Laman

Senin, 08 Agustus 2016

Hujan di bulan Agustus

Hujan di pagi hari, entah bagaimana selalu memberi rasa bahagia yang berbeda
Entah karena akhirnya aku bisa bangun pagi
Atau entah karena hujan itu sendiri

Bukan, ini bukan puisi. Apalagi prosa.
Karena aku tak pernah tau apa beda keduanya hingga detik ini.
Dan kebetulan belum terlalu ingin tau.

Hujan di pagi hari, tentu bukan teman yang baik bagi para pejuang pagi
Dengan arena perang dan tingkat kesulitannya masing-masing, masih perlu ditambah oleh serangan air lagi? Duh.
Namun entah bagaimana, selalu ada saja cara untuk menikmati ribuan tetes dari langit itu

Hujan di pagi hari, melenakan sekaligus menyulitkan
Melelapkan yang ingin atau tak ingin terlelap
Melambatkan bagi yang ingin atau tak ingin terlambat

Hujan di pagi hari, satu dari banyak alasanku untuk menunda makan pagi lebih lama lagi
Hujan di pagi hari, satu dari banyak ide yang membuatku berlama di depan layar
Hujan di pagi hari, satu dari banyak tamengku untuk seolah-olah terizinkan menjadi melankolis

Aku menyukai hujan di pagi hari 
Walau kita belum tentu cepat bertemu
Dan walau kita belum tentu saling ada

Terlebih,

Hujan pagi hari itu seperti kamu dan segala urusanmu
Aku tak pernah benar-benar menunggu
Namun saat kamu datang, percayalah, yang kurasakan bukanlah perasaan senang yang tanggung

Hujan pagi hari itu seperti kamu dan segala urusanmu
Aku tak pernah benar-benar rela kehilangan
Namun saat kamu pergi, aku tak ada pilihan lain selain mengikhlaskan dengan tulus yang tak setengah

Lalu siap kembali senang saat kamu datang berikutnya. Tentu, jika kamu ingin datang. Dan ingat, aku tak pernah benar-benar menunggu.

Hujannya sudah mau selesai, dan perutku sudah tidak terima alasan. Kalau begitu, sampai bertemu lagi, hujan.





Tertanda,



Penikmatmu

Tidak ada komentar: