Laman

Minggu, 18 September 2016

First time

Hal pertama yang terjadi padamu selalu spesial dan berkesan. Bukan serta merta hal kedua, ketiga dan seterusnya menjadi membosankan. Tidak. Itu tergantung pribadi masing-masing.

Kali ini, gue akan menceritakan dua hal pertama yang gue alami dan sangat berkesan karena dua-duanya merupakan hal yang sudah lama kepikiran untuk dilakukan. Semoga cerita kali ini ada hikmahnya wkwk Silahkan..

1. Bowling

Bowling adalah salah satu olahraga yang cukup fancy di mata gue . Entah karena biasanya cuma bisa gue lihat di layar kaca dan komik atau entah karena pemahaman gue mengenai 'fancy' sendiri masih terbatas. Kalau ditanya, seberapa penasaran kah gue dengan permainan ini, gue akan jawab : sangat amat penasaran. "Bagaimana bisa menggelindingkan bola dengan arah lurus terlihat susah sekali?" Itu yang awalnya gue pikirkan. Kalian pasti pernah lihat juga kan orang sedang bermain bowling di televisi, bola bowling nya sering melenceng ke arah tepi sehingga pin masih berdiri kokoh tak tersentuh. "Sesusah apa sih?". Begitulah. Rasa penasaran gue untuk hal-hal remeh begini boleh dibilang tinggi wkwk. 

Alhasil, gue merencanakan kegiatan bowling ini bersama Maria - si manusia terlucu sedunia. Sesuai saran beliau, gue juga mengikutsertakan liong dan ecu (Erik lucu) sebagai orang yang sudah terjun lebih dulu dalam permainan bowling ini agar gue dan maria punya penunjuk arah. Atas asas kesepakatan bersama, kami berempat memutuskan untuk bermain di arena jakarta bowling center, Pasar festival. Pasar festival ini bisa dan mudah ditempuh dengan menggunakan angkutan umum kok. Kebetulan gue menggunakan kereta commuter line dan memulai perjalanan dari stasiun UI dengan mengambil kereta jurusan bogor/depok - tanah abang - pasar senen- jatinegara. Next, nanti turun di stasiun sudirman lalu lanjut dengan naik transjakarta dari halte dukuh atas 2 menuju gor sumantri. Tepat di depan halte gor sumantri, di sanalah pasar festival berada~ Tada~

Bagaimana tempat bowlingnya? Oke kok. Berhubung gue juga ngga tau tempat bowling yang 'ngga oke' itu kayak gimana :p Kalau kata suatu website yang mengulas tempat-tempat bowling (salah satunya mengulas jakarta bowling center ini), harga per game nya adalah 20 ribu dan dihitung per orang. Namun, saat gue ke sana bersama teman sepermainan, kalau tidak salah mereka meminta 30 ribu rupiah per orang. Gue dalam hati agak bingung, lalu segera gue menepis keheranan gue dengan kalimat penuh aura positif "Oh mungkin 2016 udah naik". Namun, sekarang - iya detik ini banget pas gue nulis postingan ini - gue baru sadar kalau ternyata harga bowling di sana tetap 20 ribu per game. Lalu kemanakah 10 ribu nya? Ternyata 10 ribu itu harga sewa sepatunya wkwk. Waktu itu kita langsung disodorkan sepatu (dan sepertinya memang wajib menyewa) dan ngga sadar kalau biayanya udah langsung digabung sama biaya bowling. Ya begitu deh haha. Sepatunya nyaman kok. Beberapa detik pertama setelah gue melihat arena bowling secara keseluruhan, entah kenapa, gue mendadak berasa sedang di film boys before flower. Hahaha. Please, gue juga ngga tau kenapa.

Gue dan maria anteng mengikuti instruksi coach (read: kokoh) liong yang dengan lihai mengoperasikan komputer di arena. Liong pun memasukkan kode nama kita masing-masing sebelum bermain. Giliran permainan maupun skor dapat dilihat di layar tempat kita bermain. Lalu? Permainan dimulai! Fyi, satu game itu ternyata terdiri dari banyak set (sepuluh kalau engga salah) dan masing-masing orang melempar dua kali per setnya, jadi lumayan panjang juga mainnya. Gue pikir awalnya satu game itu cuma satu kali lempar bola, singkat bener kan di bayangan gue. Wkwk. Ah, ada bermacam ukuran bowling. Ada yang berat, ada yang ringan. Liong menyarankan ambil bola yang ringan untuk kami para wanita. Memang dasar gue anaknya ini mudah penasaran, gue coba menggunakan bola yang agak berat (di set gue yang keberapa gitu, lupa). Hasilnya, gue agak terhuyung saat melempar bola. Hahaha. Sok kuat sih. Ngga terhuyung banget sih, cuma gue jadi lebih fokus ke membawa bola nya dibanding mengarahkan lemparannya. So, pick the right ball yah, girls. "Didorong ke depan, pastikan arah dorongannya lurus", sabda coach liong. 

Surprisingly, i did a great job. Gue berhasil mengarahkan bola dengan lurus dan menjatuhkan pin-pin malang itu dengan indah. Karunia Allah swt. Fyi aja, gue menang (tipis) lawan liong loh hahahahaha. Dan tentu saja sebagai orang yang kompetitif, liong sangat tidak senang akan hal ini wkwk. Menjelang set-set penentu kemenangan, liong selalu berusaha mengganggu konsentrasi gue wkwk. Ah gemas sekali Anda. Eh by the way, gue sempat kecolongan set sebenarnya, ngga dapet poin sama sekali haha. Itu karena beberapa saat sempat terlintas di pikiran "wah mudah juga"... NAH ITU! SOMBONG! Pikiran yang mengerikan. Makanya anak muda, perbanyaklah merendahkan hati kalian, serendah-rendahnya. Namun tetap percaya diri. Percaya diri sama tinggi hati itu tipis, makanya hati-hati. Wkwk. Eh, kasus ini sepertinya ngga berlaku buat liong, dia mah harus sombong dulu biar menang. "Trik menjatuhkan mental lawan" katanya. Bodo amat lah yong.

Ini mungkin kali pertamanya gue mengalahkan liong dalam suatu hal. Hahaha. I was so happy. Sayangnya kemarin cuma bisa main satu game karena gue mengejar buka puasa di rumah (oh itu sedang bulan ramadhan btw), atau ibu gue akan mengomel hahaha. Eh untung deh, jadi liong ngga sempat balas dendam ke gue :p Aku mau main lagi~ Main yuk~

Gue masih punya daftar beberapa permainan yang ingin sekali gue mainkan, di antaranya, biliard dan golf. Hahaha. Kalau ada yang mau bantu merealisasikan, saya siap diajak pergi :p

 Liong (hitam putih), dewi (kerudung abu), maria (ngga pake kerudung) dan ecu (kaos hijau)

paska menang. girang bener dew.

 
"Eat whatever you want, and if anyone tries to lecture you about your weight,
eat them too"

Nemu tulisan ini di food court, lalu jatuh cinta pada kalimatnya. Pengen foto tapi ada tabung gas pemadam kebakaran menghalangi. Gue memohon liong sama ecu untuk mindahin tapi mereka ngga mau, malu katanya. Alhasil, ditutupin deh pake badan gue.

menunggu trans jakarta


'serangan pipi' plus 'kantung mata' at its best


2. Facial

Hahaha. Ini boleh dibilang adalah salah satu hal duniawi yang gue takuti. Buat sebagian dari kalian yang bilang "muka lo kan udah mulus dew, ngapain facial lagi?", itu menandakan kalau kalian belum terlalu memperhatikan muka gue dengan saksama. Atau, boleh jadi, paradigma 'muka mulus' kalian adalah sebatas "tidak ada jerawat". Gue beryukur karena gue memiliki tipe kulit wajah yang tidak mudah berjerwat - bukan sama sekali tidak pernah ya. Namun, kulit gue memang lumayan kooperatif dalam menghilangkan jerawat. Alhamdulillah. Masalah gue memang bukan seputar jerawat, namun seputar komedo di area muka rawan kotor, yaitu sekitar hidung. Kalau kata teman gue sih komedo gue itu memancarkan sinar (dalam arti negatif) ke seluruh penjuru dunia, mencolok banget. Baik hati memang teman gue ini dalam berkata-kata. Gue sadar kok sejak awal dan makin tersadarkan setelah teman gue ini hobi banget mengomentari komedo gue. Kenapa gue tidak pernah facial? Gue takut. Orang-orang bilang mencabut komedo itu sakit banget, gue jadi takut deh. Simple bukan? *nyengir*

Penanganan terbaik yang bisa gue lakukan adalah menggunakan biore porepack, walau ngga terlalu luar biasa hasilnya, namun gue senang melihat sedikit bulu komedo yang terangkat. Lagipula, sebenarnya gue memang punya ke khawatiran gue sendiri tentang praktik kecantikan kulit, takutnya kulit muka gue berubah setelah facial (dikira operasi plastik kali). Makanya, gue selalu menolak tiap ditawarkan pergi ke facial. "Nehi nehi aca aca" jawab gue cepat sambil menggeleng. "Nanti gue cari solusi alami" menambahkan lagi lalu kabur. Padahal, mencabut komedo kayak yang dilakukan saat facial juga cara alami (alami banget malah, dicabut kan). Wkwk. Gue ngga mengerti apa yang gue pikirkan saat itu. Mau bohong tuh ya yang lebih berkelas gitu.

Lalu bagaimana akhirnya gue bisa menyerah?

Semua dikarenakan petuah dari aniki yang baru-baru ini peduli akan kesehatan tubuh

Aniki : Kamu itu udah dikasih tipe kulit yang lumayan bagus, harusnya kamu rawat. Itu lihat komedo begitu, tanggung jawab kamu buat dibersihin lah.
Dewi : (diem)
Aniki : Pergi lah ke tempat facial. 
Dewi : (diem)
Aniki : Katanya kalau dibiarkan begitu terus, nanti kulit dewi jadi ada bercak-bercak hitam loh
Dewi : (mangap) Emang iya?!
Aniki : Iya, soalnya oksigen yang seharusnya masuk ke pori-pori kulit dewi terhalang sama kotoran (komedo) itu, jadinya kulit tidak mendapat oksigen yang semestinya diperoleh. Alhasil saat tua akan menghasilkan bercak hitam
Dewi : (muka sangat amat kaget) Ayo aniki anterin dewi ke tempat facial! Sekarang!

Wkwk se shock itu gue. Gue ngga tau sih itu teorinya benar apa engga, toh gue tidak mendalami ilmu itu. Cuma karena secara logika, gue menerima teori itu, gue jadi cemas. Akhirnya gue memberanikan diri gue untuk membasmi komedo ini. 

So, hari ini (18/9/16) adalah hari bersejarah untuk wajah gue, karena akhirnya gue memutuskan untuk melakukan facial setelah bertahun-tahun mengelak. Gue pergi ke tempat yang direkomendasikan teman aniki, yaitu Wijaya karya. Eh salah, Wijaya platinum skin care wkwk. Kebetulan, wijaya skin care memiliki cabang di margonda yang mana tak terlalu jauh dari rumah. Senangnya~

Awalnya, gue pikir dengan mengatakan "mau facial untuk menghilangkan komedo mbak" semuanya akan selesai. Ternyata, mbak resepsionis memberi jawaban yang membuat berpikir "semua jenis facial di sini memang akan menghilangkan komedo dulu awalnya mbak. Silahkan dipilih jenis spesifiknya". Gue bengong sambil melirik ke papan bertuliskan daftar belasan jenis facial. Pada akhirnya, mbak nya yang kasih rekomendasi sih, mungkin dia kasihan melihat gue kebingungan. Gue akhirnya memilih paket infuse organik facial dengan masker black sesame. Auk amat deh, yang penting ngusir komedo. Oh harga facial jenis ini Rp 139 ribu, siapa tau kalian mau nyoba. Enak kok. Enak-enak aja gue mah orangnya :p

Terus gimana sensasi cabut komedonya? Allahu akbar!

Benar kata orang-orang, memang sakit. Sangat sakit. Hahaha. Sakit woy mbak! Hahaha. Masih bisa ditahan kok sakitnya. Gue bertahan demi kesehatan muka gue. Sepadan kok sepadan. Itu teh otomatis keluar air mata loh. Gue ngga niat menangis, tapi kayak otomatis aja reaksi tubuh menghasilkan air mata. Deep down inside myself, my own body perhaps acknowledge this pain, so they give me tears lol. Setelah melewati masa pengangkatan komedo, relax banget kok karena dimanjakan oleh masker black sesame yang berwarna hitam pekat. Melihat masker ini diolesi ke wajah gue, gue merasa bagaikan seloyang kue coklat yang siap dipanggang. Yummy. Usai facial, gue mendapati muka gue bagaikan tomat, berwarna merah di spot tertentu. Lebih tepatnya, di spot yang ditekan habis-habisan selama facial. Udah agak mendingan lah hidungku. Kalau sebelumnya teh bagai 'sinar' yang terpancar ke seluruh penjuru dunia, ya sekarang mungkin se-jabodetabek aja wkwkwk .

M : Biasanya ada juga beberapa komedo yang susah diangkat mbak. Perlu pake metode *piiip* (gue lupa mbak nya nyebut apa).
D : *Piiip* ? Apa itu mbak?
M : Dibakar gitu mbak. Kalau metode itu, perlu diberi anestesi dulu
D : (mangap) (mendadak langsung membayangkan tikus percobaan yang dipakai di laboratorium)

Seram sekali. Hiy.

Oh gue punya tips untuk mengalihkan rasa sakit saat sedang dicabuti komedonya hehehe. Gue melakukannya tadi dan berhasil menstimulus perasaan gue menjadi lebih baik. Caranya? Mudah. Siapkan gadget kesayangan beserta headset. Pastikan smartphone mu memiliki aplikasi radio atau setidaknya memiliki sejumlah file musik yang siap diputar saat prosesi pencabutan komedo. Intinya, gue mendengarkan musik selama pencabutan agar lebih tenang.

Audiens : yaelah bro! kirain apa! Itu mah gausah siapin headset, pasti mereka (klinik kecantikan) juga udah nyetelin musik lah buat para pelanggannya

Dewi : O o o.. kamu terlalu cepat nge judge anak muda. Saya belum selesai berbicara.

Yang membuat metode gue berbeda adalah, gue mengubah-ubah volume suaranya. Saat gue merasa semakin sakit, gue mengeraskan volume suaranya dari pelan menjadi agak keras, semakin keras hingga sangat keras, tergantung kebutuhan. Berkat volume suara yang meninggi, otak gue berhasil terdistraksi sehingga tidak hanya terfokus pada rasa sakitnya. Gitu deh. Lumayan, oh, bahkan sangat membantu menurut gue. Gue saaaangat merasa terlampiaskan rasa sakitnya oleh volume musik yang meninggi itu. Ibaratnya, berhubung gue ngga bisa teriak, biarkanlah penyanyi itu yang berteriak menggantikan gue. Wkwk.


Sekian ceritanya. Semoga bisa menemukan banyak 'hal pertama' lainnya. Dan semoga berikutnya, itu bersama kamu #usahakeras


Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

2 komentar:

MACU mengatakan...

Ada akoooooh wkwkwk
Iya. facial emang sesakit itu hiks

Ari Fauzi Sabani mengatakan...

baca2 balada bibiku yang satu ini kayak lagi makan marshmallow