Laman

Minggu, 13 Juli 2014

Grow Up

"Bibibibi balabalabala mama papa bweeek" kata anak bayi dan sederajat.

"Aku ingin segera SMP, pasti seru!" kata anak SD.

"Masa SMA itu katanya masa yang paling indah. Cepet deh ke SMA! Kya!" kata anak SMP.

"Sedikit lagi kuliah! Semangat! Yuhuuuuu" kata anak SMA.

"Bosan kuliaaaaaaaah! Mau kerja aja ya allah atau nikah aja deh nikah!" kata anak kuliahan.


Well, people is people.

------------------------------------------------------------------------------


sumber : google

Kalau kata orang bijak sih, ngga semua orang mengalami 'grow up', yang ada hanya 'bertambah tua'. Well, that does matter if we're speaking about mindset. Namun kali ini, literatur kita adalah buku biologi SD yang mana  jelas menakdirkan bahwa ciri-ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Well that's grow up. Kenapa mendadak topik ini muncul ke permukaan? Karena gue udah mau masuk tahun keempat di dunia perkuliahan. Tahun keempat. Tahun keempat. Ta-hun ke-em-pat... *liat cermin* *pecahin cerminnya*

Iya. Tahun keempat. Periode dimana halusinasi gambaran pelaminan secara ajaib sering muncul dalam benak kaum hawa, sedangkan golongan kaum adam pura-pura tidak mendengar. Periode yang merupakan saksi bisu bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. That is the most kampret fact so far. Capek loh. Ketemu, kenalan, deket, pisah, dadah-dadah. Ketemu lagi, kenalan lagi, pisah lagi, dadah-dadah lagi. Sebuah skenario yang luar biasa apik. Ya udah. Aku mah ngga apa-apa. Aku mah apa, hanya artis yang bertopang pada sutradara semesta bermodalkan gaji berupa oksigen yang menjalar lembut sepanjang aliran tubuh. Kita hanya bisa berperan dan bersyukur. Alhamdulillah belum waktunya dipecat sebagai artis.

Oke. Kembali ke topik. Grow Up.

Di usia gue yang sudah.... sudah begini, gue mulai kebayang gimana rasanya jadi orangtua kita dulu, om-tante kita, atau tetangga-tetangga kita yang lebih tua. Iya. Kebayang rasanya menjadi saksi mata atas  metamorfosisnya seorang bocah yang berkawan dengan popok menjadi pria tinggi berbadan tegap atau wanita anggun dewasa yang matanya meneduhkan seantero khatulistiwa. Gila. Entah akan berapa juta bayi yang gue saksikan metamorfosisnya (emangnya lo kerja di bidan dew sampai bisa liat jutaan bayi?).

Ngga usah jauh-jauh, gue bahkan melihat perubahan tetangga gue yang alamak luarbiasa. Namanya ipo. Nama tidak disamarkan. Sejak jamannya tamiya masih beken, gue sering main sama ipo dan liqo. Mereka itu tetangga di depan rumah gue. Lebih muda. Gue kayak cewek dewasa yang ngasuh bocah gitu deh. Masih TK kali ya mereka, gue juga lupa. Gue nya SD. Duh, pas masih bocah tuh ya lagi masa-masa nya 'uuuu lutuna anak mama uuuuu'. Kecil-kecil lagi mereka berdua badannya. Sekarang......... "Ipo, yuk jalan sama tante". HUAHAHAHA. Ganteng sob! Tinggi, suaranya udah baligh, cool cool gimana gitu huahaha. Beda banget sama pas bocah. Ya... alhamdulillah sih. Ngga kebayang kalau dia masih nangis kemana-mana bawa popok. Yassalam. Bagian menyedihkannya adalah mereka udah ngga bebas dimainin lagi :/ Bayi itu mainan terbaik. Huft!

Iya. Begitu pula yang kira-kira dirasakan orangtua kita.

Kalau saat kecil, kita masih punya waktu untuk bersorak sorai gembira menanti kepulangan ayah ibu kita dari kantor. Senyum mengembang sempurna di wajah kecil kita. Tulus. Kayak malaikat. Adenosin trifosfat pun ngga mampu menyaingi energi yang bisa kita kasih ke orangtua kita saat itu.

Perhatian.

Perhatian kita bercabang seiring tumbuh dan berkembang. Teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, teknologi baru.

"Ini semua karena teknologi yang semakin canggih nih! Yang dekat jadi jauh. Nempel mulu sama HP"

Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadget yang memanjakan kita - apalagi nyalahin koko koko penjual gadget. Kita lah yang memilih alat-alat itu untuk memenjarakan diri kita sendiri. Kita memilih. Karena tentu alat itu tidak bisa menghipnotis kita. Mereka mati, dan hanya yang bernyawalah yang bisa menentukan. 

Kita semakin lupa menyisakan waktu untuk sekedar mengobrol, memberi sapa, kabar, bertukar cerita, atau mengobrak-abrik mimpi bersama orangtua kita. Kemana dong waktunya? Ups. Maaf, si teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, dan teknologi baru udah nge booking duluan. Anda kurang beruntung. Cobalah sekali lagi.

............................................

"Mereka agak bawel. Kepo. Banyak nanya. Aduh males ceritanya. Malu ah"

Lah? Emang temen ngga kepo? Emang mereka ngga banyak nanya? Lah kalau ada yang udah bersedia dengerin kita selama 24 jam, ngapain nyari orang lain buat curhat yang bisa aja sebenarnya mereka lebih suka dengerin rongrongan serigala jam 12 malem ketimbang dengerin kita curhat mulu.

Semakin lama. Semakin jauh. Banyak ruang yang kita tutup pintunya buat orangtua. Banyak gembok yang kuncinya telah kita simpan rapat dalam usus dua belas jari. Jarak terbentang. Kita di indonesia, orangtua jauh melebar menuju kutub utara. Dingin. Kira-kira begitu rasanya. Mereka juga sedih, kita bukanlah lagi mainan kesayangan mereka dulu. Bukanlah lagi malaikat kecil mereka yang pasti ada di balik pintu sambil mengintip nakal ibu dan ayahnya yang baru pulang kerja. Kita bukanlah lagi... orang yang memprioritaskan mereka. 

"Hey! Gue selalu berdoa kok buat mereka! Gue sayang sama mereka! Gue juga kadang telepon-teleponan sama orangtua gue"

Alhamdulillah. Anak yang berbakti :) 

Semoga ngga cuma selesai di doa ya. Karena mau bagaimana pun juga, manusia ngga tau kalau mereka didoain. Ngga ada notificationnya soalnya kalau abis tiap didoain. Gebetan sekali ngga ngasih kabar aja sedih. Gebetan lebih asik sama temennya aja sedih. Gebetan jarang ngobrol sama kita... "udah ah cari gebetan yang lain aja! Bete!".

Gimana tuh kalau orangtua kita yang bilang gitu? "Udah ah cari anak yang lain aja! Bete!"

Talk less do more kalau kata iklan rokok mah.

Aksi dong. Tunjukin perhatian kalian. Joget-joget kek gitu di depan orangtua biar interaktif *yakali*

Orangtua juga manusia biasa. Bahkan semakin tua, kita semakin ingin diperhatikan loh. Mungkin karena tingkat ke insecure-an melonjak naik. Merasa tua, jelek dan lemah. Mereka mulai takut apakah orang-orang terdekat mereka masih sayang sama mereka atau tidak. Pola pikir normal manusia yang sudah lanjut usia. Nanti gue juga bakalan gitu. Pasti. Kecuali kalau Allah punya skenario lain untuk hidup gue. Ya........ semoga sih masih bisa sempat lihat anak gue menikah kelak hehe.

Buat laki-laki nih, terkhusus laki-laki...

Sering makhluk yang bernama laki-laki ini menyepelekan komunikasi dan  jarang mengobrol basa basi dengan orangtua. Mereka ingin sekali mengobrol sama kita loh. Ingin sekali. Gimana sih ya, "Nanti kalau kalian udah punya anak pasti mengerti dan merasakan". Kira-kira itu yang mama gue selalu bilang. Gue jadi takut. 

So? Daripada kalian buang-buang SMS "lagi apa? sudah makan belum?" untuk makhluk yang ngga jelas kehalalannya buat kalian, dan belum tentu juga bakalan gembira nerima pesan kalian, mending kirim ke orangtua kalian. Hehe. Insya allah kalau ada lebih, kalian bisa dapet bonus uang jajan :p

Oh, postingan ini bukan tertuju khusus untuk kalian. Males amat bikin postingan panjang-panjang cuma buat kalian. Hih *kibas kerudung*

Postingan ini buat perempuan yang lagi nulis postingan ini. Biar sadar. Biar bisa gerakin badannya. Buang HP nya. Buka mulutnya. Lebih terbuka sama mama ayah. Lebih sering nangis bareng mama ayah. Lebih sering break dance sama mama ayah.... Ya pokoknya gitu. Sadar dong. Jangan sampai kamu disadarinnya sama air mata.


*PS 
Makasih buat ayah yang ngga pernah absen buat ngambilin permen FOX kesukaan gue tiap naik pesawat garuda. Gue cuma nyebut sekali aja kalau gue suka permen itu. Itu pun pas jaman friendster masih keren. Beliau selalu dan selalu bawa permennya. Selalu. Dengan muka bahagia beliau mengulurkan tangan "ini permen dewi". Dan gue nangis diem-diem. He is the most lovable man ever. Gue ngga akan pernah ngerasa lebih jatuh cinta lagi ke pria manapun selain ayah. Semoga imam gue kelak juga bisa bikin anak gue jatuh cinta.  Buat mama, yang udah ngga keitung lagi berapa banyak pengorbanannya. Mama yang kuat. Mama yang semakin lama semakin menua tapi masih aja sering gue bully. Mama yang ngga pernah marah walau kita ledekin. Terkadang kita suka kelewatan dan berujung dengan air mata *nyengir*  Mama yang ngga akan pernah bisa gue saingi pesonanya. Mama yang selalu gue kecewakan. Oke, ini terlalu panjang untuk sebuah pesan tambahan. Mata gue pun basah. Dadah semuanya.

Let's grow up. Yey. 

Minggu, 06 Juli 2014

Bagian IV : Album Foto


------------------------------------------------------------

Pria itu masuk ke ruang kerjanya, menarik nafas panjang. Ia menarik dasinya tergesa-gesa. Seharian, benda kecil itu cukup mencekik dan membuat sesak ruang geraknya. Selagi sibuk mengistirahatkan diri, ketukan pintu pun terdengar. "Masuk" jawab Kaisan. "Selamat siang, Pak. Ini dokumen yang bapak minta tadi pagi" jawab seorang wanita berbusana terusan pastel selutut yang dilapisi blazer krem sambil tersenyum simpul penuh makna. "Oh, baik. Terimakasih banyak bu Nattan" balas Kaisan sopan. "Apa bapak Kaisan mau saya buatkan kopi? Bapak nampak lelah" ucap wanita itu lagi dengan nada yang dilembutkan. "Tidak, ibu bisa bekerja kembali" tegas Kaisan sambil tersenyum. Nampak kecewa, wanita itu pun pergi dari ruangan. "Aaaaah" Pria itu segera merebahkan kepalanya dengan lelah ke  kursi empuknya. Kosong, ia memandang langit-langit. "Lelah juga kerja formal seperti ini ya" ucap Kaisan pada dirinya sendiri. 

Ia menarik laci meja, lalu mengeluarkan sebuah album foto hitam. Ia tersenyum tipis. Membuka setiap lembar dan menyelami kenangan di masa lalu. Kaisan pun terpaku pada satu lembar foto. Terlihat dua anak laki-laki yang cukup serupa tengah berada di antara satu anak perempuan. Keduanya memegang mainan gundam rakitan mereka masing-masing dengan bangga seakan memamerkan pada dunia, sedangkan sang anak perempuan sibuk tersenyum sangat lebar. Bahagia. Di belakang anak-anak itu, terlihat ada dua wanita dewasa, yang satu berambut ikal sebahu, satunya lagi berambut lurus sepinggang. Kerut wajah tak mampu mengurangi sinar wajah bahagia mereka saat berusaha merangkul ketiga anak kecil itu. Sebagai pelengkap, dua orang pria berdiri tegap di samping kiri dan kanan. Pria berambut jabrik tersenyum puas dengan aksesori hidung badut yang ia kenakan sambil mengacungkan dua jari ke arah kamera, sedangkan pria berambut klimis dan rapi sibuk menahan tawa. Foto itu begitu hidup.

Beberapa saat kemudian, Kaisan kembali menarik nafas, menutup album, dan kembali menyimpannya di dalam laci, entah untuk berapa lama. 

-----------------------------------------------------------

Ashiya berjalan lunglai ke arah gerbang sekolah. Sepanjang koridor, ia sibuk menepuk-nepuki bahunya yang pegal. Rapat singkat dengan pengurus kelas tadi cukup menghabiskan tenaga. Ia memandangi 3 lembar potongan kertas berisi kandidat ide untuk penampilan kelas di festival. Ashiya memandangi kertas tersebut lama hingga sebuah bola sepak menabrak mesra kepalanya. DUENG. Ashiya sempat bengong beberapa detik sampai tersadar sempurna. Ia menoleh galak dan lagi-lagi mendapati sesosok anak laki-laki yang ia percaya sebagai sumber malapetaka dunia. Anak laki-laki itu hanya menatap datar lalu mengulurkan tangannya "Tolong lempar kembali bolanya ke sini. Kaichou-chan" ucapnya dengan wajah tak berdosa. "BUKANNYA MINTA MAAF MALAH MINTA BOLA! MAKAN NIH BOLAAA!" jerit Ashiya sambil menghempaskan lemparan maut lurus menuju wajah Hideki. Beruntung, Hideki sempat menghindar, sesaat kemudian terdengar suara teriakan dari korban 'lemparan meleset' tersebut. Ashiya terengah-engah sebal. Dia tak peduli kalau yang tumbang bukanlah target utamanya. Dia hanya lega. Dia pun fokus memunguti kertas-kertas yang berjatuhan lalu segera beranjak pergi meninggalkan si alien api. Ya. Itu gelar kebangsaan yang dibuat Ashiya untuk Hideki - Alien Api. Dia selalu berharap suatu saat rambut merah nya Hideki berubah sungguhan jadi api dan membakar cowok punk itu. Ashiya tentu akan ada di sana sambil melakukan tarian hawaii penuh kemenangan lengkap dengan batok kelapa dan rok rumbai-rumbai. 

Setelah beberapa langkah, Ashiya berhenti. Menoleh ke belakang dengan ketus. "MAUMU APA SIH?!" teriak Ashiya pada sang alien yang sedaritadi mengikutinya. Selayaknya tidak punya cadangan muka yang lain, dia lagi-lagi menampakkan ekspresi datar "Hey Ashiya" ucap Hideki mulai angkat bicara. "Apa? Apa maumu?!" "Kalau dari mulutmu bisa keluar api keliatannya seru. Kita adakan pertunjukkan naga saja untuk festival. Kau artis tunggal. Keren. Yang lain juga ngga akan capek. Ide bagus kan?" jawabnya seakan serius. Ashiya menatapnya lama. "Aku seperti mendengar suara, tapi tidak ada orang di sini. Darimana ya asal suaranya?" ujar Ashiya sambil pura-pura celingukan. "Oh hanya perasaanku saja sepertinya. Saatnya pulang" jawab Ashiya ceria sambil melompat menuju gerbang dan menghilang meninggalkan si Alien api. 

Hideki hanya bisa tertawa kecil lalu berbalik hendak menuju lapangan. Ia berhenti, terperanjat. Sosok yang paling malas ia temui selama tiga tahun terakhir kini telah ada tepat di hadapannya. "Sudah lama kita tak bertemu" sapa sosok itu. Hideki tak mengacuhkannya dan segera pergi berlalu. Kesal. Walau sekarang ia berhasil menghindar, Hideki tau dia tidak bisa menghindar selamanya.


4 Juli

Ini adalah tahun kedua dimana gue harus menghadapi bulan ramadhan dengan kondisi mesjid yang direnovasi. Tahun lalu, renovasi dilakukan di tempat jamaah putri. Gue berharap tahun ini bisa beribadah di mesjid dengan nyaman. Sayangnya, harapan gue kandas. Ada renovasi lagi. Namun, ada yang beda kali ini ini. Tak hanya rupa yang diubah, kini nama pun diganti! Mesjid Pondok Duta telah almarhum, dan bangkitlah bayi baru yaitu mesjid Baabul Jannah *tebar confetti* Fyi, mesjid baabul jannah itu artinya mesjid 'pintu surga'....... Oke deh. Semoga para jamaah bisa terhantarkan menuju masuk ke dalam surga lah ya, ngga cuma nunggu di depan pintunya hehe. Pahitnya, ada kisah sedih di balik pengubahan nama mesjid ini. Semakin sedih lagi melihat kenyataan kalau oknum-oknum yang bersangkutan tidak berupaya menutupi masalah yang sedang terjadi, justru dipublikasikan dengan bangga. Prihatin. Keren sih. Walau gue sempet agak bingung nyari tempat wudhu dimana. Banyak yang udah disekat gitu ruangannya, agak linglung liatnya. 

Mungkin akan lebih sempurna jika pengurusnya juga memperhatikan kondisi kamar mandinya hehe. Masa kedatangan gue ke kamar mandi disambut oleh 3 laba-laba lengkap bersama jaring-jaringnya yang seluas samudra hehe Itu kamar mandi apa base camp laba-laba hehe. Apa itu markas laba-laba yang disewa jadi kamar mandi. Hehehehehe. 

Gitu deh. Intinya gue agak shock. Gue tergolong orang yang ngga perhatian dengan hal-hal kecil kan. Kalau gue mau buang air kecil, fokus utama gue ya klosetnya. Gue ngga merhatiin sekeliling. Berhubung badan gue agak makan tempat, kepala gue hampir mengenai langit-langit kamar mandi yang emang ngga begitu tinggi. Baru deh gue nyadar ada satu laba-laba lagi melototin gue. Gue kaget, badan gue bergeser, noleh ke samping, eh ada laba-laba kedua, gue makin kaget dan sontak nunduk buat menghindari jaring laba-laba. Setelah gue agak tenang, gue menoleh ke arah yang lain, eh di sudut ruangan ada laba-laba ketiga lagi nyengir sambil minum kopi. Dia kayaknya sengaja nunggu sampai gue menyadari kehadirannya supaya doi bisa bilang "surpriseeeee".

Kembali ke arena shalat tarawih. Pas awal, sempet gondok karena ngeliat ada satu baris di tengah-tengah yang kosong gitu. Ngga ngerti kenapa dikosongin, tapi ya kosong aja sebaris. Akhirnya gue sama mama maju ke depan. Untung deh pas udah mau dimulai shalatnya, akhirnya ada beberapa yang ngikut maju juga. Oh, sebelum gue berkicau lebih jauh. Gue mau komplain tentang bentuk sajadah.

 sajadah 1

sajadah 2

Kalian liat sajadah yang tumbuh ke samping (re: sajadah 1)? Itu sajadah yang sekarang entah mengapa menjamur di pasaran. Gendut dan makan tempat. Entah apa yang membuat sajadah ini menjadi primadona. Kalian lliat sajadah minimalis yang cocok dijadikan icon produk kozui slimming suit (re: sajadah 2)? Itulah sejatinya sajadah. Pas untuk satu orang. Ngga makan tempat.

Audience : yaudah sih ngga ada bedanya juga kok kalau pake sajadah 1, satu sajadah bisa dipake buat dua orang malah. Praktis!

Nah iya, itu kalau kalian saling kenal sama sebelahnya. Cenderung, orang yang tak saling kenal merasa sungkan untuk menindih sajadah jamaah yang lain. Akhirnya malah memilih membentangkan sajadahnya di samping sajadah gendut (re: sajadah 1) itu. Padahal jarak yang terbentang menjadi cukup lebar. Cukuplah kalau ada setan mau nyempil mah. Huf. Gitu. Gue cuma kangen sama sajadah lama kesayangan gue. Warna coklat dan ramping. Entah udah disembunyikan mama kemana. Hiks.

Lanjut.

Jadi, tadi kan ada anak-anak yang akhirnya ikut maju ke shaf gue tuh, mereka berjejer ke samping (yaiyalah dew, lo pikir mau latian baris berbaris berjajar ke depan). Gue udah mulai sholat saat gue sadar anak kecil sebelah gue memilih untuk sholat berjarak dengan gue. Ya, itu karena sajadah gendut! Doi merasa ngga enak kayaknya buat ikutan join bareng di sajadah gue. Setelah selesai tarawih ronde 1 (2 rakaat), gue pun membentangkan sajadah gue ke samping supaya dia ngga canggung deket-deket gue (atau dia sebenernya emang ngga mau deket gue). Oh engga dong. Siapa sih yang ngga mau deket-deket sama gue? :p Si anak kecil yang tingginya sepinggang gue ini kayaknya sekilas ngeliatin gue. Gue ngga terlalu ngeh, soalnya langsung lanjut sholat lagi kan. Nah, pas selesai ronde ke-2, ada jeda beberapa saat gitu. Gue tadinya mau nutup mata sambil dengerin imamnya bacain doa, sampai akhirnya emak gue nyolek lengan gue

"Itu.. mau salam" nunjuk ke anak kecil sebelah gue. Gue pun noleh.............

ALLAHU AKBAR! CANTIK BANGET!!!!!

Ada anak perempuan kecil, putih, manis, matanya bulat, senyumnya sempurna, santun banget pula! Agila, ini kalau gue cowok dan dia udah ranum, gue pinang pake bismillah deh. Manis banget. Namanya Fitria, kelas 4 SD. Doi murid di pesantren yusuf mansyur gitu deh, pesantrennya deket rumah gue. Gue cuma bisa bilang "cantik ya" berkali-kali. Pas ditanya mama papanya dimana, doi bilang sih di bangka. Di bangka apa singapur gitu.... iya gue tau dua kata itu jauh berbeda. Tapi sependengaran gue anak kecil itu nyebut nama dua tempat itu, tapi masa iya orangtuanya ada di dua tempat? Anggap saja di bangka. Pokoknya dia cantik dan gue suka hahahaha. Kalau artis sih, dia mirip Jessica Anastasya 

Oke tarawih jadi cukup menyenangkan. Setelah pulang, berita spektakuler itu pun muncul. Tentang foodival. Yeah. Lumayan bikin jambak-jambak kepala. Well, lebay dikit sih. Case closed sementara, mendadak masuk telepon dari Rika. Doi lagi KKP gitu deh. Dia cerita panjaaaaang sekali tentang kisah perjuangannya di desa. Desa nya cukup terisolasi katanya. Kasian. Banyak tokek, banyak kodok... di dalam rumah! Hiii. Dan... airnya bau pup. Ya Allah, lindungilah sahabat hamba :"| Setelah rika, eh si mima muncul. Kalau doi mah ga pernah jauh dari cerita masa lalu hahahaha. Sedap sudah malam gue. Nano-nano.

Sekian kisah 4 juli gue. Paginya damai, malamnya kayak kembang api. Jedar jeder.


Oh fyi, H-3 menuju 9 juli 2014 nih! Be ready! Pastikan pakai make up guys! Siapa tau ketemu jodoh di tempat nyoblos. See ya!


Kamis, 03 Juli 2014

Bagian II : Sepertinya


Kamis 27 Juni
6.47 am

Rombongan murid berjalan menyeruak ke luar kelas, mengikuti perintah. Bermuara ke satu arah, kecuali satu orang. Pria berbadan tinggi, berambut kemerahan dengan seragam berantakan - kemeja yang tak dikancing dilengkapi kaus belel biru dongker - menuju arah berkebalikan, berjalan santai seakan tuli pada lingkungan. "Aula itu ke arah sana! Aku rasa kau sudah cukup senior untuk mengetahui letak setiap sudut sekolah ini" teriak seorang gadis dengan ketus. Pria yang diteriaki itu pun menoleh malas. Menatap datar namun menyelidiki gadis itu seksama. Sejurus kemudian ia menunjuk ujung bibirnya. "Lap dulu liur mu, baru menasihatiku" jawab pria itu kemudian segera berlalu pergi. "Eee?!" Gadis itu kikuk lalu melap seluruh mukanya tergesa-gesa. Pria itu menoleh sebentar, menyeringai, dan segera menghilang di ujung koridor. Gadis itu diam beberapa detik, lalu di detik berikutnya, suaranya memenuhi penjuru sekolah. "HIIIDEKIIIIIIIII!" teriak gadis itu kalap.

BLETAKKK. Sederet kamus tebal huruf kanji kesayangan Pak Matsumoto mendarat sempurna di pusat kepala gadis itu. "Ashiya! Mau kau teriak sekencang apapun, tidak akan ada api yang keluar dari mulutmu! Percuma saja kalau tak bisa membakar anak punk itu. Buang-buang tenaga". Ashiya hanya bisa melirik lirih. "Go- gomen ne sensei". Pria berkacamata itu menarik nafas panjang. "Perjuanganmu menjadi ketua kelas masih panjang Ashiya. Jangan buang-buang umurmu dengan dia. Ayo ke aula" lanjutnya kemudian. "Ah, sensei. Ada apa sebenarnya sampai upacara mendadak di pagi ini? Apa... ada pengumuman penting?" pancing Ashiya yang sesungguhnya telah punya tebakan sendiri di dalam kepalanya. Pak Matsumoto hanya tersenyum. "Ya, kabar baik". 

Tepat seperti dugaan Ashiya. Pria muda yang tengah memamerkan senyumnya ke pelosok Megamendung Utara di depan podium aula adalah si pria terowongan! "Salam kenal, saya Kaisan, mulai hari ini kita akan bekerjasama untuk membawa Megamendung Utara menjadi sekolah teladan. Mohon bantuannya" tutur pria itu dan segera membungkuk hormat. Tepukan riuh dari kalangan guru serta siswa pun mengikuti. Sayup-sayup terdengar pekikan histeris murid perempuan yang mulai terhipnotis ketampanan kepala sekolah baru itu. Beda dengan yang lain, Ashiya sibuk memicingkan mata menatap wajah kepala sekolah itu lekat-lekat. "Heyooo! Naksir ya ashiya?" ledek gadis berambut sebahu di sebelahnya - Asami. "Eeee?! Bukan itu! Bukan itu! Aku hanya merasa sepertinya wajah Pak Kaisan mirip seseorang". Tanpa mempedulikan kalimat Ashiya, Asami mengikuti ritme gadis lain dan memuja-muja kepala sekolah baru itu.

----------------------------------------------------

Kelas usai, waktu istirahat pun disambut siswa dengan sukacita. Ashiya penat dengan segala macam rumus di kepalanya. Gontai, ia pun melangkahkan kakinya ke loteng atas sekolah untuk menghirup udara segar. Menyapa awan lebih efektif untuk pemulihan tenaganya dibanding harus ke ruang kesehatan dan dipaksa minum madu yang rasa manisnya bikin diabetes. Begitu yang Ashiya yakini. Setelah Ashiya membuka pintu, sontak ia kaget. Kepala sekolah ada di sana. "Eh? Kamu perempuan yang kemarin ya?" sapanya sambil tersenyum. Ashiya hanya mengangguk kecil. "Baiklah, silahkan bersantai. Aku akan menjelajahi tempat lain". Ashiya mengamati pria itu pergi. Tak sengaja, matanya tertuju pada name tag yang ada pada kemeja pria itu. "Hideki Kaisan" begitulah yang tertera.

Ashiya diam. "Sepertinya namanya tak asing" gumam Ashiya sambil menelan masuk roti srikaya bulat-bulat ke dalam mulutnya. Dia tak terlalu ambil pusing. Kepalanya sudah cukup pusing, dia tak mau tambahan beban. Ia pun tertidur pulas tanpa tahu apa yang ia lewatkan.