pun diumumkan. Mereka adalah abimana, vino g bastian dan tora sudiro.

First impression gue : Lah ganteng-ganteng amat 

Terkhusus, abimana sebagai dono. Gue sungguh tidak mampu melihat korelasi air wajah antara abimana dan om dono saat itu. Namun, gue masih memiliki keyakinan pada kru warkop reborn. Tak mungkin mereka sembarang memilih aktor tampan dan terkenal hanya untuk mendongkrak nilai jual film ini. Tidak mungkin. Hasilnya? Terbukti. Saat trailer film ini keluar, gue tidak melihat ada abimana di sana. Gue melihat sesosok om dono. Luar biasa. Aku mencintaimu setelah reza rahadian, abimana.

Tidak hanya abimana kok, vino dan tora sudiro menurut gue sudah memainkan porsi yang pas. Ada yang bilang "engga ah, pemainnya ngga mirip sama warkop DKI". Lah bro, saudara kembar asli aja ngga semuanya mutlak mirip. Apalagi mereka yang ngga punya hubungan darah apa-apa. Tetap, mereka bertiga menurut gue bisa membawa 'nyawa' nya om dono, kasino dan indro. Gue lumayan menikmati logat om kasino versi vino, menurut gue dia sudah sangat berusaha. Kalau tora sih sudah cukup menjiwai sebagai komedian ya wkwk  

Bagaimana dengan plot story nya?

Pertama, menghibur. Kedua, sangat kental dengan gaya warkop DKI jaman dulu. Tolong digaris bawahi : Sangat. Amat. Kental. Entah itu di bagian lelucon dewasanya, umpatannya, ke 'tidak masuk akalan' nya dan segala keanehannya. Sangat mirip. Bahkan sampai ke cara lompatan tiap potongan adegan nya. Benar-benar abstrak persis seperi warkop DKI jaman dulu. Maksudnya, dari scene A yang temanya X, bisa mendadak lompat ke scene B dengan tema Y. Cerita yang dimulai dari pemburuan tukang begal, bisa beralih menjadi kekacauan hingga akhirnya trio warkop dituntut ratusan juta (atau milyar? gue lupa) lalu berakhir dengan pencarian harta karun. See? Kamu bisa lihat betapa absurd dan liar nya aliran cerita nya kan? Nah! Sangat, sangat, sangat mirip dengan warkop DKI dahulu kala. Alur ceritanya selalu ngga masuk akal, namun kita menikmati aja gitu hahaha.

Kira-kira ini yang gue ucapkan saat film berlangsung "gila bener-bener warkop DKI"

Kalau kalian mengharapkan gaya cerita dan celetukan khas warkop DKI, kamu berada di film yang tepat. Selamaaaat~


Rabu 12 Oktober 2016

(photo is not available) 

CATATAN DODOL CALON DOKTER (CADO CADO)

Sebelum kalian bingung, film ini harusnya rilis tanggal 27 oktober 2016, namun kebetulan gue dapet tiket fans screening film ini berkat membeli sesuatu dari akun IG filmnasional. Begitulah kira-kira hingga akhirnya gue bisa menonton lebih dulu.

Gue suka tema cerita film ini sesungguhnya. Cerita sengsara di balik kehidupan menuju dokter itu pasti menarik untuk dikemas dalam sebuah film. Namun, sayangnya, film ini agaknya, kurang bernyawa. Film ini menggunakan metode narasi di awal dalam memperkenalkan tiap karakternya. Berdasar analisis gue, bagian perkenalan ini sepertinya ditujukan untuk part humor dengan karakter-karakter ajaib yang (harusnya) menggelitik. Dan gue tidak berpendapat mereka lucu. Begitu. Gue harap gue tidak terdengar kejam.

Gue selalu merasa terganggu pada film yang memiliki fokus terpecah dua antara cinta dan lainnya (misal pekerjaan, perjuangan atau apapun). Cenderung, bagian 'lainnya' suka tidak berhasil terpegang dengan baik. Well, dalam film ini sebenarnya tidak terlalu terpecah, namun... gue merasa ada bagian yang kosong. Hampa. Dari kacamata seorang Dewi, bagus atau tidaknya sebuah film ditentukan oleh seberapa yakin sang penonton pada akting para aktor. Kalau gue, gue merasa tidak yakin bahwa pemeran utamanya merasa sedih. Gue tidak merasa dia benar-benar akhirnya tau seperti apa itu jiwa seorang dokter. Endingnya lumayan menunjukkan 'naluri menolong' nya sih, namun agak terlambat hehehehehe.
  
Ah, satu lagi, terjadi suatu inkonsistensi pada cerita. Entahlah, atau lebih tepatnya sebuah misteri untuk gue. Ada salah seorang karakter perempuan, tidak menggunakan kerudung dan diultimatum sebagai karakter yang religius. Oke, agama ada banyak, berhubung tidak pakai kerudung, berarti doi bukan islam. Itu pikiran awal gue. Lalu apa? Jeng jeng jeng jeng. Pada ending cerita, entah bagaimana caranya semua karakter diupayakan memiliki pasangan. Harusnya gue ada di film itu wkwkwk. Nah, perempuan religius ini bertemu seseorang laki-laki (gue lupa ciri-cirinya apa, tapi setelah gue sekilas melihat, gue langsung yakin : 'oh islam') dan digambarkan kalau mereka saling malu-malu berdua karena merasa cocok, pasalnya mereka terlihat sama-sama religius. Gue lupa apa yang diucapkan dan gerak gerik sang cowok, namun gue yakin itu menggambarkan pria muslim, nah yang gue tidak mengerti, jika mereka digambarkan saling melempar sinyal merah muda, perempuan religius ini agamanya apa? :"D #SARAdetected #SARA(S)008 #krik


Rabu 19 Oktober 2016

WONDERFUL LIFE

Film ini bertema disleksia. Gue sangat bersemangat menonton ini. Dan gue tidak kecewa. Konflik cerita tidak terlalu berbelit dan sudah fokus pada kasus antara ibu dan anaknya. Gue suka. Simple tapi tetap bermakna. Walau alur 'tersadarnya' sang ibu terkesan agak cepat dan... kurang heart breaking, tapi gue cukup suka film ini. Dan tak perlu diragukan, atiqah hasiholan bermain dengan sangat cantik.

Film ini cerdas dalam mengedukasi para ibu yang memiliki anak 'spesial'. Kita tak pernah bisa memilih anak seperti apa yang akan kita dapat, dan apakah kita cukup siap untuk menerima anak kita apa adanya? Pertanyaan yang selalu berat untuk dibayangkan kaum ibu dan calon ibu.

Tak hanya itu, pandangan sempit mengenai kecerdasan maupun konflik antara dunia kerja dan pribadi juga disajikan dengan sangat indah. Bagaimanapun, ibu itu penting, ayah apalagi.

"Aqil itu ngga sakit pa.. Kita yang sakit!"

******************************************

Sekian review keroyokan kali ini. Mohon maaf atas segala kekurangannya dan terima kasih atas perhatiannya. Sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Sabtu, 29 Oktober 2016

Pray

Don't let me disadvantage or harm anyone
Don't let me do things to others that I - myself - don't want it to be happened to me either
Don't let me turn myself into person I hate the most
Don't let me turn someone into person he/she hates the most
Don't let me forget what the fear is
Don't let me forget what the guilt is
Don't let me forget what the shame is


Don't let me...

down

#andsuddenlyeveryonesings #slapped #theendofpray

Rabu, 26 Oktober 2016

Craving for the legality

Well, hi you there. It's me again. I'm back.

Today, my recent interest in movies has brought me to explore netflix. I'm sure most of you already aware about the existence of netflix in Indonesia this year. As I ever heard, this netflix is truly awesome so I'm quite curious about it. So I went to that site to have myself get nothing lol. No, it is not because the site is a mess. It is just because I don't have the thing I need to own to register myself on that site. Just call it, credit card. I tried to browse on google if I have any other options than credit card. Well, I surprisingly have another options! They said, if we didn't have credit card, we still can work it out by using two ways. First, using a virtual credit card (VCC). It is very easy, you can just order it to any Bank in Indonesia who provide this service. Great! Unfortunately, I don't have any energy to sort out that things, but still, thank you for the advice. Next! Second (and the last), just using the perfect itunes gift card! Voila! I genuinely want to try this choice, yet I just don't understand why my samsung gadget didn't want to cooperate very well. That's lame. So, yeah, I can't do any of those two options, sadly.

Please don't throw any bricks on my face. It'd be hurt. lol.

While I have nothing to do anymore with netflix, I suddenly remembered my friend's post about google film. I tried to look up to that post again and then decided to finally use google film. Fyi, I ever left a comment there saying I'd love to try that google film, yet the ugly truth was I never really try it until today hahaha. Such a big mouth I have here, huh? /slapmyself

The good thing is the method of payment is very simple. I can use my telkomsel account to pay the movie (I don't know whether the other provider also have this kind of service or not, sorry). It's awesome! Still, wise people said that good and bad things are like coins where both of them are in the same body, yet in different side. So, when there is a good, there is a bad. The not good thing is the google film has limited stock of movies. I'm not surprised, actually.

To be frank, the ultimate reason why I pay attention to netflix or google film or whatsoever out of the blue is.. The Boy (2016). Yessssssss. My friend said that The Boy was a good movie which I'd probably love to watch. And yeah, I ever watched its trailer and I was quite interested in it. However, because of the financial problem at that time, I decided to ignore my desire to watch that movie wkwkwk.


Now, I'm so eager to watch it, and in one condition : I want it to be legal. I want to watch a movie legally. I absolutely can't do it in cinema because it has passed months ago.  That's why I went to those two sites. Apparently, the google film hasn't owned the movie I want. I also checked out now you see me (2) and finding dory. The results were the same with The Boy. Well, I could wait.. I'm the expert of waiting, after all *giggle* 

So, for today, I rent out the gone girl movie. The trailer was tempting, for real. I checked out the imdb and the score was 8.1 out of 10. I should say wow, shouldn't I. In addition, I felt like I heard this title so many times, so I gave it a try. This movie was great, and....................... this is the same movie that has been told by my friends over and over, in detail. LOL! No wonder why I felt like I ever heard the title. Hahahaha. Yet, it is okay. It still feels great, watching this movie. Even though I knew the ending, the whole story still gave me the goose bumps, luckily.



Oh that picture above was a notification from google play for my transaction. It was not a tax free, anyway. I got charged for Rp 21,280 in real. Based on what the operator said, those are for tax and service fee. I'm okay with it. It's pretty cool. You can have your movie in simple step, what would have been better?

Nice and fun steps :
1. Go to google play store and search for a movie
2. If your lists are not there, don't be upset. God surely have a better plan for you, dear
3. Go explore another movies based on the genre you like
4. Already set your eyes on particular movie? Good. Now you only need to decide whether you want to rent or buy the movie. The rental costs are between Rp 19,000 - 29,000 while you need more than Rp 100,000 to buy the movie.
5. Choose the quality of the movie. There are two types : HD and SD (I went for SD absolutely hahaha)
6. Choose the payment method. Fyi, at first, I tried it using my laptop and I didn't have any option to pay the fee with my telkomsel account (of course you can't, idiot). So from that case, I realized my mistake and I tried to do the transaction using my mobile phone. Magically, it worked! Voila! Finally the "bill my telkomsel account" option showed up! If you are new, you'll be asked about your full name, address and (of course) your phone number. It didn't take much energy and time.
7. Enjoy the movie and don't forget to bring snack


This activity actually brings back memory to the time where we can easily found out a DVD rental in our hometown. Having a little party in your room with your group, snacks, gossips and a stock of rented DVD. That was good old time, for sure.


Anyway, if do any of you know any info about the site or even a shop which rents and sells the indonesian movie (legally), please kindly share it to me. I'd appreciate your good doing..


That's all for now. Please enjoy your own fun life, buddy! Cheers!

Minggu, 18 September 2016

First time

Hal pertama yang terjadi padamu selalu spesial dan berkesan. Bukan serta merta hal kedua, ketiga dan seterusnya menjadi membosankan. Tidak. Itu tergantung pribadi masing-masing.

Kali ini, gue akan menceritakan dua hal pertama yang gue alami dan sangat berkesan karena dua-duanya merupakan hal yang sudah lama kepikiran untuk dilakukan. Semoga cerita kali ini ada hikmahnya wkwk Silahkan..

1. Bowling

Bowling adalah salah satu olahraga yang cukup fancy di mata gue . Entah karena biasanya cuma bisa gue lihat di layar kaca dan komik atau entah karena pemahaman gue mengenai 'fancy' sendiri masih terbatas. Kalau ditanya, seberapa penasaran kah gue dengan permainan ini, gue akan jawab : sangat amat penasaran. "Bagaimana bisa menggelindingkan bola dengan arah lurus terlihat susah sekali?" Itu yang awalnya gue pikirkan. Kalian pasti pernah lihat juga kan orang sedang bermain bowling di televisi, bola bowling nya sering melenceng ke arah tepi sehingga pin masih berdiri kokoh tak tersentuh. "Sesusah apa sih?". Begitulah. Rasa penasaran gue untuk hal-hal remeh begini boleh dibilang tinggi wkwk. 

Alhasil, gue merencanakan kegiatan bowling ini bersama Maria - si manusia terlucu sedunia. Sesuai saran beliau, gue juga mengikutsertakan liong dan ecu (Erik lucu) sebagai orang yang sudah terjun lebih dulu dalam permainan bowling ini agar gue dan maria punya penunjuk arah. Atas asas kesepakatan bersama, kami berempat memutuskan untuk bermain di arena jakarta bowling center, Pasar festival. Pasar festival ini bisa dan mudah ditempuh dengan menggunakan angkutan umum kok. Kebetulan gue menggunakan kereta commuter line dan memulai perjalanan dari stasiun UI dengan mengambil kereta jurusan bogor/depok - tanah abang - pasar senen- jatinegara. Next, nanti turun di stasiun sudirman lalu lanjut dengan naik transjakarta dari halte dukuh atas 2 menuju gor sumantri. Tepat di depan halte gor sumantri, di sanalah pasar festival berada~ Tada~

Bagaimana tempat bowlingnya? Oke kok. Berhubung gue juga ngga tau tempat bowling yang 'ngga oke' itu kayak gimana :p Kalau kata suatu website yang mengulas tempat-tempat bowling (salah satunya mengulas jakarta bowling center ini), harga per game nya adalah 20 ribu dan dihitung per orang. Namun, saat gue ke sana bersama teman sepermainan, kalau tidak salah mereka meminta 30 ribu rupiah per orang. Gue dalam hati agak bingung, lalu segera gue menepis keheranan gue dengan kalimat penuh aura positif "Oh mungkin 2016 udah naik". Namun, sekarang - iya detik ini banget pas gue nulis postingan ini - gue baru sadar kalau ternyata harga bowling di sana tetap 20 ribu per game. Lalu kemanakah 10 ribu nya? Ternyata 10 ribu itu harga sewa sepatunya wkwk. Waktu itu kita langsung disodorkan sepatu (dan sepertinya memang wajib menyewa) dan ngga sadar kalau biayanya udah langsung digabung sama biaya bowling. Ya begitu deh haha. Sepatunya nyaman kok. Beberapa detik pertama setelah gue melihat arena bowling secara keseluruhan, entah kenapa, gue mendadak berasa sedang di film boys before flower. Hahaha. Please, gue juga ngga tau kenapa.

Gue dan maria anteng mengikuti instruksi coach (read: kokoh) liong yang dengan lihai mengoperasikan komputer di arena. Liong pun memasukkan kode nama kita masing-masing sebelum bermain. Giliran permainan maupun skor dapat dilihat di layar tempat kita bermain. Lalu? Permainan dimulai! Fyi, satu game itu ternyata terdiri dari banyak set (sepuluh kalau engga salah) dan masing-masing orang melempar dua kali per setnya, jadi lumayan panjang juga mainnya. Gue pikir awalnya satu game itu cuma satu kali lempar bola, singkat bener kan di bayangan gue. Wkwk. Ah, ada bermacam ukuran bowling. Ada yang berat, ada yang ringan. Liong menyarankan ambil bola yang ringan untuk kami para wanita. Memang dasar gue anaknya ini mudah penasaran, gue coba menggunakan bola yang agak berat (di set gue yang keberapa gitu, lupa). Hasilnya, gue agak terhuyung saat melempar bola. Hahaha. Sok kuat sih. Ngga terhuyung banget sih, cuma gue jadi lebih fokus ke membawa bola nya dibanding mengarahkan lemparannya. So, pick the right ball yah, girls. "Didorong ke depan, pastikan arah dorongannya lurus", sabda coach liong. 

Surprisingly, i did a great job. Gue berhasil mengarahkan bola dengan lurus dan menjatuhkan pin-pin malang itu dengan indah. Karunia Allah swt. Fyi aja, gue menang (tipis) lawan liong loh hahahahaha. Dan tentu saja sebagai orang yang kompetitif, liong sangat tidak senang akan hal ini wkwk. Menjelang set-set penentu kemenangan, liong selalu berusaha mengganggu konsentrasi gue wkwk. Ah gemas sekali Anda. Eh by the way, gue sempat kecolongan set sebenarnya, ngga dapet poin sama sekali haha. Itu karena beberapa saat sempat terlintas di pikiran "wah mudah juga"... NAH ITU! SOMBONG! Pikiran yang mengerikan. Makanya anak muda, perbanyaklah merendahkan hati kalian, serendah-rendahnya. Namun tetap percaya diri. Percaya diri sama tinggi hati itu tipis, makanya hati-hati. Wkwk. Eh, kasus ini sepertinya ngga berlaku buat liong, dia mah harus sombong dulu biar menang. "Trik menjatuhkan mental lawan" katanya. Bodo amat lah yong.

Ini mungkin kali pertamanya gue mengalahkan liong dalam suatu hal. Hahaha. I was so happy. Sayangnya kemarin cuma bisa main satu game karena gue mengejar buka puasa di rumah (oh itu sedang bulan ramadhan btw), atau ibu gue akan mengomel hahaha. Eh untung deh, jadi liong ngga sempat balas dendam ke gue :p Aku mau main lagi~ Main yuk~

Gue masih punya daftar beberapa permainan yang ingin sekali gue mainkan, di antaranya, biliard dan golf. Hahaha. Kalau ada yang mau bantu merealisasikan, saya siap diajak pergi :p

 Liong (hitam putih), dewi (kerudung abu), maria (ngga pake kerudung) dan ecu (kaos hijau)

paska menang. girang bener dew.

 
"Eat whatever you want, and if anyone tries to lecture you about your weight,
eat them too"

Nemu tulisan ini di food court, lalu jatuh cinta pada kalimatnya. Pengen foto tapi ada tabung gas pemadam kebakaran menghalangi. Gue memohon liong sama ecu untuk mindahin tapi mereka ngga mau, malu katanya. Alhasil, ditutupin deh pake badan gue.

menunggu trans jakarta


'serangan pipi' plus 'kantung mata' at its best


2. Facial

Hahaha. Ini boleh dibilang adalah salah satu hal duniawi yang gue takuti. Buat sebagian dari kalian yang bilang "muka lo kan udah mulus dew, ngapain facial lagi?", itu menandakan kalau kalian belum terlalu memperhatikan muka gue dengan saksama. Atau, boleh jadi, paradigma 'muka mulus' kalian adalah sebatas "tidak ada jerawat". Gue beryukur karena gue memiliki tipe kulit wajah yang tidak mudah berjerwat - bukan sama sekali tidak pernah ya. Namun, kulit gue memang lumayan kooperatif dalam menghilangkan jerawat. Alhamdulillah. Masalah gue memang bukan seputar jerawat, namun seputar komedo di area muka rawan kotor, yaitu sekitar hidung. Kalau kata teman gue sih komedo gue itu memancarkan sinar (dalam arti negatif) ke seluruh penjuru dunia, mencolok banget. Baik hati memang teman gue ini dalam berkata-kata. Gue sadar kok sejak awal dan makin tersadarkan setelah teman gue ini hobi banget mengomentari komedo gue. Kenapa gue tidak pernah facial? Gue takut. Orang-orang bilang mencabut komedo itu sakit banget, gue jadi takut deh. Simple bukan? *nyengir*

Penanganan terbaik yang bisa gue lakukan adalah menggunakan biore porepack, walau ngga terlalu luar biasa hasilnya, namun gue senang melihat sedikit bulu komedo yang terangkat. Lagipula, sebenarnya gue memang punya ke khawatiran gue sendiri tentang praktik kecantikan kulit, takutnya kulit muka gue berubah setelah facial (dikira operasi plastik kali). Makanya, gue selalu menolak tiap ditawarkan pergi ke facial. "Nehi nehi aca aca" jawab gue cepat sambil menggeleng. "Nanti gue cari solusi alami" menambahkan lagi lalu kabur. Padahal, mencabut komedo kayak yang dilakukan saat facial juga cara alami (alami banget malah, dicabut kan). Wkwk. Gue ngga mengerti apa yang gue pikirkan saat itu. Mau bohong tuh ya yang lebih berkelas gitu.

Lalu bagaimana akhirnya gue bisa menyerah?

Semua dikarenakan petuah dari aniki yang baru-baru ini peduli akan kesehatan tubuh

Aniki : Kamu itu udah dikasih tipe kulit yang lumayan bagus, harusnya kamu rawat. Itu lihat komedo begitu, tanggung jawab kamu buat dibersihin lah.
Dewi : (diem)
Aniki : Pergi lah ke tempat facial. 
Dewi : (diem)
Aniki : Katanya kalau dibiarkan begitu terus, nanti kulit dewi jadi ada bercak-bercak hitam loh
Dewi : (mangap) Emang iya?!
Aniki : Iya, soalnya oksigen yang seharusnya masuk ke pori-pori kulit dewi terhalang sama kotoran (komedo) itu, jadinya kulit tidak mendapat oksigen yang semestinya diperoleh. Alhasil saat tua akan menghasilkan bercak hitam
Dewi : (muka sangat amat kaget) Ayo aniki anterin dewi ke tempat facial! Sekarang!

Wkwk se shock itu gue. Gue ngga tau sih itu teorinya benar apa engga, toh gue tidak mendalami ilmu itu. Cuma karena secara logika, gue menerima teori itu, gue jadi cemas. Akhirnya gue memberanikan diri gue untuk membasmi komedo ini. 

So, hari ini (18/9/16) adalah hari bersejarah untuk wajah gue, karena akhirnya gue memutuskan untuk melakukan facial setelah bertahun-tahun mengelak. Gue pergi ke tempat yang direkomendasikan teman aniki, yaitu Wijaya karya. Eh salah, Wijaya platinum skin care wkwk. Kebetulan, wijaya skin care memiliki cabang di margonda yang mana tak terlalu jauh dari rumah. Senangnya~

Awalnya, gue pikir dengan mengatakan "mau facial untuk menghilangkan komedo mbak" semuanya akan selesai. Ternyata, mbak resepsionis memberi jawaban yang membuat berpikir "semua jenis facial di sini memang akan menghilangkan komedo dulu awalnya mbak. Silahkan dipilih jenis spesifiknya". Gue bengong sambil melirik ke papan bertuliskan daftar belasan jenis facial. Pada akhirnya, mbak nya yang kasih rekomendasi sih, mungkin dia kasihan melihat gue kebingungan. Gue akhirnya memilih paket infuse organik facial dengan masker black sesame. Auk amat deh, yang penting ngusir komedo. Oh harga facial jenis ini Rp 139 ribu, siapa tau kalian mau nyoba. Enak kok. Enak-enak aja gue mah orangnya :p

Terus gimana sensasi cabut komedonya? Allahu akbar!

Benar kata orang-orang, memang sakit. Sangat sakit. Hahaha. Sakit woy mbak! Hahaha. Masih bisa ditahan kok sakitnya. Gue bertahan demi kesehatan muka gue. Sepadan kok sepadan. Itu teh otomatis keluar air mata loh. Gue ngga niat menangis, tapi kayak otomatis aja reaksi tubuh menghasilkan air mata. Deep down inside myself, my own body perhaps acknowledge this pain, so they give me tears lol. Setelah melewati masa pengangkatan komedo, relax banget kok karena dimanjakan oleh masker black sesame yang berwarna hitam pekat. Melihat masker ini diolesi ke wajah gue, gue merasa bagaikan seloyang kue coklat yang siap dipanggang. Yummy. Usai facial, gue mendapati muka gue bagaikan tomat, berwarna merah di spot tertentu. Lebih tepatnya, di spot yang ditekan habis-habisan selama facial. Udah agak mendingan lah hidungku. Kalau sebelumnya teh bagai 'sinar' yang terpancar ke seluruh penjuru dunia, ya sekarang mungkin se-jabodetabek aja wkwkwk .

M : Biasanya ada juga beberapa komedo yang susah diangkat mbak. Perlu pake metode *piiip* (gue lupa mbak nya nyebut apa).
D : *Piiip* ? Apa itu mbak?
M : Dibakar gitu mbak. Kalau metode itu, perlu diberi anestesi dulu
D : (mangap) (mendadak langsung membayangkan tikus percobaan yang dipakai di laboratorium)

Seram sekali. Hiy.

Oh gue punya tips untuk mengalihkan rasa sakit saat sedang dicabuti komedonya hehehe. Gue melakukannya tadi dan berhasil menstimulus perasaan gue menjadi lebih baik. Caranya? Mudah. Siapkan gadget kesayangan beserta headset. Pastikan smartphone mu memiliki aplikasi radio atau setidaknya memiliki sejumlah file musik yang siap diputar saat prosesi pencabutan komedo. Intinya, gue mendengarkan musik selama pencabutan agar lebih tenang.

Audiens : yaelah bro! kirain apa! Itu mah gausah siapin headset, pasti mereka (klinik kecantikan) juga udah nyetelin musik lah buat para pelanggannya

Dewi : O o o.. kamu terlalu cepat nge judge anak muda. Saya belum selesai berbicara.

Yang membuat metode gue berbeda adalah, gue mengubah-ubah volume suaranya. Saat gue merasa semakin sakit, gue mengeraskan volume suaranya dari pelan menjadi agak keras, semakin keras hingga sangat keras, tergantung kebutuhan. Berkat volume suara yang meninggi, otak gue berhasil terdistraksi sehingga tidak hanya terfokus pada rasa sakitnya. Gitu deh. Lumayan, oh, bahkan sangat membantu menurut gue. Gue saaaangat merasa terlampiaskan rasa sakitnya oleh volume musik yang meninggi itu. Ibaratnya, berhubung gue ngga bisa teriak, biarkanlah penyanyi itu yang berteriak menggantikan gue. Wkwk.


Sekian ceritanya. Semoga bisa menemukan banyak 'hal pertama' lainnya. Dan semoga berikutnya, itu bersama kamu #usahakeras


Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 26 Agustus 2016

Sketch of stranger


That picture above was supposed to be a sketch of chun jung myung in reset drama. Yet, it turned out to be a total stranger. lol. At least, i've tried my best *sigh


I copied from this picture carefully. Unfortunately,  the universe didn't want to cooperate with me. At first, i wanna give him my drawing as birthday gift on November. And now.......... it seems like i have to change my plan. Wkwkwk #romancestrategy #failed



Anyway, the sketch book is sponsored by Mima Uasha Febrianti, STP.  I really cherish the book wholeheartedly! Kamsahamnida! *bow


Here, i give you guys an exclusive photo of me, chun jung myung and his nephew. HAHAHA. Love you, world :*

Kamis, 25 Agustus 2016

Terlucu

Assalamu'alaikum. Selamat malam. Malam yang hangat dan menggembirakan untuk kalian semua, gue doakan. Aamiin.

Kalian mungkin ngga tau, makanya akan gue beritahu. Ternyata, postingan di blog ini sudah mencapai 202 buah. Walau kata 'buah' itu tidak terdengar tepat, tapi  biarkanlah dia bertengger di sana. Toh, kita sama-sama mengerti maksudnya. 

Baik, kuulangi ya. Postingan gue sudah mencapai 202 buah. Jeng jeng jeng jeng. Belum sampai di situ, blog ini ternyata sudah berumur 7 tahun lebih beberapa bulan. Sudah harus masuk ke sekolah dasar, tapi ibunya belum ada uang buat nyekolahin. Maaf ya nak.

Setelah dilihat-lihat, kok postingan dari dulu ngga ada yang penting ya. Herannya, ada viewer nya. Bahkan ada postingan yang view nya ratusan atau ribuan, tapi isinya.............. bahkan gue yang nulis aja merasa udah buang-buang waktu buat baca ulang. Dari situ, gue yakin, jumlah view yang banyak itu, 99 % kemungkinannya karena banyak pengunjung naas yang nyasar ke blog ini berkat keyword googling yang kurang spesifik. Kasian mereka. 

***************

Anyway, hal-hal di atas itu ngga ada hubungannya sama yang akan gue posting lol 

Berhubung sudah lama gue tidak menceritakan tentang orang terdekat maupun kisah gue, kali ini gue mau menceritakan satu sosok yang cukup berharga di tahun-tahun terakhir perkuliahan, oh tenang, sampai sekarang juga masih berharga kok. Ngga tau kalau besok wkwk.

Siapakah orang terhormat yang akan gue ceritakan malam ini?

Petunjuk : Manusia paling lucu di galaksi bima sakti

Kalian tidak bisa menebaknya? Wajar. Karena julukan itu hanyalah self-claim yang disepakati oleh kami berdua saja. 

MARIA PUTRI ANUGERAH

Gue harap gue sudah menulis namanya dengan benar. Baiklah, izinkan gue memulai cerita ini dengan memperkenalkan dua misi dunia yang kami emban. Maria mengemban amanah sebagai makhluk paling lucu, sedangkan gue dipercaya untuk menjadi makhluk paling mempesona. Bukan hal yang mudah untuk mengemban misi ini, namun kami berusaha yang terbaik kok. Mohon dukungannya ya.

Macu (maria lucu) dan Dena (dewi mempesona)

Itu ceritanya mau ngebunuh

Jauh sebelum gue bertemu langsung dan dihadapkan pada kenyataan, beliau (maria) termasuk salah satu sosok yang saya kagumi. Maria ini satu dari banyak anak ITP yang jago mengajari anak-anak lain. Namun dia adalah guru favorit gue. Segala hal yang keluar dari mulutnya selalu terdengar jelas dan lugas. Kemampuannya dalam menjelaskan pelajaran bukanlah hal yang perlu diragukan lagi. Kebetulan, ibunya juga adalah salah seorang dosen di kampus kami. Namun dia terlihat keren bukan karena dia anak dosen, tapi ya karena kelihaiannya sendiri. Dia diam-diam sudah menjelma sebagai sosok dosen di mata gue. Terlebih lagi, gaya bicara dan bersosialisasinya pun terlihat secukupnya, elegan dan dewasa. Oh tak lupa, nama dia sering hadir di daftar anggota untuk kompetisi karya ilmiah. Dan menang, tentu saja. Berdasar deskripsi yang sudah gue sebutkan, gue rasa bukan hal yang aneh jika gue memberi nilai dan ekspektasi cukup tinggi pada manusia ini, bukan?

Jawaban yang benar : bukan. Wkwkwk.

Setelah satu tahun bergelut dengan kaleng bersama maria, satu hal yang gue yakini : dia ngga ada elegan-elegannya. Hahahaha. Kalau kata maria, "Untunglah kita dipertemukan pas penelitian ini, jadi lo tidak tertipu seumur hidup oleh image elegan gue". 

Untungya, bagian image 'pintar menjelaskan' nya masih utuh dan tak kurang suatu apapun. Dia sangat menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dari yang bisa gue bayangkan. Dan dia juga mudah dibodoh-bodohi. Itulah mengapa dia jadi menyenangkan. Gue sudah cukup berpengalaman punya teman yang 'jenaka', namun gue masih bisa merasa terkejut dengan segala kebodohan yang maria suguhkan. Perempuan ini benar-benar luar biasa. Orang-orang yang selama ini menjadi sahabatnya, sebut saja Neta, adalah orang yang lebih luar biasa lagi karena bisa bertahan dengannya selama bertahun-tahun. Wkwkwk.

Terlepas dari kenyataan bahwa dia tidak se-elegan yang gue pikirkan, tapi gue benar tentang dia sosok yang layak untuk dikagumi. Beliau punya pandangan yang menurut gue patut diteladani : tidak pernah memikirkan orang lain. Hahaha. Jangan diartikan dari sisi negatifnya ya. Maksudnya adalah, dia bisa membatasi pikirannya untuk hal dari orang lain yang memang penting dengan hal yang hanya membuang-buang waktu untuk dipikirkan. Itulah mengapa hidupnya terasa lebih ringan, di mata gue. Dan itulah juga mengapa dia sering ketinggalan berita terkini (read : gosip yang tidak bermanfaat) di lingkungan sekitar.

Gambaran singkat Maria : gemar membaca buku, suka warna pink, merupakan makhluk terlucu sehingga dijuluki macu (maria lucu), sering mengikuti lomba ternyata semata-mata karena diajak dan tidak enak untuk menolak, suka dugong, mencintai jason mraz, tidak suka es krim, mengikat janji setia pada coklat pahit serta sushi, punya selera lagu ala disney yang kebanyakan nada-nada lagunya lebih tinggi dari monas, aktivis DDR, suka pria kaya (lol), sedang sibuk membangun restoran ternamanya untuk mendapat michelin star (game tentu saja), tidak suka hal yang merepotkan dan lebih mudah mengajaknya ikut proyek penelitian daripada menikah. Saat ini sih. Wkwkwk.

Kalimat bijak beliau yang sangat berkesan buat gue adalah "Kerjakan satu-satu, Dewi"

Udah, itu aja. Singkat tapi mujarab. Kalimat itu selalu terngiang hingga sekarang, tiap kali gue mau melakukan suatu pekerjaan yang 'terasa' banyak. 

Maria adalah tipe si dia yang sudah banyak baca jurnal dan membuat pembahasan super jelas, namun masih merasa serba kurang dan panik. Beruntung, gue masih bisa stay cool dan ngga ketularan panik. Padahal, kalau dibandingkan, harusnya gue yang merasa serba kurang. Begitulah. Kalau maria panik, maka sudah menjadi tugas gue untuk menenangkan. Kalau dewi sudah merasa lelah, maka sudah menjadi tugas maria untuk mengingatkan bahwa ini akan selesai, satu per satu. Gue sangat bersyukur bisa bertemu orang ini di akhir masa kuliah. Lumayanlah, menambah deretan panjang 'orang-orang jenaka' yang gue punya.

Apa gue pernah kesel sama Maria? Gimana ya jawabnya...

Belum lama ini, gue dan doi berencana bertemu di kampus untuk sebuah urusan. Lokasi yang kita sepakati awalnya adalah bread unit, di daerah fakultas gue. Berhubung gue tiba terlalu cepat, gue pun membelok ke area fakultas pertanian, tepatnya media centre, Gue beritahu lah Maria ini kalau gue ngga mau ke daerah fakultas sendirian, makanya gue menunggu di media centre aja. "Oke" kata Maria. Sembari menunggu, gue pun melahap lumpia basah dan kentang goreng favorit gue yang udah dibeli di bara. Setelah dua makanan itu menjadi korban, Maria ternyata belum sampai. Alhasil, gue membaca suatu bacaan yang memang sengaja gue bawa dari rumah, persiapan kalau gue ngga ada kerjaan. Waktu terus bergulir dan gue sesekali melirik jam kemudian mengintip whatsapp, memastikan bahwa belum ada pesan masuk dari Maria. Gue menunggu cukup lama. Tak lama kemudian, pesan dari Maria masuk.

"Dewi, sudah ambil fotokopian ijazah yang dilegalisir belum?"

"Belum, kan masih di media centre ini"

"Oh, gue udah di depan TU fateta nih. Ayo ke sini"

"......................... apa? (dalam hati) "

Kalau ada rekamannya, gue yakin mata gue melotot sempurna saat baca pesan maria yang terakhir. Antara mau kesel, tapi berusaha berpikiran positif "Ohiya, maria ngga ada janji mau nyamperin ke media centre ya. Cuma oke oke aja. Mungkin dari BNI, maria langsung jalan lewat arah GWW, jadi langsung ke fateta dan ngga lewat media centre. Mungkin begitu ya. Sabar, wi. Sabar". Udah tuh, gue udah ikhlas. Akhirnya gue samperin lah beliau ini ke TU. Gue lupa gue ngomong apa ke Maria, sepertinya gue berkomentar tentang keberadaan dia yang tau-tau udah di fakultas aja. Kemudian dia mengatakan hal yang mencengangkan..

Maria : "Oh iya, ai sebenernya tadi lewat media centre, dan ai liat yu kok. Cuma, yu terlihat sedang sibuk membaca, jadi, ya ai pergi duluan aja deh. Hehehehehe" 

Dewi : .........................................................................................

"GUE NGGA BISA MAAFIN LU KALI INI. BODO AMAT. GILA LU" kurang lebih itu yang gue ucapkan ke dia dengan tidak serius tentunya (atau setengah serius? lol) lalu segera pergi ke mushalla karena belum shalat. Dan dia? Dia cuma ketawa sambil minta maaf, yang gue sangat yakin kalau dia ngga tau bahwa apa yang dia lakukan itu menyebalkan wkwkwk.

Gue merasa pahit sih beberapa detik, namun di detik berikutnya, gue sadar, "Itu Maria dew. Wajar aja. Terima apa adanya udah". 

Itulah maria, pola pikirnya ngga bisa diikuti manusia biasa. Gue.. jelas-jelas nungguin dia. Lalu dia akhirnya meninggalkan gue, karena melihat gue sedang sibuk membaca, dan tidak mau mengganggu. Kurang malaikat apalagi coba teman gue ini? Yang jelas, gue seperti tidak bisa marah, karena gue tau, dia tidak bermaksud untuk jadi menyebalkan dengan sengaja. Karena dia memang seaneh itu, sampai pada akhirnya yang gue bisa lakukan cuma geleng-geleng kepala dan urut dada. Jadi ya, kalau ada laki-laki yang ingin pedekate sama dia, pastikan semua tindakanmu itu jelas, lugas dan tidak bermakna ganda ya. Takutnya nanti dia malah mikir kamu pedekate sama orang lain :')

Sayangnya, gue sudah terlalu terbiasa dengan makhluk ini, sehingga gue menikmati apapun roller coaster hidup yang ia tawarkan. Mau semanja dan se annoying apapun doi, gue tetap bahagia bersamanya. Setidaknya gue bisa membalasnya dengan jadi annoying juga, kan. Mata dibalas mata, bung. Mungkin suatu saat, gue akan kolaborasi bersama Neta untuk merencanakan rencana penyiksaan Maria yang rapi dan terorganisir. Hahaha. I love her. No doubt.
Saat dewi sidang

Saat maria sidang

Niatnya mau ala pose yoga yang kekinian, eh malah kayak pocong

Saat kami wisuda : 27 Juli 2016


Rabu, 10 Agustus 2016

Atas nama Indonesia

Minggu 17 Juli 2016



RUDY HABIBIE

Hai. Kali ini gue menonton sekuel kedua dari film ainun habibie, yaitu rudy habibie. Film ini mengisahkan perjalanan pak habibie sejak kecil hingga petualangannya di negeri orang. Kalau boleh jujur, gue tidak tau apa ini subjektif atau tidak, cuma, gue merasa hampir semua akting nya reza rahadian di berbagai film itu bagus terus, jadi gue merasa terpuaskan dengan film ini. Cerita kali ini fokus tentang perjuangan dan idealisme pak habibie untuk Indonesia dengan sedikit bumbu asmara. Gue sih merasa tersentil pas nonton film ini. Gue cukup merasakan pesan perjuangan demi Indonesianya yang (tentunya) ingin disampaikan para kru dan pemain film. Latar, pemain, efek suaranya, pas semua. Ada satu hal yang membuat gue penasaran sesungguhnya. Ada beberapa adegan di film ini yang sebenarnya sama dengan adegan di film sebelumnya (Habibie dan Ainun). Gue ambil contoh : adegan saat teman-teman mengolok-olok habibie kecil dengan ainun.  Di film pertamanya, gue suka pemeran Habibie maupun Ainun kecilnya. Entah mengapa terasa cocok. Eh, tau-tau, di film Rudy Habibie ini, adegan yang sama persis itu justru direkam ulang lagi, dengan pemain yang berbeda total. Pak habibie kecil dimainkan oleh salah satu (atau mantan) anggota coboy junior dan Ainun kecil dimainkan oleh perempuan asing lainnya yang menurut gue kurang 'klik' gitu.

Pertanyaan besar gue : Kenapa ngga pakai aja bagian rekaman dari film sebelumnya? Memangnya dilarang ya?

Aneh aja, karena jadi beda-beda gitu pemerannya. Agak merusak memori dari film sekuel sebelumnya. Secara pribadi, gue suka film Rudy Habibie ini. Lumayan basah sedikit lah tepi mata gue. Bohong. Ngga sedikit deh wkwk. Gue baper banget sih nonton film ini, soalnya terlalu imajinatif ngebayanginnya "Ya ampun gue belum bisa kontribusi apa-apa. Dan belum tau mau apa. Ngga kayak pak habibie". Yak malah tjurhat. Hahaha. Menurut gue, film-film kayak gini cocok dijejelin ke otak-otak para remaja atau pelajar. Supaya semangat gitu, atau minimal jadi malu dan introspeksi diri. Gitu deh.

Pertanyaan besar teman gue : Kalau menurut lo, misalkan kita nonton film ini pas jaman-jaman kita kuliah atau masih sekolah, apa lantas kita beneran akan semangat belajar? Apa bener kita akan terpacu? Bukan hanya ingat sehari lalu lupa kemudian?

You answer it yourself. Ha-ha-ha.

*anyway, setelah film selesai, jangan langsung pulang, ada kejutan singkat di akhir film

***************

Selasa 9 Agustus 2016


3 SRIKANDI

Another reza rahadian's work! Hahaha. Banyak unsur yang memicu timbulnya penilaian subjektif dari gue disini. Pertama, gue suka olahraga panahan. Kedua, sinopsis cerita 3 srikandi ini masih satu warna dengan alur cerita Chak de! India yang diperankan oleh shah rukh khan. Bedanya, pada film Chak de! India, olahraga yang dikisahkan adalah hockey putri. Dan, gue merasa film india yang satu ini lumayan memicu semangat perjuangan untuk negara di bidang olahraga. Dan (lagi), gue selalu mengagumi atlet (walau tak pernah mengikuti update cabang olahraga manapun), maka dari itu, gue lumayan tertarik tentang kisah perjuangan olahragawan. Begitulah. In simply, I truthfully expected quite high toward this movie haha.

Bagaimanakah realitanya? Jeng jeng jeng jeng...

Segi pemain? Oke. Film ini cari aman dengan mengambil aktris-aktor yang sudah cukup kenamaan dengan skill akting yang mumpuni. Walau sebenarnya gue agak bosan karena pemain-pemain 3 srikandi ini kerap tampil  di beberapa film Indonesia yang tayang pada tahun ini. Haha. Kalau mau ngomongin akting, menurut gue yang agak kurang nendang di bagian peran pendukungnya. Alhasil, adegan seorang ayah yang marah pada putrinya sambil merendahkan profesi atlet sekaligus mengagung-agungkan PNS nya jadi kurang bikin kesel dan kurang dramatis. Ibarat, kayak mau nonjok, tapi belum kesentuh sama sekali ini gue nya. Terus ada beberapa pemeran pendukung lain yang kadang kurang nyatu aja sedikit. Untuk pemain utamanya, sayang sekali, gue sangat subjektif pada reza rahadian sehingga menurut gue dia selalu sempurna. HAHAHA! Bcl sendiri memerankan peran Yana yang merupakan sosok perempuan jakarta mandiri dan dewasa. Dan ia memainkan porsinya dengan pas.  Tara basro? Cantik banget ya. Cantiknya beda gitu #salahfokus Gaya cool nya oke sekali. Top lah. Nah terakhir, chelsea islan. Perannya cukup menarik karena doi tampil dengan logat medok. Gue ngga paham sama bahasa jawa, tapi gue melihat dia tampil sangat oke pake bahasa jawa. Bagus! :) Karakter doi di film ini cukup memekakkan telinga karena bawel. Untung cantik haha Secara keseluruhan akting chelsea sama kerennya dengan tiga bintang lainnya. Namun oh namun, ada kurang lebih dua adegan dari Chelsea yang ngga sreg di gue. Sekedar mengingatkan, kalimat setelah ini boleh jadi agak nyerempet (atau memang) spoiler. Adegan teriak oleh Lilies (Chelsea) paska mendengar berita mengenai orang tuanya teh kurang alami. Memang agak susah di bagian ini, karena tumpang tindih dengan adegan lainnya. Cuma, ya itulah seni nya film, bagaimana kita mengemas tiap adegan sealami mungkin, tak peduli apapun tantangannya hehe. Dan menurut gue, yang kali ini, kurang mantap. Hehehehehe. Adegan kedua yang tidak gue suka dari Chelsea sebenarnya bukan karena aktingnya, namun karena naskahnya. Mohon maaf sekali lagi, ini spoiler. Gue hanya gregetan soalnya membayangkan bagaimana mungkin saat ibu kita sedang sekarat di rumah sakit, hal yang terpikir adalah meminta beliau menyetujui hubungan kita dengan seorang pria. I mean, "Heeeeeeeey your mom is facing her hardest time, and what?! you have the time to talk that crap now? Are you using the moment to insist her? God, forgive this child"

Iya sih, si Lilies (peran chelsea islan) ini tidak langsung serta merta bilang "bu izinin saya sama Denny ya bu". Doi mengawalinya dengan manis "ibu, maafin Lilies karena selalu ngecewain ibu, tapi sekali ini aja bu, sekali ini aja, restui hubungan Lilies sama Denny. Lilies akan bikin ibu bangga. Lilies janji akan bawa pulang medali". Lalu ibunya senyum mengangguk. Cuma..... kenapa sih lu harus ngomongin restu di saat kayak gitu? Bukannya "ibu harus kuat, jangan tinggalin Lilies. Lilies pengen ibu lihat Lilies mengangkat medali itu, untuk Indonesia, untuk ibu. Lilies pengen banggain ibu". Terus kalau mau mempertegas restu, mbok ya ibunya sendiri gitu yang sukarela ngomong ke Denny nya "Nak Denny, ibu titip Lilies ya". Atau, jika ga sanggup ngomong, ya gunakan bahasa tubuh lah, letakkan tangan denny ke tangan Lilies. NAH! Kan kalau begitu lebih menggigit dan beretika. Me-nu-rut-gu-e-ya. He-he-he-he.

Maafin ya spoiler abis. Soalnya kesel, gue nya jadi ngga sedih di bagian itu. Huft.


Nah sekarang dari segi cerita, secara pribadi gue suka tema perjuangan para atlet, so, menurut gue film ini sangat menghibur. Pada film 3 srikandi ini, tak hanya olahraga yang difokuskan, namun juga tentang asmara, keluarga dan pilihan hidup. Walau, mohon maaf, gue merasa kisah olahraga dan asmara nya itu porsinya 1 : 1. Ha-ha-ha-ha. Tentang keluarganya sih agak tertutup awan gelap ya. Kalau tentang pilihan hidup nya teh udah masuk ke kisah olahraga lah. Gue baru tau di akhir film kalau ternyata 3 srikandi ini berdasar kisah nyata ya. Mungkin karena itu juga cerita dan masalah di film ini tidak terlalu kompleks.

Di sisi lain, film chak de! India yang punya genre serupa memiliki kompleksitas cerita yang lebih mantap. Pergelutan antara cinta negara, kekuatan perempuan yang disepelekan, kekompakan tim, rasa saling percaya, ego para juara masing-masing daerah serta karakter pemain yang saling melengkapi.   

Sebenarnya sebuah cerita tidak perlu kompleks, asalkan digarapnya pas dan ada punch line nya. Timing super pas, naskah padat namun bermakna dan dengan adegan yang efektif menonjok emosi para penonton gitu deh. Gue merasa, emosi gue agak dimainkan cuma saat di akhir film, yaitu saat pertandingan panahannya sendiri. Akhir film nya itu oke banget kok, efek manah nya mantap. Hahaha.

By the way, sepertinya film indonesia sekarang mulai mengarah ke tipe drama musikal ya.. Sok tau sih gue. Cuma, mengingat film surat dari praha, my stupid boss, lalu sekarang 3 srikandi yang memasukkan unsur musik dan sedikit tarian di dalamnya, sekiranya gue berpikir barangkali film kita akan memasuki tren ke arah sana. Terlebih, film 'ini kisah tiga dara' yang akan tayang nanti konon digadang-gadang akan menjadi film drama musikal. Entahlah, kita lihat saja.

Ngomong-ngomong soal musik..... satu hal lain yang gue kurang sreg dari film ini adalah lagu backsound nya. Mungkin lirik lagu Astaga nya ruth sahanaya ini dianggap cukup cocok untuk menyuarakan sindiran ke kaum muda, hanya saja, menurut gue, selain lirik, nada musik nya juga mesti diperhatikan. Menurut gue lagu astaga ini terlalu riang untuk jadi backsound adegan perjuangan berlatih memanah yang sedang serius dan kritis. Ini masalah selera sih.. Gue merasa dengan nada lagu astaga yang terlalu cheerful di telinga gue, itu agak merusak kekhidmatan dan keseriusan adegan.

Hei, ngga usah dipelototin terlalu serius dong tulisan review gue ini. Kalian ngga suka? Kalian ngga setuju? Ya bebas. Hahahaha.

Gue suka kok sama film ini, namun lebih baik lagi kalau skill pemain yang oke dibarengi oleh naskah yang pas, timing yang jelas, audio yang nge blend sama adegan serta pengaturan teknis pendukung nya ngga setengah-setangah, supaya bisa jadi paket lengkap plus telor. Juara!

Film Indonesia semakin lama semakin berkembang kok dan menurut gue menyesal sekali sih buat kalian yang masih males nonton film kita sendiri. Sekali lagi, menurut gue ya. Hehehehe. 


Catatan penulis. Apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, lakukanlah dengan konsisten. Walau konsisten itu susah, sangat susah. Bahkan, gue aja udah nyaris mau ngga ngelanjutin nulis review film kayak begini. Banyak alasannya. Takut ngerasa sok tau lah, merasa ngga punya kapasitas, dan suka mempertanyakan "ini review buat apaan sih?". Saat kamu lagi di ambang jenuh dan merasa apa yang kamu lakukan itu ngga ada gunanya, coba ingat baik-baik lagi apa harapan kamu saat melakukan itu. Kalau gue pribadi, membuat review kayak begini masih untuk diri gue sendiri, berhubung gue mulai menyukai film dan tertarik mengeksplor talenta pemeran dalam negeri lebih jauh. Syukur-syukur kalau ada yang menjadi tertarik dengan film Indonesia setelah nyasar ke salah satu postingan review gue. Sempat kepikiran untuk bikin review dengan bahasa inggris, cuma lalu gue pikir ulang. Gue lebih mengharapkan orang Indonesia dulu yang mencintai film nya, jadi untuk apa gue nge review pake bahasa inggris di saat bahasa ibu kita adalah bahasa indonesia? Begitu deh. Ngalor ngidulnya lama ya wkwkwk. Intinya, tetaplah konsisten. Semoga review ini ada manfaatnya. Kalaupun belum bermanfaat, setidaknya, semoga tidak memberi mudharat. 


Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 08 Agustus 2016

Hujan di bulan Agustus

Hujan di pagi hari, entah bagaimana selalu memberi rasa bahagia yang berbeda
Entah karena akhirnya aku bisa bangun pagi
Atau entah karena hujan itu sendiri

Bukan, ini bukan puisi. Apalagi prosa.
Karena aku tak pernah tau apa beda keduanya hingga detik ini.
Dan kebetulan belum terlalu ingin tau.

Hujan di pagi hari, tentu bukan teman yang baik bagi para pejuang pagi
Dengan arena perang dan tingkat kesulitannya masing-masing, masih perlu ditambah oleh serangan air lagi? Duh.
Namun entah bagaimana, selalu ada saja cara untuk menikmati ribuan tetes dari langit itu

Hujan di pagi hari, melenakan sekaligus menyulitkan
Melelapkan yang ingin atau tak ingin terlelap
Melambatkan bagi yang ingin atau tak ingin terlambat

Hujan di pagi hari, satu dari banyak alasanku untuk menunda makan pagi lebih lama lagi
Hujan di pagi hari, satu dari banyak ide yang membuatku berlama di depan layar
Hujan di pagi hari, satu dari banyak tamengku untuk seolah-olah terizinkan menjadi melankolis

Aku menyukai hujan di pagi hari 
Walau kita belum tentu cepat bertemu
Dan walau kita belum tentu saling ada

Terlebih,

Hujan pagi hari itu seperti kamu dan segala urusanmu
Aku tak pernah benar-benar menunggu
Namun saat kamu datang, percayalah, yang kurasakan bukanlah perasaan senang yang tanggung

Hujan pagi hari itu seperti kamu dan segala urusanmu
Aku tak pernah benar-benar rela kehilangan
Namun saat kamu pergi, aku tak ada pilihan lain selain mengikhlaskan dengan tulus yang tak setengah

Lalu siap kembali senang saat kamu datang berikutnya. Tentu, jika kamu ingin datang. Dan ingat, aku tak pernah benar-benar menunggu.

Hujannya sudah mau selesai, dan perutku sudah tidak terima alasan. Kalau begitu, sampai bertemu lagi, hujan.





Tertanda,



Penikmatmu

Jumat, 08 Juli 2016

Belajar melalui pesan

Jumat 1 Juli 2016



SABTU BERSAMA BAPAK

Alhamdulillah, akhirnya berhasil nonton film yang poster nya (rasanya) udah ada sejak berbulan-bulan lalu ini. Film 'Sabtu bersama bapak' adalah adaptasi dari novel karangan Adhitya Mulya. Dan sudah bisa ditebak, tentu saja gue belum pernah baca novelnya *senyum* To judge the movie fairly, you need to have no expectation or any imagination on brain ready already. For sure.

Seperti biasa, mari mulai dengan membahas pemainnya. Pemain untuk karakter bapak dan ibu nya sangat oke. Walau pemeran karakter bapak ini memiliki umur biologis lebih muda 15 tahun dari si pemeran ibu, namun beliau memainkan peran suami yang dewasa dan bijaksana dengan sangat baik. Saka dan Satya (dua anak laki-laki si bapak) yang telah dewasa diperankan oleh Deva dan Arifin. Gue tidak terlalu yakin kalau Deva dan Arifin cocok untuk dijadikan saudara bila ditinjau dari air wajahnya. Namun, untuk masing-masing peran Saka dan Satya, kedua aktor itu menghidupkan karakter mereka dengan porsi yang pas. Plango-plongo dan manisnya Deva sesuai, sementara Arifin membawakan gaya cool dan tegas dengan keren. Pemeran Ayu nya manis banget! Wajar aja kalau mudah bikin jatuh cinta pada pandangan pertama dengan muka kayak begitu. (Well, walau bukan cuma mukanya sih yang menjadi alasan Saka untuk suka). Kalau untuk pemeran 'eneng' nya Satya mah gue ngga perlu banyak komentar. Aca terlihat natural kok. Pastilah, pengalaman akting dia sebagai istri juga bukan yang pertama kan. Fyi, ada ernest prakasa di sini! Lucuk. Coba aja ada ge pamungkas juga *sekalian aja semua komika dibawa ke film ini, Dew -_-*

Latar tempatnya kebanyakan di luar negeri sama di perkantoran Jakarta. Ngga ada masalah sama sekali buat latarnya, pas sesuai yang dibutuhkan. Yuhu. Btw, ada satu scene yang sangat janggal menurut gue. Cuma satu. Dan sayangnya, ngga penting pula scene nya. Itu adalah : scene matahari terbenam / tenggelam. Scene matahari terbenamnya itu ngga beneran, kayaknya mah hasil editan atau trik visual apalah itu gue ngga mengerti. Cuma... please deh keliatan amat bohongannya. Kan jelek :( Buang aja kenapa. Nah itu aja sih, scene janggal yang konyol dan tidak pentingnya.

Pemain udah. Latar tempat udah. Latar waktu deh sekarang. Alur film 'sabtu bersama bapak' ini teh alurnya campuran, maju-mundur oke gitu deh. Diselipkan flash back sekilas saat Bapaknya memberi petuah ataupun memori manis antara ibu dan Bapak tempoe doeloe. Dengan alur maju-mundur begitu, tetap tidak membuat bingung dan masih sangat mudah diikuti kok.  

Nah, sekarang saatnya masuk ke pembahasan plot cerita. Kalau kata teman-teman gue yang suka baca sih, tulisannya mas Adhitya Mulya ini emang bagus-bagus. Gue tidak tau gimana cerita di novelnya, tapi gue sangat suka ide ceritanya. Seorang bapak yang merekam pesan-pesan penting untuk kedua anak lelakinya sebagai perwakilan dirinya yang tak mampu hidup lama. Eh tenang, ini bukan spoiler kok, kalian juga bisa tau inti cerita ini dengan hanya melihat trailer film nya. Dan, gue juga orang yang anti spoiler by the way. So, relax ;) Problematika di film ini justru tentang bagaimana kehidupan Saka dan Satya yang semasa kecil selalu belajar melalui rekaman petuah si Bapak tiap hari Sabtu. Menurut gue simple banget film nya, tapi dalem. Ngga dibumbui terlalu banyak masalah, tapi dalem. Mungkin sekiranya gue menyimpulkan bahwa tiap keluarga punya penanganannya tersendiri. Ngga bisa memaksakan satu ajaran secara kaku dengan kondisi yang benar-benar berbeda, karena bersikap terlalu keras ngga selamanya memberikan hasil yang bagus. Lagipula, sebagus apapun suatu rencana dan ajaran yang dirancang, seorang anak akan lebih baik untuk tumbuh dengan melihat figur kedua orangtuanya secara langsung. Jika memungkinkan. Begitu kali ya. Hahahaha.

Dan kalau boleh curhat colongan, itu pula yang menjadi salah satu alasan gue untuk berpikir ulang mengenai rencana menggeluti karir di industri pertelevisian. Hehehehe. Udah segitu aja curhatnya *senyum*

Overall, this movie was a good hit! Give it a go, fellas!

Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.



Senin, 27 Juni 2016

Pernikahan


“Selamat atas pernikahanmu”

“Terima kasih, sudah lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?”

“Baik. Walau pernah lebih baik dari ini”

Sang wanita terdiam, lalu melanjutkan bicara berusaha terlihat wajar “Silahkan disantap jamuannya. Semoga menikmati ya”

Pria itu tersenyum, berbisik di dekat wajah sang mempelai wanita “Kau tau benar, aku tak bisa begitu”

Pembicaraan terhenti, kondisi bersesakan di belakangnya yang menunggu giliran untuk menyalami sang pengantin memaksa pria berkulit putih ini untuk turun dari pelaminan segera.

Raut ceria yang dibuat-buat oleh mempelai wanita semakin kaku. Ia menatap lemah punggung pria yang pergi itu dari kejauhan.

“Kamu tidak apa-apa, nak?” ujar seorang wanita tua bersanggul rapi yang sedaritadi berdiri mendampingi. Semburat kerut terpampang di kulit wajahnya yang sawo matang. Polesan bedak dan gincu belum mampu menutupi air wajahnya yang lelah.

Ia menyentuh lembut tangan sang mempelai wanita. Sentuhan yang hangat dan menyiratkan kekhawatiran mendalam. Tangan wanita tua yang kasar membabat habis kelemahan hati sang mempelai wanita. “Aku baik-baik saja, bu” balas wanita itu, tersenyum tulus.

“Kamu bahagia?” tanya wanita tua itu lagi.

Sang mempelai wanita termangu. Di beberapa detik pertama, satu nama, satu gambaran wajah, dan satu kisah terlintas. Suara berat yang sempat mengisi sebagian besar ruang di gendang telinganya, kembali hadir. Memori akan sentuhan tegas yang sempat memberi keyakinan pada masanya, pelan-pelan menuntut kembali masa kejayaannya.

Di beberapa detik berikutnya, permukaan tangan wanita tua yang kasar itulah yang memenuhi benak.  Isakan tertahan adik yang kelaparan serta bunyi gemeretak gigi di kala menggigil suatu waktu di musim hujan berhasil memukul mundur semua ragu dan memori masa lalu yang sentimental.

Sang mempelai wanita kembali tersenyum, lebih tulus, dan menggandeng sang mempelai pria “Tentu saja, kami sangat bahagia”.


4 Maret 2016 | 11 : 22 PM

Kamis, 26 Mei 2016

Jogja dan malaysia

Selasa 3 Mei 2016




ADA APA DENGAN CINTA 2

Mari pertama-tama panjatkan rasa terima kasih kepada pihak LINE yang telah membangkitkan kembali ingatan pada film AADC tempoe doeloe. Sejujurnya ya, gue bukan termasuk kelompok orang-orang yang menonton film AADC ini sejak dulu. Gue baru nonton (bajakannya) pas udah gede, ya sekarang-sekarang ini. Dulu cuma tau sepotong-sepotong kisah dari cerita teman yang entah bagaimana bisa membuat gue mengerti keseluruhan ceritanya.  Cuma, untuk memuaskan diri gue sendiri, gue pun menonton lagi AADC (bajakannnya) dengan mata kepala gue sendiri.

Nah itu, jadi cuma mau menekankan bahwasanya gue bukan penggemar berat film ini karena meresapi film nya pun masih terbilang baru, ngga sampai 14 bulan purnama begitu. Tapi, strategi pemasaran film ini oke sekali ya. Walau sebenarnya mengingat begitu banyak fans setianya film ini, harusnya cukup dengan sekali mengatakan kalimat 'AADC 2 akan tayang 2016', pasti akan membuat pengumuman ini tersebar viral. Namun ya bagusnya mereka ngga besar kepala ya, tetap gencar, aktif dan total dalam mempromosikan film ini.

Hasilnya bagaimana?

Secara akting, sangat oke. Yaiyalah jelas. Gue sangat suka bagaimana para geng mading itu kembali kumpul. Alami, akrab dan bodoh, persis seperti aktivitas semua geng perempuan kalau ngumpul pada umumnya. Suka juga bagaimana kehidupan masing-masing sahabat digambarkan bervariasi. Ada yang menempuh jalan salah dan akhirnya kembali. Ada pula yang menempuh jalan kekal abadi. Cukuplah merepresentasikan kehidupan yang sangat dinamis hehe Mengekspos jogjanya oke sih, walau ya ngga terlalu terekspos semuanya. Mungkin AADC 2 ini ingin menunjukkan sisi indah jogja yang lain, yang ngga semua orang selalu tau. Kalau secara cerita........ kembali ke masing-masing pribadi ya hahahaha. Gue tidak ingin membahas sisi cerita berdasar endingnya (karena gue punya pemikiran yang berbeda wkwk), namun gue sangat suka bagaimana mereka menyelipkan nafas sastra di dalam dialog dan keseluruhan film ini. Parah ya puisinya bikin kesal. Terlalu keren puisinya. Semua pria yang pandai dalam berkata-kata, apalagi dalam sastra, apalagi ganteng adalah sebuah ba-ha-ya.

Kalimat ini muncul di awal film dan ini yang paling membuat gue (dan mungkin hampir semua penonton AADC 2) jatuh cinta..

"kau yang panas di kening, kau yang dingin dikenang"

Selamat menonton!

--------------------------------------------------------------------

Senin 23 mei 2016

dewinya sangat sedih ngga dapet seat di tempat biasa hiks


MY STUPID BOSS

Film ini mengambil latar malaysia sebagai lokasi syuting. Tidak terlalu banyak pemandangan malaysia yang diambil karena memang bukan itu fokusnya. Cukup perhatikan karakter reza rahadian dalam film ini dan kamu akan tenggelam di dalam.... emosi. Wkwkwk. Pembawaan akting reza rahadian sebagai karakter yang sangat menyebalkan boleh dibilang sangat sukses. Karena yap.... dia benar-benar menyebalkan di film ini. Walau gue masih tidak paham kenapa bossman (karakter reza) harus terlihat buncit dan berbadan besar.. pun sebenernya gue masih bingung si bossman ini memang hanya perutnya saja yang buncit atau juga ingin terlihat besar semuanya.. soalnya ngga pas gitu proporsi badan sama wajahnya. Tapi yasudah, abaikan keabstrakan fisik si bossman, karena lebih dari itu, pikiran dan omongannya lebih berantakan lagi,

Film bergenre komedi ini dikemas sangat....... bodoh dan mengesalkan namun luar biasa! Bagaimana tidak? Hampir setiap menit film ini, ada aja yang bisa diketawain. Gue sampai lelah ketawa. Gue bener-bener lelah :( Dan untuk masing-masing pemainnya, mereka memerankan peran dengan sangat amat epic! Berperan sesuai porsinya dan menambah nilai humornya. Ada yang mukanya datar lah, tukang gombal lah, pokoknya jadi harmonis deh antar karakter. Namun, tetap, bossman yang paling minta dibunuh memang, 

Nilai moral film ini kira-kira adalah... hmm... 
1. sengeselin-ngeselinnya seseorang, mungkin dia benar-benar ngga sadar kalau dia ngeselin. Coba digebukin dulu biar sadar. 
2. seburuk-buruknya perilaku seseorang, mungkin masih ada tersimpan cahaya di hatinya yang menunggu untuk dinyalakan seterang-terangnya. Coba dibakar pakai obor biar terang.   
3. sebaik-baiknya seseorang hari ini, masih ada kemungkinan untuk buruk lagi di esok hari. life is never flat, dude.

Hahahaha. Gitu deh pokoknya mah, I love you Reza Rahadian.

Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.