Laman

Kamis, 11 Desember 2014

Tulus - Mengagumi dari jauh

...
Bukan tak percaya diri
Tapi aku tau diri

Biarkan ku memelukmu tanpa memelukmu
Mengagumi mu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
Menyayangimu dari jauh

Bukan tak percaya diri
Karena aku tau diri
...


Ini lagi menyanyi kok





Iya. Sedikit curhat sih. Sedikit.. *nyengir*

Minggu, 21 September 2014

190914
















Terimakasih...
Buat yang mau menyisakan sedikit dari ruang memorinya untuk mengingat tanggal lahir saya
Buat yang mau menyumbang voice note, rangkaian kalimat, video atau apapun untuk melantunkan doa
Buat yang mau memberi sepersekian waktunya untuk berbahagia bersama
Buat yang mau susah memikirkan bagaimana caranya mengemas hari ini seapik mungkin
Buat yang mau menyapa matahari sepagi mungkin dan menyempatkan masak bento pinguin
Buat yang mau memberi salam meski tidak sedang berpijak di tanah yang sama
Buat yang mau memberi kehangatan walau hanya dalam kesederhanaan

Buat kalian semua...

Perasaan ini mungkin akan berubah suatu saat, tetapi semoga kenangan mengingatkan kita lagi untuk kembali bersama. I'm so lucky to have you all.


Tersenyumlah, karena kita semua layak untuk bahagia :)


Salam hangat,


-Wanita 21 tahun-

Senin, 04 Agustus 2014

Lebaran

Gimana kabar lebarannya?
Udah kumpul lagi sama keluarga besar?
Udah ditanya perihal status?
Udah ditanya kapan bisa ngasih cucu?

Well, congratulation. Welcome to 20+! Yuhu~

Lebaran kali ini gue pergi ke pulau nya ayah dan mama, pulau sumatera.
Lebih tepatnya sih menjajaki teritori ayah, Aceh.
Kami bersemayam di sana selama seminggu.
Oh, lebarannya pake formasi komplit : Ayah, mama, abang (ridwan), bang ricky, dewi.
Pas udah sampai rumah di Aceh, ternyata ada anggota tambahan... kucing.

Iya. Kucing janda beranak tiga.
Iya. Kucing yang membuat gue seakan menjadi adik tiri.
Abang sama bang ricky lebih sayang dia...
Akhirnya gue menjadikan sapi di sekitar rumah gue sebagai pelarian.

Oh apa gue sudah cerita kalau sapi di aceh itu kayak kucing?
Well, kita bisa liat sapi beredar bebas di jalanan layaknya kucing.
Berjalan di tengah jalan dengan santai seakan badannya sama slim nya seperti kucing.
Kata temen ayah sih ada beberapa ruas jalan yang melarang ada sapi berkeliaran.
Sisanya? Cows rule the world. Yeah.

Gue sempat selfie sama si sapi anyway. 

Hal yang menyenangkan selama di Aceh:

1. Langit
Boleh dibilang kalaupun gue ngga pergi kemana-mana, dan hanya sekedar duduk di teras rumah sambil mandangin langit Aceh, gue udah puas. Puas banget. Cantiknya keterlaluan. Awannya berarak. Pegunungan berjejer terhampar jelas. Sebentang langit warna warni saat sore. Langit malam yang ditemani anak-anak bintang. Bisa ngga ini langit di copy-paste terus di pindahin ke depok? Please?

2. Alamnya
Sawah, gunung, laut. Komplit lah pake telor. Bungkus!

3. Ketemu teman-teman ayah
Mereka baik dan punya aura postif. Gue suka. Mungkin juga karena gue udah sangat suka sama ayah makanya gue yakin orang-orang di dekat ayah pun sama baiknya haha. Btw, lebaran kali ini memberi gue sebuah markas baru. Ya. Namanya dapur. Gue berdedikasi penuh di dapur, didampingi cowok paling ganteng nomer dua (bang ricky). Oh bukan. Gue bukan berjaga di balik panci atau kompor. Base camp gue adalah wastafel. Yap. Mencuci piring  Alat makannya terbatas, itulah mengapa harus dicuci secepat kilat untuk tamu berikutnya hehehe.

Oh! Ada anak temen ayah yang ganteng. Mehehe.

Tapi kelas 1 SMP........ #hening

"Sayang dengan anak kecil sama pedofil emang beda tipis" - unknown

Hahahahaha. Gue normal kok.

Banyak anak temen ayah yang cakep sih sebenernya (read: anak kecil semua). Atau mungkin karena mereka masih kecil makanya kelihatan cakep? :p

Mereka semua lucu. Ada yang gendut lucu mirip boboho gitu. Aih. Naufal - anak temen ayah yang tinggal persis di sebelah rumah ayah - juga lucu, manis dan sopan. Lumayanlah menghibur ayah kalau lagi sendirian di aceh. Oh ada juga dua anak perempuan yang cukup ekspresif , namanya Maula dan Nabila. Mereka sedikit mengajari gue bahasa Aceh. Jangan tanya gue sekarang, gue udah lupa hehehe.

4. Shalat ied
Baiklah, agar terlihat semakin jelas noraknya, ini pertama kalinya gue shalat ied di lapangan yang sangat indah hahahaha. Langitnya cantik banget. Awannya seakan menyapa jamaah muda mudi yang mengenakan pakaian terbaiknya. Gunungnya pun ngga mau kalah untuk unjuk gigi. Ah. Pokoknya syahdu.

Hal yang tidak terlalu disuka di Aceh:

1. Transportasi umum terbatas
Sebagai perwakilan pengguna transportasi umum, gue merasa diisolasi! #opomeneh Transportasi umum di Aceh biasa dikenal dengan nama labi labi. Si labi labi ini ngga terlalu banyak dan beroperasi di rute tertentu. Udah cukup jarang pula. (Hampir) punahnya eksistensi labi labi ini sungguh mendiskreditkan kaum-kaum yang tidak bisa membawa kendaraan. Ini kejam *nangis*

2. Tidak ada gramedia

3. Sepi
Kalau boleh curhat, seminggu pertama lebaran itu sepi syekaleee. Rencana mau wisata kuliner pun gagal total. Mayoritas masih pada khidmat berkumpul dengan sanak saudara gitu. Biasanya juga aceh ngga terlalu ramai, nah pas selama seminggu lebaran ini lebih sepi lagi. Hamsyong. Gue udah terbiasa besar dalam keadaan ramai sepertinya, jadi agak canggung juga dengan keadaan Aceh yang damai dan sepi haha

Mungkin segitu aja ceritanya. Udah panjang. Mama udah nyuruh tidur. Dadah.

Aku suka aceh kok :)

Minggu, 13 Juli 2014

Grow Up

"Bibibibi balabalabala mama papa bweeek" kata anak bayi dan sederajat.

"Aku ingin segera SMP, pasti seru!" kata anak SD.

"Masa SMA itu katanya masa yang paling indah. Cepet deh ke SMA! Kya!" kata anak SMP.

"Sedikit lagi kuliah! Semangat! Yuhuuuuu" kata anak SMA.

"Bosan kuliaaaaaaaah! Mau kerja aja ya allah atau nikah aja deh nikah!" kata anak kuliahan.


Well, people is people.

------------------------------------------------------------------------------


sumber : google

Kalau kata orang bijak sih, ngga semua orang mengalami 'grow up', yang ada hanya 'bertambah tua'. Well, that does matter if we're speaking about mindset. Namun kali ini, literatur kita adalah buku biologi SD yang mana  jelas menakdirkan bahwa ciri-ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Well that's grow up. Kenapa mendadak topik ini muncul ke permukaan? Karena gue udah mau masuk tahun keempat di dunia perkuliahan. Tahun keempat. Tahun keempat. Ta-hun ke-em-pat... *liat cermin* *pecahin cerminnya*

Iya. Tahun keempat. Periode dimana halusinasi gambaran pelaminan secara ajaib sering muncul dalam benak kaum hawa, sedangkan golongan kaum adam pura-pura tidak mendengar. Periode yang merupakan saksi bisu bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. That is the most kampret fact so far. Capek loh. Ketemu, kenalan, deket, pisah, dadah-dadah. Ketemu lagi, kenalan lagi, pisah lagi, dadah-dadah lagi. Sebuah skenario yang luar biasa apik. Ya udah. Aku mah ngga apa-apa. Aku mah apa, hanya artis yang bertopang pada sutradara semesta bermodalkan gaji berupa oksigen yang menjalar lembut sepanjang aliran tubuh. Kita hanya bisa berperan dan bersyukur. Alhamdulillah belum waktunya dipecat sebagai artis.

Oke. Kembali ke topik. Grow Up.

Di usia gue yang sudah.... sudah begini, gue mulai kebayang gimana rasanya jadi orangtua kita dulu, om-tante kita, atau tetangga-tetangga kita yang lebih tua. Iya. Kebayang rasanya menjadi saksi mata atas  metamorfosisnya seorang bocah yang berkawan dengan popok menjadi pria tinggi berbadan tegap atau wanita anggun dewasa yang matanya meneduhkan seantero khatulistiwa. Gila. Entah akan berapa juta bayi yang gue saksikan metamorfosisnya (emangnya lo kerja di bidan dew sampai bisa liat jutaan bayi?).

Ngga usah jauh-jauh, gue bahkan melihat perubahan tetangga gue yang alamak luarbiasa. Namanya ipo. Nama tidak disamarkan. Sejak jamannya tamiya masih beken, gue sering main sama ipo dan liqo. Mereka itu tetangga di depan rumah gue. Lebih muda. Gue kayak cewek dewasa yang ngasuh bocah gitu deh. Masih TK kali ya mereka, gue juga lupa. Gue nya SD. Duh, pas masih bocah tuh ya lagi masa-masa nya 'uuuu lutuna anak mama uuuuu'. Kecil-kecil lagi mereka berdua badannya. Sekarang......... "Ipo, yuk jalan sama tante". HUAHAHAHA. Ganteng sob! Tinggi, suaranya udah baligh, cool cool gimana gitu huahaha. Beda banget sama pas bocah. Ya... alhamdulillah sih. Ngga kebayang kalau dia masih nangis kemana-mana bawa popok. Yassalam. Bagian menyedihkannya adalah mereka udah ngga bebas dimainin lagi :/ Bayi itu mainan terbaik. Huft!

Iya. Begitu pula yang kira-kira dirasakan orangtua kita.

Kalau saat kecil, kita masih punya waktu untuk bersorak sorai gembira menanti kepulangan ayah ibu kita dari kantor. Senyum mengembang sempurna di wajah kecil kita. Tulus. Kayak malaikat. Adenosin trifosfat pun ngga mampu menyaingi energi yang bisa kita kasih ke orangtua kita saat itu.

Perhatian.

Perhatian kita bercabang seiring tumbuh dan berkembang. Teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, teknologi baru.

"Ini semua karena teknologi yang semakin canggih nih! Yang dekat jadi jauh. Nempel mulu sama HP"

Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadget yang memanjakan kita - apalagi nyalahin koko koko penjual gadget. Kita lah yang memilih alat-alat itu untuk memenjarakan diri kita sendiri. Kita memilih. Karena tentu alat itu tidak bisa menghipnotis kita. Mereka mati, dan hanya yang bernyawalah yang bisa menentukan. 

Kita semakin lupa menyisakan waktu untuk sekedar mengobrol, memberi sapa, kabar, bertukar cerita, atau mengobrak-abrik mimpi bersama orangtua kita. Kemana dong waktunya? Ups. Maaf, si teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, dan teknologi baru udah nge booking duluan. Anda kurang beruntung. Cobalah sekali lagi.

............................................

"Mereka agak bawel. Kepo. Banyak nanya. Aduh males ceritanya. Malu ah"

Lah? Emang temen ngga kepo? Emang mereka ngga banyak nanya? Lah kalau ada yang udah bersedia dengerin kita selama 24 jam, ngapain nyari orang lain buat curhat yang bisa aja sebenarnya mereka lebih suka dengerin rongrongan serigala jam 12 malem ketimbang dengerin kita curhat mulu.

Semakin lama. Semakin jauh. Banyak ruang yang kita tutup pintunya buat orangtua. Banyak gembok yang kuncinya telah kita simpan rapat dalam usus dua belas jari. Jarak terbentang. Kita di indonesia, orangtua jauh melebar menuju kutub utara. Dingin. Kira-kira begitu rasanya. Mereka juga sedih, kita bukanlah lagi mainan kesayangan mereka dulu. Bukanlah lagi malaikat kecil mereka yang pasti ada di balik pintu sambil mengintip nakal ibu dan ayahnya yang baru pulang kerja. Kita bukanlah lagi... orang yang memprioritaskan mereka. 

"Hey! Gue selalu berdoa kok buat mereka! Gue sayang sama mereka! Gue juga kadang telepon-teleponan sama orangtua gue"

Alhamdulillah. Anak yang berbakti :) 

Semoga ngga cuma selesai di doa ya. Karena mau bagaimana pun juga, manusia ngga tau kalau mereka didoain. Ngga ada notificationnya soalnya kalau abis tiap didoain. Gebetan sekali ngga ngasih kabar aja sedih. Gebetan lebih asik sama temennya aja sedih. Gebetan jarang ngobrol sama kita... "udah ah cari gebetan yang lain aja! Bete!".

Gimana tuh kalau orangtua kita yang bilang gitu? "Udah ah cari anak yang lain aja! Bete!"

Talk less do more kalau kata iklan rokok mah.

Aksi dong. Tunjukin perhatian kalian. Joget-joget kek gitu di depan orangtua biar interaktif *yakali*

Orangtua juga manusia biasa. Bahkan semakin tua, kita semakin ingin diperhatikan loh. Mungkin karena tingkat ke insecure-an melonjak naik. Merasa tua, jelek dan lemah. Mereka mulai takut apakah orang-orang terdekat mereka masih sayang sama mereka atau tidak. Pola pikir normal manusia yang sudah lanjut usia. Nanti gue juga bakalan gitu. Pasti. Kecuali kalau Allah punya skenario lain untuk hidup gue. Ya........ semoga sih masih bisa sempat lihat anak gue menikah kelak hehe.

Buat laki-laki nih, terkhusus laki-laki...

Sering makhluk yang bernama laki-laki ini menyepelekan komunikasi dan  jarang mengobrol basa basi dengan orangtua. Mereka ingin sekali mengobrol sama kita loh. Ingin sekali. Gimana sih ya, "Nanti kalau kalian udah punya anak pasti mengerti dan merasakan". Kira-kira itu yang mama gue selalu bilang. Gue jadi takut. 

So? Daripada kalian buang-buang SMS "lagi apa? sudah makan belum?" untuk makhluk yang ngga jelas kehalalannya buat kalian, dan belum tentu juga bakalan gembira nerima pesan kalian, mending kirim ke orangtua kalian. Hehe. Insya allah kalau ada lebih, kalian bisa dapet bonus uang jajan :p

Oh, postingan ini bukan tertuju khusus untuk kalian. Males amat bikin postingan panjang-panjang cuma buat kalian. Hih *kibas kerudung*

Postingan ini buat perempuan yang lagi nulis postingan ini. Biar sadar. Biar bisa gerakin badannya. Buang HP nya. Buka mulutnya. Lebih terbuka sama mama ayah. Lebih sering nangis bareng mama ayah. Lebih sering break dance sama mama ayah.... Ya pokoknya gitu. Sadar dong. Jangan sampai kamu disadarinnya sama air mata.


*PS 
Makasih buat ayah yang ngga pernah absen buat ngambilin permen FOX kesukaan gue tiap naik pesawat garuda. Gue cuma nyebut sekali aja kalau gue suka permen itu. Itu pun pas jaman friendster masih keren. Beliau selalu dan selalu bawa permennya. Selalu. Dengan muka bahagia beliau mengulurkan tangan "ini permen dewi". Dan gue nangis diem-diem. He is the most lovable man ever. Gue ngga akan pernah ngerasa lebih jatuh cinta lagi ke pria manapun selain ayah. Semoga imam gue kelak juga bisa bikin anak gue jatuh cinta.  Buat mama, yang udah ngga keitung lagi berapa banyak pengorbanannya. Mama yang kuat. Mama yang semakin lama semakin menua tapi masih aja sering gue bully. Mama yang ngga pernah marah walau kita ledekin. Terkadang kita suka kelewatan dan berujung dengan air mata *nyengir*  Mama yang ngga akan pernah bisa gue saingi pesonanya. Mama yang selalu gue kecewakan. Oke, ini terlalu panjang untuk sebuah pesan tambahan. Mata gue pun basah. Dadah semuanya.

Let's grow up. Yey. 

Minggu, 06 Juli 2014

Bagian IV : Album Foto


------------------------------------------------------------

Pria itu masuk ke ruang kerjanya, menarik nafas panjang. Ia menarik dasinya tergesa-gesa. Seharian, benda kecil itu cukup mencekik dan membuat sesak ruang geraknya. Selagi sibuk mengistirahatkan diri, ketukan pintu pun terdengar. "Masuk" jawab Kaisan. "Selamat siang, Pak. Ini dokumen yang bapak minta tadi pagi" jawab seorang wanita berbusana terusan pastel selutut yang dilapisi blazer krem sambil tersenyum simpul penuh makna. "Oh, baik. Terimakasih banyak bu Nattan" balas Kaisan sopan. "Apa bapak Kaisan mau saya buatkan kopi? Bapak nampak lelah" ucap wanita itu lagi dengan nada yang dilembutkan. "Tidak, ibu bisa bekerja kembali" tegas Kaisan sambil tersenyum. Nampak kecewa, wanita itu pun pergi dari ruangan. "Aaaaah" Pria itu segera merebahkan kepalanya dengan lelah ke  kursi empuknya. Kosong, ia memandang langit-langit. "Lelah juga kerja formal seperti ini ya" ucap Kaisan pada dirinya sendiri. 

Ia menarik laci meja, lalu mengeluarkan sebuah album foto hitam. Ia tersenyum tipis. Membuka setiap lembar dan menyelami kenangan di masa lalu. Kaisan pun terpaku pada satu lembar foto. Terlihat dua anak laki-laki yang cukup serupa tengah berada di antara satu anak perempuan. Keduanya memegang mainan gundam rakitan mereka masing-masing dengan bangga seakan memamerkan pada dunia, sedangkan sang anak perempuan sibuk tersenyum sangat lebar. Bahagia. Di belakang anak-anak itu, terlihat ada dua wanita dewasa, yang satu berambut ikal sebahu, satunya lagi berambut lurus sepinggang. Kerut wajah tak mampu mengurangi sinar wajah bahagia mereka saat berusaha merangkul ketiga anak kecil itu. Sebagai pelengkap, dua orang pria berdiri tegap di samping kiri dan kanan. Pria berambut jabrik tersenyum puas dengan aksesori hidung badut yang ia kenakan sambil mengacungkan dua jari ke arah kamera, sedangkan pria berambut klimis dan rapi sibuk menahan tawa. Foto itu begitu hidup.

Beberapa saat kemudian, Kaisan kembali menarik nafas, menutup album, dan kembali menyimpannya di dalam laci, entah untuk berapa lama. 

-----------------------------------------------------------

Ashiya berjalan lunglai ke arah gerbang sekolah. Sepanjang koridor, ia sibuk menepuk-nepuki bahunya yang pegal. Rapat singkat dengan pengurus kelas tadi cukup menghabiskan tenaga. Ia memandangi 3 lembar potongan kertas berisi kandidat ide untuk penampilan kelas di festival. Ashiya memandangi kertas tersebut lama hingga sebuah bola sepak menabrak mesra kepalanya. DUENG. Ashiya sempat bengong beberapa detik sampai tersadar sempurna. Ia menoleh galak dan lagi-lagi mendapati sesosok anak laki-laki yang ia percaya sebagai sumber malapetaka dunia. Anak laki-laki itu hanya menatap datar lalu mengulurkan tangannya "Tolong lempar kembali bolanya ke sini. Kaichou-chan" ucapnya dengan wajah tak berdosa. "BUKANNYA MINTA MAAF MALAH MINTA BOLA! MAKAN NIH BOLAAA!" jerit Ashiya sambil menghempaskan lemparan maut lurus menuju wajah Hideki. Beruntung, Hideki sempat menghindar, sesaat kemudian terdengar suara teriakan dari korban 'lemparan meleset' tersebut. Ashiya terengah-engah sebal. Dia tak peduli kalau yang tumbang bukanlah target utamanya. Dia hanya lega. Dia pun fokus memunguti kertas-kertas yang berjatuhan lalu segera beranjak pergi meninggalkan si alien api. Ya. Itu gelar kebangsaan yang dibuat Ashiya untuk Hideki - Alien Api. Dia selalu berharap suatu saat rambut merah nya Hideki berubah sungguhan jadi api dan membakar cowok punk itu. Ashiya tentu akan ada di sana sambil melakukan tarian hawaii penuh kemenangan lengkap dengan batok kelapa dan rok rumbai-rumbai. 

Setelah beberapa langkah, Ashiya berhenti. Menoleh ke belakang dengan ketus. "MAUMU APA SIH?!" teriak Ashiya pada sang alien yang sedaritadi mengikutinya. Selayaknya tidak punya cadangan muka yang lain, dia lagi-lagi menampakkan ekspresi datar "Hey Ashiya" ucap Hideki mulai angkat bicara. "Apa? Apa maumu?!" "Kalau dari mulutmu bisa keluar api keliatannya seru. Kita adakan pertunjukkan naga saja untuk festival. Kau artis tunggal. Keren. Yang lain juga ngga akan capek. Ide bagus kan?" jawabnya seakan serius. Ashiya menatapnya lama. "Aku seperti mendengar suara, tapi tidak ada orang di sini. Darimana ya asal suaranya?" ujar Ashiya sambil pura-pura celingukan. "Oh hanya perasaanku saja sepertinya. Saatnya pulang" jawab Ashiya ceria sambil melompat menuju gerbang dan menghilang meninggalkan si Alien api. 

Hideki hanya bisa tertawa kecil lalu berbalik hendak menuju lapangan. Ia berhenti, terperanjat. Sosok yang paling malas ia temui selama tiga tahun terakhir kini telah ada tepat di hadapannya. "Sudah lama kita tak bertemu" sapa sosok itu. Hideki tak mengacuhkannya dan segera pergi berlalu. Kesal. Walau sekarang ia berhasil menghindar, Hideki tau dia tidak bisa menghindar selamanya.


4 Juli

Ini adalah tahun kedua dimana gue harus menghadapi bulan ramadhan dengan kondisi mesjid yang direnovasi. Tahun lalu, renovasi dilakukan di tempat jamaah putri. Gue berharap tahun ini bisa beribadah di mesjid dengan nyaman. Sayangnya, harapan gue kandas. Ada renovasi lagi. Namun, ada yang beda kali ini ini. Tak hanya rupa yang diubah, kini nama pun diganti! Mesjid Pondok Duta telah almarhum, dan bangkitlah bayi baru yaitu mesjid Baabul Jannah *tebar confetti* Fyi, mesjid baabul jannah itu artinya mesjid 'pintu surga'....... Oke deh. Semoga para jamaah bisa terhantarkan menuju masuk ke dalam surga lah ya, ngga cuma nunggu di depan pintunya hehe. Pahitnya, ada kisah sedih di balik pengubahan nama mesjid ini. Semakin sedih lagi melihat kenyataan kalau oknum-oknum yang bersangkutan tidak berupaya menutupi masalah yang sedang terjadi, justru dipublikasikan dengan bangga. Prihatin. Keren sih. Walau gue sempet agak bingung nyari tempat wudhu dimana. Banyak yang udah disekat gitu ruangannya, agak linglung liatnya. 

Mungkin akan lebih sempurna jika pengurusnya juga memperhatikan kondisi kamar mandinya hehe. Masa kedatangan gue ke kamar mandi disambut oleh 3 laba-laba lengkap bersama jaring-jaringnya yang seluas samudra hehe Itu kamar mandi apa base camp laba-laba hehe. Apa itu markas laba-laba yang disewa jadi kamar mandi. Hehehehehe. 

Gitu deh. Intinya gue agak shock. Gue tergolong orang yang ngga perhatian dengan hal-hal kecil kan. Kalau gue mau buang air kecil, fokus utama gue ya klosetnya. Gue ngga merhatiin sekeliling. Berhubung badan gue agak makan tempat, kepala gue hampir mengenai langit-langit kamar mandi yang emang ngga begitu tinggi. Baru deh gue nyadar ada satu laba-laba lagi melototin gue. Gue kaget, badan gue bergeser, noleh ke samping, eh ada laba-laba kedua, gue makin kaget dan sontak nunduk buat menghindari jaring laba-laba. Setelah gue agak tenang, gue menoleh ke arah yang lain, eh di sudut ruangan ada laba-laba ketiga lagi nyengir sambil minum kopi. Dia kayaknya sengaja nunggu sampai gue menyadari kehadirannya supaya doi bisa bilang "surpriseeeee".

Kembali ke arena shalat tarawih. Pas awal, sempet gondok karena ngeliat ada satu baris di tengah-tengah yang kosong gitu. Ngga ngerti kenapa dikosongin, tapi ya kosong aja sebaris. Akhirnya gue sama mama maju ke depan. Untung deh pas udah mau dimulai shalatnya, akhirnya ada beberapa yang ngikut maju juga. Oh, sebelum gue berkicau lebih jauh. Gue mau komplain tentang bentuk sajadah.

 sajadah 1

sajadah 2

Kalian liat sajadah yang tumbuh ke samping (re: sajadah 1)? Itu sajadah yang sekarang entah mengapa menjamur di pasaran. Gendut dan makan tempat. Entah apa yang membuat sajadah ini menjadi primadona. Kalian lliat sajadah minimalis yang cocok dijadikan icon produk kozui slimming suit (re: sajadah 2)? Itulah sejatinya sajadah. Pas untuk satu orang. Ngga makan tempat.

Audience : yaudah sih ngga ada bedanya juga kok kalau pake sajadah 1, satu sajadah bisa dipake buat dua orang malah. Praktis!

Nah iya, itu kalau kalian saling kenal sama sebelahnya. Cenderung, orang yang tak saling kenal merasa sungkan untuk menindih sajadah jamaah yang lain. Akhirnya malah memilih membentangkan sajadahnya di samping sajadah gendut (re: sajadah 1) itu. Padahal jarak yang terbentang menjadi cukup lebar. Cukuplah kalau ada setan mau nyempil mah. Huf. Gitu. Gue cuma kangen sama sajadah lama kesayangan gue. Warna coklat dan ramping. Entah udah disembunyikan mama kemana. Hiks.

Lanjut.

Jadi, tadi kan ada anak-anak yang akhirnya ikut maju ke shaf gue tuh, mereka berjejer ke samping (yaiyalah dew, lo pikir mau latian baris berbaris berjajar ke depan). Gue udah mulai sholat saat gue sadar anak kecil sebelah gue memilih untuk sholat berjarak dengan gue. Ya, itu karena sajadah gendut! Doi merasa ngga enak kayaknya buat ikutan join bareng di sajadah gue. Setelah selesai tarawih ronde 1 (2 rakaat), gue pun membentangkan sajadah gue ke samping supaya dia ngga canggung deket-deket gue (atau dia sebenernya emang ngga mau deket gue). Oh engga dong. Siapa sih yang ngga mau deket-deket sama gue? :p Si anak kecil yang tingginya sepinggang gue ini kayaknya sekilas ngeliatin gue. Gue ngga terlalu ngeh, soalnya langsung lanjut sholat lagi kan. Nah, pas selesai ronde ke-2, ada jeda beberapa saat gitu. Gue tadinya mau nutup mata sambil dengerin imamnya bacain doa, sampai akhirnya emak gue nyolek lengan gue

"Itu.. mau salam" nunjuk ke anak kecil sebelah gue. Gue pun noleh.............

ALLAHU AKBAR! CANTIK BANGET!!!!!

Ada anak perempuan kecil, putih, manis, matanya bulat, senyumnya sempurna, santun banget pula! Agila, ini kalau gue cowok dan dia udah ranum, gue pinang pake bismillah deh. Manis banget. Namanya Fitria, kelas 4 SD. Doi murid di pesantren yusuf mansyur gitu deh, pesantrennya deket rumah gue. Gue cuma bisa bilang "cantik ya" berkali-kali. Pas ditanya mama papanya dimana, doi bilang sih di bangka. Di bangka apa singapur gitu.... iya gue tau dua kata itu jauh berbeda. Tapi sependengaran gue anak kecil itu nyebut nama dua tempat itu, tapi masa iya orangtuanya ada di dua tempat? Anggap saja di bangka. Pokoknya dia cantik dan gue suka hahahaha. Kalau artis sih, dia mirip Jessica Anastasya 

Oke tarawih jadi cukup menyenangkan. Setelah pulang, berita spektakuler itu pun muncul. Tentang foodival. Yeah. Lumayan bikin jambak-jambak kepala. Well, lebay dikit sih. Case closed sementara, mendadak masuk telepon dari Rika. Doi lagi KKP gitu deh. Dia cerita panjaaaaang sekali tentang kisah perjuangannya di desa. Desa nya cukup terisolasi katanya. Kasian. Banyak tokek, banyak kodok... di dalam rumah! Hiii. Dan... airnya bau pup. Ya Allah, lindungilah sahabat hamba :"| Setelah rika, eh si mima muncul. Kalau doi mah ga pernah jauh dari cerita masa lalu hahahaha. Sedap sudah malam gue. Nano-nano.

Sekian kisah 4 juli gue. Paginya damai, malamnya kayak kembang api. Jedar jeder.


Oh fyi, H-3 menuju 9 juli 2014 nih! Be ready! Pastikan pakai make up guys! Siapa tau ketemu jodoh di tempat nyoblos. See ya!


Kamis, 03 Juli 2014

Bagian II : Sepertinya


Kamis 27 Juni
6.47 am

Rombongan murid berjalan menyeruak ke luar kelas, mengikuti perintah. Bermuara ke satu arah, kecuali satu orang. Pria berbadan tinggi, berambut kemerahan dengan seragam berantakan - kemeja yang tak dikancing dilengkapi kaus belel biru dongker - menuju arah berkebalikan, berjalan santai seakan tuli pada lingkungan. "Aula itu ke arah sana! Aku rasa kau sudah cukup senior untuk mengetahui letak setiap sudut sekolah ini" teriak seorang gadis dengan ketus. Pria yang diteriaki itu pun menoleh malas. Menatap datar namun menyelidiki gadis itu seksama. Sejurus kemudian ia menunjuk ujung bibirnya. "Lap dulu liur mu, baru menasihatiku" jawab pria itu kemudian segera berlalu pergi. "Eee?!" Gadis itu kikuk lalu melap seluruh mukanya tergesa-gesa. Pria itu menoleh sebentar, menyeringai, dan segera menghilang di ujung koridor. Gadis itu diam beberapa detik, lalu di detik berikutnya, suaranya memenuhi penjuru sekolah. "HIIIDEKIIIIIIIII!" teriak gadis itu kalap.

BLETAKKK. Sederet kamus tebal huruf kanji kesayangan Pak Matsumoto mendarat sempurna di pusat kepala gadis itu. "Ashiya! Mau kau teriak sekencang apapun, tidak akan ada api yang keluar dari mulutmu! Percuma saja kalau tak bisa membakar anak punk itu. Buang-buang tenaga". Ashiya hanya bisa melirik lirih. "Go- gomen ne sensei". Pria berkacamata itu menarik nafas panjang. "Perjuanganmu menjadi ketua kelas masih panjang Ashiya. Jangan buang-buang umurmu dengan dia. Ayo ke aula" lanjutnya kemudian. "Ah, sensei. Ada apa sebenarnya sampai upacara mendadak di pagi ini? Apa... ada pengumuman penting?" pancing Ashiya yang sesungguhnya telah punya tebakan sendiri di dalam kepalanya. Pak Matsumoto hanya tersenyum. "Ya, kabar baik". 

Tepat seperti dugaan Ashiya. Pria muda yang tengah memamerkan senyumnya ke pelosok Megamendung Utara di depan podium aula adalah si pria terowongan! "Salam kenal, saya Kaisan, mulai hari ini kita akan bekerjasama untuk membawa Megamendung Utara menjadi sekolah teladan. Mohon bantuannya" tutur pria itu dan segera membungkuk hormat. Tepukan riuh dari kalangan guru serta siswa pun mengikuti. Sayup-sayup terdengar pekikan histeris murid perempuan yang mulai terhipnotis ketampanan kepala sekolah baru itu. Beda dengan yang lain, Ashiya sibuk memicingkan mata menatap wajah kepala sekolah itu lekat-lekat. "Heyooo! Naksir ya ashiya?" ledek gadis berambut sebahu di sebelahnya - Asami. "Eeee?! Bukan itu! Bukan itu! Aku hanya merasa sepertinya wajah Pak Kaisan mirip seseorang". Tanpa mempedulikan kalimat Ashiya, Asami mengikuti ritme gadis lain dan memuja-muja kepala sekolah baru itu.

----------------------------------------------------

Kelas usai, waktu istirahat pun disambut siswa dengan sukacita. Ashiya penat dengan segala macam rumus di kepalanya. Gontai, ia pun melangkahkan kakinya ke loteng atas sekolah untuk menghirup udara segar. Menyapa awan lebih efektif untuk pemulihan tenaganya dibanding harus ke ruang kesehatan dan dipaksa minum madu yang rasa manisnya bikin diabetes. Begitu yang Ashiya yakini. Setelah Ashiya membuka pintu, sontak ia kaget. Kepala sekolah ada di sana. "Eh? Kamu perempuan yang kemarin ya?" sapanya sambil tersenyum. Ashiya hanya mengangguk kecil. "Baiklah, silahkan bersantai. Aku akan menjelajahi tempat lain". Ashiya mengamati pria itu pergi. Tak sengaja, matanya tertuju pada name tag yang ada pada kemeja pria itu. "Hideki Kaisan" begitulah yang tertera.

Ashiya diam. "Sepertinya namanya tak asing" gumam Ashiya sambil menelan masuk roti srikaya bulat-bulat ke dalam mulutnya. Dia tak terlalu ambil pusing. Kepalanya sudah cukup pusing, dia tak mau tambahan beban. Ia pun tertidur pulas tanpa tahu apa yang ia lewatkan.

Selasa, 27 Mei 2014

:')

Hari ini whatsapp sederhana masuk ke HP gue. Sederhana. Dari sahabat perempuan yang tidak seberapa mungil. Dia membahas satu hal. Satu hal yang belakangan ini sangat mengganggu pikiran gue. Beberapa kalimat, satu tamparan. Gue bodoh, gue ngga bisa menjawab dengan baik. Bahkan air mata sampai turun tangan untuk membantu menjawab. Air mata sedih membenarkan kesalahan gue yang udah dia jabarkan. Air mata bahagia menyambut kenyataan kalau gue punya sahabat yang bener-bener sayang sama gue. Sahabat yang menuntun gue, bukan yang membiarkan gue tersesat.

Emang sakit saat kita tau kita perlahan berubah menjadi sosok yang kita benci. Berdebar juga mendengar kritikan. Beruntunglah kamu jika kamu diberi nasihat. Tersenyumlah dan peluk sahabat kamu. Sesungguhnya dia lah wakil Allah untuk menegurmu. 

Pokoknya gue sayang sahabat gue ini.

Udah dulu ya. Gue lagi sibuk bersyukur nih. Dadah 

Kamis, 06 Maret 2014

Belajar

Sebenernya gue udah berniat bikin postingan ini sejak awal banget gue masih jadi zigot, namun sayangnya berhalangan terus. Jadilah gue baru bisa bikin sekarang. Singkatnya, ini tentang acara perkenalan himitepa. Pre-inkubasi. Engga, ini bukan inkubasi sel beneran, ini hanyalah istilah acara pelantikannya pengurus himitepa. Pre-inkubasi ini adalah semacam seminar kecil untuk memotivasi kita dan kayak ngebuka gerbang menuju gambaran setahun ke depan. Sederhana. Yang gue suka di games tahun ini adalah games "siapa aku di matamu". Ya kurang lebih begitulah, gue lupa judul benernya apa. Intinya gitu hahahaha. 

Setiap orang punya dua kertas, kertas biru dan kertas merah. Kita harus nulis sifat tidak baik dari seseorang atau mau mengkritik sikap mereka di kertas merah, sedangkan tulis sifat baik seseorang di kertas biru. Kita dikasih kebebasan buat ngasih ke siapapun orang di ruangan itu. Dan ngga boleh main fisik. I mean, kalaupun mau memuji, bukan "kamu cantik banget, anggun, manis lalala". Ngga gitu. Tapi lebih ke sikap dan perilakunya. 

Gue dapet 2 kertas biru dan 1 kertas merah



Oke kertas biru ngga terlalu penting... Eh penting sih hehehe. Dua kertas biru itu dari anak 49. Semoga aja setelah lebih kenal sama gue setahun ke depan, mereka ngga nyesel ngasih gue kertas biru :p

Kali ini yang mau gue bahas kertas merah (atau kertas pink?)



Daripada kalian muter-muter leher, biar gue perjelas :

To : Dewi

Dew, lo gue amatin entah beberapa bulan atau akhir-akhir ini, lo teh masih kurang di listening skill nya. Lo masih kurang mendengar orang lain. Soalnya tadi aja pas bu dias lagi ngomong, gue denger kok lo ngobrol sendiri. Gue inget juga pas lagi kuliah PTP kalo ngga salah. Ya gitu sih, masih suka asik sendiri. Padahal ada orang yang lagi ngomong di depan gitu.. hehe. Sorry ya dew, ngga bermaksud apa-apa kok. Cuma mau ngeliat lo lebih baik lagi. Arigatou :D


Surat itu dari muhammad naufal yusuf atau cowok yang lebih sering gue panggil behel. Dulu dia pake behel, sekarang engga #penting. Jujur. Gue sangat amat super duper teharu. Gue yakin dan siap pasti akan ada yang ngasih kertas merah. Tapi gue ngga nyangka, si behel yang bakalan ngasih. Dan.... kritiknya tepat banget. Emang iya. Emang iya, gue kurang banget listening skillnya. 

So, makasih ya behel yang udah kayak keluarga sendiri, dan bahkan sekarang jadi ayah foodival, surat merah lo sangat berarti. Sangat.

Sebelumnya gue sempat introspeksi, gue punya banyak kelemahan dasar dan sekarang mau coba dipelajari lagi pelan-pelan :

membaca, menulis, dan mendengar.

Tiga komponen yang terdengar sederhana bahkan untuk tingkat sekolah dasar. Tapi ngga ada hal yang akan benar-benar kita kuasai jika kita hanya melakukannya setengah dan tidak benar meresapi. Membaca bukan sekedar melihat huruf, bukan sekedar sekali dua kali. Menulis tak hanya catatan, tulis segalanya. Malas? Pasti. Itu kesulitannya. Mendengar. Tak perlu dijelaskan, semua juga tau esensinya. Well, walau masih ada yang lebih suka didengar saja daripada mendengar. Tak mengapa. Itu pilihan mereka. 

Oke akhir kata, selamat belajar semuanya! :3

Senin, 03 Februari 2014

I'm about to cry

Di sela-sela makan pagi yang elegan bersama ayam tangkap dan nasi yang masih mengepul, sontak perhatian tersita penuh pada tayangan di NET TV. Acara pagi ini adalah 'morning show'. Semacam berita pagi begitulah. Di tengah pembicaraan, mendadak presenternya mengangkat topik mengenai pak A. T. Mahmud. Perlahan ketiga presenter mengenang sedikit lagu-lagu karya masterpiece beliau. Lagu anak-anak yang pastinya melegenda di sanubari semesta Indonesia. Well, seengganya di jaman gue kecil dulu, lagu-lagu pak A.T. Mahmud masih berkibar di kancah permusikan, tak kalah meriahnya dibanding sang saka merah putih. Sedikit nostalgia, lagu-lagu karya beliau antara lain Aku Anak Gembala, Bintang Kejora, Pelangi, Paman Datang, Mendaki Gunung, dan lain-lain.

Lalu?

Stasiun TV yang super-keren-kece-badai ini pun melakukan survey tanya jawab gitu ke beberapa responden acak yang ditemui di suatu tempat (kalau dilihat dari background bangunannya sih kayaknya di GBK).

Respondennya ada tiga anak kecil (berdasar mukanya yang belum ranum, sepertinya masih SD semua) dan beberapa remaja. Kali ini responden remaja akan gue hilangkan. Tidak gue bahas. Karena responden remaja menjawab pertanyaan dengan cukup baik. Mungkin dikarenakan mereka adalah segolongan kaum yang menghabiskan masa kecilnya di jaman yang sama dengan gue. Jaman dimana lagu anak-anak masih berjaya.

Mari kita simak tanya-jawab berikut...

P.S. 
tulisan merah = anak perempuan
tulisan biru    = anak laki-laki 1
tulisan hijau   = anak laki-laki 2

Siapakah A. T. Mahmud?

"Ngga tau (senyum)"

 "Pembuat lagu hehe"

"Pencipta lagu" 

Apakah kamu tau lagu-lagu karya A. T. Mahmud?

All : "Ngga tau (geleng-geleng)"

Apa lagu anak kecil favoritmu? Coba nyanyikan.

"Kamu.... Buat aku tersipu, buatku malu-malu. Saat bersamamu..."

"Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ditendang sekarang ku disayang"

"Easy come, Easy go. That's just how you live... Oh Take take take it all but you never give"


********************


Pembahasan

Berdasar analisa ke sok tahu-an gue, diperoleh beberapa kesimpulan.

1. Anak kecil perempuan itu adalah seorang fangirl kelas ikan teri sambal ijo.
2. Anak laki-laki 1 itu mungkin sering diajak naik angkot sama bapaknya.
3. Anak laki-laki 2 ini kemungkinan naik kasta semenjak bergaul dengan abangnya yang udah terlalu sering bolak-balik ke konser layaknya pergi ke WC.


Ya, semoga almarhum pak A.T. Mahmud tidak sedang menangis sekarang. Memang bukan salah anak-anak itu jika akhirnya mereka teracuni lagu-lagu dewasa. Budaya dan lingkungan media massa yang semakin tak sehatlah yang menuntut mereka. Di saat dulu seusia mereka, kita berlomba-lomba bangun pagi untuk sekedar menonton film kartun. Sekarang? Yang ada hanya tayangan musik dewasa. Lagi dan lagi. Di saat dulu seusia mereka, kita masih memiliki waktu untuk menjamah film kartun di sore dan malam hari setelah maghrib. Sekarang? FTV lagi, sinetron lagi.

My deep condolences goes to you, children nowadays *pasang bendera setengah tiang*

Minggu, 02 Februari 2014

A Werewolf Boy


Recently, i become a cry baby. Idk why. It's just too easy to cry at everything. As the time goes by, my woman's side finally comes up, perhaps. The weakling side *munch*

A werewolf boy.

At first, I was interested in this movie because Song Joong Ki play a role as the male leader here. He played great in 'nice guy' drama, so i thought it wouldn't be a waste to try his other movie.

And......... Yeah, truly not a waste. I'm the one that is the waste here. The tears just couldn't be stopped. How shameful *sob*

--------------------------------------------------------------

This story is about a relationship between a werewolf  boy (Cheol Soo) and a girl named Soon-Eee. Cheol Soo was a neglected-unidentified boy who unexpectedly lived secretly in the Soon-Eee's new house. He couldn't talk and acted like a wild dog. At first, Soon-Eee did hate him. Yet, he always did good and even saved Soon-Eee from the bad guy. Then she changed her mind and tried to train him to be a good boy. Well, she learned the way to tame Cheol Soo from a book titled "Pet Dog Encyclopedia". Pfff. What a wise choice. 

A harmonious life has been created. Cheol Soo and Soon-Eee get along very well. Cheol Soo always did whatever Soon-Eee said. Whenever he obey her command, Soon- Eee would pat his head gently. She teached him how to wait (he can't wait for anything before - especially for eating case. yeah like a wild animal), tied up the shoelaces, brushed teeth, or even how to write.  In simply, no problem in their life. A peaceful one... Till the bad guy came again. The bad guy (I forgot the name) tried to provoke the people to get Cheol Soo away from the house because he was dangerous. "That boy was an evil!" that bad guy said. 

There were only the bad guy and Soon-Eee that knew the secret of Cheol Soo. The secret was : Cheol Soo was a werewolf! Yet, Soon-Eee absoultely hide the truth. Ah fyi, the first time Cheol Soo turned into Werewolf's mode was when the bad guy tried to seduce Soon-Eee at midnight. The hero would never calmed down in such a situation, anyway. Wush! Grawwwwr.

***************

"Cheol Soo, here is the book given by my deceased dad. I never read it, and i won't. I'd let you to read it for me. Till the time comes, i won't read it by myself. So, hurry up. Learn how to read and talk properly. I'm going to pat you a hundred times if you could do that. It is a command"  Soon-Eee smiled.

That was one of her conversation to the Cheol Soo who was being isolated because he was under investigation of the country people (Thanks to the bad guy's provocation). The country people wanted to know whether Cheol Soo was a good or bad guy. They even put a CCTV to his isolation room. After some days, all people didn't see any suspicious act from Cheol Soo, so everybody believed that he was a good boy. The bad guy wouldn't accept the result easily. The chaos started.


At the end, the bad guy died. He was killed by Cheol Soo because the bad guy attacked Soon-Eee. Everyone saw that moment, when Cheol Soo turned into a werewolf and smashed down the bad guy. Right after that, Cheol Soo ran away with Soon-Eee. 

Cheol Soo was in danger if he was always with Soon-Eee. The country people would have soon caught up Cheol Soo and killed him. Soon-Eee definitely didn't want that to be happened. That's why... They were supposed to be separated. Forever. She left him. 

After all that have happened, Soon-Eee and her family moved out. The life must go on, for Soon-Eee...

but not for Cheol Soo.

***************

Time surely went fast in reality. Yet not in heart. The time were just stopped. For those two.

Forty-seven years later, Soon-Eee came back to that house with her grandchild. She was about making a deal to sell the house with someone there. At the snowy night, she went to the isolation room where Cheol Soo was once there. She opened up the door, and......

He was there! Cheol Soo was there! He was sitting peacefully. Waiting for her comeback patiently.

She was shocked. Terribly shocked.

"Did you... wait for me? ..... This long?" she asked.

He nodded. Slowly he moved his head closer to her. A sign from him that he wanted to be patted. The old Soon-Eee cried out loud and patted him.  Cheol Soo gave her a memorable guitar which has been repaired. Fyi, Soon-Eee ever played the guitar, yet it was broken because of the bad guy. The cry scene never end. Brace yourself.

She huged him...

"I'm sorry Cheol Soo. Why did you wait? I'm sorry. I already did what i want. I ate what i want to. I wore what i want to. I even already married another guy and raised my children. I lived that way. I'm sorry"

She continued

"I'm already old now, my hair even became gray..."

In the middle of Soon-Eee's monologue, suddenly Cheol Soo talked...

"No.  You're still the same... Also your hand, mouth, and eyes. Even now, you're still beautiful. Really... I do miss you"

.............

HE DID TALKED! CHEOL-SOO FINALLY COULD TALKED! I was about to swim on my tears during this scene *sob*

Then, Cheol Soo read the book (which was given before) for Soon-Eee. That book was about the snowman's story. He read that fairy tale for her till Soon-Eee fell asleep.  

"You do not need to wait for me anymore, Cheol Soo"

The next morning, everything came back to normal and reality should be faced. Soon-Eee and her grandchild was going to back to their current house. The phone was ringing, from the one that was going to buy that old house.

Soon-Eee picked up the phone and answered directly. "I'm not going to sell that house anymore. Sorry. Bye" . And her granchild could only show the confused expression. 

Their story ended, yet not die.

-------------------------------------------------------------- 

Don't ask how much i've shed the tears. Don't.

Yet, fabulously, after 47 years, Cheol Soo didn't change at all!  How adorable :") Oh werewolf, if we were you :")

It might be seriously difficult to wait for that long *sob* I'd create a poem based on Cheol Soo's point of view. I.......... don't promise. Wkwkwk. I'll try if i have a chance and mood (again and again) :p

Then, Ja ne, minna-sang!

Sabtu, 01 Februari 2014

Piket Folder

Sedikit selingan. Entah bagaimana ceritanya, mood untuk menulis postingan tentang liburan mendadak dicuri Kaiju. Gue lagi minta tolong ultra man buat mengambil kembali mood-nya ke muka bumi ini. Sementara ultra man mengerjakan kewajibannya, gue harus tetap melanjutkan kehidupan di blog ini. Well, whatever.

Sesuai judulnya, gue ingin menceritakan apa yang baru saja gue lakukan. Tak lain dan tak bukan : Piket Folder. Apakah itu?  Semacam bersih-bersih folder di laptop tertjinta gitu. Gue melakukan inspeksi dadakan ke folder-folder dan melakukan penataan ulang. Satu folder yang paling susah dan paling bikin males buat dibersihkan adalah folder..... 'pictures'. Rame bos! Ibarat negara mah mungkin itu negara Cina kali. Selain rame, dulu gue naro fotonya tuh asal-asalan. Di samping peletakan foto yang sembarangan, kebanyakan bikin sub folder juga bisa menimbulkan petaka. Misal nih kayak folder 'pictures' gue itu melahirkan anak berupa folder 'kuliah' dengan generasi penerusnya adalah sub folder  'Fateta', 'Himitepa', 'IPB', 'ITP', dan 'Q 15'. Belum lagi si sub folder itu masing-masing mungkin ada lagi yang beranak-pinak, bertelur, membelah diri atau segala macam jenis perkonjugasian lainnya. Ampun. Gue sampai detik ini masih susah kalau mau cari foto. Yaudahlahya buat satu folder itu diikhlasin aja *sob*

Penataan folder yang paling seru menurut gue adalah penataan folder 'videos' hehehe. Seru sih, tapi banyak godaan. Di tengah-tengah penataan pasti ada distraksi.

"Ah film yang ini belum nonton!"

(dua jam kemudian)

"Wah yang ini film apa yaaaa"

(12345 abad kemudian)

"Aduh capek, tidur ah"

.....................................

Engga sih. Engga selebay itu :p Yang jelas penataan folder video cukup memuaskan. Bisa sekaligus membuang film-film yang kira-kira males gue tonton kelak. Maklum, pas terjadi transaksi transfer film teh yang dipentingkan kuantitasnya dulu, bukan kualitas. Bodo amat bagus apa engga, yang penting copy! Tarik mang! 

Tau-tau free spacenya tinggal sepertiga aja :')

Itu tidak bisa dibiarkan, bukan saudara-saudara?! >: O Karena itulah kita butuh...

P-MAN! Piket Man! \(´▽`)/
..... #soundswrong #whocares

Kembali ke folder. Pelaksanaan piket folder ini sangatlah esensial bagi kelangsungan hidup sahabat mungil yang telah berjasa menyimpan begitu banyak proyek kita. Dialah saksi atas semua folder yang kita punya. Dari mulai folder yang aman dikonsumsi publik hingga folder yang ehem ehem....... #soundswrong #parttwo. 

Seperti pada piket nyata lainnya, piket ini memudahkan kita untuk mencari benda yang kita inginkan (dalam kasus kali ini, berupa file) plus sekaligus menyortir file mana saja yang sudah kadaluarsa. That's life. Ada file yang baru, yang lama harus mengalah :') Karena sahabat kita ini hanya sebuah laptop, karya manusia, memorinya terbatas. Beda dengan kita. Karya Allah. Alhamdulillah memori di hati kita ini seluas samudera dipangkat seribu. Luas banget. Jadinya bisa menampung begitu banyak kenangan :')

.....
Sebelum pembicaraan ini melenceng menjadi curhat colongan, kita lanjutkan ke pembahasan lainnya.

Kali ini gue mau membahas salah satu folder gue, yaitu 'Ms Word'


Apa kalian menyadari keberadaan folder alay yang mengkamuflasekan dirinya dalam bentuk bahasa inggris untuk mengurangi kadar kehinaannya? Ya, i bet you get it. 

Folder 'feelings'! Ohmijot tahu gejrot! Gue pikir gue udah hapus folder ini x_x

Setelah gue baca, ada file berjudul "Bayu, Sara, Pati"

Ohmijot tahu gejrot sesi kedua! Ini apa-apaan??! Hahahahaha sumpah gue lupa pernah nulis begituan. Dan ternyata tulisan itu gue buat pada tanggal 5 Juli 2013. Gue nulis tanggal loh di tulisan itu sob. Gue ngga nyangka gue se-prepare itu :')

Gue penasaran, terus gue baca. Dengan membacanya mulai dari awal hingga tengah, gue mulai ingat tulisan beraliran sok pujangga itu. Gue pun paham akan bermuara kemana. Biasa. Namanya lagi muda mah ya. Berhubung kalau masalah hati ngga boleh dipamer-pamerin, ya cukup dibagikan ke laptop ini ajalah ceritanya. Sabar ya, laptop :') Di saat detik-detik menuju ending, gue masih menikmati tulisan pujangga yang sok dramatis tersebut hingga berakhir pada dua buah kalimat...

"Ini bukan masalah rasa. Ini masalah selera."

.............................................
WTF??! HAHAHAHAHA!

KALIMATNYA GA NAHAN SOB!

"Ini bukan masalah rasa. Ini masalah selera"

Lo pikir iklan rokok atau iklan indomie dew? :""""""""""""""""")

Hamsyong hamsyong hamsyong :') Go get some rest dew :')

***************

Btw, itulah serunya piket folder. Lo bisa menyelami kebodohan di masa lalu. That's surely fun!

Let us give it a try, minna-sang! Ja ne! :3

P.S. Tadinya gue mau ngasih tips-tips atau tahap-tahap piket folder biar makin panjang dan nyampah ini postingan. Tapi mama nyuruh tidur........ Jadi kita harus berpisah. Kalau sempat dan kalau masih berniat, akan dilanjutkan. Kalau tidak, yaudah gapapa lah soalnya ngga penting-penting amat juga :p Oyasuminasai! :D

Kamis, 30 Januari 2014

Jogja - Hari Kedua


Sabtu 25 Januari 2014

P.S. : Semua foto masih ada di genggaman si Gajah Jogja. Apalah daya sebagai foto model hanya bisa menunggu upload-an foto. Hingga waktu yang tak ditentukan, silahkan nikmati huruf-huruf antik ini saja ya. Wassalam. 

Pasca jalan-jalan di hari pertama, badan remuk redam. Bermanja dengan kasur adalah hal yang mutlak terjadi. Saking manjanya kebablasan. Bablas angine -_- Kalau kata mamanya ajeng sih, saat itu kita melakukan sholat sembah matahari, saking udah expired-nya waktu shubuh. Astaghfirullah. Ampuni kami ya Allah. Tidak perlu dijabarkan bagaimana persiapan kita jalan-jalannya, karena kita selalu lama. Intinya, gue harus mandi secepat mungkin karena tolok ukurnya adalah gue. Kalau gue belom mandi, yang lain juga ngga mau mandi. Pokoknya harus gue yang pertama. Mereka bakalan tetep tidur kalau gue belum mandi. Sialan emang. Oh! Fyi, lupa bilang, pas hari jumat tengah malem, kita kedatengan tamu jauh dari Semarang. Siapakah dia? Ambar! Hehe. Dia menyeberangi penjuru kota buat ketemu kita :3 So? Pasukan kita nambah satu :3

Ling-Ling

Perdebatan panjang berujung pada keputusan nongkrong di tempat makan bernama Ling-ling. Sounds cute. Kalau di Bogor, mungkin Ling-Ling itu semacam Sop Buah Pak Ewok. Tempat ini menyediakan menu utamanya ya sop buah. Sop buah dengan kuah macem-macem gitu. Ajeng mesen yang kuahnya green tea. Kalau gue, mesen kuahnya jus strawberry, kurang asem menurut gue. Tara mesen yang leci, manis bangeeeeet x_x Ambar pesen yang namanya 'mountain' gitu, pas dicoba rasanya kayak ada yoghurtnya. Cece mesen yang sirsak kalau gasalah, ini enak!!! Kita pesen snack potato wedges, sosis, makaroni, siomay crunchy sama risol. Yang paling ngga recommended ya yang makaroni. Hahahaha. Kecil banget pak bos! Kalau yang paling gue suka itu potato wedges nya ♥ Sosis, siomay sama risolnya enak kok, lumayan lah buat mengisi rongga kosong di lambung hehe.

Chalzone

Kita selesai dari ling-ling sekitar siang gitu. Nah, Tara lagi-lagi berkoar mau pulang. Kenapa? Again, ada pengajian lagi sob. Kali ini di rumah tantenya Tara. Doi harus balik dan bantu-bantu katanya. Doh, akhirnya rencana kita mau jalan-jalan ke tempat lain pun diundur dan dialihkan menjadi jajan di chalzone. Chalzone ini tempat pizza gitu. Kita take away aja biar cepet. Harusnya sih ngga lama, tapi jalan menuju ke chalzone ini nih yang bikin rempong. Fyi, kita ke sananya konvoi pake tiga motor dengan kondisi pasangannya : gue-ajeng, tara-rice, dan ambar jomblo. Nah pasangan yang membawa bala ini si tara-rice. Masa nyasar 2 kali! Padahal tinggal ngikutin ajeng doang. Hadoh. Bocah emang. Well, balik lagi ke chalzone. Kita pesen 3 pizza doang, soalnya cuma mau nyicipin aja. Satu bungkusnya 15.000-an deh kalo ngga salah. Lumayan, satu pizza bisa dibagi jadi 4 slice. Rasa pizza yang kita pilih itu cheese, chicken teriyaki, sama beef barbeque kalau ngga salah. Ya maklum yah kalau ternyata salah. Short-term memory nih hehe. Enak-enak aja sih, tapi kalau gue pribadi memilih untuk makan sekali aja kayaknya. Oh roti pizzanya unik loh, kita berlima sepakat kalau roti nya teh kayak sejenis bakpao gitu. Nyam nyam. Not bad to try.

Pengajian Eca

Waini!!! Ini dia si jali-jali~ Selesai ber-chalzone ria, kita berangkat ke rumah tantenya tara yang jaraknya cuma beberapa rumah dari tempat nenek tara. Seperti biasa, nungguin bocah-bocah ini bersiap butuh kesabaran ekstra -_- Sambil nungguin mereka, gue ke teras depan, duduk-duduk lucu. Tau-tau ada pengendara motor plus satu laki-laki yang dibonceng di belakangnya, berhenti tepat depan rumah. Turun lah anak laki-laki yang terlihat masih muda dan...... ganteng bro! Awalnya gue pikir, 'oh mungkin cuma kebetulan turun di depan rumah'. Eh ternyata dia masuk lewat gerbang samping. Gue bingung dan cuma bisa ngeliatin doi. Tapi anehnya, setelah masuk, dia keluar lagi. Mungkin dia  kaget juga karena ada gue, dia takut gue makan barangkali. Agar gue tidak mendzalimi orang lain, gue pun masuk ke rumah aja. 

Selidik punya selidik, ternyata cowok ganteng tadi itu adik sepupunya tara, Eca namanya. Dan eng ing eng... pengajian kali ini diadakan dalam rangka syukuran atas sembuhnya si Eca pasca kecelakaan. Hmmm. Lumayan lah ya ini di Jogja ada yang bening buat dilihat hahaha.

Eca ini... ganteng, manis, jadi satu. Malu-malu mau gitu. Sok-sok bilang "Aku ini malu toh mbak" tapi gelagatnya tuh emang minta banget digodain. Selain sok pemalu, dia juga suka random dan labil. Tadi awalnya doi mau ketemu temannya, mau pergi. Lah aneh kan, wong ini pengajian dibikin buat dia, masa dia malah pergi. Terus kita masih pengen ngegodain dia, masa dia pergi. Hahahaha. Alhamdulillah hujan turun tepat waktu, akhirnya dia ngga jadi pergi ke tempat temannya dan harus terjebak bersama kita. Hahaha. Oh, sepertinya gue belum bilang ya? Walau dia ini super ganteng dan manisnya udah melewati batas toleransi, dia punya sisi pahit. Pahiiiiit banget bahkan. Apakah itu?.............. Umurnya. Doi masih kelas 3 SMP sob! Hahahahaha. Pahit kan? :')

Selain Eca, dia punya kakak laki-laki namanya Osa. Doi kelas 1 SMA. Ini juga ganteng, mirip Zayn Malik. Wih ngeri. 

Kalau kata eca "Tuh mbak, silahkan sama kak Osa. Lebih ganteng kan? Pasti deh langsung pada berubah ke kak osa kan. Hm. Iya ganteng kan? tuh mbak silahkan" sambil senyum.

Di telinga gue kalimat itu terdengar kayak : Tuh kak Osa lebih ganteng dari aku. Kakak-kakak pasti langsung ngga tertarik lagi sama aku kan? :(

Hahahahaha.

Sayangnya, gue dan lainnya lebih tertarik buat godain Eca. Karena doi lebih terlihat polos, walau gue seratus persen yakin dia ngga polos -_- Banyak lah yang kita obrolin. Beragam jurus tante-tante pun dikeluarkan ke Eca. Kasian bocah satu ini :") Saingan terberat gue adalah rice. Hahaha. Gembel.

Selain Osa dan Eca, ada juga yang namanya Aila, perempuan kelas 5 SD. Kalau dia udah berbicara, jangan berharap dia berhenti. Mustahil :") Yet she is so cuteeee ♥ Periang banget, wuih. Heboh lah pokoknya. Suara toak mesjid mah kalah!

Btw, kali ini kita ngga ikut pengajian lagi loh. Kita malah ngobrol sama anak-anaknya tante istha (tante Tara). Ha ha ha ha -_-

Spesial buat bagian ini, gue punya fotonya! Hahahaha :p


Siswa kelas tiga SMP sama mahasiswi tahun ketiga beda tipis lah yaaa

Ngeliat mereka bertiga, gue jadi makin pengen banget punya adik. Lagi :| Tapi... ngga mungkin dong pulang dari jogja gue nodong emak gue buat bikin adek :|

Kabaret Mirota

Kata ajeng, ini semacam pertunjukan kabaret gitu. Pemainnya adalah waria-waria peseni. Jijik sih awalnya. Jijik banget. Tapi lucunya nampol pak booos! Mereka kayak konser nyanyi lypsinc gitu. Mereka niruin gaya penyanyi se-semesta, mulai dari internasional sampai lokalnya dangdut keliling. Ada yang lucu, ada yang najis. Favorit gue adalah waria yang niruin agnes monica! Parah itu paraaaaaaaaah! Gue kayak kesurupan ketawanya hahahaha. Dia bagus di actingnya, ekspresif gitu. Baguuuuus! Ngga kayak kebanyakan aktor lainnya yang lebih mengandalkan gestur atau gerakan syur dan sensual gitu buat ngelucu. Ada yang posenya bikin muntah banget lagi, porno! Ngga suka! -_- Nah kalau si agnezmo kw Jawa ini sukaaaaaaaaaaaa! Sisi joke-nya itu ya karena aktingnya lucu, bukan pose sensual murahan. Puih. Cinta agnezmo kw Jawa! ♥_♥ Lumayan bikin rahang pegel karena ketawa mulu. Kabaret dimulai jam 19.30-21.00 kalau ngga salah. 

Di saat gue sibuk ngetawain para waria peseni itu, eh ternyata...

Ajeng : Kalau gue sih daritadi ketawa terhibur karena ngeliatin ekspresi lo dew! Plus badan lo tuh otomatis ikutan joget ngikutin penyanyinya! Hahahaha!
Tara : Iya bener iya! Hahahahaha
Gue : (malu)

Jujur, iya sih. Gue emang suka joget ._. Ada salah satu lagunya shakira diputer pas di panggung. Gue kesel karena yang joget kurang hot, harusnya lebih hot lagi! Itu termasuk lagu yang gue suka buat nari soalnya. Pengen gue tarik ke bawah itu si waria, terus gue yang gantiin. Untungnya gajadi. Bisa dilaknat abang gue itu kalau gue ngelakuin itu -_-

Alun-Alun Selatan

Sekitar jam 9 lewat, kita sampai ke alun-alun selatan. Rame banget. Kita segera melipir ke pinggir buat makanin nasi kotak hasil colongan dari pengajian hehehe. Lumayan, ngirit duit makan :p Setelah memadatkan isi lambung, kita berkeliling alun-alun dan akhirnya tergoda sama mainan di sana. Main mobil-mobilan gitu deh, yang bentuknya kayak mobil, tapi kita gowes bareng-bareng kayak sepeda. Mobilnya ada bunyi-bunyinya gitu, berisik tapi lucu. Setelah deal harga sama abang-abangnya, kita diizinin main 2 kali puteran dengan harga Rp 30.000. Awalnya, harusnya harganya itu Rp 40.000 untuk sekali putaran loh. Gue ngga tau harus kagum atau iba sama kejahatannya naluri 'tawar-menawar' nya wanita. Maaf ya bang :" Kalau misal lagi ada fenomena tawar-menawar, gue udah pasti angkat kaki sejauh mungkin. Gue ngga kuat soalnya. Gue lemah. Ngga tegaan. Kayaknya gen ayah nih yang ngalir di darah gue, bukan gen mama :| Sayangnya, di dunia ini emang harus bisa tawar-menawar, karena kadang pedagang juga ngambil untungnya gede bingit. Mau ngga mau, skill tawar menawar harus diasah, apalagi kalau nanti jadi ibu rumah tangga. Huf. Long way to go nih buat gue -_-

Ngegowes mobilnya capek loh sob ternyata. Kita cuma bisa ketawa-ketawa saking capeknya ngegowes. Di tengah kegembiraan itu mendadak Ambar turun dari kendaraan. Dompet dia jatuh! Suasana langsung berubah ngga tenang. Sayangnya kita ngga bisa berhenti mendadak, soalnya jalanan penuh sama kendaraan serupa, makanya kita harus tetap bergerak ke depan sementara Ambar menyusuri jalan mencari dompet. Setelah mencari tempat berhenti sementara yang pas dan ngga mengganggu lalu lalang kendaraan, kita diam sejenak menunggu Ambar.  Ngga berapa lama ambar pun datang, sayangnya hasilnya nihil :( Yah mau gimana lagi. Mungkin sudah ada yang memungut dompet Ambar lebih dahulu. Hiks. Kita tetep lanjut ngegowes menuju tempat abangnya menunggu. Sekali lagi, bencana di tengah pergowesan pun datang. Hujan!!! Hujan mendadak silaturahmi ke penjuru jogja. Syial : /

Segera kita bergegas kembali ke kandang. Kali ini, hanya dua motor yang balik ke rumah nenek. Si gajah berpulang ke kosan dulu. Dan perjalanan berikutnya menanti kita di hari esok.

**********

That's all. Ja ne! ♥

Rabu, 29 Januari 2014

Jogja - Hari Pertama

Jumat 24 Januari 2014

P.S. : Semua foto masih ada di genggaman si Gajah Jogja. Apalah daya sebagai foto model hanya bisa menunggu upload-an foto. Hingga waktu yang tak ditentukan, silahkan nikmati huruf-huruf antik ini saja ya. Wassalam.

Halo kota pelajar! Salam perdamaian penuh cinta. Finally, kalau ngga salah jam 5 pagi kami udah sampai di stasiun dan sukses menghirup udara segarnya kota pelajar. Target yang kami cari pertama kali pas menginjakkan kaki di bumi Jogja adalah pria bernama mas Dar. Doi teh kayak Jason Statham pribadinya nenek-kakek Tara. Transporter lokal versi Jawa gitu lah ya. Sempet nyasar pas awalnya, tapi kalau jodoh mah ngga kemana lah ya. Akhirnya kita bertemu mas Dar beserta pria lanjut usia namun nampak bugar di dalam mobil. Siapakah itu? Kakeknya Tara! Jeng jeng jeng jeng. We've used to call him as 'Papah'. He is seriously funny. Well then, kita segera tancap gas ke rumah nenek Tara sambil berusaha kontak si Ajeng yang udah ada di Jogja. Kita pun janjian buat ketemu di rumah makan Raminten jam 9 pagi. Fix. 

Setibanya di rumah nenek Tara, godaan paling tidak manusiawi se-galaksi bima sakti pun muncul ke permukaan. Godaan yang sulit untuk dielakkan bagi jiwa-jiwa yang lelah. Tak lain dan tak bukan..... Kasur. Tak sampai hitungan menit, gue dan cece tergeletak tak berdaya di atas kasur. 

"Heh!!! Jangan tiduuur! Ayo, ayo jangan tidur lagi heh!" kata sang nyonya Tara.

Terdengar bijak? Tunggu dulu.

"Please tar, sampai jam 7 deh jam 7"
"Ih ngga boleh! Ngga boleh!"

Ya. Puppy menggonggong, pinguin tetap menari, Gue dan Cece tetap tertidur pulas dengan cantik sampai jam yang kita janjikan. Dan Tara? Masih terdengar sayup-sayup omelan dari si nyonya.  Beberapa lama kemudian, gue pun terbangun dan dengan setengah sadar melihat ke arah jam dinding. Pukul 07.30 tepat. "Waduh harus cepet beres-beres" ucap gue dalam hati lalu melihat sekeliling kamar. Gue diem sejenak.

"LAH TAR KENAPA LO TIDUR JUGA?" -_-

Si Tara pun buka mata sambil cengengesan terus nutup mukanya lagi pake bantal. Lanjut tidur. Begitu pula dengan cece. Pura-pura ngga denger. Ampun deh. Ampun. Akhirnya gue mandi duluan dan syalalala syudududu. Sekitar seabad kemudian baru lah cece bangun, mandi, dan terakhir disusul si Tara. Kebiasaan. Ckck. Setelah itu kita langsung pergi sesegera mungkin karena takut Ajeng udah nunggu di Raminten. Udah jam 10 lewat soalnya. Pfff. Kita segera melaju naik motor. Well, gue dibonceng tentunya :p

Dan ternyata?

Motornya Ajeng ngga bisa nyala, ke bengkel dulu deh. Kita udah duduk manis di Raminten padahal -_-

Raminten

Ini semacam restoran yang desainnya unik. Unik banget. Keunikannya udah bisa terlihat dari banner nya sih. Terpampang foto... hm... pria berbusana wanita jawa gitu deh. Pake sanggul plus kebaya something gitu. Kalau lo mau tanya opini jujur gue, pertamakali liat banner itu gue langsung mual. Gue emang ngga biasa ngeliat yang anomali begitu. Otak gue belum bisa terlalu menerima, tapi bukan berarti mendiskreditkan ya hehe. Konon kata ajeng sih, rumah makan ini dibuat untuk menghargai para waria-waria peseni gitu, bahwa waria bukan untuk dikucilkan. Ya gitu deh. Tapi kalau mau jujur emang gue belum bisa santai ngeliat wanita jadi-jadian. Dan mungkin ngga akan pernah bisa *nyengir* Ya maaf yah kalau ada oknum yang tersinggung *bow*

Anyway, suasananya itu kental adat jawa banget menurut gue. Itulah mengapa secara otomatis otak gue langsung menyimpulkan terlalu cepat bahwa makanan di Raminten pasti makanan yang 'jawa banget' yaitu makanan yang notabene manis. Alhasil, gue udah enek duluan. Mendadak ngga nafsu. Total. Tadinya hanya berniat memesan es krim, tapi mendadak mata melirik ke menu ikan goreng. Mata gue bercahaya lagi. Gue mulai merasa optimis lagi kalau ngga semua makanan di Raminten itu manis. Dan apa? Dan finally, ujung-ujungnya gue nambah dong makannya hahahahaha. Mendoannya tjoy enak parah! Curiga gue itu ada keju nya deh. Alhamdulillah asin. Asin, i love you! 

Ullen Sentalu

Setelah membuncitkan memanjakan perut, kita berempat pun segera capcus menuju destinasi selanjutnya sambil mengendarai motor bak geng nero. Target selanjutnya adalah Ullen Sentalu yaitu semacam museum tentang budaya jawa gitu. Lokasinya? Pelosok bos. Kaliurang km 1000 kali. Lebay sih. Pokoknya lumayan bikin pegel. Pegel banget bahkan. Kalau kata ajeng sih, itu lokasinya udah di gunung. Busyeng. Ngga heran, soalnya suasananya kayak bukan di Jogja, tapi kayak lagi di Puncak. Dingin-dingin syahdu, banyak villa pula gitu. Sempet nyasar sampai akhirnya kita nemuin tempat Ullen Sentalu lucu ini berada. 

Museumnya unik. Kita diajak tour gitu sama satu orang guide. Masuk lorong-lorong di bangunan museumnya yang terbuat dari batu gunung. Gue mendadak keinget benteng takeshi sih, walau ngga mirip-mirip amat. Pertama, gue mau muji desain bangunannya, bagus aja, lucu. Nyambung-nyambung dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Apik tenan. Kedua, gue mau muji segenap crew guide di Ullen Sentalu. Sob, hapalan sejarahnya banyak banget sob. Mau nangis terharu gue dengernya. Ternyata mesti ada pelatihan dulu gitu buat jadi guidenya. Yaiyalahya. Mau jelasin sejarah kerajaan keraton dan kerabatnya gitu, yakali sembarangan. Kalau lo berharap gue bisa ceritain ulang tentang sejarah jawa yang di ceritain mbak nya........ lebih baik gue jadi oknum pemberi harapan palsu untuk kasus kali ini. Gue mending kabur naik patung candi. 

Sedikit nama-nama tokoh yang gue inget itu palingan Raden Bobby (Fyi, ini nama gaul pemberian dari teman belanda beliau. Nama keratonnya lupa *nyengir*) sama saudaranya putri Tinneke. Nah putri Tinneke ini punya ruangannya sendiri loh, berisikan surat-surat dari kerabatnya gitu. Surat-surat itu semacam surat pelipur lara pas si putri Tinneke lagi galau. Kenapa galau? Pasalnya doi ini mencintai seorang pria yang bukan berasal dari keturunan keraton. Bencana bung kalau jaman dulu mah. Tapi tapi tapi, layaknya indonesia yang diperjuangkan, cinta putri Tineke dan pria itu pun merdeka sob!!! Akhirnya sang putri tetap bisa bersama pria pujaan hatinya setelah melalui aral melintang. Ketje! Ketje zuperrrrr! 

Ada lagi tentang seorang putri yang diberi julukan putri dambaan. Sayangnya, gue lupa namanya siapa. Putri ini cantik banget. Ayu tenan gitu lah ya. Banyak pria-pria yang menyukainya, bahkan konon kata mbaknya, pak Soekarno pun mencintai putri ini. Tapi sang putri menolak karena tidak terima budaya poligami. Huih. Cantik dan tegas. Beliau akhirnya mendapat pria yang setia pada satu wanita 

Kalau gue ngga salah, ada pula tuh pangeran keraton yang beda dari yang lain. Selir itu bukan hal yang asing kan ya bagi para pangeran atau raja gitu, tapi khusus pangeran ini - yang sekali lagi gue lupa namanya - dia menolak budaya poligami atau berhubungan dengan lebih dari satu wanita. Dia setia sama satu permaisuri. Sweet ini. Agak susah menemukan tipe seperti ini di kalangan pria yang telah berkuasa. 

Udah. Segitu aja yang gue inget.
Kebiasaan nih gue mah ingetnya yang bagian kisah cinta doang ya hahahahaha.

Masih banyak kok yang dijelaskan mbak nya, semacam perbedaan batik, budaya pakaian, adat-adat lainnya dan bla bla bla bla. Lumayanlah buat mengetahui budaya jawa lebih dalam hehe. Sayangnya, kita ngga boleh foto-foto di museum. Hanya di tempat tertentu yang diizinkan untuk berfoto, selebihnya tidak boleh. Untuk melindungi hak cipta foto bangunan gitu deh kayaknya. Ya, at least, gue menyimpulkannya begitu hehe. 

Tepat setelah selesai tour, hujan pun turun dengan ganas. Ganas banget serius deh! Alhamdulillah kita udah siap perang. Kita udah bawa jas hujan. Yaaa walaupun gue dan cece cuma bawa bagian atasnya doang tapi lumayanlah ya. Kita menunggu tara yang sedang mengenakan kostum jas hujan lengkap atasan plus bawahannya. Sedangkan Ajeng ternyata meninggalkan jas hujannya di motor, alhasil doi harus pake payung dulu sampai menuju tempat parkir. Pokoknya, kita berempat minus Ajeng udah siap banget lah setelah berempong-rempong ria make jas hujan di museum. Tapi, ngga sampai beberapa menit kita keluar lewat gerbang belakang museum.... hujan berhenti mendadak! Berhenti sama sekali! Hilang tanpa jejak!  Seakan melengkapi sisi misterius hilangnya hujan, langit pun yang tadinya super-mendung-gelap-suram banget langsung berubah jadi cerah-secerah cerahnya cerah. Sampai ada matahari pula! Mungkin kalau di zoom, bisa keliatan ada muka bayi lagi senyum itu di mataharinya.

Terus gue denger ketawa cece meledak paling kenceng.

"Alien! hahahahaha!"

Gue nengok. Dan benar saja... Alien! Tara tampak super bodoh di tengah langit yang cerah dengan mengenakan jas hujan lengkap berwarna silver nyentrik bersilau yang menusuk kornea mata. Hahahaha! Kita ngakak. Merasa bodoh aja. Duh sakit banget perutnya :"

Kosan Ajeng

Kita pulang dari ullen sentalu sekitar jam 4-an. Setelah dari museum, kita pisah geng. Tara sama cece harus ke rumah nenek duluan karena mau persiapan pengajian buat jam 9 malem di rumah nenek. Apa? Tenang. Gue tau kita berempat keren. Jauh-jauh ke jogja dan tak lupa pengajian :') Gue dan Ajeng balik ke kosan si gajah dulu soalnya doi harus mendownload beberapa dokumen proposal gitu. Ya, nasib anak organisasi.

Rencananya sih... Kita berdua akan ke rumah neneknya Tara setelah adzan maghrib, sayangnya..... lagi-lagi sihir kasur tak mampu dielakkan. Kita berdua dengan sukses pingsan dan baru tersadar pukul 20.30.  Oh mizone -_-

Pengajian

Gue merasa bersalah dan segera buru-buru ke rumah neneknya Tara. Ngga enak aja gitu telat dateng pengajian. Kita berdua dateng disambut cece karena gue lupa jalan menuju rumah neneknya Tara. Maklum. Hehe. Dengan semangat 45 gue menyusup lewat pintu belakang dengan harapan bisa masuk nyempil ke barisan orang-orang pengajian gitu dari belakang. Namun ternyata........... Pengajiannya itu pengajian bapak-bapak doang #hening 

**********

Sekian cerita di hari pertama. Jika berkenan silahkan lirik lagi perjalanan di hari berikutnya. Ciao.