Laman

Selasa, 25 April 2017

Tonight's flow

Assalamu'alaikum! Halooo! Anyeong! Konbanwa! Gute nacht!

Ceritanya gue sedang rindu menceritakan hal-hal remeh mengenai aktivitas gue hehehe. Izinkan kali ini gue bercerita panjang lebar dan saling kait mengait seperti jaring laba-laba. 

Jika kalian bertanya "apa ada hal spesial yang terjadi malam ini?". Gue akan jawab, "setiap hari adalah spesial". Gue yakin itu terdengar sebagai omong kosong belaka haha. Dan gue tidak akan menyalahkan kalian jika interpretasi itu yang ada di dalam kepala kalian. I'm okay. Yet, i really mean it.

Kelebihannya hari ini adalah gue merindu pada spontanitas dan kerajinan diri gue menulis di zaman dulu (wah tua sekali rasanya saya sekarang ya *periksa ada uban apa engga*).  Ah, gue harap kalian selalu dalam keadaan berbahagia. Mari baca sedikit kebahagiaan versi saya. Kalau belum ada waktu, bisa dicoba lain hari. Santai, in sya Allah jika diberi waktu, kita bertemu lagi.


PILOXING

Sebenarnya gue awalnya ngga ingin bercerita soal aktivitas yang mulai gue coba tekuni sejak awal tahun 2017 ini, takut ngga konsisten hahaha Yap, aktivitas rutin berolahraga. Wah, ini bukan hal yang mudah untuk gue yang lebih memilih menjadi suporter di bangku penonton tiap ada kompetisi olahraga kampus atau yang berolahraga hanya bila mendapat nilai. Kalau boleh jujur, dari lubuk hati yang terdalam, gue bersyukur mengalami peningkatan berat badan. Banyak yang bisa gue ambil hikmahnya : bahwa tubuh gue perlu diperhatikan dan orang-orang tak akan pernah bisa kita puaskan secara bersamaan. 

Teman gue pernah bertanya begini "Ikutan olahraga kayak gitu bukannya ngga bikin tambah kurus ya?". Sepertinya gue bilang saat itu bahwa ya bukan kurus kok tujuan utama nya. Lalu dia dan nada sinisnya (wkwk) menjawab ulang "Yakin? Jujur lah, ngga usah munafik. Pasti mau kan berat badannya turun?". Gue diam sambil merespon pelan dan tak percaya diri "Ya... mau sih". 

Sekarang, setelah gue berpikir ulang, izinkan gue klarifikasi. Kalau ditanya "apakah gue mau berat badan gue menurun?" Oh tentu saja mau. Mengapa tidak? Ya kan? Namun, yang gue lupa tekankan saat itu adalah tetap saja, jujur, bukan itu yang gue benar-benar inginkan. Gue ingin badan gue kuat. Gue ingin otot gue terbentuk agar tidak kendor dimana-mana. Ya, ngga usah berotot-otot amat kayak atlet angkat besi juga ya. Gue ingin merasa.. kencang? Haha. Dan kedua, gue ingin menantang diri gue sendiri untuk berubah. Gue ingin benar-benar peduli pada kesehatan dan kekuatan tubuh gue. Itu! *menunjuk ke arah penonton* Kurus? Bonus~ Hahaha.

Oh soal pernyataan "orang-orang tak akan pernah bisa kita puaskan secara bersamaan", itu maksudnya adalah setiap orang punya selera masing-masing. Seriously, ada yang bilang badan gue bagus pas berisi begini, di sisi lain ada juga yang menyarankan (dengan keras) untuk menurunkan berat badan, sementara di sisi seberang ada juga yang ngga peduli dan ngga membahas (terima kasih Tuhan telah melahirkan orang tipe yang ketiga hahaha). Jadi? Gue akan mengurus badan gue sesuai dengan yang gue harapkan karena gue lah yang dititipkan tubuh ini oleh Allah. Yeah, swag.

Ngomong-ngomong... ITU BARU PARAGRAF PEMBUKA LOH HAHAHA

Gue mau bercerita tentang olahraga piloxing yang gue alami malam ini padahal hehehe. Yaudah, gue persingkat deh wk. Sebelumnya gue pernah mengikuti piloxing sekali, dan..... banyak duduknya. Gue kabur. Hahaha. Pegal pakbos! Piloxing di tempat gue itu ya gabungan boxing, pilates dan dance katanya. Sebenarnya kalau gue pikirkan baik-baik, gerakannya biasa aja. Sederhana. Tapi kok ya pas gue praktekin rasanya badan ini menjadi lunglai tak berdaya. Kelamaan dimanja sih badannya. Peserta lain ada yang tumbang bersama gue, namun lebih banyak yang bertahan. Nah, itu pengalaman pertama gue. Malam ini adalah pengalaman kedua. Gue sempat ragu, cuma berhubung gue baru saja membuat dosa di siang hari (makan 4 potong pizza meat lovers pinggiran sosis ukuran medium yang ternyata sangat memenuhi rongga perut gue) dan bolos yoga di pagi hari, akhirnya gue menguatkan niat untuk piloxing. Oh anyway, gue itu olahraganya suka beda-beda, kadang yoga, kadang zumba, sekarang lagi coba piloxing. Ya, mumpung paketnya bisa milih jenis olahraga sesuka hati ya mengapa tidak kan, sahabat super.



Gue datang lebih awal di saat yang lain belum tiba. Gue mengitari ruangan yang berisi hiasan pajangan kata-kata motivasi untuk berolahraga. Salah satunya adalah foto yang gue pampang di atas. Gue merenung cukup lama pada pajangan ini hingga secara tidak sadar ternyata kalimat ini meresap begitu dalam masuk ke kulit hingga aliran darah (oke, suka-suka lo). Interpretasi kalimat ini buat gue adalah : Kaki lo ngga capek woy, otak lo aja yang kasih instruksi buat menyerah. Dasar labu siam kaleng! Lembek!

Nah, dengan semangat itu gue memulai piloxing yang alhamdulillah berakhir tidak selemah sesi pertama. Yey! Kali ini gue coba menerapkan cara bernapasnya yang pada pertemuan sebelumnya tidak gue ketahui. Beda ternyata cara bernapasnya sama yoga *nyengir. Dan tak lupa, sambil dihantui kalimat petuah dari pajangan itu, gue berusaha sekuat tenaga untuk tidak manja. Sesekali gue berhenti sebentar atau mengendurkan tenaga gue, namun gue merasa lebih puas di sesi ini daripada sebelumnya. Progress yes.

"Pas pertama kali piloxing kamu banyak istirahatnya ya, sekarang udah lebih bagus" kata mbak-mbak instruktor manis yang terlihat lebih muda dari gue (atau seumuran tapi gue nya aja yang agak boros wk hiks).

Wah gue senang dia mengingat gue, plus gue jadi lebih merasa semangat karena dihargai prosesnya. Jadi maloe. Unch. Apakah gue akan lanjut piloxing lagi? Lihat saja nanti bung hahaha.


BIG BANG - WINNER

Tepat setelah gue selesai pulang dari piloxing, sahabat gue tersayang yang sedang sibuk-sibuknya mengamati tren Kpop menawarkan gue untuk menonton suatu variety show yang ada bigbang nya. Oh, gue juga sukses diracuni bigbang olehnya. Terima kasih kupanjatkan, wahai sahabat sejati (lafalkan menggunakan nada meledek). Variety show kali ini tentang sekelompok trainee dari YG entertainment yang sedang memperebutkan posisi debut. And I was like "wow.... life is tough". Dan gue sangat salut pada agensi korea yang betul-betul memoles talent nya sebening dan seberkualitas mungkin sebelum diluncurkan ke publik. Ditempa selama bertahun-tahun..... gila sih. Udah gitu sebelum bisa debut, harus bertarung dulu dengan sesama trainee lain. Gila sih. Luar biasa!

Oh bigbang sebagai juri kok by the way haha. Winner adalah salah satu tim yang sedang dievaluasi di variety show itu. Sahabat gue tersayang ini sedang jatuh-jatuhnya sama Winner jadi doi kini hobi mengulik segala macam sejarah hidup Winner haha.

Melalui segala obrolan kpop ini, gue percaya bahwa memang sifat kerja keras dan pantang menyerah itu selalu penting. Dimanapun, kapan pun, apapun ceritanya. Pastikan berjuang di jalan yang benar yah hehe. Benar menurut apa? Kalau gue sih masih pakai acuan agama, ngga tau yang lain. Dan satu hal lagi, perasaan manusia benar mudah sekali dibolak-balikkan hahaha.

Rasanya kemarin gue dan sahabat gue ini hanya tau nama TOP, tanpa tau bahwa dia adalah anggota bigbang. Perlahan mengetahui anggota yang lain lalu kemudian menjadi suka pada satu kesatuan bigbang. Oh, sejak dulu (SMA), gue mengakui lagu mereka enak didengar sih, cuma gue ngga pernah lihat muka anggota bigbang sebelumnya. 

Rasanya kemarin gue dan sahabat gue cuma membahas winner sebagai lelucon untuk seungri. Perlahan, sahabat terniat jika ingin ini pun kecantol dan menjadi inner circle (sebutan fans winner). Kali ini, gue hanya menyemangati saja di sisi seberang. Gue tidak ikutan haha. 

Rasanya.. akan lebih banyak lagi yang berubah untuk ke depannya. Semoga untuk hal yang lebih baik.

Dear sahabat, jangan lama-lama fan girling nya, diurus itu ya proyek minuman coklat nya hahaha. Aku mendoakanmu selalu.


CITA-CITA


Ini adalah chat ter-halu yang gue dapet malam ini. Hahaha. Gue? Mau jadi guru? Wah. Luar biasa. Entah beliau sedang mabuk skripsi atau emang ingatannya lagi kecampur-campur bareng cendol. Gue tidak pernah menyatakan keinginan gue sebagai guru kecuali saat gue masih duduk di bangku SD. Itu pun tak bertahan selama sehari dan segera berubah menjadi "aku mau jadi dokter". Sungguh tak setia.

Lucu sekali. Gue jadi tertawa. Gue merasa profesi guru itu adalah pekerjaan yang... sangat berat. Untuk itu gue tidak merasa ingin melakukannya haha. Gue akan memulai menjadi guru untuk diri gue sendiri dulu dan anak-anak gue nanti. Kalau untuk anak orang lain.... gue pertimbangkan lain kali yah. Siapatau kelak gue punya keberanian dan ilmu yang berlebih, in sya Allah tidak ada yang tidak mungkin hehe. 


Ah ngomong-ngomong, ini adalah foto yang teman gue bilang cakep dan tidak berdosa. Itu gue. Sekian dan terima kasih. Silahkan pergi saja buat kalian yang tidak percaya. Enyah lah dari dunia Dewi! Hahaha.


Wah! Sudah tiba akhirnya di penghujung tulisan. Bahagia sekali rasanya menulis acak begini. Hehe. Berhubung lagi bicara tentang menulis, ada satu kalimat Raditya Dika yang entah mengapa selalu menempel di kepala "Cara untuk menulis yang bagus adalah dengan menjadi jujur pada tulisan lo". Wah, sederhana tapi merdu.

Begitulah. Gue ngga bisa bilang tulisan gue ini bagus atau tidak, tapi gue coba menyuguhkan kejujuran dalam setiap kata. Pada akhirnya, yang menyukai akan tetap bertahan membaca, dan yang tidak sesuai dengan seleranya akan pergi tanpa disuruh. Berlaku untuk segala situasi. Hehe.


Oke. Sekian dan gue akan pamit undur diri. Terima kasih! Selamat berbahagia! Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.


Rabu, 19 April 2017

Bila sejarah divisualisasikan

Rabu 19 April 2017


KARTINI

Kali ini gue tidak akan menulis terlalu banyak review. Pun tak perlu membahas akting para pemeran karena memang mayoritas semuanya adalah aktor artis veteran. Siapalah gue ini untuk membahas kemampuan mereka hahaha. Permainan apik dan penekanan emosi yang pas tentu mereka ciptakan dengan brilian.

Gue cukup terpuaskan dan terserap pada keseluruhan cerita film ini. Saat sejarah divisualisasikan... mungkin tidak semua elemen bisa disampaikan terperinci dalam sebuah film berdurasi kurang lebih 120 menit. Namun menurut gue ini merupakan media pembelajaran yang menyenangkan. Setidaknya penonton bisa menerima inti pesan yang disampaikan pejuang dahulu melalui akting cerdas para pemeran. Harapannya minimal penonton Indonesia bisa membawa pulang bekal rasa semangat nasionalisme itu atau lebih bagus lagi jika mereka turut serta membungkus rasa ingin tahu lebih mengenai kehidupan para pahlawan yang diharapkan bisa memacu motivasi generasi muda untuk menjadi lebih baik. 

Apapun itu, film berkonten mendidik dan penuh makna tentu harus dibudidayakan kan? Hehe I'm happy :)

Sekilas cuplikan dialog...

"Apa yang sudah kamu pelajari dari aksara londo tersebut Ni?"

"Kebebasan"

"Apa yang tidak kamu pelajari dari aksara londo itu?"

"... Ni tidak tahu bu"

"Bakti, nak. Bakti"




P.S. Hanya satu orang yang mendistraksi gue di film ini : mas Dwi Sasono. Ya ampun, karakter mas Adi terlalu melekat di relung sukma gue. Sepertinya, dengan sangat menyesal, gue tidak akan pernah bisa melihat beliau sebagai mas Dwi Sasono lagi, tapi mas Adi :(

Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 18 April 2017

Malam panjang atau terakhir?

Minggu 9 April 2017


NIGHT BUS

Singkat cerita film ini mengisahkan perjalanan sekelompok massa menuju daerah rawan konflik. Dipercaya bahwa konflik antara warga dan aparat timbul dikarenakan adanya gerakan separatis di daerah Sampar. Namun apa benar sesederhana itu?

Gue pribadi menyukai ide cerita nya. Sederhana, namun banyak yang bisa terjadi dalam perjalanan satu malam. Pengangkatan isu konflik di suatu daerah juga merupakan poin spesial. Belum banyak yang menyoroti fenomena ini walau sebenarnya mungkin sudah banyak kejadian mengerikan di daerah merah yang tidak terekspos. Pada akhirnya semua harus paham bahwa tidak ada hal baik yang terjadi dari suatu perpecahan.

Sepanjang film gue berpikir "Jelek sekali bus ini ya". Mau bagaimana, penampilan bus ini memang dekil wk. Oke, itu tidak terlalu penting. Justru semakin memperlihatkan bahwa bus ini merupakan bus veteran yang sudah sering beroperasi hehe.

Pemeran favorit gue di film ini adalah yang menjadi kenek bus. Man, he is so natural. Lol. Benar-benar selayaknya abang-abang kenek. Centil selama ada kesempatan, konyol, jagoan, tempramental, gentle jugak, dan memiliki preferensi lagu melayu atau dangdut. Digoyang mang digoyang~ Ah satu lagi poin tambahan detail yang menurut gue bagus : abang kenek ini tidak bisa membaca. Terasa lebih nyata dan masuk akal. Terlebih, karakter abang kenek ini adalah karakter anak terlantar yang akhirnya diasuh oleh sang sopir. Melihat background kehidupannya yang hanya berkutat dengan bus dan trayek daerah pedesaan, wajar saja tak ada waktu belajar. Bertahan hidup hingga besok saja sudah bahagia. Jadi entah mengapa gue suka detail itu hehehe. Setelah abang kenek, gue akan mengambil peran om tio pakusadewo dan om toro margen sebagai peran yang gue suka. Mereka berdua sukses menjadi orang yang sangat menyebalkan. Sangat. Hahaha. Pada dasarnya masing-masing pemerannya udah oke kok. Anyway pemeran sang nenek dan cucunya cantik dua-duanya euy. Cantik elegan. Gue suka banget muka neneknya.Walau gue sempat agak kesel ke nenek ini di tengah-tengah karena agak sok fearless gitu. Ditembak aja nek. Duar. Berpisah nanti sama burung kakak tua nek. Huh. 

Oh, film ini didukung oleh CGI juga. Gue agak belum terbiasa menikmati suguhan CGI (ekstrem) di film Indonesia. Jadi agak terkaget sedikit. Ada beberapa adegan yang terasa sekali sentuhan CGI nya, ada juga yang lolos sensor. Jujur, gue masih menikmati film ini walau terkadang ada sentuhan CGI yang gue harapkan tidak perlu ada di dalam film itu wkwk. Lumayan tricky memang penerapan efek dalam film. Namun senang rasanya jika semakin banyak yang berani memainkan efek-efek lebih ekstrem lagi di film-film Indonesia berikutnya. Semoga semakin rapi, berkembang dan berjaya~ Yey~

Segi cerita.. Mengalir lembut seperti air jernih di pegunungan. Lumayan memerangkap gue di bangku bioskop sambil deg-degan membayangkan "Ya Allah, ada apa lagi abis ini? ADA APA LAGI?! DAMN!".  Begitulah, Ada satu pertanyaan "kenapa" yang belum terjawab dengan lugas sesungguhnya. Namun gue bisa sedikit berkompromi dan mengarang alasannya sendiri sehingga gue tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Gue pun suka cara pengantaran secarik pesan penting untuk yang dituju di Sampar. Ada elemen surprise nya, walau tidak sebanyak yang gue harapkan. Terpenting, pesan yang ingin diucapkan di film  ini berbobot. 

Buat gue ada dua yang utama : Satu, perpecahan tak pernah melahirkan solusi, yang terpenting adalah keamanan. Dua, setan tidak hanya berada di antara dua orang yang sedang dimabuk asmara, namun juga di antara dua kubu yang terlibat dalam pertikaian. Katakanlah, setan yang berwujud manusia. Sebut saja nama lainnya yang lebih komersil, provokator. Begitulah. 

Oh gue lupa, ada satu lagi pesan utama yang menjadi tagline film ini : conflict doesn't choose its victims.


Totally agree. Totally scary.

Ah salah satu hal yang bisa diperbaiki untuk peningkatan mutu berikutnya adalah : suara pemain. Ada beberapa adegan yang menenggelamkan suara pemainnya. Hilang, sirna, pudar. Bahkan, pada adegan-adegan genting, semisal percakapan antara pak sopir dan laki-laki misterius. Itu sungguh mengganggu. Gaya bicara pemain yang tersengal-sengal dilengkapi nada suara yang rendah menyempurnakan ketidak jelasan artikulasi dan kata-kata yang ia lafalkan. Modyar sudah penonton dengan taraf penangkapan suara tak terlampau tinggi seperti gue ini.

Buat kalian yang ngga terlalu suka melihat kekerasan, hm, mungkin nonton nya yang lain aja. Atau, nonton bareng temen kamu yang hobi melawak, biar jadi ngga serius-serius amat ehe ehe ehehe. Overall, it was an exciting movie. Oh, anyway, selamat datang pada tren film menggantung. Hahahaha.


Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. 

Jumat, 07 April 2017

Reviewku

Review ku ada lima, rupa-rupa genre nya~

Kebiasaan buruknya kambuh, menunda bikin tulisan. Haiyah. Saatnya ditulis, sebelum menumpuk jadi enam :')

Sabtu 21 Januari 2017

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

Film ini diangkat dari kisah nyata seorang Wiji Thukul, aktivis HAM sekaligus penyair, yang dituduh sebagai pemicu kerusuhan dan berakhir menjadi seorang buronan. Pada awalnya, gue berpikir kisah ini akan terlalu berat untuk gue. Namun berbekal rasa penasaran, gue tetap mencoba menonton film ini.

Gue sangat amat menikmati visual dari film ini. Detailnya pun membuat adegan demi adegan terasa alami. Sesungguhnya begitu banyak adegan hening dalam film ini, namun dengan scene-scene terperinci, semisal adegan kucing berjalan di gang, atau cipratan kubangan di jalanan, membuat film ini tidak serta merta mati. Benar-benar menggambarkan kesepian dari suatu pelarian sih. Benar-benar menjemukan, namun semua pengambilan gambarnya apik. Jadi ya efek menjemukannya itu terjadi karena memang pada kehidupan nyata, tidak ada pelarian yang seru, bukan? 

Pemainnya! Gue sangat suka semua pemainnya. Udah, itu aja.

Tolong jangan tanya berapa kali gue menguap dan menahan kantuk. Jangan tanya.

Yap here I am, penikmat cerita kompleks penuh drama dan misteri. Namun namanya hidup, kompleksnya kadang tak bisa dituang dalam dialog. Saking kompleksnya. And well im not used yet to this kind of movie. Fokus cerita ini (menurut gue) adalah bagaimana perjalanan sunyi sang Wiji Thukul selama menjadi buronan serta syair-syair yang menjadi buah pikirnya.

Anyway, di saat gue berusaha keras menahan kantuk, ternyata ada juga loh yang justru ketakutan sepanjang film ini. Kata temen gue "Takut ih, kalau tau-tau Wiji Thukul nya ketangkep!"

Wah, gue sangat kagum sama pendapat doi. Betapa sebuah karya seni itu emang luas dan bebas diinterpretasikan. Sepertinya teman gue ini sangat menghayati posisi pemeran utama sebagai buronan. Gue harus banyak belajar lagi untuk mendalami film sampai sebegitunya. Keren. Sungguh, menurut gue itu keren, ini bukan sarkasme #fyiaja

Ah, gue tidak tidur kok sepanjang film. Hanya berjuang menahan diri agar tidak jatuh tidur. Gue kembali segar tepat tiap Wiji Thukul melafalkan syair-syairnya. Gue bahkan mencatat sepotong-sepotong (dengan tertatih-tatih karena kecepatan pengetikan gue masih kalah saing dengan kecepatan pengucapan sang aktor). Sayang sekali gue kelewatan bagian beliau melantunkan syair nya di adegan pembuka film. Padahal gue paling suka syair yang awal itu.

Secara sederhana, gue menyukai syair yang disajikan plus segala detail visual yang dipampang. Namun memang gue belum terbiasa dengan tipe film seperti ini. Perlu penghayatan dalam, seperti teman gue itu misalkan, untuk benar-benar merasakan apa yang dialami sang buronan. Sekian :)


Kamis 9 Februari 2017

PERTARUHAN

Gue tertarik pada film ini karena konon digodok oleh tim yang sama-sama memproduksi film serigala terakhir. Sebenarnya gue ngga pernah nonton serigala terakhir sih haha Soalnya dulu kan ngga tertarik sama film. Sejauh yang gue dengar dari mulut ke mulut sih serigala terakhir adalah film yang lumayan keren. Pun saat gue membaca sedikit sinopsis dari film pertaruhan ini, sepertinya satu genre dengan serigala terakhir. Gue juga membayangkan (lebih tepatnya mengharapkan) akan ada adegan action di film ini. Pokoknya dengan segala alasan, akhirnya gue memutuskan untuk menonton Pertaruhan, walau sebelumnya tidak ada dalam rencana yang gue rancang.

Harus ada pengakuan di sini, pemeran empat bersaudaranya ganteng semua (walau gue sangat ingin klaim bahwa Aliando itu cantik sih). Bahkan pemeran ayahnya juga keren. Haha. Auk amat lah.

Akting mereka cukup dan pas sih. Namun oh namun, gue agak terganggu oleh detail plot ceritanya. Sejak awal hingga tengah cerita, gue masih merasakan vibes anak berandalan dan sekelumit kisah hidupnya. Plus, masih masuk akal. Hingga akhirnya plot masuk ke bagian inti cerita, eksekusi pencarian dana untuk pengobatan sang ayah : merampok bank. Ups, apakah itu spoiler? Yassalam, maafkan. Menurut gue, ini bagian penting yang harus dijaga di segala aspek, entah itu secara logika cerita, detail gerakan, ketegangan dan intrik haru yang berjalan sealami mungkin. Sayangnya film ini gagal menjaga itu semua. Menurut gue. Selain keheranan terhadap penjagaan bank yang sangat rendah di sore (atau siang) hari, adegan antara Aliando dan kereta bayi itu... sungguh memuakkan. Hahaha. Maafkan gue, sekali lagi. Bahkan gue belum mencurahkan semua keprotesan yang ada di dalam hati ini. Semoga gue tidak terdengar jahat ya sekarang. Aamiin.

Cuma kalau ditanya secara fair, gue suka sekali akting dan gaya mereka sebagai anak bebas malam. Benar-benar terlihat berandal. Khusus Aliando, ya terlihat seperti anak ABG si pemberontak bawel gitu lah. Lucu. Untuk anak keempatnya juga gue suka bagaimana dia mengekspresikan karakter anak baik yang ingin jadi bandel. Dan melalui film ini pun gue akhirnya mengetahui bahwa ada aktor Indonesia muda yang... ganteng sekali (note : dari sudut pandang seorang Dewi Emillia Bahry sahaja yha). Sekian. Wk.

let me introduce ya all : Jefri Nichol. Lol 

Selasa 28 Februari 2017

MK JAKARTA UNDERCOVER

Gue sudah lama menunggu film ini. Sebagai penonton Jakarta Undercover 2006 (atau 2007), keingin tahuan gue terhadap plot cerita Jakarta undercover yang baru ini tentu saja tinggi. Oh sekedar informasi, dulu gue nonton Jakarta Undercover di layar televisi kok, bukan bioskop hehe. Itu pun ngga sengaja nontonnya. "Lah kok seru", hingga akhirnya harus tidur telat. Wk.

Walau gue tidak sempurna mengingat plot cerita film yang versi dulu, gue ingat memori perasaan gue dulu, tegang-tegang seru begitu. Plotnya sangat menarik, buat gue di kala itu. Buat gue jaman sekarang juga masih seru sih. Saat gue melihat trailer Jakarta Undercover versi baru... sesungguhnya gue tidak berharap terlalu banyak. Gue tau bahwa plot ceritanya tidak akan seseru film yang gue lihat bertahun-tahun silam. Tetap saja, susah kalau sudah ingin tahu kan hehe. Apalagi kalau pemerannya Oka Antara. Saya mah bisa apa selain tergoda. Wk.


Mari kita mulai dari segi pemain. Ah, tolong beri sambutan meriah untuk Ganindra Bimo. Beliau memainkan peran lelaki kewanita-wanitaan dengan saaangat baik. YOU ROCK! Oka Antara ya tentu seperti biasa tampil memukau dan tampan. Baim wong terlihat tengil dan seenaknya sesuai karakternya, Pemain wanita utamanya juga oke. Semuanya oke. Oke sekali. Bahkan pemain orang gilanya saja oke wkwk


Kisah seorang jurnalistik yang membongkar fakta tentang dunia malam dan wanita malam yang berjuang untuk keluarganya. Klasik, tapi pasti banyak sekali kisah nyatanya. Gue suka bagaimana dunia malam coba digambarkan di film ini. Cinta, persahabatan, harta, tahta, wanita, keluarga, pengkhianatan. Campur semua jadi opor drama. Setelah sampai di akhir cerita, gue merasa banyak yang bisa disindir dari film ini. Banyak makna yang bisa diinterpretasikan. Terlalu... banyak. Dan ya, gue suka film yang menyerahkan pada penonton untuk menangkap sarkasme yang ada atau tidak haha.

"Lucu dengar kamu bicara tentang pengkhianatan. Kamu sendiri gimana? Kamu sedang mengkhianati istrimu sekarang" - Laura

Oh sayangnya, gue merasa.. ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab di film ini. Cukup penting dan membuat gue masih penasaran akan jawabannya. Boleh dibilang kekurangan di film ini adalah ada beberapa bagian yang tidak terlalu jelas apa yang terjadi. Ya, gue bisa sedikit berandai-andai sih, namun tetap saja, bagian itu cukup mengganjal. Dan beberapa bagian lain sengaja dibuat menggantung penyelesaiannya, hingga akhir. Film ini tidak memiliki ending yang memberi simpulan. Sepertinya tim sengaja melempar pada penonton untuk menentukan sendiri nasib kisah yang memang susah diberi akhirnya ini. Untuk kasus ini, entah mengapa gue merasa suka dan setuju. Gue merasa lebih realistis seperti ini. Walau mungkin mengesalkan untuk ditonton sebagai sebuah film haha


Oh by the way, adegan terakhir... gue ngga yakin apakah adegan terakhir film ini memang sengaja dibuat untuk lawakan atau bagaimana tapi gue tertawa sangat keras. Ngga ada adegan konyol kok di bagian ini. Ngga ada. Cuma....... cuma gimana ya hahahaha Kalau sudah nonton, in sya Allah mengerti :') Logat bicaranya Oka Antara itu loh :') Ya Rabbi, Mas, kamu kenapa? :')


"IYYHAAA SAMA. MAAF. EMANG SAMA. MHAAAF"

"KAAANGHEEEN"

Kira-kira begitulah. Ngga kebayang ya? Kasian. Hahahahaha. Seriously, this will become my forever jokes with my junior who also watched this movie :') Maafin aku, Mas Oka. Kamu jenaka sekali soalnya :') Tenang, tidak mengurangi kegagahan atau poin aktingmu yang luar biasa itu kok :') Hanya.. jenaka aja :')


*UPDATE 21 APRIL 2017

Gue baru tau suatu fakta hari ini dan gue tidak bisa diam begitu saja setelah mengetahuinya. Gue ingin menambahkan pernyataan. Ganindra bimo di sini aktingnya memang layak mendapat sambutan meriah. Namun, setelah mengetahui satu fakta ini, harus gue deklarasikan bahwa pemain juaranya adalah : Agus Kuncoro. Hormat jiwa raga pada mas Agus, Luar biasa! Idola!

Udah, gitu aja, Hahahaha.


Kamis 23 Maret 2017


BARACAS

Melalui film ini, gue semakin memaknai petuah untuk tidak berekspektasi terhadap manusia. Embel-embel 'film besutan Pidi Baiq' membuat gue tergiur dan terbujuk rayu dengan mudahnya. Plus, aktor kawakan di film genre komedi, Agus Ringgo, turut memeriahkan film Baracas ini. Gue sempat yakin bahwa gue tidak akan kecewa. Entah darimana keyakinan itu datang.

Kini gue tau, bahwa, gue hanya akan mengikuti surayah di jalur tulisan atau lagu band nya (anyway, tepat saat gue sedang nulis review ini, tepat banget saat nulis kalimat ini, lagu mymix youtube gue mendadak muterin lagu The Panas Dalam hahaha. What a perfect timing lel).

Komentar tentang film nya? Hm.

Gue tidak berani berkomentar apa-apa, gue takut kebablasan menjadi orang yang kejam. Mohon dimaklumi. Hehehe.

Kamis 30 Maret 2017

DANUR

Sebagai Shareefa Daanish fangirl, adalah sebuah kewajiban untuk menonton film ini wk. Oh sekilas curhat, gue tidak jadi nonton film ular tangga yang juga dibintangi Shareefa Daanish. Aku fans yang gagal *cry*

Lupakan saja bagian prolog di atas. Mari bahas film nya. Mari puji settingan rumah di film ini yang udah kayak hotel, banyak sekali kamarnya plus lorongnya. Pusing pala Hayati. Banyak ruangan buat menampung makhluk astralnya :"(

Dari segi cerita, apa ya, oke oke aja sih. Walau ngga ada elemen surprise yang spesial, cuma alurnya oke. Bagian tegangnya sih ya tiap kali gue lihat pemeran adik kecilnya itu lagi diasuh sama mbak Asih :') Bagian yang cukup penting dalam film hantu itu antara lain efek suara dan timing kemunculan hantunya ya. Dan menurut gue film Danur ini melaksanakan dua poin itu dengan cukup baik. Ah, ada satu momen kemunculan hantu yang menggelitik tawa, yaitu adegan hantu muncul di balik kaca jendela. Itu.. entah mengapa, ekspresinya... kurang tepat menurut gue. Satu aja kok satu. Ya kan kesempurnaan hanya milik Allah ya, saudara-saudara yang beriman.


Oh gue juga ingin memuji efek yang diupayakan dalam membedakan dunia nyata dan dunia astral. Jadi ada adegan dimana pemeran utama harus pergi ke dunia astral. Gue sempat bingung, kira-kira bakal kayak gimana bentuk dunia astral.. Dan ternyata tim produksi menyiasati dengan memberi efek warna (lampu?) hijau dan merah. Persis seperti efek di video clip zayn malik ft taylor swift yang I don't wanna live forever. Gue bahkan sempat terdistraksi dan membayangkan akan ada mas Zayn atau mbak Taylor yang nyanyi di pojok ruangan. Terlepas dari segala distraksi itu, gue entah mengapa suka dengan ide pemberian efek ini. Jadi setting nya tetap di rumah yang sama namun diberi pewarnaan untuk memberi kesan yang berbeda. Jempol :)


Ada tambahan catatan di luar review. Bukan berarti gue ngga suka Prilly Latuconsina loh ya, cuma gue merasa akan sangat bahagia jika Tatjana Saphira yang mengambil peran Risa. Hehehe. Gue merasa Tatjana bakal keren memainkan peran di film genre seperti ini. Terlebih, muka lembut pucatnya itu lebih serasi dipasangkan bersama genre horor atau misteri. Lebih... keluar inner beauty nya. Pendapat pribadi loh, ini benar-benar pendapat pribadi wk. Bahkan, gue berharap Tatjana Saphira bermain sebagai psikopat hahaha. Kalau lihat Tatjana, gue mendadak teringat sama arifin putra yang baru terlihat ketampanan hakiki nya saat dia memerankan peran psikopat di Rumah Dara haha. Begitu deh, mari kita hentikan sebelum menjadi terlalu ngawur hehe




Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.