Halaman

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2020

Amanah

Alkisah, ada seorang abang yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap adiknya. Sangat tinggi.
Iya. Ini diambil dari kisah nyata. Tokoh abang diperankan oleh Aniki, sang adik tak lain dan tak bukan adalah saya.

Jaman SMA dulu, aniki yang masih mengeksplorasi dunia menambatkan hati pada kegiatan ekstrakurikuler band. Seperti ekskul-ekskul lainnya, tentu ada kegiatan ospek tahunan bagi siswa baru. Dan tak lupa serentetan daftar aksesori ospek perlu disiapkan. Sebagai makhluk "kalau ngga kepepet, ngga asyik", aniki mempersiapkan peralatan untuk ospek pada sore hari sebelum hari H. Di saat aniki lagi fokus mendekorasi papan nama ospeknya, sang adik pun datang mau menonton abangnya yang lagi sibuk.

Aniki yang terlihat bingung akan sesuatu, sontak ceria melihat kedatangan sang adik. Wajahnya memberi sinyal "Mari kita tanya Galileo" dan yakin bahwa sang adik adalah Galileo.

A : Eh Dewi dewi.. aku mau minta saran dooong
D : Hm? Saran apa?
A : Ini lho, aku harus tempelin gambar sesuatu di papan nama aku buat ospek besok. Aku bingung mau tempel gambar apa. Gambar apa ya yang bagus?
D : Tempel dimana? (melongok ke papan nama)
A : Ini nih. Nanti di sini foto aku, terus di sebelahnya foto 5 tahun ke depan mau jadi apa
D : (sibuk memikirkan gambar apa yang lucu) Oh! Aku punya sisa kertas kado. Gambarnya hewan-hewan gitu. Lucu-lucu gambarnya. Tempel gambar hewan aja kali ya biar lucu?
A : Wah boleh boleeeeh (semangat dan antusias)
D : (mengambil kertas kado dan memilih secara saksama gambar hewan mana yang paling lucu)
A : Udah ketemu belum dewi?
D : (keluar kamar setelah menemukan gambar yang paling bagus untuk sang abang) Ini nih! Ini gambar yang paling lucu (muka super puas dengan pilihan yang telah diambil)
A : Wah iya lucuu. Boleh deh. Aku tempel yah?
D : IYAAAA  (senang karena telah membantu)
A : (menempel gambar dengan bahagia)

---Happy Ending---

(At least, in my thought)

Beberapa waktu yang lama setelahnya (lupa apakah jaraknya hari, minggu, bulan atau tahun)...

Aniki dan sang adik sedang mengobrol santai di suatu hari yang cerah. Entah sedang membahas topik apa, Aniki pun nostalgia ke suatu masa SMA.

A : Wi inget ngga aku pernah minta saran Dewi untuk nempelin gambar di papan namaku buat ospek ekskul SMA?
D : Oh iya inget. Aku kasih saran tempelin gambar hewan kan biar lucu.
A : Iya.. Lucu sih lucu.. Tapi ngga babi juga dong. Dewi ngga tau kan aku mengalami banyak hal karena gambar itu.
D : Hah??? Emang ada apa?????

--- to be continued ---

Penonton : hah? Gimana? babi?
D : Iya. Babi. Aku pilih gambar babi dari beragam gambar hewan lainnya. 
Penonton : ..................................
D : Sungguh aku juga tidak tau apa yang terjadi. Namun yang ada dalam benakku saat itu hanyalah memilih gambar yang paling lucu.
........ Yah.... mungkin memang seleraku.
Penonton & Aniki : YA TAPI NGGA BABI JUGA DONG
D :  *pura-pura tidur*

---lanjutan cerita---

A : Iya aku diabisin pas ospek wkwkwk
D : Lah emang kenapa???
A : Waktu itu kan tema nya tempelin foto yang mencerminkan 5 tahun ke depan kita mau jadi apa. Temen-temenku pada nempelin foto artis, atau pemain musik, atau ada yang tempel foto ayahnya. Lah aku............... Gambar babi.
D : (otak sedang memproses informasi....) (.................) (...... finished 100%) HAHAHAHAHAHAHAHAHA!
A : Ketawa kan sekarang ya. Enak ya ketawa. Langsung itu para senior ngumpul komenin papan nama aku tau.
D : (ketawa semakin histeris setelah menyadari kesalahan fatal yang telah diperbuat) YA ALLAH MAAF HAHAHAHAHA
A : Mereka langsung segerombol nanyain "Apa-apaan nih kok gambarnya babi? Lo lima tahun lagi mau jadi babi?!"
D : (kalau ngga salah ingat gue udah guling-guling di lantai karena sakit perut nahan ketawa pas denger cerita ini)
A : (tetap fokus melanjutkan cerita) Aku panik dong. Ya amit-amit juga masa aku jadi babi. Akhirnya aku putar otak, untung aja ada seniorku yang nama panggilannya kak Babi. Aku bilang aja "Engga kak. Ini maksudnya saya mau jadi musisi yang handal kayak kak Babi"
D : woooooh aniki cerdas juga ya (merasa bangga tiba-tiba)
A : Eits tunggu dulu. Masalah lain muncul.
D : Ada apaan?
A : Seniornya komentar sambil ngomporin "LOH LO BILANG KALAU SI BABI ITU BABI BENERAN GITU? WAH NGGA BENER NIH. BIII... BABI!!! (manggilin kak babi)" Gitu...
D : HAHAHAHA IYA JUGA. Itu dalam hati pasti seniornya juga nahan ketawa banget sih wkwkwk
A : Iya mungkin ya. Wah pokoknya kacau deh waktu itu. Dewi sih.... (muka pura-pura ngambek padahal mah santai kek di pantai)
D : Sumpah sih aku sakit perut banget sekarang hahahaha maaf loh. aku bener-bener ngga bermaksud. Kayaknya aku terlalu fokus mikirin "gambar lucu", bukan tema "5 tahun lagi mau jadi apa".
A : Parah dewi nih
D : LAH ANIKI JUGA SETUJU SETUJU AJA
A : Ya kan aku percaya Dewi!
D & A : (main salah-salahan hingga akhir usia)

--- END ---

Wahai pemirsa yang budiman, sungguh masih sebuah misteri kenapa dulu gue pilih gambar babi. Asli. Gue mikir hingga pusing tujuh keliling namun tidak menemukan jawabannya.

Oleh karena itu, kami harap kejadian ini bisa dipetik hikmahnya.
Saat seseorang memberi amanah kepadamu, entah apapun itu bentuknya, emban lah dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab. Jangan hanya bermodalkan semangat dan niat baik. Itu tidak cukup, sahabat. Kamu juga perlu dibekali dengan ilmu mengenai amanah tersebut. Suatu permasalahan hanya bisa diselesaikan dengan baik jika menggunakan ilmu dan landasan yang benar.

Jika ditanyai tentang sebuah perkara, cermati betul permasalahannya sebelum memberi solusi.

Jangan tau-tau kasih gambar babi aja seenak jidat kayak kelakuan hamba. Udah bukan jaka sembung bawa golok lagi ini mah. Udah level Jaka sembung minta dibakar diarak keliling kampung.

Gue heran kenapa aniki masih punya kepercayaan penuh terhadap gue bahkan setelah insiden itu. Wallahu'alam. Mungkin beliau tau bahwa pintu taubat masih terbuka lebar dan gue masih bisa berubah. Alhamdulillah. I've learnt a lot from my mistake in the past :")

Bagaimana dengan kalian? Semoga kalian selalu menjalankan amanah dengan baik yha~

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.

Senin, 29 April 2019

Pekerja Sabtu

Belakangan gue berpikir bagaimana Dewi muda bisa begitu konsisten menulis di blog dengan riang gembira pada zamannya. Bahkan saat tidak ada bahan cerita sekalipun, sang Dewi muda tetap berdedikasi membuat postingan (walau receh dan penuh paksaan di beberapa punchline, namun mari kita hargai usahanya).

Di sisi lain, setiap Dewi masa kini punya bahan cerita, pasti akan berakhir nempel di dalam kepala aja. Ngga dikeluarin. Mulai posesif terhadap ide-ide cerita nampaknya. Maunya disimpen terus idenya, sampai lupa mau cerita apa.

Asal kalian tau aja, gue udah mau bikin postingan soal Pandora experience dari awal februari 2019. Namun hingga aroma bulan mei sudah mulai tercium pun, jejak-jejak judul postingan "Pandora Experience" tak kunjung menunjukkan hilalnya.

Gairah anak muda itu memang berharga ya, pemirsa.
Saya sudah merasakan kemageran anak lanjut usia nih.

Netizen : ITU SIH LO AJA YA TOLONG. NENEK KAKEK DI KOMPLEK W AJA MASIH RAJIN NYIREM TANAMAN GA KAYAK U
Dewi : baik. maafkan saya.

---------------------------------------------------------------------------------

Mari kita ikhlaskan intro di atas, dan maju melangkah ke masa depan yang gemilang.
Dan...

Assalamu'alaikum saudara setanah air~
(waw baru kasih salam sekarang. kemana saja, ukhti?)


Gue ingin (berupaya) berbangga hati sebagai perwakilan pekerja sabtu se-antero jagat.

Adalah sebuah kehormatan untuk bisa mencicipi udara sabtu pagi yang segar, langit biru cerah dan awan berarak rapi, mendengar suara merdu gesekan roda api KRL sambil menari dengan leluasa  (jika ingin dan sanggup) di dalam KRL tanpa kendala ruangan sempit penuh sesak, menerobos jalanan yang lancar tanpa hambatan, serta memperoleh nikmat waktu ekstra untuk mengerjakan tugas-tugas kantor yang belum selesai agar tidak menumpuk dan menjadi efek domino di kemudian hari.

Di saat yang lain tertidur, kami diberi kesempatan untuk bangun dan merasakan itu semua.
Masya Allah. Sungguh berkah :)

Tolong tahan dan kendalikan diri Anda.
Jangan emosi, bagi pekerja sabtu.
Jangan menertawakan kami, bagi pekerja weekdays only.

Kami bangga. Kami bahagia. Yang lebih penting, kami digaji, yamau gimana lagi #kenapajadisedih

Anyway, dalam kesempatan ini gue akan menyempatkan diri untuk berterima kasih pada teman dan sahabat yang sudah mengerti kondisi para pekerja sabtu. Terkhusus, bagi teman dan sahabat yang berniat baik mengundang ke hari bahagia pernikahan mereka, mohon maaf jika  kami tidak bisa hadir dikarenakan kondisi pekerjaan kami. Ambil cuti pun kadang tidak semudah itu, teman-teman. Kami hanya bisa menitipkan doa semoga acara pernikahan kalian lancar dan kehidupan keluarga kecil kalian kelak sakinah mawaddah warrahmah. Kita masih temenan kan? :)))

Dan untuk teman serta sahabat yang belum menikah, tolong menikah di hari minggu saja. Terima kasih :)

Wkwkwkwk kenapa w atur-atur hari pernikahan orang...

Walau gue daritadi sok-sok mewakili perasaan para pekerja sabtu, sesungguhnya gue bukan pekerja sabtu darah murni. Gue masih tergolong darah campuran. Why? Karena gue punya kewajiban masuk di hari sabtu itu cuma 2 minggu sekali. Tapi tetep aja, guys. Dengan kondisi masuk 2 minggu sekali, sudah banyak kondangan teman yg menjadi korban dan taq bisa dikunjungi. Bisa aja gitu kondangannya bertepatan di hari sabtu yang gue harus masuk kerja. Ini pasti ada konspirasi. Sungguh tega.

Terlepas dari ketidak mampuan menghadiri hari bahagia teman-teman, sebagai pekerja sabtu darah campuran, gue masih merasa masuk sabtu itu menyenangkan~ hehe

Dan asiknya, kantor sama sekali tidak terasa seperti kantor jika sudah hari sabtu. Mendadak disulap sebagai taman bermain anak-anak! Yey! Horeeee~

Wkwkwk


Let's be serious. So, mbak-mbak dan mami muda kantoran di tempat gue itu pada bawa anak-anaknya yang masih imut polos itu ke kantor. Seru banget aslik. Gue cengar-cengir doang kerjaannya.

Usia yang dibawa pun bervariasi, ada yang masih umur muda nemplok di emaknya macam panda yang adiktif pada bambu. Ada pula yang sudah liar lincah dan aktif membaur mencari teman-teman kecil baru untuk membentuk geng dan ngerumpi di pantry. Ada pula yang jenisnya lebih tertarik untuk membaur dan menjalin networking bersama mbak-mbak atau mas-mas kantoran (masih bocah juga ini, biasanya gayanya sok asik ngajak ngobrol gitu kan. kitanya mah ketawa terhibur karena dia ceriwis. gemash). Oh, jika kamu sudah menjalin hubungan yang cukup akrab, biasanya geng-geng kecil ini siap menginvasi HP mu, entah untuk main game atau internetan. Jadi tolong pastikan kuotamu terisi, jangan tunjukkan kemisqueenan mu pada anak-anak polos ini. Mereka masih lebih kenal pelangi, dibanding hujan.

Tambahan, harap jangan terkejut kalau mereka merampas HP mu demi buka youtube dan mencari video boyband BTS. Jangan terkejut. Jangan.

Nah, di antara banyaknya makhluk-makhluk kecil gemas yang melanglang buana di kantor, gue paling kenal dengan yang namanya Nikita. Doi adalah anak dari senior di tim gue.

Kalau klean semua melihat senior gue ini, kalian pasti tidak akan menyangka ia sudah beranak empat. Wkwk. Fit, fresh and young~ Oke mari skip pujian ini. Beliau sudah terlalu sering dipuji. Pujian berlebihan tidak baik untuk kesehatan. wkwk.

Awalnya gue kenal nikita karena diminta bantuan sama maminya, untuk diinterview sama nikita.
Btw di kala itu, nikita pasca nangis entah apa yang terjadi sebelumnya, doi abis disuruh wawancara mbak yang lain tapi mungkin karena dia ga familiar, malah dia grogi sendiri, nangis sendiri, padahal mbaknya ngga ngapa-ngapain. Ya, namanya juga anak kecil yha.

Akhirnya maminya mengamanahkan anaknya ke gue, dengan asumsi mungkin dia lebih familiar dengan gue (yang suka banget colek-colek pipinya karena gemes dan sksd ceria gitu. plus, gue kan teman satu tim ibunya, jadi mungkin dia lebih... hmm.. nyaman?).

So, karena nikita abis nangis, dia cuma nunduk aja gitu.
Gue colek-colek nanyain kapan diinterviewnya, eh dia suruh gue baca pertanyaannya dan langsung jawab aja (dia nyuruhnya pake bahasa tubuh btw, ngga ngomong sama sekali sambil sesenggukan).

Dewi : (dalam hati) Eh buset. Wkwkwkwk.

Karena gue tabah menjalani hidup yang penuh kesendirian ini, akhirnya gue bacakanlah sendiri pertanyaannya. Gue pun jawab pertanyaan itu sendiri.

Alhamdulillahnya, nikita masih mau nulis jawaban yang gue sebutin itu. Gue ngga harus nulisin jawabannya juga. Alhamdulillah.

By the way, gue lumayan keki juga lihat daftar pertanyaannya.

"Apa motivasi sang narasumber untuk bekerja?"
"Apa saja yang dilakukan sang narasumber dalam pekerjaannya?"
"Bagaimana cara narasumber membagi waktu?"
"Apakah narasumber senang bekerja di tempatnya sekarang? Apa suka duka yang telah dialami"

Dan masih banyak lagi yang bikin keki tapi gue lupa.
Pertanyaannya kayak gampang tapi bingung mau jawab apa haha
Plus, yang dengerin bocah SD pulak. Mau berpanjang-panjang puitis soal perjuangan hidup, nanti tangan dia pegel nulisnya. Plus, belum tentu anak ini paham jugak  gue ngomong apa, kan (lah sok  tau). Wk.

Pertanyaan yang warna biru itu sih... gue jawabnya sambil nyengir miring. Hahahaha.

Seiring berjalannya waktu, nikita udah ngga nunduk lesu lagi. Dia ceria dan udah mau ngeluarin suara. Hore~ Kita malah asik ngobrol dan bercanda hingga maminya mengingatkan

"Inget dek, masih ada satu orang lagi yang belum diwawancarai. Itu temen kamu nungguin loh daritadi"

Kami berdua pun terkaget dan langsung pasang mode serius (beberapa detik kemudian bercanda lagi sih #plak).


Nikita is a very cute and lovely girl ehe. She loves BTS  lol. She only knows taeyang instead of big bang. Oh but she knows TOP, and she also thinks he is handsome (this is improtant lol). She often play taeyang - ringa linga and change the lyric into funny words. In addition, she also listens to black pink and i-kon.  If she is bored with the korean stuff already, she will look for anime soundtrack.

Oh! She (and her friends of course) will do the choreography of forever young black pink, she said, to celebrate kartini's day in her school.

Me : (dalam hati) acara kartini? dance black pink? sebuah fusion yang.... menarik dan penuh kompromi

Oh, ada lagi kekonyolan di antara kami. Jangan lupa, saya tetap pekerja sabtu. Tentu, walau lagi asik jadi babysitter, pekerjaan tetap menunggu. Akhirnya sambil jagain anak, gue melanjutkan kerja memantau tim factory. Gue pun teleponan dengan tim di semarang untuk memastikan beberapa sampel. Di sela-sela obrolan serius, gue sisipi lah dengan bercandaan sambil memperkenalkan nikita..

F : loh mba dew, itu suara anak kecil darimana? anak siapa?
D : anakku wkwk
F : oalaaa kapan toh beranak mbak dew? hahaha
D : hahaha anak bu lisa nih. kan tiap sabtu banyak anak kecil berkeliaran di kantor. jadi bisa main.
F : loh kok asik toh mba deeew.
D : iya lah asik, banyak anak kecil jadi semangat, bisa goda-godain anak kecil juga
Nikita : (tiba-tiba nyeletuk) godain kok anak kecil. yang bener mah, godain laki-laki dong.
D : (diem bengong beberapa saat) (lalu tertawa terbahak-bahak) Astaghfirullah.  Ajaran siapa ini hahaha

Selain menjajah HP, bercanda, tertawa, main pangku-pangkuan (yang sesungguhnya membuat w kesusahan melihat tumpukan tugas di layar komputer, namun tidak apa-apa, aku ikhlas) dan spam watsap, nikita punya satu hobi lain yang sangat kusuka : menggambar.

Hehehehe.

9 Februari 2019

Nikita pintar sekali. Dia tau aja pas kelas 3 SD aku belum berkerudung. Tapi.... ya ngga jadi kucing juga, nikita.

Anyway, kalian lihat lambang hati retak itu?
Tadinya gambarnya ngga ada retakannya, tuh! Pas aku godain "cie ada gambar hatinya. so sweet~". Dia langsung ketawa, terus tambahin gambar retakan di hatinya.

Sakit ya, pemirsa.

Terus itu gambar kecil  di pojok bawah adalah gambar totoro 
Dia sepertinya mencontoh gambar yang ada di stiker charger HP ku. dan menurutku mirip~ hehe gemas totoronya. sukak 

27 April 2019


Ini fresh from the oven. Masih hangat gambarnya dari hari sabtu kemarin.
Kali ini gambar gue udah dipakein daun bawang kerudung. Alhamdulillah. Terus ada gambar nikitanya. Lucuuu. Rambutnya dua combo warna gitu kan, asik dan trendy. Kalau perempuan lucu mah bebas. Nah....... yang jadi masalah itu gambar maminya hahaha

Ini satu-satunya gambar yang menunjukkan kalau gue lebih ramping dari mbak lisa (maminya nikita). lol. Gue ngakak sekeras yang gue bisa pas lihat gambar ini.


Mbak Lisa : "Deeew. Lo ya yang nyuruh anak gue buat bikin gue jadi gendut giniiii?"
Dewi : "hahahaha. ini tidak seperti yang mbak bayangkan. sungguh. dia gambar sendiriii"

Ya gapapalah ya mbak lisa gendut sekali-sekali. Aslinya kan tinggi langsing bak jamur enoki yang dijual di supermarket, sih! Mengalah gitu sekali-kali! wkwk


Last but not least, nikita is so adorable 

Hikmah postingan kali ini adalah : pasti selalu ada sisi membahagiakan dari hal-hal yang kamu anggap tidak menyenangkan (bekerja di hari sabtu). Asalkan sudut pandangnya mau diubah sedikit, niscaya kita akan mampu melihat hal-hal baik dan hikmah di balik banyak hal~

Oke, mari kita akhiri postingan ini.
Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatu.

Sabtu, 02 April 2016

Secara umum


orang-orang yang masih tersisa pasca photoshoot yang memakan waktu layaknya satu windu
Update 200921 : wajah sengaja disensor untuk hati yang lebih nyaman hehehe
In frame ~ Chevia, Muji, Ifa, Dewi, Sardi, Mima, Nia, Naufal, Maria (baca : dari kiri ke kanan)

Sebuah kehormatan bisa bertemu orang-orang yang mengetahui ketidaknormalanmu, namun memaklumi dan bahkan mengimbanginya. 

Akhirnya tiba saatnya ada orang lain yang membawa selempang pusaka untuk gue. Akhirnya tiba saatnya gue memasuki ruang diskusi bukan dengan tujuan merapikan proyektor atau menggerogoti snack dosen penguji yang tak disentuh. Akhirnya gue tau bagaimana rasanya ditanyain "gimana di dalam? lancar kan?". Akhirnya gue dapet pigura keramat. Akhirnya gue tau rasanya menjadi artis satu hari. Perjalanan ini sangat panjang. Entah apa jadinya jika tidak ada pom bensin seperti kalian. Gue bisa mati di jalan. Terima kasih ya. Jangan kapok mengenal gue.


Terkhusus, Mima Uasha Febrianti STP, terima kasih telah mau menampung semua kegelisahan menjelang hari pertunjukan. Terima kasih udah mau pergi sendirian beli makan selama gue mengurung diri mencari jawaban di kamar. Terima kasih udah mau bantuin cari jurnal. Terima kasih udah mau (secara terpaksa) dipegangin tangannya sama tangan gue yang penuh aroma semerbak GPU. Terima kasih atas kenyataan manis mengenai tanggal dan urutan ujian kita. Untukmu 28 januari 2016 sebagai STP ke-66 dan untukku 28 Maret 2016 sebagai STP ke-99. Those facts are too sweet to be true. Seriously.

Kenapa judulnya secara umum? Karena postingan ini didedikasikan untuk ucapan singkat. Tunggu episode berikutnya yang akan mengupas satu persatu orang-orang berharga yang berpengaruh dalam sejarah kehidupan perkuliahan gue.

Sekali lagi, terima kasih untuk memilih tetap bersama gue dan bergabung membentuk sapu lidi. Have a great life, guys!

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

-- update 7 Desember 2022

Hi. I've decided not to create any detail story about each of my friends. Still, my grateful feeling toward them is solid. You know who you are guys. Thank you for staying beside me ❤️ 

Sabtu, 05 September 2015

Sederhana selalu mewah

"semoga cepet lulus sis"
[Kamis 3 September 2015 pukul 23:34 WIB]

Chat sederhana mendadak masuk bersilaturahmi ke akun facebook saya. Chat sederhana ini berasal dari salah satu senior satu jurusan. Bagaikan kedatangan komet halley ke muka bumi, begitu pula rasanya kelangkaan peristiwa bertenggernya chat dari beliau ke akun saya. Frase "tidak ada angin, tidak ada hujan" pun belum cukup menggambarkan betapa mendadak dan random nya chat tersebut. Ini sih ibarat, tidak ada starter bakteri, tidak ada susu, tau-tau keluar yoghurt. Luar biasa.

Terlepas dari itu, masuknya chat dari beliau (sangat) bertepatan (sekali) dengan saya yang kembali mendapatkan energi saya untuk menjadwalkan dengan ketat tahapan-tahapan apa saja yang akan saya lakukan untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Intinya, saya sedang kembali ke jalan kebenaran saat chat itu kemudian menyeruak masuk. Beberapa detik saya bengong melihatnya, lalu tertawa. Sederhana dan singkat ya kalimatnya? Anak SD di dekat rumah saya saja bisa merangkai kalimat lebih panjang dari itu sepertinya. Namun, saya belum pernah merasakan kalimat yang punya energi sebesar ini semenjak saya memulai perjalanan tugas akhir saya. Hahaha. Saya tak tahu kenapa, mungkin timing yang tepat, mungkin sugesti, mungkin karena sangat random dan clueless atau perpaduan dari semuanya. Satu hal yang saya tahu, saya merasa diberi motivasi tak kasat mata. Saya berterima kasih, lalu beliau tak membalas lagi. Pergi begitu saja layaknya burung merpati yang telah selesai menyampaikan pesan. Mungkin beliau sedang mengirimkan balik pesan terima kasih saya ke 'pihak lain' yang membuat dia terilhami untuk mengetik chat ajaib itu, atau entahlah. Yang jelas, tugas beliau sudah selesai. Terimakasih. 

Terimakasih pula kepada pencipta saya, beliau dan seluruh makhluk yang bernyawa di galaksi ini. Terimakasih atas pemberian tak ternilainya : otak yang bisa berpikir dan jiwa yang bisa merasa. Terimakasih terkhusus, karena saya selalu diberikan kesederhanaan yang tak pernah gagal membuat saya tersenyum. Terimakasih lagi telah mengizinkan saya untuk bahagia walau hanya dengan merasakan hembusan angin. 

Maka nikmat Tuhan mu yang mana kah yang kamu dustakan?

Minggu, 01 Maret 2015

Donor darah

Donor darah bak kalimat dongeng yang merdu dalam dunia gue. Gue selalu ingin mencobanya. Bahkan walau hanya sekali. Sebenarnya itu bukan masalah yang sulit mengingat kampus gue cukup tergolong sering melakukan agenda ini. Namun, entah mengapa, keberanian gue dirampas hanya oleh satu kalimat

"Kalau setelah kita donor darah terus kita ngga melakukan donor secara rutin lagi, kita bisa lemas lho!"

Coba dengar betapa mengerikannya kalimat di atas. Sejak kapan donor darah level mengerikannya setingkat dengan narkoba atau produk kecantikan yang membuat ketergantungan?! Ya, salah gue juga sih menelan kalimat tersebut bulat-bulat. 

Namun, sekarang berbeda. 14 Februari 2015. Terimakasih young on top. Terimakasih untuk teman-teman yang memberi testimoni positif dan meyakinkan gue untuk gabung acara ini. Akhirnya berhasil donor darah :')

 AB belongs to sarah diana, and B is mine



Finally i have one!



Nah, donor darah pertama gue ini menyenangkan. Gue sibuk senyum-senyum sambil tutup mata gitu pas jarumnya ditusuk ke kulit gue yang mulus ini.Yah, sayangnya, percobaan pertama tidak berjalan terlalu baik. Lengan kiri gue memiliki pembuluh yang terlalu kecil. Pindah lengan deh ke sebelah kanan. Ditusuk dua kali deh. Alhamdulillah gue ngga kapok kok. Pengen lagi malah hehe.

Terimakasih untuk Galih yang mempromosikan acara ini. Terimakasih untuk sarah yang mau datang menyusul untuk ikutan acara ini. Terimakasih untuk diri gue sendiri yang mau berhenti menjadi pengecut. That was not that scary. Ya, gue semakin yakin kalau manusia itu sangat suka melebih-lebihkan cerita. 

Kalau kata x-banner yang ramai dipajang di area acara sih ya... "sayang ngga harus kenal".

Walau gue tau ngga semua darah yang didonorkan itu akan digunakan. Walau gue tau golongan darah gue cukup mainstream dan sedikit sekali kasus kehabisan golongan darah B yang terjadi  (atau mungkin tidak pernah). Namun gue hanya berharap kalau tindakan gue bisa berujung pada kebaikan. Entah darah gue bisa digunakan atau tindakan ini bisa mengilhami manusia bergolongan darah eksklusif untuk turut berpartisipasi.

Sekali lagi. Sayang ngga harus kenal.


P.S. Anyway, i wanna say congratulation to Sarah Diana for having an opportunity to get selected as aims student! Yay! My lovely bestie! Fyi, we made our passport together. And now, she is the one who get the first chance to use that passport haha. Wait for me. I'll get my turn later. Take care sarah! Have a very safe flight and astonishing journey in malaysia later. Don't forget to finish your last project before your leaving :p Love ya!

Minggu, 13 Juli 2014

Grow Up

"Bibibibi balabalabala mama papa bweeek" kata anak bayi dan sederajat.

"Aku ingin segera SMP, pasti seru!" kata anak SD.

"Masa SMA itu katanya masa yang paling indah. Cepet deh ke SMA! Kya!" kata anak SMP.

"Sedikit lagi kuliah! Semangat! Yuhuuuuu" kata anak SMA.

"Bosan kuliaaaaaaaah! Mau kerja aja ya allah atau nikah aja deh nikah!" kata anak kuliahan.


Well, people is people.

------------------------------------------------------------------------------

Kalau kata orang bijak sih, ngga semua orang mengalami 'grow up', yang ada hanya 'bertambah tua'. Well, that does matter if we're speaking about mindset. Namun kali ini, literatur kita adalah buku biologi SD yang mana  jelas menakdirkan bahwa ciri-ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Well that's grow up. Kenapa mendadak topik ini muncul ke permukaan? Karena gue udah mau masuk tahun keempat di dunia perkuliahan. Tahun keempat. Tahun keempat. Ta-hun ke-em-pat... *liat cermin* *pecahin cerminnya*

Iya. Tahun keempat. Periode di mana halusinasi gambaran pelaminan secara ajaib sering muncul dalam benak kaum hawa, sedangkan golongan kaum adam pura-pura tidak mendengar. Periode yang merupakan saksi bisu bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. That is the most kampret fact so far. Capek loh. Ketemu, kenalan, deket, pisah, dadah-dadah. Ketemu lagi, kenalan lagi, pisah lagi, dadah-dadah lagi. Sebuah skenario yang luar biasa apik. Ya udah. Aku mah ngga apa-apa. Aku mah apa, hanya artis yang bertopang pada sutradara semesta bermodalkan gaji berupa oksigen yang menjalar lembut sepanjang aliran tubuh. Kita hanya bisa berperan dan bersyukur. Alhamdulillah belum waktunya dipecat sebagai artis.

Oke. Kembali ke topik. Grow Up.

Di usia gue yang sudah.... sudah begini, gue mulai kebayang gimana rasanya jadi orangtua kita dulu, om-tante kita, atau tetangga-tetangga kita yang lebih tua. Iya. Kebayang rasanya menjadi saksi mata atas  metamorfosisnya seorang bocah yang berkawan dengan popok menjadi pria tinggi berbadan tegap atau wanita anggun dewasa yang matanya meneduhkan seantero khatulistiwa. Gila. Entah akan berapa juta bayi yang gue saksikan metamorfosisnya (emangnya lo kerja di bidan dew sampai bisa liat jutaan bayi?).

Ngga usah jauh-jauh, gue bahkan melihat perubahan tetangga gue yang alamak luarbiasa. Namanya ipo. Nama tidak disamarkan. Sejak jamannya tamiya masih beken, gue sering main sama ipo dan liqo. Mereka itu tetangga di depan rumah gue. Lebih muda. Gue kayak cewek dewasa yang ngasuh bocah gitu deh. Masih TK kali ya mereka, gue juga lupa. Gue nya SD. Duh, pas masih bocah tuh ya lagi masa-masa nya 'uuuu lutuna anak mama uuuuu'. Kecil-kecil lagi mereka berdua badannya. Sekarang......... "Ipo, yuk jalan sama tante". HUAHAHAHA. Keren sob! Tinggi, suaranya udah baligh, cool cool gimana gitu huahaha. Beda banget sama pas bocah. Ya... alhamdulillah sih. Ngga kebayang kalau dia masih nangis kemana-mana bawa popok. Yassalam. Bagian menyedihkannya adalah mereka udah ngga bebas dimainin lagi :/ Bayi itu mainan terbaik. Huft!

Iya. Begitu pula yang kira-kira dirasakan orangtua kita.

Kalau saat kecil, kita masih punya waktu untuk bersorak sorai gembira menanti kepulangan ayah ibu kita dari kantor. Senyum mengembang sempurna di wajah kecil kita. Tulus. Kayak malaikat. Adenosin trifosfat pun ngga mampu menyaingi energi yang bisa kita kasih ke orangtua kita saat itu.

Perhatian.

Perhatian kita bercabang seiring tumbuh dan berkembang. Teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, teknologi baru.

"Ini semua karena teknologi yang semakin canggih nih! Yang dekat jadi jauh. Nempel mulu sama HP"

Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadget yang memanjakan kita - apalagi nyalahin koko koko penjual gadget. Kita lah yang memilih alat-alat itu untuk memenjarakan diri kita sendiri. Kita memilih. Karena tentu alat itu tidak bisa menghipnotis kita. Mereka mati, dan hanya yang bernyawalah yang bisa menentukan. 

Kita semakin lupa menyisakan waktu untuk sekedar mengobrol, memberi sapa, kabar, bertukar cerita, atau meracik mimpi bersama orangtua kita. Kemana dong waktunya? Ups. Maaf, si teman baru, lingkungan baru, tantangan baru, dan teknologi baru udah nge booking duluan. Anda kurang beruntung. Cobalah sekali lagi.

............................................

"Mereka agak bawel. Kepo. Banyak nanya. Aduh males ceritanya. Malu ah"

Lah? Emang temen ngga kepo? Emang mereka ngga banyak nanya? Lah kalau ada yang udah bersedia dengerin kita selama 24 jam, ngapain nyari orang lain buat curhat yang bisa aja sebenarnya mereka lebih suka dengerin rongrongan serigala jam 12 malem ketimbang dengerin kita curhat mulu.

Semakin lama. Semakin jauh. Banyak ruang yang kita tutup pintunya buat orangtua. Banyak gembok yang kuncinya telah kita simpan rapat dalam usus dua belas jari. Jarak terbentang. Kita di indonesia, orangtua jauh melebar menuju kutub utara. Dingin. Kira-kira begitu rasanya. Mereka juga sedih, kita bukanlah lagi mainan kesayangan mereka dulu. Bukanlah lagi malaikat kecil mereka yang pasti ada di balik pintu sambil mengintip nakal ibu dan ayahnya yang baru pulang kerja. Kita bukanlah lagi... orang yang memprioritaskan mereka. 

"Hey! Gue selalu berdoa kok buat mereka! Gue sayang sama mereka! Gue juga kadang telepon-teleponan sama orangtua gue"

Alhamdulillah. Anak yang berbakti :) 

Semoga ngga cuma selesai di doa ya. Karena mau bagaimana pun juga, manusia ngga tau kalau mereka didoain. Ngga ada notificationnya soalnya kalau abis tiap didoain. Gebetan sekali ngga ngasih kabar aja sedih. Gebetan lebih asik sama temennya aja sedih. Gebetan jarang ngobrol sama kita... "udah ah cari gebetan yang lain aja! Bete!".

Gimana tuh kalau orangtua kita yang bilang gitu? "Udah ah cari anak yang lain aja! Bete!"

Talk less do more kalau kata iklan rokok mah.

Aksi dong. Tunjukin perhatian kalian. Joget-joget kek gitu di depan orangtua biar interaktif *yakali*

Orangtua juga manusia biasa. Bahkan semakin tua, kita semakin ingin diperhatikan loh. Mungkin karena tingkat ke insecure-an melonjak naik. Merasa tua, jelek dan lemah. Mereka mulai takut apakah orang-orang terdekat mereka masih sayang sama mereka atau tidak. Pola pikir normal manusia yang sudah lanjut usia. Nanti gue juga bakalan gitu. Pasti. Kecuali kalau Allah punya skenario lain untuk hidup gue. Ya........ semoga sih masih bisa sempat lihat anak gue menikah kelak hehe.

Buat laki-laki nih, terkhusus laki-laki...

Sering makhluk yang bernama laki-laki ini menyepelekan komunikasi dan  jarang mengobrol basa basi dengan orangtua. Mereka ingin sekali mengobrol sama kita loh. Ingin sekali. Gimana sih ya, "Nanti kalau kalian udah punya anak pasti mengerti dan merasakan". Kira-kira itu yang mama gue selalu bilang. Gue jadi takut. 

So? Daripada kalian buang-buang SMS "lagi apa? sudah makan belum?" untuk makhluk yang ngga jelas kehalalannya buat kalian, dan belum tentu juga bakalan gembira nerima pesan kalian, mending kirim ke orangtua kalian. Hehe. Insya allah kalau ada lebih, kalian bisa dapet bonus uang jajan :p

Oh, postingan ini bukan tertuju khusus untuk kalian. Males amat bikin postingan panjang-panjang cuma buat kalian. Hih *kibas kerudung*

Postingan ini buat perempuan yang lagi nulis postingan ini. Biar sadar. Biar bisa gerakin badannya. Buang HP nya. Buka mulutnya. Lebih terbuka sama mama ayah. Lebih sering nangis bareng mama ayah. Lebih sering break dance sama mama ayah.... Ya pokoknya gitu. Sadar dong. Jangan sampai kamu disadarinnya sama air mata.


*PS 
Makasih buat ayah yang ngga pernah absen buat ngambilin permen FOX kesukaan gue tiap naik pesawat garuda. Gue cuma nyebut sekali aja kalau gue suka permen itu. Itu pun pas jaman friendster masih keren. Beliau selalu dan selalu bawa permennya. Selalu. Dengan muka bahagia beliau mengulurkan tangan "ini permen dewi". Dan gue nangis diem-diem. He is the most lovable man ever. Gue ngga akan pernah ngerasa lebih jatuh cinta lagi ke pria manapun selain ayah. Semoga imam gue kelak juga bisa bikin anak gue jatuh cinta.  Buat mama, yang udah ngga keitung lagi berapa banyak pengorbanannya. Mama yang kuat. Mama yang semakin lama semakin menua tapi masih aja sering gue bully. Mama yang ngga pernah marah walau kita ledekin. Terkadang kita suka kelewatan dan berujung dengan air mata *nyengir*  Mama yang ngga akan pernah bisa gue saingi pesonanya. Mama yang selalu gue kecewakan. Oke, ini terlalu panjang untuk sebuah pesan tambahan. Mata gue pun basah. Dadah semuanya.

Let's grow up. Yey. 

Kamis, 06 Maret 2014

Belajar

Sebenernya gue udah berniat bikin postingan ini sejak awal, namun sayangnya berhalangan terus. Jadilah gue baru bisa bikin sekarang. Singkatnya, ini tentang acara perkenalan himitepa. Pre-inkubasi. Engga, ini bukan inkubasi sel beneran, ini hanyalah istilah acara pelantikannya pengurus himitepa. Pre-inkubasi ini adalah semacam seminar kecil untuk memotivasi kita dan kayak ngebuka gerbang menuju gambaran setahun ke depan. Sederhana. Yang gue suka di games tahun ini adalah games "siapa aku di matamu". Ya kurang lebih begitulah, gue lupa judul benernya apa. Intinya gitu hahahaha. 

Setiap orang punya dua kertas, kertas biru dan kertas merah. Kita harus nulis sifat tidak baik dari seseorang atau mau mengkritik sikap mereka di kertas merah, sedangkan tulis sifat baik seseorang di kertas biru. Kita dikasih kebebasan buat ngasih ke siapapun orang di ruangan itu. Dan ngga boleh main fisik. I mean, kalaupun mau memuji, bukan "kamu cantik banget, anggun, manis lalala". Ngga gitu. Tapi lebih ke sikap dan perilakunya. 

Gue dapet 2 kertas biru dan 1 kertas merah



Oke kertas biru ngga terlalu penting... Eh penting sih hehehe. Dua kertas biru itu dari anak 49. Semoga aja setelah lebih kenal sama gue setahun ke depan, mereka ngga nyesel ngasih gue kertas biru :p

Kali ini yang mau gue bahas kertas merah (atau kertas pink?)



Daripada kalian muter-muter leher, biar gue perjelas :

To : Dewi

Dew, lo gue amatin entah beberapa bulan atau akhir-akhir ini, lo teh masih kurang di listening skill nya. Lo masih kurang mendengar orang lain. Soalnya tadi aja pas bu dias lagi ngomong, gue denger kok lo ngobrol sendiri. Gue inget juga pas lagi kuliah PTP kalo ngga salah. Ya gitu sih, masih suka asik sendiri. Padahal ada orang yang lagi ngomong di depan gitu.. hehe. Sorry ya dew, ngga bermaksud apa-apa kok. Cuma mau ngeliat lo lebih baik lagi. Arigatou :D


Gue yakin dan siap pasti akan ada yang ngasih kertas merah. Dan.... kritiknya tepat banget. Emang iya. Emang iya, gue kurang banget listening skillnya. 

So, makasih ya teman, surat merah lo sangat berarti. Sangat.

Sebelumnya gue sempat introspeksi, gue punya banyak kelemahan dasar dan sekarang mau coba belajar lagi pelan-pelan :

membaca, menulis, dan mendengar.

Tiga komponen yang terdengar sederhana bahkan untuk tingkat sekolah dasar. Tapi ngga ada hal yang akan benar-benar kita kuasai jika kita hanya melakukannya setengah dan tidak benar meresapi. Membaca bukan sekedar melihat huruf. Menulis tak hanya catatan, tulis segalanya. Malas? Pasti. Itu kesulitannya. Mendengar. Tak perlu dijelaskan, semua juga tau esensinya. Well, walau masih ada yang lebih suka didengar saja daripada mendengar. Tak mengapa. Itu pilihan mereka. 

Oke akhir kata, selamat belajar semuanya! :3

Minggu, 15 Desember 2013

The tempeh ranger

Halooooo. I'm gonna post a brief story tonight. Well, let's count down 3.. 2.. 1... Go!

**********

Food microbiology laboratory was used to be my another bedroom, 
but not for now! #jengjengjengjeng..... Wait, few days ago actually.
Finally, i don't need to meet an evil microbe or do some dilution which is absolutely tiring. Here we comes, a real food technologist's practice. The practice of creating tempeh!!! Woho!
Just to clarify, what i mean is not a fried tempeh ya :p

What we need?
Soybean, solution, starter culture, wrapper, and so on.

The team were divided into some different practice, then my beloved partner, Ruth, asked me to do a practicum of Tempeh with her. At first, we thought we would finish our task in a blink of an eye because based on the procedure, what we have to do first is soaking the soybeans for a night. It means that we don't need to do the other difficult parts for that day because we need to wait for the next day.  Unfortunately, the laboratory staff already soaked the soybeans. So? I need to do the next procedure which was unexpectedly took a long enough time. Yet, i'm happy. I dooooooooooo happy! I really really do!  

The process of creating tempeh is actually isn't that difficult, yet tiring -_-
Especially, if you peel the soybeans manually - like what we did. 
The wet skin is the hardest thing to separate, for me. Seriously. My finger skin even became wrinkled at that time. Well thanks to the water solution. 

So here you got the process of creating tempeh :

Cleaning the soybean - boiling for 30 to 45 minutes - soaking to the solution till creating a froth - separate the soybean from its shell - steaming the soybeans for 15 minutes - cooling down (room temperature) - mixing with starter culture - wrapping it with plastic (if we use plastic as wrapper, don't forget to make some small holes for an air circulation) - fermenting for 2 days. 

Syalalala~   


 mine! 

tempeh with a commercial starter culture (laru pasar) #1

tempeh with laboratory starter culture (the starter was made by the groups) #2

The result? Good enough hehe
The mold of tempeh #2 has already covered the soybeans well. The structure of tempeh is also sturdy. Yet, it has a black spot which is the sign of Aspergillus niger's existence.
The mold of #1 also covered the soybeans yet not thick enough. It might be perfect if we let it fermented  till the next day. No black spot by the way. 

The happiest part was when we fried the tempeh. Delicious :9

In conclusion, i'm happy to be a food technologist. 
Bye! ♥