Halaman

Jumat, 26 Agustus 2016

Sketch of stranger


That picture above was supposed to be a sketch of chun jung myung in reset drama. Yet, it turned out to be a total stranger. lol. At least, i've tried my best *sigh


I copied from this picture carefully. Unfortunately,  the universe didn't want to cooperate with me. At first, i wanna give him my drawing as birthday gift on November. And now.......... it seems like i have to change my plan. Wkwkwk #romancestrategy #failed



Anyway, the sketch book is sponsored by Mima Uasha Febrianti, STP.  I really cherish the book wholeheartedly! Kamsahamnida! *bow


Here, i give you guys an exclusive photo of me, chun jung myung and his nephew. HAHAHA. Love you, world :*

Kamis, 25 Agustus 2016

Terlucu

Assalamu'alaikum. Selamat malam. Malam yang hangat dan menggembirakan untuk kalian semua, gue doakan. Aamiin.

Kalian mungkin ngga tau, makanya akan gue beritahu. Ternyata, postingan di blog ini sudah mencapai 202 buah. Walau kata 'buah' itu tidak terdengar tepat, tapi  biarkanlah dia bertengger di sana. Toh, kita sama-sama mengerti maksudnya. 

Baik, kuulangi ya. Postingan gue sudah mencapai 202 buah. Jeng jeng jeng jeng. Belum sampai di situ, blog ini ternyata sudah berumur 7 tahun lebih beberapa bulan. Sudah harus masuk ke sekolah dasar, tapi ibunya belum ada uang buat nyekolahin. Maaf ya nak.

Setelah dilihat-lihat, kok postingan dari dulu ngga ada yang penting ya. Herannya, ada viewer nya. Bahkan ada postingan yang view nya ratusan atau ribuan, tapi isinya.............. bahkan gue yang nulis aja merasa udah buang-buang waktu buat baca ulang. Dari situ, gue yakin, jumlah view yang banyak itu, 99 % kemungkinannya karena banyak pengunjung naas yang nyasar ke blog ini berkat keyword googling yang kurang spesifik. Kasian mereka. 

***************

Anyway, hal-hal di atas itu ngga ada hubungannya sama yang akan gue posting lol 

Berhubung sudah lama gue tidak menceritakan tentang orang terdekat maupun kisah gue, kali ini gue mau menceritakan satu sosok yang cukup berharga di tahun-tahun terakhir perkuliahan, oh tenang, sampai sekarang juga masih berharga kok. Ngga tau kalau besok wkwk.

Siapakah orang terhormat yang akan gue ceritakan malam ini?

Petunjuk : Manusia paling lucu di galaksi bima sakti

Kalian tidak bisa menebaknya? Wajar. Karena julukan itu hanyalah self-claim yang disepakati oleh kami berdua saja. 

MARIA PUTRI ANUGERAH

Gue harap gue sudah menulis namanya dengan benar. Baiklah, izinkan gue memulai cerita ini dengan memperkenalkan dua misi dunia yang kami emban. Maria mengemban amanah sebagai makhluk paling lucu, sedangkan gue dipercaya untuk menjadi makhluk paling mempesona. Bukan hal yang mudah untuk mengemban misi ini, namun kami berusaha yang terbaik kok. Mohon dukungannya ya.

Macu (maria lucu) dan Dena (dewi mempesona)

Itu ceritanya mau ngebunuh

Jauh sebelum gue bertemu langsung dan dihadapkan pada kenyataan, beliau (maria) termasuk salah satu sosok yang saya kagumi. Maria ini satu dari banyak anak ITP yang jago mengajari anak-anak lain. Namun dia adalah guru favorit gue. Segala hal yang keluar dari mulutnya selalu terdengar jelas dan lugas. Kemampuannya dalam menjelaskan pelajaran bukanlah hal yang perlu diragukan lagi. Kebetulan, ibunya juga adalah salah seorang dosen di kampus kami. Namun dia terlihat keren bukan karena dia anak dosen, tapi ya karena kelihaiannya sendiri. Dia diam-diam sudah menjelma sebagai sosok dosen di mata gue. Terlebih lagi, gaya bicara dan bersosialisasinya pun terlihat secukupnya, elegan dan dewasa. Oh tak lupa, nama dia sering hadir di daftar anggota untuk kompetisi karya ilmiah. Dan menang, tentu saja. Berdasar deskripsi yang sudah gue sebutkan, gue rasa bukan hal yang aneh jika gue memberi nilai dan ekspektasi cukup tinggi pada manusia ini, bukan?

Jawaban yang benar : bukan. Wkwkwk.

Setelah satu tahun bergelut dengan kaleng bersama maria, satu hal yang gue yakini : dia ngga ada elegan-elegannya. Hahahaha. Kalau kata maria, "Untunglah kita dipertemukan pas penelitian ini, jadi lo tidak tertipu seumur hidup oleh image elegan gue". 

Untungya, bagian image 'pintar menjelaskan' nya masih utuh dan tak kurang suatu apapun. Dia sangat menyenangkan, jauh lebih menyenangkan dari yang bisa gue bayangkan. Dan dia juga mudah dibodoh-bodohi. Itulah mengapa dia jadi menyenangkan. Gue sudah cukup berpengalaman punya teman yang 'jenaka', namun gue masih bisa merasa terkejut dengan segala kebodohan yang maria suguhkan. Perempuan ini benar-benar luar biasa. Orang-orang yang selama ini menjadi sahabatnya, sebut saja Neta, adalah orang yang lebih luar biasa lagi karena bisa bertahan dengannya selama bertahun-tahun. Wkwkwk.

Terlepas dari kenyataan bahwa dia tidak se-elegan yang gue pikirkan, tapi gue benar tentang dia sosok yang layak untuk dikagumi. Beliau punya pandangan yang menurut gue patut diteladani : tidak pernah memikirkan orang lain. Hahaha. Jangan diartikan dari sisi negatifnya ya. Maksudnya adalah, dia bisa membatasi pikirannya untuk hal dari orang lain yang memang penting dengan hal yang hanya membuang-buang waktu untuk dipikirkan. Itulah mengapa hidupnya terasa lebih ringan, di mata gue. Dan itulah juga mengapa dia sering ketinggalan berita terkini (read : gosip yang tidak bermanfaat) di lingkungan sekitar.

Gambaran singkat Maria : gemar membaca buku, suka warna pink, merupakan makhluk terlucu sehingga dijuluki macu (maria lucu), sering mengikuti lomba ternyata semata-mata karena diajak dan tidak enak untuk menolak, suka dugong, mencintai jason mraz, tidak suka es krim, mengikat janji setia pada coklat pahit serta sushi, punya selera lagu ala disney yang kebanyakan nada-nada lagunya lebih tinggi dari monas, aktivis DDR, suka pria kaya (lol), sedang sibuk membangun restoran ternamanya untuk mendapat michelin star (game tentu saja), tidak suka hal yang merepotkan dan lebih mudah mengajaknya ikut proyek penelitian daripada menikah. Saat ini sih. Wkwkwk.

Kalimat bijak beliau yang sangat berkesan buat gue adalah "Kerjakan satu-satu, Dewi"

Udah, itu aja. Singkat tapi mujarab. Kalimat itu selalu terngiang hingga sekarang, tiap kali gue mau melakukan suatu pekerjaan yang 'terasa' banyak. 

Maria adalah tipe si dia yang sudah banyak baca jurnal dan membuat pembahasan super jelas, namun masih merasa serba kurang dan panik. Beruntung, gue masih bisa stay cool dan ngga ketularan panik. Padahal, kalau dibandingkan, harusnya gue yang merasa serba kurang. Begitulah. Kalau maria panik, maka sudah menjadi tugas gue untuk menenangkan. Kalau dewi sudah merasa lelah, maka sudah menjadi tugas maria untuk mengingatkan bahwa ini akan selesai, satu per satu. Gue sangat bersyukur bisa bertemu orang ini di akhir masa kuliah. Lumayanlah, menambah deretan panjang 'orang-orang jenaka' yang gue punya.

Apa gue pernah kesel sama Maria? Gimana ya jawabnya...

Belum lama ini, gue dan doi berencana bertemu di kampus untuk sebuah urusan. Lokasi yang kita sepakati awalnya adalah bread unit, di daerah fakultas gue. Berhubung gue tiba terlalu cepat, gue pun membelok ke area fakultas pertanian, tepatnya media centre, Gue beritahu lah Maria ini kalau gue ngga mau ke daerah fakultas sendirian, makanya gue menunggu di media centre aja. "Oke" kata Maria. Sembari menunggu, gue pun melahap lumpia basah dan kentang goreng favorit gue yang udah dibeli di bara. Setelah dua makanan itu menjadi korban, Maria ternyata belum sampai. Alhasil, gue membaca suatu bacaan yang memang sengaja gue bawa dari rumah, persiapan kalau gue ngga ada kerjaan. Waktu terus bergulir dan gue sesekali melirik jam kemudian mengintip whatsapp, memastikan bahwa belum ada pesan masuk dari Maria. Gue menunggu cukup lama. Tak lama kemudian, pesan dari Maria masuk.

"Dewi, sudah ambil fotokopian ijazah yang dilegalisir belum?"

"Belum, kan masih di media centre ini"

"Oh, gue udah di depan TU fateta nih. Ayo ke sini"

"......................... apa? (dalam hati) "

Kalau ada rekamannya, gue yakin mata gue melotot sempurna saat baca pesan maria yang terakhir. Antara mau kesel, tapi berusaha berpikiran positif "Ohiya, maria ngga ada janji mau nyamperin ke media centre ya. Cuma oke oke aja. Mungkin dari BNI, maria langsung jalan lewat arah GWW, jadi langsung ke fateta dan ngga lewat media centre. Mungkin begitu ya. Sabar, wi. Sabar". Udah tuh, gue udah ikhlas. Akhirnya gue samperin lah beliau ini ke TU. Gue lupa gue ngomong apa ke Maria, sepertinya gue berkomentar tentang keberadaan dia yang tau-tau udah di fakultas aja. Kemudian dia mengatakan hal yang mencengangkan..

Maria : "Oh iya, ai sebenernya tadi lewat media centre, dan ai liat yu kok. Cuma, yu terlihat sedang sibuk membaca, jadi, ya ai pergi duluan aja deh. Hehehehehe" 

Dewi : .........................................................................................

"GUE NGGA BISA MAAFIN LU KALI INI. BODO AMAT. GILA LU" kurang lebih itu yang gue ucapkan ke dia dengan tidak serius tentunya (atau setengah serius? lol) lalu segera pergi ke mushalla karena belum shalat. Dan dia? Dia cuma ketawa sambil minta maaf, yang gue sangat yakin kalau dia ngga tau bahwa apa yang dia lakukan itu menyebalkan wkwkwk.

Gue merasa pahit sih beberapa detik, namun di detik berikutnya, gue sadar, "Itu Maria dew. Wajar aja. Terima apa adanya udah". 

Itulah maria, pola pikirnya ngga bisa diikuti manusia biasa. Gue.. jelas-jelas nungguin dia. Lalu dia akhirnya meninggalkan gue, karena melihat gue sedang sibuk membaca, dan tidak mau mengganggu. Kurang malaikat apalagi coba teman gue ini? Yang jelas, gue seperti tidak bisa marah, karena gue tau, dia tidak bermaksud untuk jadi menyebalkan dengan sengaja. Karena dia memang seaneh itu, sampai pada akhirnya yang gue bisa lakukan cuma geleng-geleng kepala dan urut dada. Jadi ya, kalau ada laki-laki yang ingin pedekate sama dia, pastikan semua tindakanmu itu jelas, lugas dan tidak bermakna ganda ya. Takutnya nanti dia malah mikir kamu pedekate sama orang lain :')

Sayangnya, gue sudah terlalu terbiasa dengan makhluk ini, sehingga gue menikmati apapun roller coaster hidup yang ia tawarkan. Mau semanja dan se annoying apapun doi, gue tetap bahagia bersamanya. Setidaknya gue bisa membalasnya dengan jadi annoying juga, kan. Mata dibalas mata, bung. Mungkin suatu saat, gue akan kolaborasi bersama Neta untuk merencanakan rencana penyiksaan Maria yang rapi dan terorganisir. Hahaha. I love her. No doubt.
Saat dewi sidang

Saat maria sidang

Niatnya mau ala pose yoga yang kekinian, eh malah kayak pocong

Saat kami wisuda : 27 Juli 2016


Rabu, 10 Agustus 2016

Atas nama Indonesia

Minggu 17 Juli 2016



RUDY HABIBIE

Hai. Kali ini gue menonton sekuel kedua dari film ainun habibie, yaitu rudy habibie. Film ini mengisahkan perjalanan pak habibie sejak kecil hingga petualangannya di negeri orang. Kalau boleh jujur, gue tidak tau apa ini subjektif atau tidak, cuma, gue merasa hampir semua akting nya reza rahadian di berbagai film itu bagus terus, jadi gue merasa terpuaskan dengan film ini. Cerita kali ini fokus tentang perjuangan dan idealisme pak habibie untuk Indonesia dengan sedikit bumbu asmara. Gue sih merasa tersentil pas nonton film ini. Gue cukup merasakan pesan perjuangan demi Indonesianya yang (tentunya) ingin disampaikan para kru dan pemain film. Latar, pemain, efek suaranya, pas semua. Ada satu hal yang membuat gue penasaran sesungguhnya. Ada beberapa adegan di film ini yang sebenarnya sama dengan adegan di film sebelumnya (Habibie dan Ainun). Gue ambil contoh : adegan saat teman-teman mengolok-olok habibie kecil dengan ainun.  Di film pertamanya, gue suka pemeran Habibie maupun Ainun kecilnya. Entah mengapa terasa cocok. Eh, tau-tau, di film Rudy Habibie ini, adegan yang sama persis itu justru direkam ulang lagi, dengan pemain yang berbeda total. Pak habibie kecil dimainkan oleh salah satu (atau mantan) anggota coboy junior dan Ainun kecil dimainkan oleh perempuan asing lainnya yang menurut gue kurang 'klik' gitu.

Pertanyaan besar gue : Kenapa ngga pakai aja bagian rekaman dari film sebelumnya? Memangnya dilarang ya?

Aneh aja, karena jadi beda-beda gitu pemerannya. Agak merusak memori dari film sekuel sebelumnya. Secara pribadi, gue suka film Rudy Habibie ini. Lumayan basah sedikit lah tepi mata gue. Bohong. Ngga sedikit deh wkwk. Gue baper banget sih nonton film ini, soalnya terlalu imajinatif ngebayanginnya "Ya ampun gue belum bisa kontribusi apa-apa. Dan belum tau mau apa. Ngga kayak pak habibie". Yak malah tjurhat. Hahaha. Menurut gue, film-film kayak gini cocok dijejelin ke otak-otak para remaja atau pelajar. Supaya semangat gitu, atau minimal jadi malu dan introspeksi diri. Gitu deh.

Pertanyaan besar teman gue : Kalau menurut lo, misalkan kita nonton film ini pas jaman-jaman kita kuliah atau masih sekolah, apa lantas kita beneran akan semangat belajar? Apa bener kita akan terpacu? Bukan hanya ingat sehari lalu lupa kemudian?

You answer it yourself. Ha-ha-ha.

*anyway, setelah film selesai, jangan langsung pulang, ada kejutan singkat di akhir film

***************

Selasa 9 Agustus 2016


3 SRIKANDI

Another reza rahadian's work! Hahaha. Banyak unsur yang memicu timbulnya penilaian subjektif dari gue disini. Pertama, gue suka olahraga panahan. Kedua, sinopsis cerita 3 srikandi ini masih satu warna dengan alur cerita Chak de! India yang diperankan oleh shah rukh khan. Bedanya, pada film Chak de! India, olahraga yang dikisahkan adalah hockey putri. Dan, gue merasa film india yang satu ini lumayan memicu semangat perjuangan untuk negara di bidang olahraga. Dan (lagi), gue selalu mengagumi atlet (walau tak pernah mengikuti update cabang olahraga manapun), maka dari itu, gue lumayan tertarik tentang kisah perjuangan olahragawan. Begitulah. In simply, I truthfully expected quite high toward this movie haha.

Bagaimanakah realitanya? Jeng jeng jeng jeng...

Segi pemain? Oke. Film ini cari aman dengan mengambil aktris-aktor yang sudah cukup kenamaan dengan skill akting yang mumpuni. Walau sebenarnya gue agak bosan karena pemain-pemain 3 srikandi ini kerap tampil  di beberapa film Indonesia yang tayang pada tahun ini. Haha. Kalau mau ngomongin akting, menurut gue yang agak kurang nendang di bagian peran pendukungnya. Alhasil, adegan seorang ayah yang marah pada putrinya sambil merendahkan profesi atlet sekaligus mengagung-agungkan PNS nya jadi kurang bikin kesel dan kurang dramatis. Ibarat, kayak mau nonjok, tapi belum kesentuh sama sekali ini gue nya. Terus ada beberapa pemeran pendukung lain yang kadang kurang nyatu aja sedikit. Untuk pemain utamanya, sayang sekali, gue sangat subjektif pada reza rahadian sehingga menurut gue dia selalu sempurna. HAHAHA! Bcl sendiri memerankan peran Yana yang merupakan sosok perempuan jakarta mandiri dan dewasa. Dan ia memainkan porsinya dengan pas.  Tara basro? Cantik banget ya. Cantiknya beda gitu #salahfokus Gaya cool nya oke sekali. Top lah. Nah terakhir, chelsea islan. Perannya cukup menarik karena doi tampil dengan logat medok. Gue ngga paham sama bahasa jawa, tapi gue melihat dia tampil sangat oke pake bahasa jawa. Bagus! :) Karakter doi di film ini cukup memekakkan telinga karena bawel. Untung cantik haha Secara keseluruhan akting chelsea sama kerennya dengan tiga bintang lainnya. Namun oh namun, ada kurang lebih dua adegan dari Chelsea yang ngga sreg di gue. Sekedar mengingatkan, kalimat setelah ini boleh jadi agak nyerempet (atau memang) spoiler. Adegan teriak oleh Lilies (Chelsea) paska mendengar berita mengenai orang tuanya teh kurang alami. Memang agak susah di bagian ini, karena tumpang tindih dengan adegan lainnya. Cuma, ya itulah seni nya film, bagaimana kita mengemas tiap adegan sealami mungkin, tak peduli apapun tantangannya hehe. Dan menurut gue, yang kali ini, kurang mantap. Hehehehehe. Adegan kedua yang tidak gue suka dari Chelsea sebenarnya bukan karena aktingnya, namun karena naskahnya. Mohon maaf sekali lagi, ini spoiler. Gue hanya gregetan soalnya membayangkan bagaimana mungkin saat ibu kita sedang sekarat di rumah sakit, hal yang terpikir adalah meminta beliau menyetujui hubungan kita dengan seorang pria. I mean, "Heeeeeeeey your mom is facing her hardest time, and what?! you have the time to talk that crap now? Are you using the moment to insist her? God, forgive this child"

Iya sih, si Lilies (peran chelsea islan) ini tidak langsung serta merta bilang "bu izinin saya sama Denny ya bu". Doi mengawalinya dengan manis "ibu, maafin Lilies karena selalu ngecewain ibu, tapi sekali ini aja bu, sekali ini aja, restui hubungan Lilies sama Denny. Lilies akan bikin ibu bangga. Lilies janji akan bawa pulang medali". Lalu ibunya senyum mengangguk. Cuma..... kenapa sih lu harus ngomongin restu di saat kayak gitu? Bukannya "ibu harus kuat, jangan tinggalin Lilies. Lilies pengen ibu lihat Lilies mengangkat medali itu, untuk Indonesia, untuk ibu. Lilies pengen banggain ibu". Terus kalau mau mempertegas restu, mbok ya ibunya sendiri gitu yang sukarela ngomong ke Denny nya "Nak Denny, ibu titip Lilies ya". Atau, jika ga sanggup ngomong, ya gunakan bahasa tubuh lah, letakkan tangan denny ke tangan Lilies. NAH! Kan kalau begitu lebih menggigit dan beretika. Me-nu-rut-gu-e-ya. He-he-he-he.

Maafin ya spoiler abis. Soalnya kesel, gue nya jadi ngga sedih di bagian itu. Huft.


Nah sekarang dari segi cerita, secara pribadi gue suka tema perjuangan para atlet, so, menurut gue film ini sangat menghibur. Pada film 3 srikandi ini, tak hanya olahraga yang difokuskan, namun juga tentang asmara, keluarga dan pilihan hidup. Walau, mohon maaf, gue merasa kisah olahraga dan asmara nya itu porsinya 1 : 1. Ha-ha-ha-ha. Tentang keluarganya sih agak tertutup awan gelap ya. Kalau tentang pilihan hidup nya teh udah masuk ke kisah olahraga lah. Gue baru tau di akhir film kalau ternyata 3 srikandi ini berdasar kisah nyata ya. Mungkin karena itu juga cerita dan masalah di film ini tidak terlalu kompleks.

Di sisi lain, film chak de! India yang punya genre serupa memiliki kompleksitas cerita yang lebih mantap. Pergelutan antara cinta negara, kekuatan perempuan yang disepelekan, kekompakan tim, rasa saling percaya, ego para juara masing-masing daerah serta karakter pemain yang saling melengkapi.   

Sebenarnya sebuah cerita tidak perlu kompleks, asalkan digarapnya pas dan ada punch line nya. Timing super pas, naskah padat namun bermakna dan dengan adegan yang efektif menonjok emosi para penonton gitu deh. Gue merasa, emosi gue agak dimainkan cuma saat di akhir film, yaitu saat pertandingan panahannya sendiri. Akhir film nya itu oke banget kok, efek manah nya mantap. Hahaha.

By the way, sepertinya film indonesia sekarang mulai mengarah ke tipe drama musikal ya.. Sok tau sih gue. Cuma, mengingat film surat dari praha, my stupid boss, lalu sekarang 3 srikandi yang memasukkan unsur musik dan sedikit tarian di dalamnya, sekiranya gue berpikir barangkali film kita akan memasuki tren ke arah sana. Terlebih, film 'ini kisah tiga dara' yang akan tayang nanti konon digadang-gadang akan menjadi film drama musikal. Entahlah, kita lihat saja.

Ngomong-ngomong soal musik..... satu hal lain yang gue kurang sreg dari film ini adalah lagu backsound nya. Mungkin lirik lagu Astaga nya ruth sahanaya ini dianggap cukup cocok untuk menyuarakan sindiran ke kaum muda, hanya saja, menurut gue, selain lirik, nada musik nya juga mesti diperhatikan. Menurut gue lagu astaga ini terlalu riang untuk jadi backsound adegan perjuangan berlatih memanah yang sedang serius dan kritis. Ini masalah selera sih.. Gue merasa dengan nada lagu astaga yang terlalu cheerful di telinga gue, itu agak merusak kekhidmatan dan keseriusan adegan.

Hei, ngga usah dipelototin terlalu serius dong tulisan review gue ini. Kalian ngga suka? Kalian ngga setuju? Ya bebas. Hahahaha.

Gue suka kok sama film ini, namun lebih baik lagi kalau skill pemain yang oke dibarengi oleh naskah yang pas, timing yang jelas, audio yang nge blend sama adegan serta pengaturan teknis pendukung nya ngga setengah-setangah, supaya bisa jadi paket lengkap plus telor. Juara!

Film Indonesia semakin lama semakin berkembang kok dan menurut gue menyesal sekali sih buat kalian yang masih males nonton film kita sendiri. Sekali lagi, menurut gue ya. Hehehehe. 


Catatan penulis. Apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, lakukanlah dengan konsisten. Walau konsisten itu susah, sangat susah. Bahkan, gue aja udah nyaris mau ngga ngelanjutin nulis review film kayak begini. Banyak alasannya. Takut ngerasa sok tau lah, merasa ngga punya kapasitas, dan suka mempertanyakan "ini review buat apaan sih?". Saat kamu lagi di ambang jenuh dan merasa apa yang kamu lakukan itu ngga ada gunanya, coba ingat baik-baik lagi apa harapan kamu saat melakukan itu. Kalau gue pribadi, membuat review kayak begini masih untuk diri gue sendiri, berhubung gue mulai menyukai film dan tertarik mengeksplor talenta pemeran dalam negeri lebih jauh. Syukur-syukur kalau ada yang menjadi tertarik dengan film Indonesia setelah nyasar ke salah satu postingan review gue. Sempat kepikiran untuk bikin review dengan bahasa inggris, cuma lalu gue pikir ulang. Gue lebih mengharapkan orang Indonesia dulu yang mencintai film nya, jadi untuk apa gue nge review pake bahasa inggris di saat bahasa ibu kita adalah bahasa indonesia? Begitu deh. Ngalor ngidulnya lama ya wkwkwk. Intinya, tetaplah konsisten. Semoga review ini ada manfaatnya. Kalaupun belum bermanfaat, setidaknya, semoga tidak memberi mudharat. 


Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 08 Agustus 2016

Hujan di bulan Agustus

Hujan di pagi hari, entah bagaimana selalu memberi rasa bahagia yang berbeda
Entah karena akhirnya aku bisa bangun pagi
Atau entah karena hujan itu sendiri

Bukan, ini bukan puisi. Apalagi prosa.
Karena aku tak pernah tau apa beda keduanya hingga detik ini.
Dan kebetulan belum terlalu ingin tau.

Hujan di pagi hari, tentu bukan teman yang baik bagi para pejuang pagi
Dengan arena perang dan tingkat kesulitannya masing-masing, masih perlu ditambah oleh serangan air lagi? Duh.
Namun entah bagaimana, selalu ada saja cara untuk menikmati ribuan tetes dari langit itu

Hujan di pagi hari, melenakan sekaligus menyulitkan
Melelapkan yang ingin atau tak ingin terlelap
Melambatkan bagi yang ingin atau tak ingin terlambat

Hujan di pagi hari, satu dari banyak alasanku untuk menunda makan pagi lebih lama lagi
Hujan di pagi hari, satu dari banyak ide yang membuatku berlama di depan layar
Hujan di pagi hari, satu dari banyak tamengku untuk seolah-olah terizinkan menjadi melankolis

Aku menyukai hujan di pagi hari 
Walau kita belum tentu cepat bertemu
Dan walau kita belum tentu saling ada

Terlebih,

Hujan pagi hari itu seperti kamu dan segala urusanmu
Aku tak pernah benar-benar menunggu
Namun saat kamu datang, percayalah, yang kurasakan bukanlah perasaan senang yang tanggung

Hujan pagi hari itu seperti kamu dan segala urusanmu
Aku tak pernah benar-benar rela kehilangan
Namun saat kamu pergi, aku tak ada pilihan lain selain mengikhlaskan dengan tulus yang tak setengah

Lalu siap kembali senang saat kamu datang berikutnya. Tentu, jika kamu ingin datang. Dan ingat, aku tak pernah benar-benar menunggu.

Hujannya sudah mau selesai, dan perutku sudah tidak terima alasan. Kalau begitu, sampai bertemu lagi, hujan.





Tertanda,



Penikmatmu