Halaman

Rabu, 22 November 2017

Do Re Mi Fa Sol La Si

Maaf, ini bukan postingan musikal. Ini hanya postingan mengenai review 7 buah film. Silahkan disimak *tutup muka *malu karena nunda tulisan terus

**********************************

Selasa 12 September 2017


PETAK UMPET MINAKO

Alur film nya campuran, lumayan enak diikuti dan dinikmati. Film genre horor ini disuguhkan dengan gaya yang berbeda. Gue gatau teknik pengambilan gambarnya namanya apa, tapi gue pribadi menyebutnya efek patah-patah lol. Asik sih, beda gitu, tapi tetap ngga menyebalkan atau terlihat berlebihan. Kalau ditinjau dari segi seni perfilmannya sih jujur gue suka. Make up zombie nya sih favorit ya, plus akting aktor artisnya meresap sekali ke kalbu masing-masing nampaknya haha. Di film ini juara hati koe adalah zombie nya. Hahaha. Kalau dari segi cerita, buat gue masih ada celah yang bisa gue pertanyakan dan perdebatkan. Dan kadang ada beberapa momen yang suka lost gitu feel nya. Overall, ketegangan suasananya dapet sih. Twist nya pun ada, walau tidak sebesar yang gue harapkan (ah again, expectation ruin everything haha). I enjoyed the movie by the way, thankyou dear all crews! Sekian :)


Sabtu 30 September 2017

PENGABDI SETAN

Ada bahasa isyarat indonesia nya! Wohooo *berteriak histeris. Oke fokus, Dewi. Sebelumnya, gue ingin klarifikasi dulu. Gue bukan penggemar film horor ya. Kebanyakan teman-teman gue salah paham dan berpikir genre film favorit gue itu horor haha. Tolong ya teman-teman dikoreksi pikirannya wkwk. Hanya saja kebetulan, belakangan banyak film-film indonesia bergenre horor dan plot cerita atau pun produser film nya menarik perhatian gue. Makanya kutonton. Seperti itoe yha (ngga penting amat sih dew klarifikasinya wkwk).

Lanjoet. Gue suka film ini secara keseluruhan. Pengambilan gambarnya enak, timing hantu nya pas mantap, ada humor nya pula di waktu-waktu yang tepat dan pemerannya ngga usah ditanya lagi kredibilitas nya, Walau rambut nya Dimas Aditya di film ini sangat mengganggu kesejahteraan mata gue, ya tidak apa-apa, gue maafkan. Scene favorit gue adalah scene antara si ibu dan anak laki-laki nya yang paling gede. Scene paling bangk* sih. Hahahahaha. 

"Sisir rambut ibu"
"KE SALON AJA BU MEREKA LEBIH PROFESIONAL. INI UANGNYA!"

#naskahjikasanganakkayaraya

Walau sesungguhnya gue masih kurang memahami intensi kedatangan para anggota sekte di kali pertama, tapi gue tetap menikmati plot twisted yang disuguhkan. Secara keseluruhan, film ini cukup memuaskan untuk kelas film horor indonesia. Walau gue berharap ada teka-teki yang lebih kompleks, tapi tidak apa-apa., aku tetap suka. Satu hal sih yang gue sayangkan sedikit. Akhir film nya kurang menunjukkan pesona horor elegan yang misterius. Padahal gue udah suka ide ending menggantung ala film horor barat nya, cuma..... mereka terlalu lama di bagian ending. Harusnya mereka bisa mengakhirinya dengan potongan lagu bernuansa klasik dan menunjukkan gambar-gambar atau menyorot ke pemandangan taman di luar kamar atau entah apa deh yang klasik, dibanding menyuguhkan tarian dua sejoli haha. Well, but they really did a great job. Semoga kalian tidak ketinggalan film ini ;) Sekian! 


Kamis 26 Oktober 2017

POSESIF

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat judul film ini di akun IG @filmnasional. Lalu trailernya pun muncul dan membuat gue yakin "wajib menonton film ini. fix". Hasilnya? Tidak mengecewakan. Sama sekali. Topik yang diangkat juara sih, twisted nya juga juara. Pesannya yang tersirat banyak banget, bagi yang meyakini. Haha. Mungkin ada satu adegan yang menurut gue jika dibuat lebih keras bisa bikin lebih asyique. Adegan menampar. Tapi kucoba tak beri spesifik adegan menampar oleh siapa ya hahaha. Duh susah banget deh bikin review tapi ngga spoiler #plak. Adegan menamparnya ada yang kurang real gitu, jadi sayang aja, padahal udah mantap. Menurut gue pribadi ya hehe. Keseluruhan cerita? Mantap jiwa komandan! Jangan lupa, jauhi hubungan yang tidak sehat yes. Sekian :)


Jumat 3 November 2017

HUJAN BULAN JUNI

Gue nonton ini karena penasaran bagaimana peletakan puisi nya aja sih. Oh, ternyata dipampang lirik puisinya. Plot nya teh ala cerita romantis pada umumnya sih. Cuma karena dialognya elegan dan puitis aja jadi menambah nilai jual hehe. Ini film yang manis tapi bukan selera ku. Kalau kalian suka film penuh bait puitis, jangan lewatkan film ini~ Sekian!


Senin 13 November 2017

WAGE

Ku jujur bukan anak yang suka mengikuti sejarah. Ku tidak tau banyak tentang pak WR Supratman. Ku lumayan terpukau dengan ceritanya. "Oh ternyata pak Wage begitu. Waw". Teman gue ada yang berpendapat bahwa film ini ceritanya terlalu banyak topik dan jadi tidak fokus. Buat gue sih enak-enak aja. Biarkan mengalir dan yang dibuat menggantung biarkan tergantung wkwk. Mas tokoh utamanya lumayan menyita perhatian sih. Cocok untuk memerankan pak WR Supratman. Dan olala~ Pengambilan gambar film ini ku suka sekali. Apalagi scene saat mas Wage bermain biola dengan latar belakang mentari. Daebak. Kalau dari segi pemain yang lain... ada sedikit yang ngga sreg. Mungkin karena pernah melihat orang yang bersangkutan di suatu acara bergenre komedi sehingga mendistraksi penilaian gue terhadap perannya yang serius sebagai pejuang di film ini haha.

Ada yang tanya ke gue "Gimana wage? bagus ngga?"

Gue pribadi sih suka film ini karena sedikit memberi gambaran ke gue tentang salah satu tokoh penting di Indonesia. Lagipula, rasanya cerita mengenai pahlawan itu belum pernah ngga bagus haha. Ditambah teknis pengambilan gambarnya juga oke. Ada satu hal lain yang mengganggu sih : teks warna merah darah.  Di awal film, penulisan kru film sudah ditunjukkan sejak film dimulai dengan teks berjalan warna merah. Menurut gue itu lumayan bikin sakit mata sih dan terkesan agak kasar aja penempatan teksnya. Cuma ya...... bisa gue abaikan lagi lah. Tidak mengapa wkwk

Kalau ingin tau secuil kisah tentang sang maestro kita, film ini cocok untukmu :) Sekian~



Senin 20 November 2017

NAURA & GENK JUARA

Gue mulai tertarik pada film ini karena beberapa hal :

1. tema nya tentang anak kecil. persahabatan dan alam
2. musikal ala petualangan sherina
3. pas nonton trailer, terlihat ada penggunaan animasi dalam film ini. Ada bagian saat naura bernyanyi lalu digantikan dengan naura versi kartun. Looks cool.

Dengan 3 alasan tersebut, gue pikir film ini cukup menjanjikan untuk menjadi film panutan anak-anak masa kini.

Bagaimana eksekusinya?

Jujur..... gue merasa datar sih haha. Membuat film musikal emang ngga mudah. Kesulitannya adalah bagaimana supaya tidak terkesan dibuat-buat banget gitu nyanyinya haha. Menurut gue... film ini berlebihan wkwk. Banyak nyanyi bareng-bareng nya. Gue agak terganggu. Apalagi ada momen di saat mereka (seluruh anak anak yang ikut perkemahan) sedang menyiapkan strategi penyelamatan secara diam-diam. Mereka harusnya bergerak diam-diam dan rahasia, dan perkemahan mereka termasuk tempat rawan lah boleh dibilang. Eeeeeh.... mereka malah nyanyi rame-rame seru sambil nyiapin strategi di tempat kemah. Yang bener aja lo! Kesel. Wkwkwk. 

Dan ada cerita yang ngga bisa gue terima dengan akal sehat gue. Dibanding memilih memberitau orang dewasa kalau mereka melihat truk penculikan hewan, mereka malah bertindak sendiri sampai temannya ditangkap. Setelah teman ditangkap, baru ngadu ke orang dewasa. Ya ampun nak. Capek tante.

Sebenernya ide nya oke. Tema nya juga bagus banget, mengenai alam dan ada nasihat persahabatannya. Cuma gue merasa agak kurang alami aja. Hehe. Btw, scene saat naura asli dan naura versi kartun bernyanyi itu bagus! Gue suka. Semoga film yang menggabungkan 2D dan aktor real bisa diperkaya lagi ya~ Ala ala space jam gitu kan suatu saat mungkin haha 

Oh terus gue baru tau setelah nonton bahwa ada jarkoman di grup emak mengenai film ini hehe Sepertinya ada yang tidak suka dengan penggambaran tokoh penjahat di film ini karena mereka digambarkan sering mengucap kalimat Allah (contoh paling sering: astaghfirullah) tapi yang mereka perbuat adalah kriminal. Awalnya pas gue nonton juga gue bingung kenapa penjahatnya ngomong astaghfirullah haha. Jarang-jarang digambarkan begitu. Biasanya pakai kata 'astaga' atau 'eh copot eh copot' (karena genre semi komedi untuk anak-anak, jadi ya pemilihan kosakata nya biasanya umum tapi konyol). Jadi banyak multitafsir oleh netizen. Semoga ini jadi pembelajaran aja sih hehe Lebih baik pemilihan katanya konsisten dengan karakter pemain. Jika jahat ya dibuat berkata sembarangan, jika baik ya dibuat berkata santun.  Begitoe lah ya kurang lebih. Sekian :)



Senin 20 November 2017

MARLINA SI PEMBUNUH 4 BABAK

The next level of indonesian movie ya sepertinya ini haha. Keras film nya bung. Entah kenapa terasa pilu. Pemandangan alam nya allahu akbar sekali. Indahnyaaaaaa. Shoot nya edan edan sih. Itu kepala manusia nya juga mantap sih. Hahaha. Kisah wanita pinggiran dan perjuangan hidup nya. Keras. Bukan tipe film yang bisa dinikmati dengan perasaan riang gembira di akhir film nya sih, namun sebagai sebuah seni.... ini bagus. They did a great a job. Well done!


Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 21 Agustus 2017

Film-film yang tertunda

Yea, i guess it's still a bit difficult for me to be on time in writing the movie review lol. Argh, my bad. It's not like anybody wait for it sih, yet i still need to be consistent and give my all on what I did, right? Huh, I'll try my best not to postpone it next time. Hu-ha!

Kamis 27 April 2017


THE CURSE

Oke, sejujurnya menulis review film yang ditonton berbulan-bulan lalu adalah bukan suatu hal yang mudah. Wkwk. Banyak potongan ingatan detil yang pasti sudah rontok satu per satu. Namun saya akan berusaha! *gulung lengan baju ala mau berkelahi. 

Dipandang dari segi ceritanya, sesungguhnya tema yang diangkat lumayan menarik : pengungkitan kembali kesalahan yang terjadi di masa lalu. Diungkit tidak menggunakan jalur hukum maupun keadilan yang (ironisnya dipercaya) sudah tidak jelas basis pembelaannya. Namun, diangkat kembali menggunakan bantuan hal gaib.

I was like "Oooh"

Namun oh namun, ada beberapa hal yang agak kurang gue terima di sini. Dalam suatu adegan, pemeran utama (katakanlah A) meletakkan mobil nya tepat di depan gerbang rumah B lalu menyelinap masuk untuk menemui B. Tak lama setelah adegan penyelinapan nya, C pun tiba di rumah B. Oh si A ngumpet ngomong-ngomong. Lalu B dan C ini asiklah ngobrol bermesraan mengenai rencana jahat mereka. 

Yang tidak masuk akal : Lah emang si C ngga lihat ada mobil orang lain menghalangi gerbang masuk? Si C ini datang dari mana? Jatuh dari langit-langit?!

Versi husnudzan : (a) mungkin ada dua gerbang masuk (b) mungkin si C ini memang baru keluar namun tidak keluar dari kawasan rumah, hanya cari angin di pekarangan mereka yang luas banget itu aja, so jadi dia ngga liat kalau di depan gerbang masuk utama ada mobil orang asing yang bertengger cantik.

Hal menyebalkan lainnya adalah.... bagian akhirnya. Gue tidak tau apakah itu kesalahan bioskop gue atau memang film nya dibuat menggantung seperti itu. I mean... ini bukanlah menggantung yang wajar. Ini keterlaluan haha

"Jadi bagaimana cara saya untuk menghilangkan sixth sense ini?"

"Satu-satunya cara untuk menghapus sixth sense kamu adalah..."

Lalu layar bioskop menjadi hitam dan bermunculan lah nama orang-orang yang berjasa di balik pembuatan film ini. Tamat.

Kan... agak oink oink. 

Versi huznudzan (II) : satu-satunya cara untuk menghapus sixth sense kamu adalah... mati. Mati! MA-TI! MATIKAN FILM INI SEKARANG JUGA!

Begitulah versi hunsudzan terbaik yang bisa gue suguhkan.

Maka simpulan dari film ini adalah... *layar laptop mati* *tamat* Sekian :)


Senin 26 Juni 2017


SWEET 20

I LOVE THIS ONE AND I LOVE TATJANA #slapped

Ku bahagia akhirnya Tatjana mendapat peran yang seru seperti ini. Dan sungguh, gue sebagai penikmat miss granny versi korea merasa terpuaskan dengan film remake ini. Terima kasih semua kru! Kalian menyenangkan~

Oh, di antara semua adegan yang telah sukses direka ulang atau dimodifikasi, mungkin hanya satu adegan saja yang sedikit kurang memenuhi ekspektasi gue. Bagian saat si cucu ingin melamar nenek muda nya menjadi penyanyi utama band. Nah, itu aja sih agak hilang sedikit penekanan kesalah pahaman interpretasi intensi di antara keduanya. Kalau di korea, di bagian adegan itu diberi flashback ingatan jaman dahulu saat almarhum kakek melamar, makanya saat sang nenek menolak "tidak tidak tidaaak" itu lebih jelas maksud dan penyebabnya kenapa. Kalau yang di Indonesia tidak ada penekanannya, jadi kurang mantap aja. But, that's okay.

Keseluruhannya film ini sangatlah menghibur dan membuatku rindu keluarga. Ku.. menangis seperti saat menonton miss granny sih. Apa lah aku ini, hanya jajahan bawang merah.

Pokoknya aku suka tatjana. Dia cantik. Sekali. Dan oh! Terima kasih morgan sudah memutuskan meninggalkan dunia boyband dulu, senang melihat mu sebagai aktor. Semoga bertemu lagi di lain film~ Sekian :) 


Selasa 1 Agustus 2017

Selasa 8 Agustus 2017

MARS MET VENUS

Wah, gue baru tau bahwa jarak gue menonton kedua film ini persis 1 minggu. Haha #faktapenuhfaedah

Gue terhibur nonton film ini, perut gue sakit dan ekspresi ge pamungkas selalu tidak santai dan minta dibantai. Konsep film nya asik, mencoba mengurai film dari dua sudut pandang dan bercerita dengan modal dasar pembuatan vlog. 

Film nya enak, santai dan ringan. Kalau mau yang berat, coba cari film karya ilmiah saja ya. Jangan yang ini.

Secara keseluruhan gue suka. Namun secara prinsip pribadi, gue agak tidak terpuaskan dengan cerita di balik "mengapa sang cowok belum memperkenalkan sang wanita pujaan kepada orang tuanya". Alasan di balik tak kunjung diungkapkannya hubungan mereka bahkan setelah 5 tahun itu terlalu dangkal menurut gue. Gue agak kurang kena di bagian itu. Ku pikir ada apa, eh ada bakwan saja ternyata. Huft.

Surprising element : lukman. Hahahaha. 

Gue pernah baca komen seseorang yang menonton premier mars met venus part cowok. Begini kurang lebih bunyinya "Gila akhirnya di film ini Lukman muncul dan ngga nyangka banget dia orangnya hahaha"

Semenjak itu gue penasaran. Siapa memang lukman? Sampai tidak disangka begitu.. Apa benar sama sekali tak bisa disangka?


Dan...

Benar tak kusangka! Hahahaha! Lumayan membuat gue tertawa sih.

Terima kasih, film nya menghibur! Tapi jangan sering-sering ya bikin film kayak gini. Nonton perlu uang bung! Ngga usah lah diganda-gandakan. Cukup pemain bulu tangkis aja yang ganda! :"))))))





Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Rabu, 31 Mei 2017

Just read

Take me to the place where freedom isn't a myth
Bring me the person that makes my heart always in irregular beat
Though this feelings may not be as red as beet
I know still, that this is worth it
We would never know whom we're going to meet
Whatever it may be, i just wish it's not another skit
Don't cause a mess, since I ain't no shit

23:14 WIB


Selasa, 25 April 2017

Tonight's flow

Assalamu'alaikum! Halooo! Anyeong! Konbanwa! Gute nacht!

Ceritanya gue sedang rindu menceritakan hal-hal remeh mengenai aktivitas gue hehehe. Izinkan kali ini gue bercerita panjang lebar dan saling kait mengait seperti jaring laba-laba. 

Jika kalian bertanya "apa ada hal spesial yang terjadi malam ini?". Gue akan jawab, "setiap hari adalah spesial". Gue yakin itu terdengar sebagai omong kosong belaka haha. Dan gue tidak akan menyalahkan kalian jika interpretasi itu yang ada di dalam kepala kalian. I'm okay. Yet, i really mean it.

Kelebihannya hari ini adalah gue merindu pada spontanitas dan kerajinan diri gue menulis di zaman dulu (wah tua sekali rasanya saya sekarang ya *periksa ada uban apa engga*).  Ah, gue harap kalian selalu dalam keadaan berbahagia. Mari baca sedikit kebahagiaan versi saya. Kalau belum ada waktu, bisa dicoba lain hari. Santai, in sya Allah jika diberi waktu, kita bertemu lagi.


PILOXING

Sebenarnya gue awalnya ngga ingin bercerita soal aktivitas yang mulai gue coba tekuni sejak awal tahun 2017 ini, takut ngga konsisten hahaha Yap, aktivitas rutin berolahraga. Wah, ini bukan hal yang mudah untuk gue yang lebih memilih menjadi suporter di bangku penonton tiap ada kompetisi olahraga kampus atau yang berolahraga hanya bila mendapat nilai. Kalau boleh jujur, dari lubuk hati yang terdalam, gue bersyukur mengalami peningkatan berat badan. Banyak yang bisa gue ambil hikmahnya : bahwa tubuh gue perlu diperhatikan dan orang-orang tak akan pernah bisa kita puaskan secara bersamaan. 

Teman gue pernah bertanya begini "Ikutan olahraga kayak gitu bukannya ngga bikin tambah kurus ya?". Sepertinya gue bilang saat itu bahwa ya bukan kurus kok tujuan utama nya. Lalu dia dan nada sinisnya (wkwk) menjawab ulang "Yakin? Jujur lah, ngga usah munafik. Pasti mau kan berat badannya turun?". Gue diam sambil merespon pelan dan tak percaya diri "Ya... mau sih". 

Sekarang, setelah gue berpikir ulang, izinkan gue klarifikasi. Kalau ditanya "apakah gue mau berat badan gue menurun?" Oh tentu saja mau. Mengapa tidak? Ya kan? Namun, yang gue lupa tekankan saat itu adalah tetap saja, jujur, bukan itu yang gue benar-benar inginkan. Gue ingin badan gue kuat. Gue ingin otot gue terbentuk agar tidak kendor dimana-mana. Ya, ngga usah berotot-otot amat kayak atlet angkat besi juga ya. Gue ingin merasa.. kencang? Haha. Dan kedua, gue ingin menantang diri gue sendiri untuk berubah. Gue ingin benar-benar peduli pada kesehatan dan kekuatan tubuh gue. Itu! *menunjuk ke arah penonton* Kurus? Bonus~ Hahaha.

Oh soal pernyataan "orang-orang tak akan pernah bisa kita puaskan secara bersamaan", itu maksudnya adalah setiap orang punya selera masing-masing. Seriously, ada yang bilang badan gue bagus pas berisi begini, di sisi lain ada juga yang menyarankan (dengan keras) untuk menurunkan berat badan, sementara di sisi seberang ada juga yang ngga peduli dan ngga membahas (terima kasih Tuhan telah melahirkan orang tipe yang ketiga hahaha). Jadi? Gue akan mengurus badan gue sesuai dengan yang gue harapkan karena gue lah yang dititipkan tubuh ini oleh Allah. Yeah, swag.

Ngomong-ngomong... ITU BARU PARAGRAF PEMBUKA LOH HAHAHA

Gue mau bercerita tentang olahraga piloxing yang gue alami malam ini padahal hehehe. Yaudah, gue persingkat deh wk. Sebelumnya gue pernah mengikuti piloxing sekali, dan..... banyak duduknya. Gue kabur. Hahaha. Pegal pakbos! Piloxing di tempat gue itu ya gabungan boxing, pilates dan dance katanya. Sebenarnya kalau gue pikirkan baik-baik, gerakannya biasa aja. Sederhana. Tapi kok ya pas gue praktekin rasanya badan ini menjadi lunglai tak berdaya. Kelamaan dimanja sih badannya. Peserta lain ada yang tumbang bersama gue, namun lebih banyak yang bertahan. Nah, itu pengalaman pertama gue. Malam ini adalah pengalaman kedua. Gue sempat ragu, cuma berhubung gue baru saja membuat dosa di siang hari (makan 4 potong pizza meat lovers pinggiran sosis ukuran medium yang ternyata sangat memenuhi rongga perut gue) dan bolos yoga di pagi hari, akhirnya gue menguatkan niat untuk piloxing. Oh anyway, gue itu olahraganya suka beda-beda, kadang yoga, kadang zumba, sekarang lagi coba piloxing. Ya, mumpung paketnya bisa milih jenis olahraga sesuka hati ya mengapa tidak kan, sahabat super.



Gue datang lebih awal di saat yang lain belum tiba. Gue mengitari ruangan yang berisi hiasan pajangan kata-kata motivasi untuk berolahraga. Salah satunya adalah foto yang gue pampang di atas. Gue merenung cukup lama pada pajangan ini hingga secara tidak sadar ternyata kalimat ini meresap begitu dalam masuk ke kulit hingga aliran darah (oke, suka-suka lo). Interpretasi kalimat ini buat gue adalah : Kaki lo ngga capek woy, otak lo aja yang kasih instruksi buat menyerah. Dasar labu siam kaleng! Lembek!

Nah, dengan semangat itu gue memulai piloxing yang alhamdulillah berakhir tidak selemah sesi pertama. Yey! Kali ini gue coba menerapkan cara bernapasnya yang pada pertemuan sebelumnya tidak gue ketahui. Beda ternyata cara bernapasnya sama yoga *nyengir. Dan tak lupa, sambil dihantui kalimat petuah dari pajangan itu, gue berusaha sekuat tenaga untuk tidak manja. Sesekali gue berhenti sebentar atau mengendurkan tenaga gue, namun gue merasa lebih puas di sesi ini daripada sebelumnya. Progress yes.

"Pas pertama kali piloxing kamu banyak istirahatnya ya, sekarang udah lebih bagus" kata mbak-mbak instruktor manis yang terlihat lebih muda dari gue (atau seumuran tapi gue nya aja yang agak boros wk hiks).

Wah gue senang dia mengingat gue, plus gue jadi lebih merasa semangat karena dihargai prosesnya. Jadi maloe. Unch. Apakah gue akan lanjut piloxing lagi? Lihat saja nanti bung hahaha.


BIG BANG - WINNER

Tepat setelah gue selesai pulang dari piloxing, sahabat gue tersayang yang sedang sibuk-sibuknya mengamati tren Kpop menawarkan gue untuk menonton suatu variety show yang ada bigbang nya. Oh, gue juga sukses diracuni bigbang olehnya. Terima kasih kupanjatkan, wahai sahabat sejati (lafalkan menggunakan nada meledek). Variety show kali ini tentang sekelompok trainee dari YG entertainment yang sedang memperebutkan posisi debut. And I was like "wow.... life is tough". Dan gue sangat salut pada agensi korea yang betul-betul memoles talent nya sebening dan seberkualitas mungkin sebelum diluncurkan ke publik. Ditempa selama bertahun-tahun..... gila sih. Udah gitu sebelum bisa debut, harus bertarung dulu dengan sesama trainee lain. Gila sih. Luar biasa!

Oh bigbang sebagai juri kok by the way haha. Winner adalah salah satu tim yang sedang dievaluasi di variety show itu. Sahabat gue tersayang ini sedang jatuh-jatuhnya sama Winner jadi doi kini hobi mengulik segala macam sejarah hidup Winner haha.

Melalui segala obrolan kpop ini, gue percaya bahwa memang sifat kerja keras dan pantang menyerah itu selalu penting. Dimanapun, kapan pun, apapun ceritanya. Pastikan berjuang di jalan yang benar yah hehe. Benar menurut apa? Kalau gue sih masih pakai acuan agama, ngga tau yang lain. Dan satu hal lagi, perasaan manusia benar mudah sekali dibolak-balikkan hahaha.

Rasanya kemarin gue dan sahabat gue ini hanya tau nama TOP, tanpa tau bahwa dia adalah anggota bigbang. Perlahan mengetahui anggota yang lain lalu kemudian menjadi suka pada satu kesatuan bigbang. Oh, sejak dulu (SMA), gue mengakui lagu mereka enak didengar sih, cuma gue ngga pernah lihat muka anggota bigbang sebelumnya. 

Rasanya kemarin gue dan sahabat gue cuma membahas winner sebagai lelucon untuk seungri. Perlahan, sahabat terniat jika ingin ini pun kecantol dan menjadi inner circle (sebutan fans winner). Kali ini, gue hanya menyemangati saja di sisi seberang. Gue tidak ikutan haha. 

Rasanya.. akan lebih banyak lagi yang berubah untuk ke depannya. Semoga untuk hal yang lebih baik.

Dear sahabat, jangan lama-lama fan girling nya, diurus itu ya proyek minuman coklat nya hahaha. Aku mendoakanmu selalu.


CITA-CITA


Ini adalah chat ter-halu yang gue dapet malam ini. Hahaha. Gue? Mau jadi guru? Wah. Luar biasa. Entah beliau sedang mabuk skripsi atau emang ingatannya lagi kecampur-campur bareng cendol. Gue tidak pernah menyatakan keinginan gue sebagai guru kecuali saat gue masih duduk di bangku SD. Itu pun tak bertahan selama sehari dan segera berubah menjadi "aku mau jadi dokter". Sungguh tak setia.

Lucu sekali. Gue jadi tertawa. Gue merasa profesi guru itu adalah pekerjaan yang... sangat berat. Untuk itu gue tidak merasa ingin melakukannya haha. Gue akan memulai menjadi guru untuk diri gue sendiri dulu dan anak-anak gue nanti. Kalau untuk anak orang lain.... gue pertimbangkan lain kali yah. Siapatau kelak gue punya keberanian dan ilmu yang berlebih, in sya Allah tidak ada yang tidak mungkin hehe. 


Ah ngomong-ngomong, ini adalah foto yang teman gue bilang cakep dan tidak berdosa. Itu gue. Sekian dan terima kasih. Silahkan pergi saja buat kalian yang tidak percaya. Enyah lah dari dunia Dewi! Hahaha.


Wah! Sudah tiba akhirnya di penghujung tulisan. Bahagia sekali rasanya menulis acak begini. Hehe. Berhubung lagi bicara tentang menulis, ada satu kalimat Raditya Dika yang entah mengapa selalu menempel di kepala "Cara untuk menulis yang bagus adalah dengan menjadi jujur pada tulisan lo". Wah, sederhana tapi merdu.

Begitulah. Gue ngga bisa bilang tulisan gue ini bagus atau tidak, tapi gue coba menyuguhkan kejujuran dalam setiap kata. Pada akhirnya, yang menyukai akan tetap bertahan membaca, dan yang tidak sesuai dengan seleranya akan pergi tanpa disuruh. Berlaku untuk segala situasi. Hehe.


Oke. Sekian dan gue akan pamit undur diri. Terima kasih! Selamat berbahagia! Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


Rabu, 19 April 2017

Bila sejarah divisualisasikan

Rabu 19 April 2017


KARTINI

Kali ini gue tidak akan menulis terlalu banyak review. Pun tak perlu membahas akting para pemeran karena memang mayoritas semuanya adalah aktor artis veteran. Siapalah gue ini untuk membahas kemampuan mereka hahaha. Permainan apik dan penekanan emosi yang pas tentu mereka ciptakan dengan brilian.

Gue cukup terpuaskan dan terserap pada keseluruhan cerita film ini. Saat sejarah divisualisasikan... mungkin tidak semua elemen bisa disampaikan terperinci dalam sebuah film berdurasi kurang lebih 120 menit. Namun menurut gue ini merupakan media pembelajaran yang menyenangkan. Setidaknya penonton bisa menerima inti pesan yang disampaikan pejuang dahulu melalui akting cerdas para pemeran. Harapannya minimal penonton Indonesia bisa membawa pulang bekal rasa semangat nasionalisme itu atau lebih bagus lagi jika mereka turut serta membungkus rasa ingin tahu lebih mengenai kehidupan para pahlawan yang diharapkan bisa memacu motivasi generasi muda untuk menjadi lebih baik. 

Apapun itu, film berkonten mendidik dan penuh makna tentu harus dibudidayakan kan? Hehe I'm happy :)

Sekilas cuplikan dialog...

"Apa yang sudah kamu pelajari dari aksara londo tersebut Ni?"

"Kebebasan"

"Apa yang tidak kamu pelajari dari aksara londo itu?"

"... Ni tidak tahu bu"

"Bakti, nak. Bakti"




P.S. Hanya satu orang yang mendistraksi gue di film ini : mas Dwi Sasono. Ya ampun, karakter mas Adi terlalu melekat di relung sukma gue. Sepertinya, dengan sangat menyesal, gue tidak akan pernah bisa melihat beliau sebagai mas Dwi Sasono lagi, tapi mas Adi :(

Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 18 April 2017

Malam panjang atau terakhir?

Minggu 9 April 2017


NIGHT BUS

Singkat cerita film ini mengisahkan perjalanan sekelompok massa menuju daerah rawan konflik. Dipercaya bahwa konflik antara warga dan aparat timbul dikarenakan adanya gerakan separatis di daerah Sampar. Namun apa benar sesederhana itu?

Gue pribadi menyukai ide cerita nya. Sederhana, namun banyak yang bisa terjadi dalam perjalanan satu malam. Pengangkatan isu konflik di suatu daerah juga merupakan poin spesial. Belum banyak yang menyoroti fenomena ini walau sebenarnya mungkin sudah banyak kejadian mengerikan di daerah merah yang tidak terekspos. Pada akhirnya semua harus paham bahwa tidak ada hal baik yang terjadi dari suatu perpecahan.

Sepanjang film gue berpikir "Jelek sekali bus ini ya". Mau bagaimana, penampilan bus ini memang dekil wk. Oke, itu tidak terlalu penting. Justru semakin memperlihatkan bahwa bus ini merupakan bus veteran yang sudah sering beroperasi hehe.

Pemeran favorit gue di film ini adalah yang menjadi kenek bus. Man, he is so natural. Lol. Benar-benar selayaknya abang-abang kenek. Centil selama ada kesempatan, konyol, jagoan, tempramental, gentle jugak, dan memiliki preferensi lagu melayu atau dangdut. Digoyang mang digoyang~ Ah satu lagi poin tambahan detail yang menurut gue bagus : abang kenek ini tidak bisa membaca. Terasa lebih nyata dan masuk akal. Terlebih, karakter abang kenek ini adalah karakter anak terlantar yang akhirnya diasuh oleh sang sopir. Melihat background kehidupannya yang hanya berkutat dengan bus dan trayek daerah pedesaan, wajar saja tak ada waktu belajar. Bertahan hidup hingga besok saja sudah bahagia. Jadi entah mengapa gue suka detail itu hehehe. Setelah abang kenek, gue akan mengambil peran om tio pakusadewo dan om toro margen sebagai peran yang gue suka. Mereka berdua sukses menjadi orang yang sangat menyebalkan. Sangat. Hahaha. Pada dasarnya masing-masing pemerannya udah oke kok. Anyway pemeran sang nenek dan cucunya cantik dua-duanya euy. Cantik elegan. Gue suka banget muka neneknya.Walau gue sempat agak kesel ke nenek ini di tengah-tengah karena agak sok fearless gitu. Ditembak aja nek. Duar. Berpisah nanti sama burung kakak tua nek. Huh. 

Oh, film ini didukung oleh CGI juga. Gue agak belum terbiasa menikmati suguhan CGI (ekstrem) di film Indonesia. Jadi agak terkaget sedikit. Ada beberapa adegan yang terasa sekali sentuhan CGI nya, ada juga yang lolos sensor. Jujur, gue masih menikmati film ini walau terkadang ada sentuhan CGI yang gue harapkan tidak perlu ada di dalam film itu wkwk. Lumayan tricky memang penerapan efek dalam film. Namun senang rasanya jika semakin banyak yang berani memainkan efek-efek lebih ekstrem lagi di film-film Indonesia berikutnya. Semoga semakin rapi, berkembang dan berjaya~ Yey~

Segi cerita.. Mengalir lembut seperti air jernih di pegunungan. Lumayan memerangkap gue di bangku bioskop sambil deg-degan membayangkan "Ya Allah, ada apa lagi abis ini? ADA APA LAGI?! DAMN!".  Begitulah, Ada satu pertanyaan "kenapa" yang belum terjawab dengan lugas sesungguhnya. Namun gue bisa sedikit berkompromi dan mengarang alasannya sendiri sehingga gue tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Gue pun suka cara pengantaran secarik pesan penting untuk yang dituju di Sampar. Ada elemen surprise nya, walau tidak sebanyak yang gue harapkan. Terpenting, pesan yang ingin diucapkan di film  ini berbobot. 

Buat gue ada dua yang utama : Satu, perpecahan tak pernah melahirkan solusi, yang terpenting adalah keamanan. Dua, setan tidak hanya berada di antara dua orang yang sedang dimabuk asmara, namun juga di antara dua kubu yang terlibat dalam pertikaian. Katakanlah, setan yang berwujud manusia. Sebut saja nama lainnya yang lebih komersil, provokator. Begitulah. 

Oh gue lupa, ada satu lagi pesan utama yang menjadi tagline film ini : conflict doesn't choose its victims.


Totally agree. Totally scary.

Ah salah satu hal yang bisa diperbaiki untuk peningkatan mutu berikutnya adalah : suara pemain. Ada beberapa adegan yang menenggelamkan suara pemainnya. Hilang, sirna, pudar. Bahkan, pada adegan-adegan genting, semisal percakapan antara pak sopir dan laki-laki misterius. Itu sungguh mengganggu. Gaya bicara pemain yang tersengal-sengal dilengkapi nada suara yang rendah menyempurnakan ketidak jelasan artikulasi dan kata-kata yang ia lafalkan. Modyar sudah penonton dengan taraf penangkapan suara tak terlampau tinggi seperti gue ini.

Buat kalian yang ngga terlalu suka melihat kekerasan, hm, mungkin nonton nya yang lain aja. Atau, nonton bareng temen kamu yang hobi melawak, biar jadi ngga serius-serius amat ehe ehe ehehe. Overall, it was an exciting movie. Oh, anyway, selamat datang pada tren film menggantung. Hahahaha.


Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. 

Jumat, 07 April 2017

Reviewku

Review ku ada lima, rupa-rupa genre nya~

Kebiasaan buruknya kambuh, menunda bikin tulisan. Haiyah. Saatnya ditulis, sebelum menumpuk jadi enam :')

Sabtu 21 Januari 2017

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

Film ini diangkat dari kisah nyata seorang Wiji Thukul, aktivis HAM sekaligus penyair, yang dituduh sebagai pemicu kerusuhan dan berakhir menjadi seorang buronan. Pada awalnya, gue berpikir kisah ini akan terlalu berat untuk gue. Namun berbekal rasa penasaran, gue tetap mencoba menonton film ini.

Gue sangat amat menikmati visual dari film ini. Detailnya pun membuat adegan demi adegan terasa alami. Sesungguhnya begitu banyak adegan hening dalam film ini, namun dengan scene-scene terperinci, semisal adegan kucing berjalan di gang, atau cipratan kubangan di jalanan, membuat film ini tidak serta merta mati. Benar-benar menggambarkan kesepian dari suatu pelarian sih. Benar-benar menjemukan, namun semua pengambilan gambarnya apik. Jadi ya efek menjemukannya itu terjadi karena memang pada kehidupan nyata, tidak ada pelarian yang seru, bukan? 

Pemainnya! Gue sangat suka semua pemainnya. Udah, itu aja.

Tolong jangan tanya berapa kali gue menguap dan menahan kantuk. Jangan tanya.

Yap here I am, penikmat cerita kompleks penuh drama dan misteri. Namun namanya hidup, kompleksnya kadang tak bisa dituang dalam dialog. Saking kompleksnya. And well im not used yet to this kind of movie. Fokus cerita ini (menurut gue) adalah bagaimana perjalanan sunyi sang Wiji Thukul selama menjadi buronan serta syair-syair yang menjadi buah pikirnya.

Anyway, di saat gue berusaha keras menahan kantuk, ternyata ada juga loh yang justru ketakutan sepanjang film ini. Kata temen gue "Takut ih, kalau tau-tau Wiji Thukul nya ketangkep!"

Wah, gue sangat kagum sama pendapat doi. Betapa sebuah karya seni itu emang luas dan bebas diinterpretasikan. Sepertinya teman gue ini sangat menghayati posisi pemeran utama sebagai buronan. Gue harus banyak belajar lagi untuk mendalami film sampai sebegitunya. Keren. Sungguh, menurut gue itu keren, ini bukan sarkasme #fyiaja

Ah, gue tidak tidur kok sepanjang film. Hanya berjuang menahan diri agar tidak jatuh tidur. Gue kembali segar tepat tiap Wiji Thukul melafalkan syair-syairnya. Gue bahkan mencatat sepotong-sepotong (dengan tertatih-tatih karena kecepatan pengetikan gue masih kalah saing dengan kecepatan pengucapan sang aktor). Sayang sekali gue kelewatan bagian beliau melantunkan syair nya di adegan pembuka film. Padahal gue paling suka syair yang awal itu.

Secara sederhana, gue menyukai syair yang disajikan plus segala detail visual yang dipampang. Namun memang gue belum terbiasa dengan tipe film seperti ini. Perlu penghayatan dalam, seperti teman gue itu misalkan, untuk benar-benar merasakan apa yang dialami sang buronan. Sekian :)


Kamis 9 Februari 2017

PERTARUHAN

Gue tertarik pada film ini karena konon digodok oleh tim yang sama-sama memproduksi film serigala terakhir. Sebenarnya gue ngga pernah nonton serigala terakhir sih haha Soalnya dulu kan ngga tertarik sama film. Sejauh yang gue dengar dari mulut ke mulut sih serigala terakhir adalah film yang lumayan keren. Pun saat gue membaca sedikit sinopsis dari film pertaruhan ini, sepertinya satu genre dengan serigala terakhir. Gue juga membayangkan (lebih tepatnya mengharapkan) akan ada adegan action di film ini. Pokoknya dengan segala alasan, akhirnya gue memutuskan untuk menonton Pertaruhan, walau sebelumnya tidak ada dalam rencana yang gue rancang.

Harus ada pengakuan di sini, pemeran empat bersaudaranya ganteng semua (walau gue sangat ingin klaim bahwa Aliando itu cantik sih). Bahkan pemeran ayahnya juga keren. Haha. Auk amat lah.

Akting mereka cukup dan pas sih. Namun oh namun, gue agak terganggu oleh detail plot ceritanya. Sejak awal hingga tengah cerita, gue masih merasakan vibes anak berandalan dan sekelumit kisah hidupnya. Plus, masih masuk akal. Hingga akhirnya plot masuk ke bagian inti cerita, eksekusi pencarian dana untuk pengobatan sang ayah : merampok bank. Ups, apakah itu spoiler? Yassalam, maafkan. Menurut gue, ini bagian penting yang harus dijaga di segala aspek, entah itu secara logika cerita, detail gerakan, ketegangan dan intrik haru yang berjalan sealami mungkin. Sayangnya film ini gagal menjaga itu semua. Menurut gue. Selain keheranan terhadap penjagaan bank yang sangat rendah di sore (atau siang) hari, adegan antara Aliando dan kereta bayi itu... sungguh memuakkan. Hahaha. Maafkan gue, sekali lagi. Bahkan gue belum mencurahkan semua keprotesan yang ada di dalam hati ini. Semoga gue tidak terdengar jahat ya sekarang. Aamiin.

Cuma kalau ditanya secara fair, gue suka sekali akting dan gaya mereka sebagai anak bebas malam. Benar-benar terlihat berandal. Khusus Aliando, ya terlihat seperti anak ABG si pemberontak bawel gitu lah. Lucu. Untuk anak keempatnya juga gue suka bagaimana dia mengekspresikan karakter anak baik yang ingin jadi bandel. Dan melalui film ini pun gue akhirnya mengetahui bahwa ada aktor Indonesia muda yang... ganteng sekali (note : dari sudut pandang seorang Dewi Emillia Bahry sahaja yha). Sekian. Wk.

let me introduce ya all : Jefri Nichol. Lol 

Selasa 28 Februari 2017

MK JAKARTA UNDERCOVER

Gue sudah lama menunggu film ini. Sebagai penonton Jakarta Undercover 2006 (atau 2007), keingin tahuan gue terhadap plot cerita Jakarta undercover yang baru ini tentu saja tinggi. Oh sekedar informasi, dulu gue nonton Jakarta Undercover di layar televisi kok, bukan bioskop hehe. Itu pun ngga sengaja nontonnya. "Lah kok seru", hingga akhirnya harus tidur telat. Wk.

Walau gue tidak sempurna mengingat plot cerita film yang versi dulu, gue ingat memori perasaan gue dulu, tegang-tegang seru begitu. Plotnya sangat menarik, buat gue di kala itu. Buat gue jaman sekarang juga masih seru sih. Saat gue melihat trailer Jakarta Undercover versi baru... sesungguhnya gue tidak berharap terlalu banyak. Gue tau bahwa plot ceritanya tidak akan seseru film yang gue lihat bertahun-tahun silam. Tetap saja, susah kalau sudah ingin tahu kan hehe. Apalagi kalau pemerannya Oka Antara. Saya mah bisa apa selain tergoda. Wk.


Mari kita mulai dari segi pemain. Ah, tolong beri sambutan meriah untuk Ganindra Bimo. Beliau memainkan peran lelaki kewanita-wanitaan dengan saaangat baik. YOU ROCK! Oka Antara ya tentu seperti biasa tampil memukau dan tampan. Baim wong terlihat tengil dan seenaknya sesuai karakternya, Pemain wanita utamanya juga oke. Semuanya oke. Oke sekali. Bahkan pemain orang gilanya saja oke wkwk


Kisah seorang jurnalistik yang membongkar fakta tentang dunia malam dan wanita malam yang berjuang untuk keluarganya. Klasik, tapi pasti banyak sekali kisah nyatanya. Gue suka bagaimana dunia malam coba digambarkan di film ini. Cinta, persahabatan, harta, tahta, wanita, keluarga, pengkhianatan. Campur semua jadi opor drama. Setelah sampai di akhir cerita, gue merasa banyak yang bisa disindir dari film ini. Banyak makna yang bisa diinterpretasikan. Terlalu... banyak. Dan ya, gue suka film yang menyerahkan pada penonton untuk menangkap sarkasme yang ada atau tidak haha.

"Lucu dengar kamu bicara tentang pengkhianatan. Kamu sendiri gimana? Kamu sedang mengkhianati istrimu sekarang" - Laura

Oh sayangnya, gue merasa.. ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab di film ini. Cukup penting dan membuat gue masih penasaran akan jawabannya. Boleh dibilang kekurangan di film ini adalah ada beberapa bagian yang tidak terlalu jelas apa yang terjadi. Ya, gue bisa sedikit berandai-andai sih, namun tetap saja, bagian itu cukup mengganjal. Dan beberapa bagian lain sengaja dibuat menggantung penyelesaiannya, hingga akhir. Film ini tidak memiliki ending yang memberi simpulan. Sepertinya tim sengaja melempar pada penonton untuk menentukan sendiri nasib kisah yang memang susah diberi akhirnya ini. Untuk kasus ini, entah mengapa gue merasa suka dan setuju. Gue merasa lebih realistis seperti ini. Walau mungkin mengesalkan untuk ditonton sebagai sebuah film haha


Oh by the way, adegan terakhir... gue ngga yakin apakah adegan terakhir film ini memang sengaja dibuat untuk lawakan atau bagaimana tapi gue tertawa sangat keras. Ngga ada adegan konyol kok di bagian ini. Ngga ada. Cuma....... cuma gimana ya hahahaha Kalau sudah nonton, in sya Allah mengerti :') Logat bicaranya Oka Antara itu loh :') Ya Rabbi, Mas, kamu kenapa? :')


"IYYHAAA SAMA. MAAF. EMANG SAMA. MHAAAF"

"KAAANGHEEEN"

Kira-kira begitulah. Ngga kebayang ya? Kasian. Hahahahaha. Seriously, this will become my forever jokes with my junior who also watched this movie :') Maafin aku, Mas Oka. Kamu jenaka sekali soalnya :') Tenang, tidak mengurangi kegagahan atau poin aktingmu yang luar biasa itu kok :') Hanya.. jenaka aja :')


*UPDATE 21 APRIL 2017

Gue baru tau suatu fakta hari ini dan gue tidak bisa diam begitu saja setelah mengetahuinya. Gue ingin menambahkan pernyataan. Ganindra bimo di sini aktingnya memang layak mendapat sambutan meriah. Namun, setelah mengetahui satu fakta ini, harus gue deklarasikan bahwa pemain juaranya adalah : Agus Kuncoro. Hormat jiwa raga pada mas Agus, Luar biasa! Idola!

Udah, gitu aja, Hahahaha.


Kamis 23 Maret 2017


BARACAS

Melalui film ini, gue semakin memaknai petuah untuk tidak berekspektasi terhadap manusia. Embel-embel 'film besutan Pidi Baiq' membuat gue tergiur dan terbujuk rayu dengan mudahnya. Plus, aktor kawakan di film genre komedi, Agus Ringgo, turut memeriahkan film Baracas ini. Gue sempat yakin bahwa gue tidak akan kecewa. Entah darimana keyakinan itu datang.

Kini gue tau, bahwa, gue hanya akan mengikuti surayah di jalur tulisan atau lagu band nya (anyway, tepat saat gue sedang nulis review ini, tepat banget saat nulis kalimat ini, lagu mymix youtube gue mendadak muterin lagu The Panas Dalam hahaha. What a perfect timing lel).

Komentar tentang film nya? Hm.

Gue tidak berani berkomentar apa-apa, gue takut kebablasan menjadi orang yang kejam. Mohon dimaklumi. Hehehe.

Kamis 30 Maret 2017

DANUR

Sebagai Shareefa Daanish fangirl, adalah sebuah kewajiban untuk menonton film ini wk. Oh sekilas curhat, gue tidak jadi nonton film ular tangga yang juga dibintangi Shareefa Daanish. Aku fans yang gagal *cry*

Lupakan saja bagian prolog di atas. Mari bahas film nya. Mari puji settingan rumah di film ini yang udah kayak hotel, banyak sekali kamarnya plus lorongnya. Pusing pala Hayati. Banyak ruangan buat menampung makhluk astralnya :"(

Dari segi cerita, apa ya, oke oke aja sih. Walau ngga ada elemen surprise yang spesial, cuma alurnya oke. Bagian tegangnya sih ya tiap kali gue lihat pemeran adik kecilnya itu lagi diasuh sama mbak Asih :') Bagian yang cukup penting dalam film hantu itu antara lain efek suara dan timing kemunculan hantunya ya. Dan menurut gue film Danur ini melaksanakan dua poin itu dengan cukup baik. Ah, ada satu momen kemunculan hantu yang menggelitik tawa, yaitu adegan hantu muncul di balik kaca jendela. Itu.. entah mengapa, ekspresinya... kurang tepat menurut gue. Satu aja kok satu. Ya kan kesempurnaan hanya milik Allah ya, saudara-saudara yang beriman.


Oh gue juga ingin memuji efek yang diupayakan dalam membedakan dunia nyata dan dunia astral. Jadi ada adegan dimana pemeran utama harus pergi ke dunia astral. Gue sempat bingung, kira-kira bakal kayak gimana bentuk dunia astral.. Dan ternyata tim produksi menyiasati dengan memberi efek warna (lampu?) hijau dan merah. Persis seperti efek di video clip zayn malik ft taylor swift yang I don't wanna live forever. Gue bahkan sempat terdistraksi dan membayangkan akan ada mas Zayn atau mbak Taylor yang nyanyi di pojok ruangan. Terlepas dari segala distraksi itu, gue entah mengapa suka dengan ide pemberian efek ini. Jadi setting nya tetap di rumah yang sama namun diberi pewarnaan untuk memberi kesan yang berbeda. Jempol :)


Ada tambahan catatan di luar review. Bukan berarti gue ngga suka Prilly Latuconsina loh ya, cuma gue merasa akan sangat bahagia jika Tatjana Saphira yang mengambil peran Risa. Hehehe. Gue merasa Tatjana bakal keren memainkan peran di film genre seperti ini. Terlebih, muka lembut pucatnya itu lebih serasi dipasangkan bersama genre horor atau misteri. Lebih... keluar inner beauty nya. Pendapat pribadi loh, ini benar-benar pendapat pribadi wk. Bahkan, gue berharap Tatjana Saphira bermain sebagai psikopat hahaha. Kalau lihat Tatjana, gue mendadak teringat sama arifin putra yang baru terlihat ketampanan hakiki nya saat dia memerankan peran psikopat di Rumah Dara haha. Begitu deh, mari kita hentikan sebelum menjadi terlalu ngawur hehe




Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 31 Maret 2017

Nonton sendiri? Huhu atau haha?

Halo! (Kemarin) Selamat hari film nasional~

Semoga industri film kita semakin maju tanpa meninggalkan budaya asli Indonesia yang santun yah. Aamiin. Yay! 

Nah, tidak jauh dari tema film, kali ini gue akan membahas suatu topik berdasar respon beberapa orang yang cukup sering berulang :

"Hah? Nontonnya sendirian banget? Hahaha"

Atau pernyataan dan pertanyaan sejenis.

Gue mengernyitkan alis tiap kali menemui respon serupa ini. Gue harus menelaah terlebih dahulu apa orang ini benar-benar merasa bahwa menonton sendirian itu suatu yang aneh dan tidak mengasyikkan atau apakah orang ini hanya orang yang ingin menertawakan gue saja, tak peduli apapun kondisinya (tipikal sahabat saya). Sejauh yang gue tangkap, masih banyak orang yang keheranan pada gue yang hobi menonton bioskop sendirian. Masih banyak pula yang ngga ingin nonton bioskop sendirian, cenderung malu, katanya. Tetiba gue teringat akan gue di masa lalu. Gue pun dulu merasa aneh kalau ada orang yang bisa seniat itu pergi nonton di bioskop sendirian. Terlebih, dulu gue bukan penikmat film. Jadi ngga akan mungkin terbersit inisiatif nonton film kalau bukan diajak teman mah haha. Cuma, terkait perasaan malu nonton bioskop sendiri, gue pernah merasakannya, hanya saja beda kasus. Gue berpikir dulu bahwa jalan-jalan di mall sendirian itu menyedihkan. Laksana simbol akan kesendirian yang tak berujung, semacam itulah. Untunglah gue tumbuh dan dewasa dengan menghirup oksigen yang jernih, sehingga kini gue tau bahwa pikiran itu salah. Jalan-jalan sendirian tidak kalah menyenangkan dengan jalan-jalan bersama koks! Ya walau tetap, two is better than one ya kalau mengutip mas-mas di boys like girls mah.  

So, sekarang gue ingin mengklarifikasi (atau membela diri) dan memberi segelintir fakta yang membuat kamu-kamu semua sadar, bahwa kelak, kalian bisa kapan saja dengan bangga berkata "ya, gue nonton film itu di bioskop sendirian". Fyi, gue akan menggunakan kata ganti "penonton tunggal" sebagai perwakilan "orang yang menonton sendirian di bioskop". Karena, tentu saja, mengetik 6 buah kata sungguh melelahkan. Okay.  What are we waiting for? Let's go!


1. Don't put off until tomorrow what you can do today

Sobat yang dirahmati oleh sang Pencipta, sebagai seorang penonton tunggal, secara tidak langsung kita bisa mengamalkan petuah bijak ini dengan lebih baik daripada orang-orang yang menonton bersama teman-teman sejawat. Mengapa? Oh tentu saja karena jadwal pribadi masing-masing dan mood yang tak bisa diprediksi. Salah satu kendala pelik dari menonton bersama-sama adalah harmonisasi jadwal. Bahkan terkadang birokrasinya lebih lamban lagi dari birokrasi pemerintah yang sering kalian protes. Lebih sempurna lagi jika pada akhirnya rencana itu kandas seiring waktu berjalan dikarenakan ketidakselarasan antara ekspektasi dengan realita.


"Si X ngga bisa kalau hari ini"

"Loh jadinya jam segitu? Aduh kayaknya aku masih harus rapat kenegaraan dulu deh. Coba tunda jadi minggu depan"

"Wah bro, kayaknya gue mager nih mendadak. Hujan sob. Lusa masih ada ngga ya?"

Dan sejenisnya, hingga rencana yang terus diundur itu memutuskan untuk pergi dari kehidupan kamu selamanya.


Oh, sekedar informasi, jika kamu ingin menonton film indonesia di bioskop tapi ngga ingin nonton sendirian, belum punya pasangan yang stand by diajak kencan, keluargamu tidak suka pergi ke bioskop, mayoritas teman-teman kamu merupakan orang sibuk dan kamu ngga mau menyewa orang bayaran untuk menemanimu.... saya sarankan.. kamu menyerah. Nonton bajakan aja sana. Hahaha. 


"Berlebihan deh, kan masih bisa nunggu teman kita agak luang sedikit waktunya"

Nunggu? Sampe kapan? Nunggu itu capek tau! #lah

Faktanya, laju film Indonesia untuk turun layar itu umumnya relatif cepat, pemirsa. Pengecualian untuk film-film yang namanya sudah cukup (sangat) tersohor. Oleh karena itu, aktivitas menunda nonton film indonesia bukanlah pilihan yang bijak. Sangat beresiko. Makanya, mari bergabung bersama penonton tunggal! *merangkul hangat*

Sebelum melantur lebih jauh, inti poin nomor satu adalah : sebagai penonton tunggal, kamu lebih leluasa dan independen dalam mengatur waktu menontonmu sendiri. Lebih efisien dan efektif. Pun kamu jadi tidak perlu menunda film kesayanganmu guna menyelaraskan jadwalmu dengan jadwal si dia. It is your own fun!


2. Match the movie genre with your own preference, not others

Selain sinkronisasi waktu, sinkronisasi selera film termasuk hal yang cukup menjemukan. Jika teman-temanmu tidak memiliki selera yang sama dengan kamu dan tidak berminat menemanimu, lantas kamu akan menyerah? Menyerah karena pilihan orang lain? Aduh.

Apa menurutmu itu terlihat lebih keren dibanding penonton tunggal? Nay, for me sih. 

Sebagai penonton tunggal, sekali lagi, kamu memiliki kontrol penuh terhadap apapun yang kamu pilih. Kamu bisa menonton film yang sesuai dengan kesukaanmu sendiri~ It is your own fun!


3. It is the movie that matters, not whom you are with

Poin ini khusus untuk yang benar-benar murni mau menikmati film sahaja sih, bukan untuk orang-orang yang memiliki tujuan sampingan di bioskop (misal untuk sekalian pendekatan dengan si dia atau acara keakraban bersama teman) atau bahkan yang menjadikan nonton bioskop sebagai tujuan sampingannya (contohnya kalian pikirkan sendiri sesuai kemampuan kalian ya). 


Gue bahkan tidak perlu mengobrol dalam menikmati film, kenapa gue harus gelisah atau bahkan malu jika menonton sendirian? 

Haha. Once again, it is your own fun!


4. Not limiting your plan

Bila bepergian bersama orang lain, tentu saja kita tidak bisa egois hanya memikirkan diri kita sendiri kan? Banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk kenyamanan bersama. Entah itu terkait aktivitas sebelum atau sesudah menonton, jam kepulangan atau rencana tambahan lainnya.

Salah satu kelebihan menjadi penonton tunggal adalah kamu bisa bebas mengagendakan apapun, improvisasi rencana atau bahkan membatalkan rencana semula secara mendadak dan spontan. Kamu bisa makan ke restoran sebanyak tiga kali berturut-turut setelah atau sebelum menonton tanpa harus ditatap heran oleh teman-teman. Kamu bisa bertingkah bodoh sesuka hati (tapi-masih-dalam-batas-wajar~ aw~). Kamu bisa bebas menjadi orang yang terburu-buru maupun sangat lamban sekalipun.  

It is your own fun!


5. Being alone doesn't mean you are lonely

Kalau masih ada yang berpikir sebaliknya, haduh, kasihan.

Are you using your friend just for a pride only? Pft.

"I'm with someone~ I'm not alone~ yuhu~"

Ha-ha. We're never alone, guys. Banyak mikroba di sekitar kita. Percayalah, Kita tak pernah sendiri. Wk.

Remember, it is your own fun!!!

**********************************

Oke. Gue rasa cukup lima poin itu aja dan kebersamaan kita malam ini harus berakhir di sini. By the way, dengan menuliskan postingan ini bukan berarti gue mendeklarasi bahwa "penonton tunggal adalah yang terbaique". Bukan, bukan sama sekali. Gue hanya ingin mengajak kalian menengok sedikit apa keseruan dan kelebihan yang bisa diperoleh sebagai penikmat film bila menjadi seorang penonton tunggal. Dan terkhusus, ngga perlu ada rasa malu kalau kamu ingin menjadi penonton tunggal. Itu ngga dosa kok, sepengetahuan gue (ya lihat-lihat jenis film juga sih ya hahaha). Buat apa malu kan? Untuk yang masih lebih nyaman nonton bareng orang, ya tidak apa-apa juga. Emang seru kok kalau nonton bareng orang lain, apalagi kalau minatnya sama, bisa sharing pendapat pasca nonton. Cuma seengganya sekarang kita sama-sama tau bahwa, hey, menonton sendirian itu juga sebuah keasyikan maha dahsyat kok.  Hehe. O aza gitu.


Oh, malam semakin larut! Saatnya pamit undur diri. Nah, sekian saja celotehan saya hari ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Kamis, 02 Februari 2017

Unknown ending

Let alone the black hole
Dancing on top of every lost things
In the unwanted journey, no one can console
Only your sane part could help to think

In the (some) children's eyes
Nothing look shabby and impossible
In the (some) adult's eyes
Everything is a mess and unbearable

It is not the time that change what you see
It is what you've been through that conclude

Don't let the crowd outsmart you
Nor the solitary moment own fully the blue

Pack your bag and crack the universe
Feed the starving brain with a riddle
Or, lock yourself and do the curse
Bury the soul with fear and scruple

Let alone the black hole
Dancing on top of every lost things
In the unwanted journey, no one can console
Only your sane part could help to think

-DEB

Senin, 02 Januari 2017

Desember ceria (part 2)

Minggu 25 Desember 2016


HANGOUT

Film besutan Raditya Dika ini pada awalnya tidak masuk dalam daftar film Indonesia yang akan gue tonton. Kenapa? Gue hanya jenuh dengan tema cerita yang biasa dibawa oleh Radit. Itu itu aja. Cinta lagi, cinta lagi. Makanya gue tidak terlalu tertarik saat mendengar kabar bahwa akan ada film baru yang diproduksi Radit. Namun takdir berkata lain. Saat gue menonton suatu film indonesia  di bioskop (yang gue lupa judulnya), trailer film hangout ada di sana dan berbicara pada gue "Dewi, aku bukan film Raditya Dika yang biasanya. Ayo, datang kepadaku". Kira-kira begitu hingga gue memasukkan hangout ke dalam daftar waiting list film Indonesia gue.

Cukup prolognya.

Sebelumnya, gue sempat melihat postingan di akun IG filmnasional terkait hangout dan beberapa netizen di kolom komentar mengatakan bahwa trailer film nya mengingatkan pada novel agata christie yang judulnya telah gue lupakan. Well, i don't really know about it and i don't give a damn. Ya, genre film ini adalah misteri. Terjadi pembunuhan misterius di antara sekelompok public figure yang tengah berada di pulau terpencil. Oh, jangan lupa, ada genre lainnya di film ini : komedi. Akting para pemeran di film ini cukup brilian. Seriusnya dapet, komedinya dapet. Eh, sebentar.... seriusnya kapan ya? Engga ada deh. Kalaupun ada mungkin hanya beberapa detik. Pokoknya akting mereka terlihat seperti alami. Hal yang menguntungkan dari film bergenre misteri komedi adalah... ya lo ngga perlu serius serius amat. Adegan atau gestur aneh apapun bisa dianggap "ya supaya lucu".  Pujian terbesar harus diberikan ke dinda kanyadewi sih. No doubt. Dia sangat menjijikkan. Btw, memang Dinda ini berperan sebagai seorang dinda yang jorok. She sticked to her role very well. Satu skenario yang sangat ingin gue setujui di dalam film ini, berasal dari surya saputra : "ah radit, lo mah kalau akting gitu-gitu aja, muka datar". Well yes, gue benar-benar lelah melihat muka Radit wkwk.

Berbicara soal plot cerita, alurnya lumayan halus. Komedinya bodoh sekali sih. Sepanjang menonton pembunuhan satu persatu yang terjadi, ada satu film yang langsung terlintas di pikiran gue : scary movie.  Bodohnya sama, sadisnya sama. Kesamaan kedua film ini adalah membuat adegan sadis menjadi hal yang bisa ditertawakan. Ew, kejam. Eh, gue tidak ingat banyak tertawa di film scary movie sih. Gue hanya merasa film itu aneh sekali dan humornya lebih sadis hahah. Cuma ya mereka sama-sama memasukkan unsur humor ke dalam adegan yang harusnya serius. Poin yang lebih unggul di film hangout adalah selera humornya mengayomi selera orang Indonesia, dan berhubung gue orang Indonesia, gue merasa hangout ini lebih jelas lucunya dibanding scary movie hehe. Untuk alur misterinya, hm....... boleh lah, walau ada beberapa celah yang (entah sengaja atau tidak sengaja) bisa memberi petunjuk pada penonton untuk menebak siapa pelakunya. 

Sebagai film komedi misteri yang (kayaknya) pertama di Indonesia, ini bisa menjadi awalan yang super oke kok. Gue merasa cukup terpuaskan dengan film ini. Gue sangat senang, akhirnya, ini film kedua nya Raditya Dika yang gue suka. Semoga banyak yang mengikuti jejak Radit dengan karya yang lebih wah lagi. Yuhu!


Rabu 28 Desember 2015


THE PROFESSIONALS

I LOVE YOU, THE PROFESSIONALS!

Omg is that too much for a prolog? lol

Gue memiliki ekspektasi yang cukup besar terhadap film ini. Dan hasilnya? Mereka tidak mengecewakan gue! Oh yay! We're so run out of indonesian movie with action genre, dude! This movie fulfilled our need perfectly! For sure. Kyaaaa! 

Fahri albar, arifin putra dan lukman sardi sudah cukup untuk menjadi surat jaminan tak tertulis bahwa film ini akan memiliki nyawa yang baik. Kisah ini, singkatnya, adalah kisah balas dendam sekelompok orang atas kecurangan yang dilakukan seorang pengusaha. Fahri albar, entah bagaimana, masih sangat terlihat keren walau ia punya kantong mata segede carrier. Fahri albar adalah pemimpin dari misi balas dendam ini. Anggota tim terdiri dari empat orang : ahli IT, petarung, si jenius pembuka brankas dan supir cantik. Lukman sardi berperan sebagai si jenius pembuka brankas. Ah, lukman sardi, i respect him so much as an actor. Ekspresi lukman sardi sangat sangat.. sangat menghibur (ekspresi dingin, tajam, bermakna dalam), terlebih saat bertemu dengan anggota tim lain yang jorok lol. Karakter petarung dimainkan oleh seorang (yang mukanya terlihat seperti) bule. Well, sesungguhnya sedikit terjadi inkonsistensi pada karakter petarung ini. Pada awalnya, karakter fahri albar mengatakan bahwa si petarung tidak bisa berbahasa indonesia, namun dalam banyak percakapan, saat lawan bicaranya menggunakan bahasa indonesia, dia mengerti, bahkan kadang membalas dengan bahasa indonesia juga, tanpa terlihat mengalami kesulitan. Well, bukan masalah besar sih, cuma ada baiknya untuk konsisten terhadap apapun pernyataan yang terlontar di dalam film. Berikutnya adalah pemeran ahli IT. Doi memiliki karakter yang... cukup jorok dan berantakan. Dia, secara tidak langsung, juga memegang peranan penting sebagai pewarna dalam film ini. Film ini jadi lebih hidup dan ceria, gitu deh. Auk amat wkwk. Bagaimana dengan si supir cantik? Well, sebuah misi besar tidak pernah lengkap tanpa bantuan dari wanita cantik bukan? Entah kapan, tapi kita pasti membutuhkannya. Gue sangat suka betapa hidupnya interaksi antar satu peran dengan peran lainnya. Harmonis~ Oh! Ada satu lagi pemeran penting yang membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat trailer film the professionals : ARIFIN PUTRA! He is so good for being a villain. I started to like him a bit since i watched his acting in rumah dara. Ibaratnya, inner beauty nya arifin putra ini sangat keluar saat dia berperan sebagai antagonis. Gue berharap untuk lebih sering melihat dia sebagai orang jahat di film-film masa depan. 


My favorite line from Arifin Putra : "Harus ada yang berkorban untuk kepentingan bersama. That's you" *grin*

So evil. rite? Oh... lovely!

Mari berbicara latar! Film aksi dan latar tempat menurut gue cukup berkaitan dan penting. Latar yang baik akan membawa mood film yang oke. Gue suka interior kantornya yang simple tapi pas sesuai yang dibutuhkan, dekorasi ruang brankasnya pun lumayan terasa sakral, markas fahri albar and the geng terlihat cozy dan berkelas (somehow), dan bahkan gue menikmati latar ruang toko lukman sardi yang sebenarnya hanya beberapa menit tampil di film ini wkwk. Secara visual, film ini memenuhi harapan gue. Gue sempat mengkhawatirkan terkait akting dan efek visual film ini sebenarnya, namun keraguan gue tak terbukti. Ihiy! They did a great job.

Secara cerita, sepertinya ini bukan cerita yang terlalu kompleks atau yang memiliki twist ending super cerdas. Bahkan mungkin, tema balas dendam bukan cerita yang baru lagi. Namun, ketahuilah, film ini memuaskan. Sangat. Gue jauh lebih menyukai film ini tentunya, dibanding headshot. Jenis action di film the professional ini adalah yang menggunakan otak, bukan otot. That's why it is more interesting. Selain itu, film ini tidak menyuguhkan ketegangan yang kaku, namun ketegangan yang berenergi dan dilingkupi humor yang ngga berlebihan. Humor elegan, kalau gue boleh beri nama. Oh efek suara di film ini juga menjadi pelengkap yang padu! Gue sangat menikmati padanan antara lagu klasik dan lukman sardi, wkwk gue ngakak sih pas adegan ini lebih tepatnya (hanya yang sudah menonton film ini yang mengerti).


Nah, setelah gue sudah memuji panjang lebar, izinkan gue membahas hal-hal lain yang bisa lebih disempurnakan.

Hal ini terkait volume suara saat Fahri Albar melakukan narasi perkenalan tokoh anggota tim. Suaranya agak tenggelam dengan suara background. Gue kurang mendengar jelas narasi nya sehingga agak skip mengenai latar belakang karakter si petarung. Entah crew film nya yang kurang menyeimbangkan antara volume suara fahri albar dengan background atau gue nya aja yang kurang  mampu mendengar dengan baik. wkwk

Terus ada lagi sih detail teknis yang ngga sengaja gue perhatikan dan cukup memberi pertanyaan. Sidik jari tangan kanan dan tangan kiri itu sebenarnya berbeda ngga sih? Well oke, segitu saja deh. Tidak perlu dibahas lebih lanjut. Anggap saja angin lalu~ #nggausahdibahasdariawaldongharusnyadew 

In simply, i really love this movie. Gue sangat berharap semakin banyak seniman indonesia yang mulai berani menggarap naskah film action lebih banyak lagi. Film action yang pakai otak tapi yah. Warga Indonesia sudah terlalu kenyang dengan kekerasan otot soalnya wkwk. 


Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.