Halaman

Jumat, 07 April 2017

Reviewku

Review ku ada lima, rupa-rupa genre nya~

Kebiasaan buruknya kambuh, menunda bikin tulisan. Haiyah. Saatnya ditulis, sebelum menumpuk jadi enam :')

Sabtu 21 Januari 2017

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

Film ini diangkat dari kisah nyata seorang Wiji Thukul, aktivis HAM sekaligus penyair, yang dituduh sebagai pemicu kerusuhan dan berakhir menjadi seorang buronan. Pada awalnya, gue berpikir kisah ini akan terlalu berat untuk gue. Namun berbekal rasa penasaran, gue tetap mencoba menonton film ini.

Gue sangat amat menikmati visual dari film ini. Detailnya pun membuat adegan demi adegan terasa alami. Sesungguhnya begitu banyak adegan hening dalam film ini, namun dengan scene-scene terperinci, semisal adegan kucing berjalan di gang, atau cipratan kubangan di jalanan, membuat film ini tidak serta merta mati. Benar-benar menggambarkan kesepian dari suatu pelarian sih. Benar-benar menjemukan, namun semua pengambilan gambarnya apik. Jadi ya efek menjemukannya itu terjadi karena memang pada kehidupan nyata, tidak ada pelarian yang seru, bukan? 

Pemainnya! Gue sangat suka semua pemainnya. Udah, itu aja.

Tolong jangan tanya berapa kali gue menguap dan menahan kantuk. Jangan tanya.

Yap here I am, penikmat cerita kompleks penuh drama dan misteri. Namun namanya hidup, kompleksnya kadang tak bisa dituang dalam dialog. Saking kompleksnya. And well im not used yet to this kind of movie. Fokus cerita ini (menurut gue) adalah bagaimana perjalanan sunyi sang Wiji Thukul selama menjadi buronan serta syair-syair yang menjadi buah pikirnya.

Anyway, di saat gue berusaha keras menahan kantuk, ternyata ada juga loh yang justru ketakutan sepanjang film ini. Kata temen gue "Takut ih, kalau tau-tau Wiji Thukul nya ketangkep!"

Wah, gue sangat kagum sama pendapat doi. Betapa sebuah karya seni itu emang luas dan bebas diinterpretasikan. Sepertinya teman gue ini sangat menghayati posisi pemeran utama sebagai buronan. Gue harus banyak belajar lagi untuk mendalami film sampai sebegitunya. Keren. Sungguh, menurut gue itu keren, ini bukan sarkasme #fyiaja

Ah, gue tidak tidur kok sepanjang film. Hanya berjuang menahan diri agar tidak jatuh tidur. Gue kembali segar tepat tiap Wiji Thukul melafalkan syair-syairnya. Gue bahkan mencatat sepotong-sepotong (dengan tertatih-tatih karena kecepatan pengetikan gue masih kalah saing dengan kecepatan pengucapan sang aktor). Sayang sekali gue kelewatan bagian beliau melantunkan syair nya di adegan pembuka film. Padahal gue paling suka syair yang awal itu.

Secara sederhana, gue menyukai syair yang disajikan plus segala detail visual yang dipampang. Namun memang gue belum terbiasa dengan tipe film seperti ini. Perlu penghayatan dalam, seperti teman gue itu misalkan, untuk benar-benar merasakan apa yang dialami sang buronan. Sekian :)


Kamis 9 Februari 2017

PERTARUHAN

Gue tertarik pada film ini karena konon digodok oleh tim yang sama-sama memproduksi film serigala terakhir. Sebenarnya gue ngga pernah nonton serigala terakhir sih haha Soalnya dulu kan ngga tertarik sama film. Sejauh yang gue dengar dari mulut ke mulut sih serigala terakhir adalah film yang lumayan keren. Pun saat gue membaca sedikit sinopsis dari film pertaruhan ini, sepertinya satu genre dengan serigala terakhir. Gue juga membayangkan (lebih tepatnya mengharapkan) akan ada adegan action di film ini. Pokoknya dengan segala alasan, akhirnya gue memutuskan untuk menonton Pertaruhan, walau sebelumnya tidak ada dalam rencana yang gue rancang.

Harus ada pengakuan di sini, pemeran empat bersaudaranya ganteng semua (walau gue sangat ingin klaim bahwa Aliando itu cantik sih). Bahkan pemeran ayahnya juga keren. Haha. Auk amat lah.

Akting mereka cukup dan pas sih. Namun oh namun, gue agak terganggu oleh detail plot ceritanya. Sejak awal hingga tengah cerita, gue masih merasakan vibes anak berandalan dan sekelumit kisah hidupnya. Plus, masih masuk akal. Hingga akhirnya plot masuk ke bagian inti cerita, eksekusi pencarian dana untuk pengobatan sang ayah : merampok bank. Ups, apakah itu spoiler? Yassalam, maafkan. Menurut gue, ini bagian penting yang harus dijaga di segala aspek, entah itu secara logika cerita, detail gerakan, ketegangan dan intrik haru yang berjalan sealami mungkin. Sayangnya film ini gagal menjaga itu semua. Menurut gue. Selain keheranan terhadap penjagaan bank yang sangat rendah di sore (atau siang) hari, adegan antara Aliando dan kereta bayi itu... sungguh memuakkan. Hahaha. Maafkan gue, sekali lagi. Bahkan gue belum mencurahkan semua keprotesan yang ada di dalam hati ini. Semoga gue tidak terdengar jahat ya sekarang. Aamiin.

Cuma kalau ditanya secara fair, gue suka sekali akting dan gaya mereka sebagai anak bebas malam. Benar-benar terlihat berandal. Khusus Aliando, ya terlihat seperti anak ABG si pemberontak bawel gitu lah. Lucu. Untuk anak keempatnya juga gue suka bagaimana dia mengekspresikan karakter anak baik yang ingin jadi bandel. Dan melalui film ini pun gue akhirnya mengetahui bahwa ada aktor Indonesia muda yang... ganteng sekali (note : dari sudut pandang seorang Dewi Emillia Bahry sahaja yha). Sekian. Wk.

let me introduce ya all : Jefri Nichol. Lol 

Selasa 28 Februari 2017

MK JAKARTA UNDERCOVER

Gue sudah lama menunggu film ini. Sebagai penonton Jakarta Undercover 2006 (atau 2007), keingin tahuan gue terhadap plot cerita Jakarta undercover yang baru ini tentu saja tinggi. Oh sekedar informasi, dulu gue nonton Jakarta Undercover di layar televisi kok, bukan bioskop hehe. Itu pun ngga sengaja nontonnya. "Lah kok seru", hingga akhirnya harus tidur telat. Wk.

Walau gue tidak sempurna mengingat plot cerita film yang versi dulu, gue ingat memori perasaan gue dulu, tegang-tegang seru begitu. Plotnya sangat menarik, buat gue di kala itu. Buat gue jaman sekarang juga masih seru sih. Saat gue melihat trailer Jakarta Undercover versi baru... sesungguhnya gue tidak berharap terlalu banyak. Gue tau bahwa plot ceritanya tidak akan seseru film yang gue lihat bertahun-tahun silam. Tetap saja, susah kalau sudah ingin tahu kan hehe. Apalagi kalau pemerannya Oka Antara. Saya mah bisa apa selain tergoda. Wk.


Mari kita mulai dari segi pemain. Ah, tolong beri sambutan meriah untuk Ganindra Bimo. Beliau memainkan peran lelaki kewanita-wanitaan dengan saaangat baik. YOU ROCK! Oka Antara ya tentu seperti biasa tampil memukau dan tampan. Baim wong terlihat tengil dan seenaknya sesuai karakternya, Pemain wanita utamanya juga oke. Semuanya oke. Oke sekali. Bahkan pemain orang gilanya saja oke wkwk


Kisah seorang jurnalistik yang membongkar fakta tentang dunia malam dan wanita malam yang berjuang untuk keluarganya. Klasik, tapi pasti banyak sekali kisah nyatanya. Gue suka bagaimana dunia malam coba digambarkan di film ini. Cinta, persahabatan, harta, tahta, wanita, keluarga, pengkhianatan. Campur semua jadi opor drama. Setelah sampai di akhir cerita, gue merasa banyak yang bisa disindir dari film ini. Banyak makna yang bisa diinterpretasikan. Terlalu... banyak. Dan ya, gue suka film yang menyerahkan pada penonton untuk menangkap sarkasme yang ada atau tidak haha.

"Lucu dengar kamu bicara tentang pengkhianatan. Kamu sendiri gimana? Kamu sedang mengkhianati istrimu sekarang" - Laura

Oh sayangnya, gue merasa.. ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab di film ini. Cukup penting dan membuat gue masih penasaran akan jawabannya. Boleh dibilang kekurangan di film ini adalah ada beberapa bagian yang tidak terlalu jelas apa yang terjadi. Ya, gue bisa sedikit berandai-andai sih, namun tetap saja, bagian itu cukup mengganjal. Dan beberapa bagian lain sengaja dibuat menggantung penyelesaiannya, hingga akhir. Film ini tidak memiliki ending yang memberi simpulan. Sepertinya tim sengaja melempar pada penonton untuk menentukan sendiri nasib kisah yang memang susah diberi akhirnya ini. Untuk kasus ini, entah mengapa gue merasa suka dan setuju. Gue merasa lebih realistis seperti ini. Walau mungkin mengesalkan untuk ditonton sebagai sebuah film haha


Oh by the way, adegan terakhir... gue ngga yakin apakah adegan terakhir film ini memang sengaja dibuat untuk lawakan atau bagaimana tapi gue tertawa sangat keras. Ngga ada adegan konyol kok di bagian ini. Ngga ada. Cuma....... cuma gimana ya hahahaha Kalau sudah nonton, in sya Allah mengerti :') Logat bicaranya Oka Antara itu loh :') Ya Rabbi, Mas, kamu kenapa? :')


"IYYHAAA SAMA. MAAF. EMANG SAMA. MHAAAF"

"KAAANGHEEEN"

Kira-kira begitulah. Ngga kebayang ya? Kasian. Hahahahaha. Seriously, this will become my forever jokes with my junior who also watched this movie :') Maafin aku, Mas Oka. Kamu jenaka sekali soalnya :') Tenang, tidak mengurangi kegagahan atau poin aktingmu yang luar biasa itu kok :') Hanya.. jenaka aja :')


*UPDATE 21 APRIL 2017

Gue baru tau suatu fakta hari ini dan gue tidak bisa diam begitu saja setelah mengetahuinya. Gue ingin menambahkan pernyataan. Ganindra bimo di sini aktingnya memang layak mendapat sambutan meriah. Namun, setelah mengetahui satu fakta ini, harus gue deklarasikan bahwa pemain juaranya adalah : Agus Kuncoro. Hormat jiwa raga pada mas Agus, Luar biasa! Idola!

Udah, gitu aja, Hahahaha.


Kamis 23 Maret 2017


BARACAS

Melalui film ini, gue semakin memaknai petuah untuk tidak berekspektasi terhadap manusia. Embel-embel 'film besutan Pidi Baiq' membuat gue tergiur dan terbujuk rayu dengan mudahnya. Plus, aktor kawakan di film genre komedi, Agus Ringgo, turut memeriahkan film Baracas ini. Gue sempat yakin bahwa gue tidak akan kecewa. Entah darimana keyakinan itu datang.

Kini gue tau, bahwa, gue hanya akan mengikuti surayah di jalur tulisan atau lagu band nya (anyway, tepat saat gue sedang nulis review ini, tepat banget saat nulis kalimat ini, lagu mymix youtube gue mendadak muterin lagu The Panas Dalam hahaha. What a perfect timing lel).

Komentar tentang film nya? Hm.

Gue tidak berani berkomentar apa-apa, gue takut kebablasan menjadi orang yang kejam. Mohon dimaklumi. Hehehe.

Kamis 30 Maret 2017

DANUR

Sebagai Shareefa Daanish fangirl, adalah sebuah kewajiban untuk menonton film ini wk. Oh sekilas curhat, gue tidak jadi nonton film ular tangga yang juga dibintangi Shareefa Daanish. Aku fans yang gagal *cry*

Lupakan saja bagian prolog di atas. Mari bahas film nya. Mari puji settingan rumah di film ini yang udah kayak hotel, banyak sekali kamarnya plus lorongnya. Pusing pala Hayati. Banyak ruangan buat menampung makhluk astralnya :"(

Dari segi cerita, apa ya, oke oke aja sih. Walau ngga ada elemen surprise yang spesial, cuma alurnya oke. Bagian tegangnya sih ya tiap kali gue lihat pemeran adik kecilnya itu lagi diasuh sama mbak Asih :') Bagian yang cukup penting dalam film hantu itu antara lain efek suara dan timing kemunculan hantunya ya. Dan menurut gue film Danur ini melaksanakan dua poin itu dengan cukup baik. Ah, ada satu momen kemunculan hantu yang menggelitik tawa, yaitu adegan hantu muncul di balik kaca jendela. Itu.. entah mengapa, ekspresinya... kurang tepat menurut gue. Satu aja kok satu. Ya kan kesempurnaan hanya milik Allah ya, saudara-saudara yang beriman.


Oh gue juga ingin memuji efek yang diupayakan dalam membedakan dunia nyata dan dunia astral. Jadi ada adegan dimana pemeran utama harus pergi ke dunia astral. Gue sempat bingung, kira-kira bakal kayak gimana bentuk dunia astral.. Dan ternyata tim produksi menyiasati dengan memberi efek warna (lampu?) hijau dan merah. Persis seperti efek di video clip zayn malik ft taylor swift yang I don't wanna live forever. Gue bahkan sempat terdistraksi dan membayangkan akan ada mas Zayn atau mbak Taylor yang nyanyi di pojok ruangan. Terlepas dari segala distraksi itu, gue entah mengapa suka dengan ide pemberian efek ini. Jadi setting nya tetap di rumah yang sama namun diberi pewarnaan untuk memberi kesan yang berbeda. Jempol :)


Ada tambahan catatan di luar review. Bukan berarti gue ngga suka Prilly Latuconsina loh ya, cuma gue merasa akan sangat bahagia jika Tatjana Saphira yang mengambil peran Risa. Hehehe. Gue merasa Tatjana bakal keren memainkan peran di film genre seperti ini. Terlebih, muka lembut pucatnya itu lebih serasi dipasangkan bersama genre horor atau misteri. Lebih... keluar inner beauty nya. Pendapat pribadi loh, ini benar-benar pendapat pribadi wk. Bahkan, gue berharap Tatjana Saphira bermain sebagai psikopat hahaha. Kalau lihat Tatjana, gue mendadak teringat sama arifin putra yang baru terlihat ketampanan hakiki nya saat dia memerankan peran psikopat di Rumah Dara haha. Begitu deh, mari kita hentikan sebelum menjadi terlalu ngawur hehe




Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

1 komentar:

Ari Fauzi Sabani mengatakan...

Film MK Jakarta Undercover : adegan hotnya banyak tapi tidak menggairahkan wkwkwkwkwkw