Halaman

Jumat, 08 Juli 2016

Belajar melalui pesan

Jumat 1 Juli 2016



SABTU BERSAMA BAPAK

Alhamdulillah, akhirnya berhasil nonton film yang poster nya (rasanya) udah ada sejak berbulan-bulan lalu ini. Film 'Sabtu bersama bapak' adalah adaptasi dari novel karangan Adhitya Mulya. Dan sudah bisa ditebak, tentu saja gue belum pernah baca novelnya *senyum* To judge the movie fairly, you need to have no expectation or any imagination on brain ready already. For sure.

Seperti biasa, mari mulai dengan membahas pemainnya. Pemain untuk karakter bapak dan ibu nya sangat oke. Walau pemeran karakter bapak ini memiliki umur biologis lebih muda 15 tahun dari si pemeran ibu, namun beliau memainkan peran suami yang dewasa dan bijaksana dengan sangat baik. Saka dan Satya (dua anak laki-laki si bapak) yang telah dewasa diperankan oleh Deva dan Arifin. Gue tidak terlalu yakin kalau Deva dan Arifin cocok untuk dijadikan saudara bila ditinjau dari air wajahnya. Namun, untuk masing-masing peran Saka dan Satya, kedua aktor itu menghidupkan karakter mereka dengan porsi yang pas. Plango-plongo dan manisnya Deva sesuai, sementara Arifin membawakan gaya cool dan tegas dengan keren. Pemeran Ayu nya manis banget! Wajar aja kalau mudah bikin jatuh cinta pada pandangan pertama dengan muka kayak begitu. (Well, walau bukan cuma mukanya sih yang menjadi alasan Saka untuk suka). Kalau untuk pemeran 'eneng' nya Satya mah gue ngga perlu banyak komentar. Aca terlihat natural kok. Pastilah, pengalaman akting dia sebagai istri juga bukan yang pertama kan. Fyi, ada ernest prakasa di sini! Lucuk. Coba aja ada ge pamungkas juga *sekalian aja semua komika dibawa ke film ini, Dew -_-*

Latar tempatnya kebanyakan di luar negeri sama di perkantoran Jakarta. Ngga ada masalah sama sekali buat latarnya, pas sesuai yang dibutuhkan. Yuhu. Btw, ada satu scene yang sangat janggal menurut gue. Cuma satu. Dan sayangnya, ngga penting pula scene nya. Itu adalah : scene matahari terbenam / tenggelam. Scene matahari terbenamnya itu ngga beneran, kayaknya mah hasil editan atau trik visual apalah itu gue ngga mengerti. Cuma... please deh keliatan amat bohongannya. Kan jelek :( Buang aja kenapa. Nah itu aja sih, scene janggal yang konyol dan tidak pentingnya.

Pemain udah. Latar tempat udah. Latar waktu deh sekarang. Alur film 'sabtu bersama bapak' ini teh alurnya campuran, maju-mundur oke gitu deh. Diselipkan flash back sekilas saat Bapaknya memberi petuah ataupun memori manis antara ibu dan Bapak tempoe doeloe. Dengan alur maju-mundur begitu, tetap tidak membuat bingung dan masih sangat mudah diikuti kok.  

Nah, sekarang saatnya masuk ke pembahasan plot cerita. Kalau kata teman-teman gue yang suka baca sih, tulisannya mas Adhitya Mulya ini emang bagus-bagus. Gue tidak tau gimana cerita di novelnya, tapi gue sangat suka ide ceritanya. Seorang bapak yang merekam pesan-pesan penting untuk kedua anak lelakinya sebagai perwakilan dirinya yang tak mampu hidup lama. Eh tenang, ini bukan spoiler kok, kalian juga bisa tau inti cerita ini dengan hanya melihat trailer film nya. Dan, gue juga orang yang anti spoiler by the way. So, relax ;) Problematika di film ini justru tentang bagaimana kehidupan Saka dan Satya yang semasa kecil selalu belajar melalui rekaman petuah si Bapak tiap hari Sabtu. Menurut gue simple banget film nya, tapi dalem. Ngga dibumbui terlalu banyak masalah, tapi dalem. Mungkin sekiranya gue menyimpulkan bahwa tiap keluarga punya penanganannya tersendiri. Ngga bisa memaksakan satu ajaran secara kaku dengan kondisi yang benar-benar berbeda, karena bersikap terlalu keras ngga selamanya memberikan hasil yang bagus. Lagipula, sebagus apapun suatu rencana dan ajaran yang dirancang, seorang anak akan lebih baik untuk tumbuh dengan melihat figur kedua orangtuanya secara langsung. Jika memungkinkan. Begitu kali ya. Hahahaha.

Dan kalau boleh curhat colongan, itu pula yang menjadi salah satu alasan gue untuk berpikir ulang mengenai rencana menggeluti karir di industri pertelevisian. Hehehehe. Udah segitu aja curhatnya *senyum*

Overall, this movie was a good hit! Give it a go, fellas!

Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.



3 komentar:

Dimas Prasetyo Muharam mengatakan...

eh, video yang "itu" ga dimasukin? hahaha. btw, ini nih yang mau saya bilang waktu itu. yang dicuekin dua kali sama para makhluk yang sibuk selfie :D. Bahwa kesabaran Saka dan rasa cintanya pada ibunya yang besar akan memberikan hadiah terbaik pula pada akhirnya. Dia yang paling sayang sama ibunya, paling njagain sampai ga mikirin pacar, tapi dapat calon istri yang paling ideal buat dia :D

Dimas Prasetyo Muharam mengatakan...

eh, video yang "itu" ga dimasukin? hahaha. btw, ini nih yang mau saya bilang waktu itu. yang dicuekin dua kali sama para makhluk yang sibuk selfie :D.
Bahwa kesabaran Saka dan rasa cintanya pada ibunya yang besar akan memberikan hadiah terbaik pula pada akhirnya. Dia yang paling sayang sama ibunya, paling
njagain sampai ga mikirin pacar, tapi dapat calon istri yang paling ideal buat dia :D

Dewi mengatakan...

@mas dimas : Videonya dikenang aja, ngga usah disebar. Wkwkwk sabar ya mas. hidup perlu perjuangan, bahkan walau hanya untuk menyatakan opini :')