Laman

Selasa, 18 April 2017

Malam panjang atau terakhir?

Minggu 9 April 2017


NIGHT BUS

Singkat cerita film ini mengisahkan perjalanan sekelompok massa menuju daerah rawan konflik. Dipercaya bahwa konflik antara warga dan aparat timbul dikarenakan adanya gerakan separatis di daerah Sampar. Namun apa benar sesederhana itu?

Gue pribadi menyukai ide cerita nya. Sederhana, namun banyak yang bisa terjadi dalam perjalanan satu malam. Pengangkatan isu konflik di suatu daerah juga merupakan poin spesial. Belum banyak yang menyoroti fenomena ini walau sebenarnya mungkin sudah banyak kejadian mengerikan di daerah merah yang tidak terekspos. Pada akhirnya semua harus paham bahwa tidak ada hal baik yang terjadi dari suatu perpecahan.

Sepanjang film gue berpikir "Jelek sekali bus ini ya". Mau bagaimana, penampilan bus ini memang dekil wk. Oke, itu tidak terlalu penting. Justru semakin memperlihatkan bahwa bus ini merupakan bus veteran yang sudah sering beroperasi hehe.

Pemeran favorit gue di film ini adalah yang menjadi kenek bus. Man, he is so natural. Lol. Benar-benar selayaknya abang-abang kenek. Centil selama ada kesempatan, konyol, jagoan, tempramental, gentle jugak, dan memiliki preferensi lagu melayu atau dangdut. Digoyang mang digoyang~ Ah satu lagi poin tambahan detail yang menurut gue bagus : abang kenek ini tidak bisa membaca. Terasa lebih nyata dan masuk akal. Terlebih, karakter abang kenek ini adalah karakter anak terlantar yang akhirnya diasuh oleh sang sopir. Melihat background kehidupannya yang hanya berkutat dengan bus dan trayek daerah pedesaan, wajar saja tak ada waktu belajar. Bertahan hidup hingga besok saja sudah bahagia. Jadi entah mengapa gue suka detail itu hehehe. Setelah abang kenek, gue akan mengambil peran om tio pakusadewo dan om toro margen sebagai peran yang gue suka. Mereka berdua sukses menjadi orang yang sangat menyebalkan. Sangat. Hahaha. Pada dasarnya masing-masing pemerannya udah oke kok. Anyway pemeran sang nenek dan cucunya cantik dua-duanya euy. Cantik elegan. Gue suka banget muka neneknya.Walau gue sempat agak kesel ke nenek ini di tengah-tengah karena agak sok fearless gitu. Ditembak aja nek. Duar. Berpisah nanti sama burung kakak tua nek. Huh. 

Oh, film ini didukung oleh CGI juga. Gue agak belum terbiasa menikmati suguhan CGI (ekstrem) di film Indonesia. Jadi agak terkaget sedikit. Ada beberapa adegan yang terasa sekali sentuhan CGI nya, ada juga yang lolos sensor. Jujur, gue masih menikmati film ini walau terkadang ada sentuhan CGI yang gue harapkan tidak perlu ada di dalam film itu wkwk. Lumayan tricky memang penerapan efek dalam film. Namun senang rasanya jika semakin banyak yang berani memainkan efek-efek lebih ekstrem lagi di film-film Indonesia berikutnya. Semoga semakin rapi, berkembang dan berjaya~ Yey~

Segi cerita.. Mengalir lembut seperti air jernih di pegunungan. Lumayan memerangkap gue di bangku bioskop sambil deg-degan membayangkan "Ya Allah, ada apa lagi abis ini? ADA APA LAGI?! DAMN!".  Begitulah, Ada satu pertanyaan "kenapa" yang belum terjawab dengan lugas sesungguhnya. Namun gue bisa sedikit berkompromi dan mengarang alasannya sendiri sehingga gue tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Gue pun suka cara pengantaran secarik pesan penting untuk yang dituju di Sampar. Ada elemen surprise nya, walau tidak sebanyak yang gue harapkan. Terpenting, pesan yang ingin diucapkan di film  ini berbobot. 

Buat gue ada dua yang utama : Satu, perpecahan tak pernah melahirkan solusi, yang terpenting adalah keamanan. Dua, setan tidak hanya berada di antara dua orang yang sedang dimabuk asmara, namun juga di antara dua kubu yang terlibat dalam pertikaian. Katakanlah, setan yang berwujud manusia. Sebut saja nama lainnya yang lebih komersil, provokator. Begitulah. 

Oh gue lupa, ada satu lagi pesan utama yang menjadi tagline film ini : conflict doesn't choose its victims.


Totally agree. Totally scary.

Ah salah satu hal yang bisa diperbaiki untuk peningkatan mutu berikutnya adalah : suara pemain. Ada beberapa adegan yang menenggelamkan suara pemainnya. Hilang, sirna, pudar. Bahkan, pada adegan-adegan genting, semisal percakapan antara pak sopir dan laki-laki misterius. Itu sungguh mengganggu. Gaya bicara pemain yang tersengal-sengal dilengkapi nada suara yang rendah menyempurnakan ketidak jelasan artikulasi dan kata-kata yang ia lafalkan. Modyar sudah penonton dengan taraf penangkapan suara tak terlampau tinggi seperti gue ini.

Buat kalian yang ngga terlalu suka melihat kekerasan, hm, mungkin nonton nya yang lain aja. Atau, nonton bareng temen kamu yang hobi melawak, biar jadi ngga serius-serius amat ehe ehe ehehe. Overall, it was an exciting movie. Oh, anyway, selamat datang pada tren film menggantung. Hahahaha.


Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. 

Tidak ada komentar: