Halaman

Senin, 02 Januari 2017

Desember ceria (part 2)

Minggu 25 Desember 2016


HANGOUT

Film besutan Raditya Dika ini pada awalnya tidak masuk dalam daftar film Indonesia yang akan gue tonton. Kenapa? Gue hanya jenuh dengan tema cerita yang biasa dibawa oleh Radit. Itu itu aja. Cinta lagi, cinta lagi. Makanya gue tidak terlalu tertarik saat mendengar kabar bahwa akan ada film baru yang diproduksi Radit. Namun takdir berkata lain. Saat gue menonton suatu film indonesia  di bioskop (yang gue lupa judulnya), trailer film hangout ada di sana dan berbicara pada gue "Dewi, aku bukan film Raditya Dika yang biasanya. Ayo, datang kepadaku". Kira-kira begitu hingga gue memasukkan hangout ke dalam daftar waiting list film Indonesia gue.

Cukup prolognya.

Sebelumnya, gue sempat melihat postingan di akun IG filmnasional terkait hangout dan beberapa netizen di kolom komentar mengatakan bahwa trailer film nya mengingatkan pada novel agata christie yang judulnya telah gue lupakan. Well, i don't really know about it and i don't give a damn. Ya, genre film ini adalah misteri. Terjadi pembunuhan misterius di antara sekelompok public figure yang tengah berada di pulau terpencil. Oh, jangan lupa, ada genre lainnya di film ini : komedi. Akting para pemeran di film ini cukup brilian. Seriusnya dapet, komedinya dapet. Eh, sebentar.... seriusnya kapan ya? Engga ada deh. Kalaupun ada mungkin hanya beberapa detik. Pokoknya akting mereka terlihat seperti alami. Hal yang menguntungkan dari film bergenre misteri komedi adalah... ya lo ngga perlu serius serius amat. Adegan atau gestur aneh apapun bisa dianggap "ya supaya lucu".  Pujian terbesar harus diberikan ke dinda kanyadewi sih. No doubt. Dia sangat menjijikkan. Btw, memang Dinda ini berperan sebagai seorang dinda yang jorok. She sticked to her role very well. Satu skenario yang sangat ingin gue setujui di dalam film ini, berasal dari surya saputra : "ah radit, lo mah kalau akting gitu-gitu aja, muka datar". Well yes, gue benar-benar lelah melihat muka Radit wkwk.

Berbicara soal plot cerita, alurnya lumayan halus. Komedinya bodoh sekali sih. Sepanjang menonton pembunuhan satu persatu yang terjadi, ada satu film yang langsung terlintas di pikiran gue : scary movie.  Bodohnya sama, sadisnya sama. Kesamaan kedua film ini adalah membuat adegan sadis menjadi hal yang bisa ditertawakan. Ew, kejam. Eh, gue tidak ingat banyak tertawa di film scary movie sih. Gue hanya merasa film itu aneh sekali dan humornya lebih sadis hahah. Cuma ya mereka sama-sama memasukkan unsur humor ke dalam adegan yang harusnya serius. Poin yang lebih unggul di film hangout adalah selera humornya mengayomi selera orang Indonesia, dan berhubung gue orang Indonesia, gue merasa hangout ini lebih jelas lucunya dibanding scary movie hehe. Untuk alur misterinya, hm....... boleh lah, walau ada beberapa celah yang (entah sengaja atau tidak sengaja) bisa memberi petunjuk pada penonton untuk menebak siapa pelakunya. 

Sebagai film komedi misteri yang (kayaknya) pertama di Indonesia, ini bisa menjadi awalan yang super oke kok. Gue merasa cukup terpuaskan dengan film ini. Gue sangat senang, akhirnya, ini film kedua nya Raditya Dika yang gue suka. Semoga banyak yang mengikuti jejak Radit dengan karya yang lebih wah lagi. Yuhu!


Rabu 28 Desember 2015


THE PROFESSIONALS

I LOVE YOU, THE PROFESSIONALS!

Omg is that too much for a prolog? lol

Gue memiliki ekspektasi yang cukup besar terhadap film ini. Dan hasilnya? Mereka tidak mengecewakan gue! Oh yay! We're so run out of indonesian movie with action genre, dude! This movie fulfilled our need perfectly! For sure. Kyaaaa! 

Fahri albar, arifin putra dan lukman sardi sudah cukup untuk menjadi surat jaminan tak tertulis bahwa film ini akan memiliki nyawa yang baik. Kisah ini, singkatnya, adalah kisah balas dendam sekelompok orang atas kecurangan yang dilakukan seorang pengusaha. Fahri albar, entah bagaimana, masih sangat terlihat keren walau ia punya kantong mata segede carrier. Fahri albar adalah pemimpin dari misi balas dendam ini. Anggota tim terdiri dari empat orang : ahli IT, petarung, si jenius pembuka brankas dan supir cantik. Lukman sardi berperan sebagai si jenius pembuka brankas. Ah, lukman sardi, i respect him so much as an actor. Ekspresi lukman sardi sangat sangat.. sangat menghibur (ekspresi dingin, tajam, bermakna dalam), terlebih saat bertemu dengan anggota tim lain yang jorok lol. Karakter petarung dimainkan oleh seorang (yang mukanya terlihat seperti) bule. Well, sesungguhnya sedikit terjadi inkonsistensi pada karakter petarung ini. Pada awalnya, karakter fahri albar mengatakan bahwa si petarung tidak bisa berbahasa indonesia, namun dalam banyak percakapan, saat lawan bicaranya menggunakan bahasa indonesia, dia mengerti, bahkan kadang membalas dengan bahasa indonesia juga, tanpa terlihat mengalami kesulitan. Well, bukan masalah besar sih, cuma ada baiknya untuk konsisten terhadap apapun pernyataan yang terlontar di dalam film. Berikutnya adalah pemeran ahli IT. Doi memiliki karakter yang... cukup jorok dan berantakan. Dia, secara tidak langsung, juga memegang peranan penting sebagai pewarna dalam film ini. Film ini jadi lebih hidup dan ceria, gitu deh. Auk amat wkwk. Bagaimana dengan si supir cantik? Well, sebuah misi besar tidak pernah lengkap tanpa bantuan dari wanita cantik bukan? Entah kapan, tapi kita pasti membutuhkannya. Gue sangat suka betapa hidupnya interaksi antar satu peran dengan peran lainnya. Harmonis~ Oh! Ada satu lagi pemeran penting yang membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat trailer film the professionals : ARIFIN PUTRA! He is so good for being a villain. I started to like him a bit since i watched his acting in rumah dara. Ibaratnya, inner beauty nya arifin putra ini sangat keluar saat dia berperan sebagai antagonis. Gue berharap untuk lebih sering melihat dia sebagai orang jahat di film-film masa depan. 


My favorite line from Arifin Putra : "Harus ada yang berkorban untuk kepentingan bersama. That's you" *grin*

So evil. rite? Oh... lovely!

Mari berbicara latar! Film aksi dan latar tempat menurut gue cukup berkaitan dan penting. Latar yang baik akan membawa mood film yang oke. Gue suka interior kantornya yang simple tapi pas sesuai yang dibutuhkan, dekorasi ruang brankasnya pun lumayan terasa sakral, markas fahri albar and the geng terlihat cozy dan berkelas (somehow), dan bahkan gue menikmati latar ruang toko lukman sardi yang sebenarnya hanya beberapa menit tampil di film ini wkwk. Secara visual, film ini memenuhi harapan gue. Gue sempat mengkhawatirkan terkait akting dan efek visual film ini sebenarnya, namun keraguan gue tak terbukti. Ihiy! They did a great job.

Secara cerita, sepertinya ini bukan cerita yang terlalu kompleks atau yang memiliki twist ending super cerdas. Bahkan mungkin, tema balas dendam bukan cerita yang baru lagi. Namun, ketahuilah, film ini memuaskan. Sangat. Gue jauh lebih menyukai film ini tentunya, dibanding headshot. Jenis action di film the professional ini adalah yang menggunakan otak, bukan otot. That's why it is more interesting. Selain itu, film ini tidak menyuguhkan ketegangan yang kaku, namun ketegangan yang berenergi dan dilingkupi humor yang ngga berlebihan. Humor elegan, kalau gue boleh beri nama. Oh efek suara di film ini juga menjadi pelengkap yang padu! Gue sangat menikmati padanan antara lagu klasik dan lukman sardi, wkwk gue ngakak sih pas adegan ini lebih tepatnya (hanya yang sudah menonton film ini yang mengerti).


Nah, setelah gue sudah memuji panjang lebar, izinkan gue membahas hal-hal lain yang bisa lebih disempurnakan.

Hal ini terkait volume suara saat Fahri Albar melakukan narasi perkenalan tokoh anggota tim. Suaranya agak tenggelam dengan suara background. Gue kurang mendengar jelas narasi nya sehingga agak skip mengenai latar belakang karakter si petarung. Entah crew film nya yang kurang menyeimbangkan antara volume suara fahri albar dengan background atau gue nya aja yang kurang  mampu mendengar dengan baik. wkwk

Terus ada lagi sih detail teknis yang ngga sengaja gue perhatikan dan cukup memberi pertanyaan. Sidik jari tangan kanan dan tangan kiri itu sebenarnya berbeda ngga sih? Well oke, segitu saja deh. Tidak perlu dibahas lebih lanjut. Anggap saja angin lalu~ #nggausahdibahasdariawaldongharusnyadew 

In simply, i really love this movie. Gue sangat berharap semakin banyak seniman indonesia yang mulai berani menggarap naskah film action lebih banyak lagi. Film action yang pakai otak tapi yah. Warga Indonesia sudah terlalu kenyang dengan kekerasan otot soalnya wkwk. 


Nah, sekian saja review kali ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.