Laman

Jumat, 25 November 2016

Malaikat juga tahu siapa yang bukan malaikat

Jumat 25 November 2016


RUMAH MALAIKAT

Pujian pertama, poster film ini menarik. Auranya sudah dibangun dengan baik melalui poster. Rumah malaikat terdengar mencurigakan sekaligus cukup mengundang untuk ditonton. Pujian kedua, pemilihan judulnya sangat indah. Kombinasi antara poster beraura penuh kejanggalan dengan judul film yang kontras membuat gue yakin "Pasti thriller. Gue akan menonton film ini". Gue sudah sebulat itu tekadnya walau belum membaca sinopsis ceritanya. Dan menunggu kedatangan film ini... kalau tidak salah, sudah sejak beberapa bulan belakangan. Itulah bagaimana poster dan judul film yang tepat bisa bekerja secara efektif dalam melakukan persuasi terhadap audiens. Sudah keliatan sok belum gue? Bagos. Wkwk.

Mari kita bahas segi pemainnya. Oh gue sangat suka ibu panti asuhannya. Aura elegan, berkelas dan otoriternya terpancar di balik gulungan rapi rambut, air wajah dan bahasa tubuhnya. Asisten sang ibu panti, sebaliknya memiliki aura dingin dan tegas yang mutlak dimiliki oleh kebanyakan karakter tangan kanan. Gue juga suka asisten ini, muka dinginnya minta dikasih jeruk sama air kelapa. Segar. Pada dasarnya, gue merasa semua pemain di film ini bermain dengan sangat baik. Bahkan di adegan berteriak yang biasanya sangat riskan pun terlalui dengan memuaskan. Anak-anak panti asuhannya juga bagus-bagus. Ada yang didesain lucu - dan sungguh benar lucu, ada pula yang didesain menyebalkan laksana bos bandit kecil - dan muka tengil sok berkuasanya mendukung. Jangan lupakan pemeran utama, kak Alex, mahasiswi yang menawarkan dirinya untuk menjadi pengasuh sementara di panti asuhan itu. Gue suka tiap gerakan perempuan ini. Memenuhi standar artis yang baik lah. Kayak apa tuh standar artis / aktor yang baik? Aktingnya membuat gue percaya #serahlodew. Satu lagi, karakter yang pasti paling lelah di antara pemain yang lain, Ario. Ario ini tukang kebun di panti asuhan tersebut dan memiliki keterbelakangan mental. Gue sangat menikmati bagaimana pemeran Ario ini mematah-matahkan gerakan kepalanya agar terlihat terbelakang. Menurut gue, setiap karakter di film ini telah dimasukkan ke dalam tubuh yang tepat.    

Mari beralih ke latar tempat. Pujian ke sekian kalinya, lokasi panti asuhan ini sangatlah apik. Desain panti asuhan yang klasik dan tua mendukung suasana tegang dalam film. Pintu dan jendela bergaya tua ala rumah belanda menumbuhkan kesan misterius lebih mendalam. So? Ya gue suka pemilihan latar tempatnya.

Sekarang kemana kita? Masuk ke cerita kah? Baik, silahkan masuk *buka pintu*

Billy christian (author and director of this movie) is insane. That's all. Thankyou. Good bye and see you #slapped

Bercanda... walau setengah serius. Gue suka bagaimana mas Billy ini menebar banyak tanda tanya dan menyiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang ada. Kekurangan beberapa film horor adalah saat begitu banyak tanya yang sudah beterbangan di dalam kepala, namun hanya segelintir yang terjawab. Itu menyebalkan. Bahkan suatu kejadian yang tadinya tidak gue jadikan sebuah "kenapa", ternyata memiliki "karena". He is that considerate. I'm so touched *sob* Gue rasa mas Billy ini penganut ideologi "ada aksi, ada reaksi" atau "tak ada asap, bila tak ada api". Gue juga ngga tau lagi ngomong apa, tapi biarkanlah gue begini. Film ini menjadi tegang karena ada ketidak beresan yang pasti terjadi tapi belum diketahui. Film ini berhasil membuat gue... terdiam... dan mual. Wkwkwk. Sebenarnya perasaan gue agak tidak bisa dideskripsikan. Ngga ada adegan menggelikan kok, gue cuma mual tanpa alasan aja. Lalu gue juga setuju bagaimana mas Billy menggambarkan roh penasaran di film ini. Tidak mengerikan sama sekali. Tidak perlu mengerikan, karena yang diperlukan hanya "kenapa". Dan, ya, gue menyukai film ini. Bahkan walau ending nya begitu, yang mana normalnya akan gue kritik, entah kenapa gue setuju saja. Gue bahkan sangat setuju ada satu adegan terakhir itu. Gue merasa itu adil. Walau.... tak bisa dipungkiri, scene itu aneh dan cenderung... konyol. Tidak, tapi entah mengapa gue membiarkan itu. Tapi... memang aneh. Tapi... gue membiarkannya. Tapi... #braceyourself #endlessmonologuewillcome Ide cerita ini brilian kok. Menyenangkan, apalagi untuk kamu pecinta 'kenapa'. Yuk ditonton! 



Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 21 November 2016

Keroyokan

Sabtu 10 September 2016

WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS (Part 1)

Film Warkop DKI punya kenangan tersendiri untuk gue dan mungkin sebagian dari kalian. Lantas saat wacana bahwa film ini akan kembali dibawakan oleh aktor muda, tentu saja gue antusias. Tak lama, sekumpulan nama pemain yang akan memerankan om Dono, Kasino dan Indro pun diumumkan. Mereka adalah abimana, vino g bastian dan tora sudiro.

First impression gue : Lah ganteng-ganteng amat 

Terkhusus, abimana sebagai dono. Gue sungguh tidak mampu melihat korelasi air wajah antara abimana dan om dono saat itu. Namun, gue masih memiliki keyakinan pada kru warkop reborn. Tak mungkin mereka sembarang memilih aktor tampan dan terkenal hanya untuk mendongkrak nilai jual film ini. Tidak mungkin. Hasilnya? Terbukti. Saat trailer film ini keluar, gue tidak melihat ada abimana di sana. Gue melihat sesosok om dono. Luar biasa. Aku mencintaimu setelah reza rahadian, abimana.

Tidak hanya abimana kok, vino dan tora sudiro menurut gue sudah memainkan porsi yang pas. Ada yang bilang "engga ah, pemainnya ngga mirip sama warkop DKI". Lah bro, saudara kembar asli aja ngga semuanya mutlak mirip. Apalagi mereka yang ngga punya hubungan darah apa-apa. Tetap, mereka bertiga menurut gue bisa membawa 'nyawa' nya om dono, kasino dan indro. Gue lumayan menikmati logat om kasino versi vino, menurut gue dia sudah sangat berusaha. Kalau tora sih sudah cukup menjiwai sebagai komedian ya wkwk  

Bagaimana dengan plot story nya?

Pertama, menghibur. Kedua, sangat kental dengan gaya warkop DKI jaman dulu. Tolong digaris bawahi : Sangat. Amat. Kental. Entah itu di bagian lelucon dewasanya, umpatannya, ke 'tidak masuk akalan' nya dan segala keanehannya. Sangat mirip. Bahkan sampai ke cara lompatan tiap potongan adegan nya. Benar-benar abstrak persis seperi warkop DKI jaman dulu. Maksudnya, dari scene A yang temanya X, bisa mendadak lompat ke scene B dengan tema Y. Cerita yang dimulai dari pemburuan tukang begal, bisa beralih menjadi kekacauan hingga akhirnya trio warkop dituntut ratusan juta (atau milyar? gue lupa) lalu berakhir dengan pencarian harta karun. See? Kamu bisa lihat betapa absurd dan liar nya aliran cerita nya kan? Nah! Sangat, sangat, sangat mirip dengan warkop DKI dahulu kala. Alur ceritanya selalu ngga masuk akal, namun kita menikmati aja gitu hahaha.

Kira-kira ini yang gue ucapkan saat film berlangsung "gila bener-bener warkop DKI"

Kalau kalian mengharapkan gaya cerita dan celetukan khas warkop DKI, kamu berada di film yang tepat. Selamaaaat~


Rabu 12 Oktober 2016

(photo is not available) 

CATATAN DODOL CALON DOKTER (CADO CADO)

Sebelum kalian bingung, film ini harusnya rilis tanggal 27 oktober 2016, namun kebetulan gue dapet tiket fans screening film ini berkat membeli sesuatu dari akun IG filmnasional. Begitulah kira-kira hingga akhirnya gue bisa menonton lebih dulu.

Gue suka tema cerita film ini sesungguhnya. Cerita sengsara di balik kehidupan menuju dokter itu pasti menarik untuk dikemas dalam sebuah film. Namun, sayangnya, film ini agaknya, kurang bernyawa. Film ini menggunakan metode narasi di awal dalam memperkenalkan tiap karakternya. Berdasar analisis gue, bagian perkenalan ini sepertinya ditujukan untuk part humor dengan karakter-karakter ajaib yang (harusnya) menggelitik. Dan gue tidak berpendapat mereka lucu. Begitu. Gue harap gue tidak terdengar kejam.

Gue selalu merasa terganggu pada film yang memiliki fokus terpecah dua antara cinta dan lainnya (misal pekerjaan, perjuangan atau apapun). Cenderung, bagian 'lainnya' suka tidak berhasil terpegang dengan baik. Well, dalam film ini sebenarnya tidak terlalu terpecah, namun... gue merasa ada bagian yang kosong. Hampa. Dari kacamata seorang Dewi, bagus atau tidaknya sebuah film ditentukan oleh seberapa yakin sang penonton pada akting para aktor. Kalau gue, gue merasa tidak yakin bahwa pemeran utamanya merasa sedih. Gue tidak merasa dia benar-benar akhirnya tau seperti apa itu jiwa seorang dokter. Endingnya lumayan menunjukkan 'naluri menolong' nya sih, namun agak terlambat hehehehehe.
  
Ah, satu lagi, terjadi suatu inkonsistensi pada cerita. Entahlah, atau lebih tepatnya sebuah misteri untuk gue. Ada salah seorang karakter perempuan, tidak menggunakan kerudung dan diultimatum sebagai karakter yang religius. Oke, agama ada banyak, berhubung tidak pakai kerudung, berarti doi bukan islam. Itu pikiran awal gue. Lalu apa? Jeng jeng jeng jeng. Pada ending cerita, entah bagaimana caranya semua karakter diupayakan memiliki pasangan. Harusnya gue ada di film itu wkwkwk. Nah, perempuan religius ini bertemu seseorang laki-laki (gue lupa ciri-cirinya apa, tapi setelah gue sekilas melihat, gue langsung yakin : 'oh islam') dan digambarkan kalau mereka saling malu-malu berdua karena merasa cocok, pasalnya mereka terlihat sama-sama religius. Gue lupa apa yang diucapkan dan gerak gerik sang cowok, namun gue yakin itu menggambarkan pria muslim, nah yang gue tidak mengerti, jika mereka digambarkan saling melempar sinyal merah muda, perempuan religius ini agamanya apa? :"D #SARAdetected #SARA(S)008 #krik


Rabu 19 Oktober 2016

WONDERFUL LIFE

Film ini bertema disleksia. Gue sangat bersemangat menonton ini. Dan gue tidak kecewa. Konflik cerita tidak terlalu berbelit dan sudah fokus pada kasus antara ibu dan anaknya. Gue suka. Simple tapi tetap bermakna. Walau alur 'tersadarnya' sang ibu terkesan agak cepat dan... kurang heart breaking, tapi gue cukup suka film ini. Dan tak perlu diragukan, atiqah hasiholan bermain dengan sangat cantik.

Film ini cerdas dalam mengedukasi para ibu yang memiliki anak 'spesial'. Kita tak pernah bisa memilih anak seperti apa yang akan kita dapat, dan apakah kita cukup siap untuk menerima anak kita apa adanya? Pertanyaan yang selalu berat untuk dibayangkan kaum ibu dan calon ibu.

Tak hanya itu, pandangan sempit mengenai kecerdasan maupun konflik antara dunia kerja dan pribadi juga disajikan dengan sangat indah. Bagaimanapun, ibu itu penting, ayah apalagi.

"Aqil itu ngga sakit pa.. Kita yang sakit!"

******************************************

Sekian review keroyokan kali ini. Mohon maaf atas segala kekurangannya dan terima kasih atas perhatiannya. Sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah swt. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh