Laman

Rabu, 10 Agustus 2016

Atas nama Indonesia

Minggu 17 Juli 2016



RUDY HABIBIE

Hai. Kali ini gue menonton sekuel kedua dari film ainun habibie, yaitu rudy habibie. Film ini mengisahkan perjalanan pak habibie sejak kecil hingga petualangannya di negeri orang. Kalau boleh jujur, gue tidak tau apa ini subjektif atau tidak, cuma, gue merasa hampir semua akting nya reza rahadian di berbagai film itu bagus terus, jadi gue merasa terpuaskan dengan film ini. Cerita kali ini fokus tentang perjuangan dan idealisme pak habibie untuk Indonesia dengan sedikit bumbu asmara. Gue sih merasa tersentil pas nonton film ini. Gue cukup merasakan pesan perjuangan demi Indonesianya yang (tentunya) ingin disampaikan para kru dan pemain film. Latar, pemain, efek suaranya, pas semua. Ada satu hal yang membuat gue penasaran sesungguhnya. Ada beberapa adegan di film ini yang sebenarnya sama dengan adegan di film sebelumnya (Habibie dan Ainun). Gue ambil contoh : adegan saat teman-teman mengolok-olok habibie kecil dengan ainun.  Di film pertamanya, gue suka pemeran Habibie maupun Ainun kecilnya. Entah mengapa terasa cocok. Eh, tau-tau, di film Rudy Habibie ini, adegan yang sama persis itu justru direkam ulang lagi, dengan pemain yang berbeda total. Pak habibie kecil dimainkan oleh salah satu (atau mantan) anggota coboy junior dan Ainun kecil dimainkan oleh perempuan asing lainnya yang menurut gue kurang 'klik' gitu.

Pertanyaan besar gue : Kenapa ngga pakai aja bagian rekaman dari film sebelumnya? Memangnya dilarang ya?

Aneh aja, karena jadi beda-beda gitu pemerannya. Agak merusak memori dari film sekuel sebelumnya. Secara pribadi, gue suka film Rudy Habibie ini. Lumayan basah sedikit lah tepi mata gue. Bohong. Ngga sedikit deh wkwk. Gue baper banget sih nonton film ini, soalnya terlalu imajinatif ngebayanginnya "Ya ampun gue belum bisa kontribusi apa-apa. Dan belum tau mau apa. Ngga kayak pak habibie". Yak malah tjurhat. Hahaha. Menurut gue, film-film kayak gini cocok dijejelin ke otak-otak para remaja atau pelajar. Supaya semangat gitu, atau minimal jadi malu dan introspeksi diri. Gitu deh.

Pertanyaan besar teman gue : Kalau menurut lo, misalkan kita nonton film ini pas jaman-jaman kita kuliah atau masih sekolah, apa lantas kita beneran akan semangat belajar? Apa bener kita akan terpacu? Bukan hanya ingat sehari lalu lupa kemudian?

You answer it yourself. Ha-ha-ha.

*anyway, setelah film selesai, jangan langsung pulang, ada kejutan singkat di akhir film

***************

Selasa 9 Agustus 2016


3 SRIKANDI

Another reza rahadian's work! Hahaha. Banyak unsur yang memicu timbulnya penilaian subjektif dari gue disini. Pertama, gue suka olahraga panahan. Kedua, sinopsis cerita 3 srikandi ini masih satu warna dengan alur cerita Chak de! India yang diperankan oleh shah rukh khan. Bedanya, pada film Chak de! India, olahraga yang dikisahkan adalah hockey putri. Dan, gue merasa film india yang satu ini lumayan memicu semangat perjuangan untuk negara di bidang olahraga. Dan (lagi), gue selalu mengagumi atlet (walau tak pernah mengikuti update cabang olahraga manapun), maka dari itu, gue lumayan tertarik tentang kisah perjuangan olahragawan. Begitulah. In simply, I truthfully expected quite high toward this movie haha.

Bagaimanakah realitanya? Jeng jeng jeng jeng...

Segi pemain? Oke. Film ini cari aman dengan mengambil aktris-aktor yang sudah cukup kenamaan dengan skill akting yang mumpuni. Walau sebenarnya gue agak bosan karena pemain-pemain 3 srikandi ini kerap tampil  di beberapa film Indonesia yang tayang pada tahun ini. Haha. Kalau mau ngomongin akting, menurut gue yang agak kurang nendang di bagian peran pendukungnya. Alhasil, adegan seorang ayah yang marah pada putrinya sambil merendahkan profesi atlet sekaligus mengagung-agungkan PNS nya jadi kurang bikin kesel dan kurang dramatis. Ibarat, kayak mau nonjok, tapi belum kesentuh sama sekali ini gue nya. Terus ada beberapa pemeran pendukung lain yang kadang kurang nyatu aja sedikit. Untuk pemain utamanya, sayang sekali, gue sangat subjektif pada reza rahadian sehingga menurut gue dia selalu sempurna. HAHAHA! Bcl sendiri memerankan peran Yana yang merupakan sosok perempuan jakarta mandiri dan dewasa. Dan ia memainkan porsinya dengan pas.  Tara basro? Cantik banget ya. Cantiknya beda gitu #salahfokus Gaya cool nya oke sekali. Top lah. Nah terakhir, chelsea islan. Perannya cukup menarik karena doi tampil dengan logat medok. Gue ngga paham sama bahasa jawa, tapi gue melihat dia tampil sangat oke pake bahasa jawa. Bagus! :) Karakter doi di film ini cukup memekakkan telinga karena bawel. Untung cantik haha Secara keseluruhan akting chelsea sama kerennya dengan tiga bintang lainnya. Namun oh namun, ada kurang lebih dua adegan dari Chelsea yang ngga sreg di gue. Sekedar mengingatkan, kalimat setelah ini boleh jadi agak nyerempet (atau memang) spoiler. Adegan teriak oleh Lilies (Chelsea) paska mendengar berita mengenai orang tuanya teh kurang alami. Memang agak susah di bagian ini, karena tumpang tindih dengan adegan lainnya. Cuma, ya itulah seni nya film, bagaimana kita mengemas tiap adegan sealami mungkin, tak peduli apapun tantangannya hehe. Dan menurut gue, yang kali ini, kurang mantap. Hehehehehe. Adegan kedua yang tidak gue suka dari Chelsea sebenarnya bukan karena aktingnya, namun karena naskahnya. Mohon maaf sekali lagi, ini spoiler. Gue hanya gregetan soalnya membayangkan bagaimana mungkin saat ibu kita sedang sekarat di rumah sakit, hal yang terpikir adalah meminta beliau menyetujui hubungan kita dengan seorang pria. I mean, "Heeeeeeeey your mom is facing her hardest time, and what?! you have the time to talk that crap now? Are you using the moment to insist her? God, forgive this child"

Iya sih, si Lilies (peran chelsea islan) ini tidak langsung serta merta bilang "bu izinin saya sama Denny ya bu". Doi mengawalinya dengan manis "ibu, maafin Lilies karena selalu ngecewain ibu, tapi sekali ini aja bu, sekali ini aja, restui hubungan Lilies sama Denny. Lilies akan bikin ibu bangga. Lilies janji akan bawa pulang medali". Lalu ibunya senyum mengangguk. Cuma..... kenapa sih lu harus ngomongin restu di saat kayak gitu? Bukannya "ibu harus kuat, jangan tinggalin Lilies. Lilies pengen ibu lihat Lilies mengangkat medali itu, untuk Indonesia, untuk ibu. Lilies pengen banggain ibu". Terus kalau mau mempertegas restu, mbok ya ibunya sendiri gitu yang sukarela ngomong ke Denny nya "Nak Denny, ibu titip Lilies ya". Atau, jika ga sanggup ngomong, ya gunakan bahasa tubuh lah, letakkan tangan denny ke tangan Lilies. NAH! Kan kalau begitu lebih menggigit dan beretika. Me-nu-rut-gu-e-ya. He-he-he-he.

Maafin ya spoiler abis. Soalnya kesel, gue nya jadi ngga sedih di bagian itu. Huft.


Nah sekarang dari segi cerita, secara pribadi gue suka tema perjuangan para atlet, so, menurut gue film ini sangat menghibur. Pada film 3 srikandi ini, tak hanya olahraga yang difokuskan, namun juga tentang asmara, keluarga dan pilihan hidup. Walau, mohon maaf, gue merasa kisah olahraga dan asmara nya itu porsinya 1 : 1. Ha-ha-ha-ha. Tentang keluarganya sih agak tertutup awan gelap ya. Kalau tentang pilihan hidup nya teh udah masuk ke kisah olahraga lah. Gue baru tau di akhir film kalau ternyata 3 srikandi ini berdasar kisah nyata ya. Mungkin karena itu juga cerita dan masalah di film ini tidak terlalu kompleks.

Di sisi lain, film chak de! India yang punya genre serupa memiliki kompleksitas cerita yang lebih mantap. Pergelutan antara cinta negara, kekuatan perempuan yang disepelekan, kekompakan tim, rasa saling percaya, ego para juara masing-masing daerah serta karakter pemain yang saling melengkapi.   

Sebenarnya sebuah cerita tidak perlu kompleks, asalkan digarapnya pas dan ada punch line nya. Timing super pas, naskah padat namun bermakna dan dengan adegan yang efektif menonjok emosi para penonton gitu deh. Gue merasa, emosi gue agak dimainkan cuma saat di akhir film, yaitu saat pertandingan panahannya sendiri. Akhir film nya itu oke banget kok, efek manah nya mantap. Hahaha.

By the way, sepertinya film indonesia sekarang mulai mengarah ke tipe drama musikal ya.. Sok tau sih gue. Cuma, mengingat film surat dari praha, my stupid boss, lalu sekarang 3 srikandi yang memasukkan unsur musik dan sedikit tarian di dalamnya, sekiranya gue berpikir barangkali film kita akan memasuki tren ke arah sana. Terlebih, film 'ini kisah tiga dara' yang akan tayang nanti konon digadang-gadang akan menjadi film drama musikal. Entahlah, kita lihat saja.

Ngomong-ngomong soal musik..... satu hal lain yang gue kurang sreg dari film ini adalah lagu backsound nya. Mungkin lirik lagu Astaga nya ruth sahanaya ini dianggap cukup cocok untuk menyuarakan sindiran ke kaum muda, hanya saja, menurut gue, selain lirik, nada musik nya juga mesti diperhatikan. Menurut gue lagu astaga ini terlalu riang untuk jadi backsound adegan perjuangan berlatih memanah yang sedang serius dan kritis. Ini masalah selera sih.. Gue merasa dengan nada lagu astaga yang terlalu cheerful di telinga gue, itu agak merusak kekhidmatan dan keseriusan adegan.

Hei, ngga usah dipelototin terlalu serius dong tulisan review gue ini. Kalian ngga suka? Kalian ngga setuju? Ya bebas. Hahahaha.

Gue suka kok sama film ini, namun lebih baik lagi kalau skill pemain yang oke dibarengi oleh naskah yang pas, timing yang jelas, audio yang nge blend sama adegan serta pengaturan teknis pendukung nya ngga setengah-setangah, supaya bisa jadi paket lengkap plus telor. Juara!

Film Indonesia semakin lama semakin berkembang kok dan menurut gue menyesal sekali sih buat kalian yang masih males nonton film kita sendiri. Sekali lagi, menurut gue ya. Hehehehe. 


Catatan penulis. Apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, lakukanlah dengan konsisten. Walau konsisten itu susah, sangat susah. Bahkan, gue aja udah nyaris mau ngga ngelanjutin nulis review film kayak begini. Banyak alasannya. Takut ngerasa sok tau lah, merasa ngga punya kapasitas, dan suka mempertanyakan "ini review buat apaan sih?". Saat kamu lagi di ambang jenuh dan merasa apa yang kamu lakukan itu ngga ada gunanya, coba ingat baik-baik lagi apa harapan kamu saat melakukan itu. Kalau gue pribadi, membuat review kayak begini masih untuk diri gue sendiri, berhubung gue mulai menyukai film dan tertarik mengeksplor talenta pemeran dalam negeri lebih jauh. Syukur-syukur kalau ada yang menjadi tertarik dengan film Indonesia setelah nyasar ke salah satu postingan review gue. Sempat kepikiran untuk bikin review dengan bahasa inggris, cuma lalu gue pikir ulang. Gue lebih mengharapkan orang Indonesia dulu yang mencintai film nya, jadi untuk apa gue nge review pake bahasa inggris di saat bahasa ibu kita adalah bahasa indonesia? Begitu deh. Ngalor ngidulnya lama ya wkwkwk. Intinya, tetaplah konsisten. Semoga review ini ada manfaatnya. Kalaupun belum bermanfaat, setidaknya, semoga tidak memberi mudharat. 


Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar: