Halaman

Kamis, 25 Agustus 2016

Terlucu

Assalamu'alaikum. Selamat malam. Malam yang hangat dan menggembirakan untuk kalian semua, gue doakan. Aamiin.

Kalian mungkin ngga tau, makanya akan gue beritahu. Ternyata, postingan di blog ini sudah mencapai 202 buah. Walau kata 'buah' itu tidak terdengar tepat, tapi  biarkanlah dia bertengger di sana. Toh, kita sama-sama mengerti maksudnya. 

Baik, kuulangi ya. Postingan gue sudah mencapai 202 buah. Jeng jeng jeng jeng. Belum sampai di situ, blog ini ternyata sudah berumur 7 tahun lebih beberapa bulan. Sudah harus masuk ke sekolah dasar, tapi ibunya belum ada uang buat nyekolahin. Maaf ya nak.

Setelah dilihat-lihat, kok postingan dari dulu ngga ada yang penting ya. Herannya, ada viewer nya. Bahkan ada postingan yang view nya ratusan atau ribuan, tapi isinya.............. bahkan gue yang nulis aja merasa udah buang-buang waktu buat baca ulang. Dari situ, gue yakin, jumlah view yang banyak itu, 99 % kemungkinannya karena banyak pengunjung naas yang nyasar ke blog ini berkat keyword googling yang kurang spesifik. Kasian mereka. 

***************

Anyway, hal-hal di atas itu ngga ada hubungannya sama yang akan gue posting lol 

Berhubung sudah lama gue tidak menceritakan tentang orang terdekat maupun kisah gue, kali ini gue mau menceritakan satu sosok yang cukup berharga di tahun-tahun terakhir perkuliahan, oh tenang, sampai sekarang juga masih berharga kok. Ngga tau kalau besok wkwk.

Siapakah orang terhormat yang akan gue ceritakan malam ini?

Petunjuk : Manusia paling lucu di galaksi bima sakti

Kalian tidak bisa menebaknya? Wajar. Karena julukan itu hanyalah self-claim yang disepakati oleh kami berdua saja. 

MARIA PUTRI ANUGERAH

Gue harap gue sudah menulis namanya dengan benar. Baiklah, izinkan gue memulai cerita ini dengan memperkenalkan dua misi dunia yang kami emban. Maria mengemban amanah sebagai makhluk paling lucu, sedangkan gue dipercaya untuk menjadi makhluk paling mempesona. Bukan hal yang mudah untuk mengemban misi ini, namun kami berusaha yang terbaik kok. Mohon dukungannya ya.

Macu (maria lucu) dan Dena (dewi mempesona)

Itu ceritanya mau ngebunuh

Jauh sebelum gue bertemu langsung dan dihadapkan pada kenyataan, beliau (maria) termasuk salah satu sosok yang saya kagumi. Maria ini satu dari banyak anak ITP yang jago mengajari anak-anak lain. Namun dia adalah guru favorit gue. Segala hal yang keluar dari mulutnya selalu terdengar jelas dan lugas. Kemampuannya dalam menjelaskan pelajaran bukanlah hal yang perlu diragukan lagi. Kebetulan, ibunya juga adalah salah seorang dosen di kampus kami. Namun dia terlihat keren bukan karena dia anak dosen, tapi ya karena kelihaiannya sendiri. Dia diam-diam sudah menjelma sebagai sosok dosen di mata gue. Terlebih lagi, gaya bicara dan bersosialisasinya pun terlihat secukupnya, elegan dan dewasa. Oh tak lupa, nama dia sering hadir di daftar anggota untuk kompetisi karya ilmiah. Dan menang, tentu saja. Berdasar deskripsi yang sudah gue sebutkan, gue rasa bukan hal yang aneh jika gue memberi nilai dan ekspektasi cukup tinggi pada manusia ini, bukan?

Jawaban yang benar : bukan. Wkwkwk.

Setelah satu tahun bergelut dengan kaleng bersama maria, satu hal yang gue yakini : dia ngga ada elegan-elegannya. Hahahaha. Kalau kata maria, "Untunglah kita dipertemukan pas penelitian ini, jadi lo tidak tertipu seumur hidup oleh image elegan gue". 

Untungya, bagian image 'pintar menjelaskan' nya masih utuh dan tak kurang suatu apapun. Dia sangat menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dari yang bisa gue bayangkan. Dan dia juga mudah dibodoh-bodohi. Itulah mengapa dia jadi menyenangkan. Gue sudah cukup berpengalaman punya teman yang 'jenaka', namun gue masih bisa merasa terkejut dengan segala kebodohan yang maria suguhkan. Perempuan ini benar-benar luar biasa. Orang-orang yang selama ini menjadi sahabatnya, sebut saja Neta, adalah orang yang lebih luar biasa lagi karena bisa bertahan dengannya selama bertahun-tahun. Wkwkwk.

Terlepas dari kenyataan bahwa dia tidak se-elegan yang gue pikirkan, tapi gue benar tentang dia sosok yang layak untuk dikagumi. Beliau punya pandangan yang menurut gue patut diteladani : tidak pernah memikirkan orang lain. Hahaha. Jangan diartikan dari sisi negatifnya ya. Maksudnya adalah, dia bisa membatasi pikirannya untuk hal dari orang lain yang memang penting dengan hal yang hanya membuang-buang waktu untuk dipikirkan. Itulah mengapa hidupnya terasa lebih ringan, di mata gue. Dan itulah juga mengapa dia sering ketinggalan berita terkini (read : gosip yang tidak bermanfaat) di lingkungan sekitar.

Gambaran singkat Maria : gemar membaca buku, suka warna pink, merupakan makhluk terlucu sehingga dijuluki macu (maria lucu), sering mengikuti lomba ternyata semata-mata karena diajak dan tidak enak untuk menolak, suka dugong, mencintai jason mraz, tidak suka es krim, mengikat janji setia pada coklat pahit serta sushi, punya selera lagu ala disney yang kebanyakan nada-nada lagunya lebih tinggi dari monas, aktivis DDR, suka pria kaya (lol), sedang sibuk membangun restoran ternamanya untuk mendapat michelin star (game tentu saja), tidak suka hal yang merepotkan dan lebih mudah mengajaknya ikut proyek penelitian daripada menikah. Saat ini sih. Wkwkwk.

Kalimat bijak beliau yang sangat berkesan buat gue adalah "Kerjakan satu-satu, Dewi"

Udah, itu aja. Singkat tapi mujarab. Kalimat itu selalu terngiang hingga sekarang, tiap kali gue mau melakukan suatu pekerjaan yang 'terasa' banyak. 

Maria adalah tipe si dia yang sudah banyak baca jurnal dan membuat pembahasan super jelas, namun masih merasa serba kurang dan panik. Beruntung, gue masih bisa stay cool dan ngga ketularan panik. Padahal, kalau dibandingkan, harusnya gue yang merasa serba kurang. Begitulah. Kalau maria panik, maka sudah menjadi tugas gue untuk menenangkan. Kalau dewi sudah merasa lelah, maka sudah menjadi tugas maria untuk mengingatkan bahwa ini akan selesai, satu per satu. Gue sangat bersyukur bisa bertemu orang ini di akhir masa kuliah. Lumayanlah, menambah deretan panjang 'orang-orang jenaka' yang gue punya.

Apa gue pernah kesel sama Maria? Gimana ya jawabnya...

Belum lama ini, gue dan doi berencana bertemu di kampus untuk sebuah urusan. Lokasi yang kita sepakati awalnya adalah bread unit, di daerah fakultas gue. Berhubung gue tiba terlalu cepat, gue pun membelok ke area fakultas pertanian, tepatnya media centre, Gue beritahu lah Maria ini kalau gue ngga mau ke daerah fakultas sendirian, makanya gue menunggu di media centre aja. "Oke" kata Maria. Sembari menunggu, gue pun melahap lumpia basah dan kentang goreng favorit gue yang udah dibeli di bara. Setelah dua makanan itu menjadi korban, Maria ternyata belum sampai. Alhasil, gue membaca suatu bacaan yang memang sengaja gue bawa dari rumah, persiapan kalau gue ngga ada kerjaan. Waktu terus bergulir dan gue sesekali melirik jam kemudian mengintip whatsapp, memastikan bahwa belum ada pesan masuk dari Maria. Gue menunggu cukup lama. Tak lama kemudian, pesan dari Maria masuk.

"Dewi, sudah ambil fotokopian ijazah yang dilegalisir belum?"

"Belum, kan masih di media centre ini"

"Oh, gue udah di depan TU fateta nih. Ayo ke sini"

"......................... apa? (dalam hati) "

Kalau ada rekamannya, gue yakin mata gue melotot sempurna saat baca pesan maria yang terakhir. Antara mau kesel, tapi berusaha berpikiran positif "Ohiya, maria ngga ada janji mau nyamperin ke media centre ya. Cuma oke oke aja. Mungkin dari BNI, maria langsung jalan lewat arah GWW, jadi langsung ke fateta dan ngga lewat media centre. Mungkin begitu ya. Sabar, wi. Sabar". Udah tuh, gue udah ikhlas. Akhirnya gue samperin lah beliau ini ke TU. Gue lupa gue ngomong apa ke Maria, sepertinya gue berkomentar tentang keberadaan dia yang tau-tau udah di fakultas aja. Kemudian dia mengatakan hal yang mencengangkan..

Maria : "Oh iya, ai sebenernya tadi lewat media centre, dan ai liat yu kok. Cuma, yu terlihat sedang sibuk membaca, jadi, ya ai pergi duluan aja deh. Hehehehehe" 

Dewi : .........................................................................................

"GUE NGGA BISA MAAFIN LU KALI INI. BODO AMAT. GILA LU" kurang lebih itu yang gue ucapkan ke dia dengan tidak serius tentunya (atau setengah serius? lol) lalu segera pergi ke mushalla karena belum shalat. Dan dia? Dia cuma ketawa sambil minta maaf, yang gue sangat yakin kalau dia ngga tau bahwa apa yang dia lakukan itu menyebalkan wkwkwk.

Gue merasa pahit sih beberapa detik, namun di detik berikutnya, gue sadar, "Itu Maria dew. Wajar aja. Terima apa adanya udah". 

Itulah maria, pola pikirnya ngga bisa diikuti manusia biasa. Gue.. jelas-jelas nungguin dia. Lalu dia akhirnya meninggalkan gue, karena melihat gue sedang sibuk membaca, dan tidak mau mengganggu. Kurang malaikat apalagi coba teman gue ini? Yang jelas, gue seperti tidak bisa marah, karena gue tau, dia tidak bermaksud untuk jadi menyebalkan dengan sengaja. Karena dia memang seaneh itu, sampai pada akhirnya yang gue bisa lakukan cuma geleng-geleng kepala dan urut dada. Jadi ya, kalau ada laki-laki yang ingin pedekate sama dia, pastikan semua tindakanmu itu jelas, lugas dan tidak bermakna ganda ya. Takutnya nanti dia malah mikir kamu pedekate sama orang lain :')

Sayangnya, gue sudah terlalu terbiasa dengan makhluk ini, sehingga gue menikmati apapun roller coaster hidup yang ia tawarkan. Mau semanja dan se annoying apapun doi, gue tetap bahagia bersamanya. Setidaknya gue bisa membalasnya dengan jadi annoying juga, kan. Mata dibalas mata, bung. Mungkin suatu saat, gue akan kolaborasi bersama Neta untuk merencanakan rencana penyiksaan Maria yang rapi dan terorganisir. Hahaha. I love her. No doubt.
Saat dewi sidang

Saat maria sidang

Niatnya mau ala pose yoga yang kekinian, eh malah kayak pocong

Saat kami wisuda : 27 Juli 2016


1 komentar:

MACU mengatakan...

This is the second time, I write this comment. -_-
I think in the last one I forgot to do the Captcha

This post is so TOUCHIIIIIING
I'll write a post about you, just waaaaaaiiiit~~~
Oh! And I didn't realize that was annoying
Sowwyy XD