Halaman

Jumat, 06 Mei 2016

Kencan pertama

Assalamu'alaikum. Sangat menyenangkan bahwa blog ini belum gulung tikar. Bagaimana kabar kalian wahai sahabatku yang super? Melihat pola postingan gue belakangan ini, sudah jarang ada postingan berbentuk cerita suatu kejadian lagi yah. Lebih banyak tentang sekelumit pikiran yang gue rangkai dalam beberapa paragaraf. Sejak kapan gue jadi pemikir begitu... *geleng-geleng kepala*

Di kesempatan yang baik ini, gue akan menceritakan kisah kencan yang pertama kali gue lakukan setelah kurang lebih telah menetap di muka bumi ini selama 22 tahun. Ya, kencan bersama laki-laki yang ketampanannya berada di urutan kedua (saat ini) di dunia (Dewi). Ya, bersama aniki :)

Tolong jangan menampakkan ekspresi bingung seperti itu. Iya, ini kali pertamanya gue dan saudara kandung gue jalan-jalan tanpa ditemani orang tua. Ngga usah dikasihani begitu, gue kuat kok. Anyway i was extremely excited for today. I was gonna watch my tempting and charming iron man with my own brother. What could be better than that? :') Walau sesungguhnya, jika gue bersikeras mengintip rumput tetangga (keluarga teman gue yang lain), mereka justru punya agenda khusus nonton bareng sekeluarga tiap akhir pekan. Well, i'm honestly hoping for that to be happened too to me. Namun, gue sadar bahwa ngga semua rumput harus tumbuh di jenis tanah yang sama. Maksudnya apa? Jangan tanya, gue juga ngga tau. Untuk kasus keluarga gue, kedua orangtua yang gue sayangi sepertinya mendefinisikan 'jalan-jalan' sebagai 'makan bersama di luar'. Kita ngga pernah ke tempat wisata yang ramai dibicarakan orang. Sebagian besar alasannya disebabkan karena ketidak pastian tempat parkir di tempat wisata sih. Ayah sangat benci jika harus ke sebuah tempat yang belum pasti apakah tersedia space untuk parkir atau tidak. Pun mungkin perjalanan terlalu melelahkan di tempat wisata. Gue sudah terbiasa sejak kecil bahwa 'jalan-jalan' artinya 'makan di luar'. Sempat berharap pergi ke tempat wisata, namun gue tidak terlalu suka memaksa. Lagipula, gue juga suka makan. So, it is win-win. Mama sebenarnya suka nonton bioskop pas muda, jadi gue berinisiatif untuk mengajak beliau nonton berdua saat ayah sedang di Aceh. Namun, alih-alih menonton bioskop, mama sekarang lebih mudah lelah berkeliling di mall, jadi gue urungkan. Kasihan mama. Itulah mengapa hari ini gue memutuskan kencan berdua dengan laki-laki yang super gagah namun kadang suka lupa kalau dia gagah ini.

Photobomb level macan berjilbab pink


Biar gue sedikit menceritakan kisah debut perjalanan aniki di bioskop. Selama ia hidup kurang lebih 23 tahun (menuju 24 pada bulan Juni), ia telah sukses mengarungi bioskop sebanyak tiga kali. Iya, tiga kali. Debut pertama adalah film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 2, debut keduanya Star wars : Episode VII serta debut ketiga (dan semoga bukan terakhir) adalah Captain America : Civil war. Ketiga film tersebut adalah film sekuel yang mana Aniki tidak pernah mengikuti film sebelumnya. Aniki memang suka tantangan maupun hal-hal baru serta inspiratif anaknya. Bohong deh. Aniki cuma polos. Saking polosnya, sampai tersasar di Gramedia cuma buat nyari toilet. Papan penanda 'toilet' dan 'mushala' nya memang mengarah agak terlalu ke samping hingga seolah menunjukkan kita untuk turun lagi ke  tempat parkir paling bawah. Dengan gaya cool, aniki berjalan menuruni jalan ke bawah. Gue yang berjalan agak jauh di belakang (dan tau dimana lokasi toiletnya) pun kaget. "Aniki!" gue berusaha agak berteriak. Doi ngga noleh. Gue berteriak lebih kencang sampai orang-orang lain menoleh. Dan untungnya abang gue ini juga noleh. "Bukan di bawah, di atas" ucap gue antara berbisik dan menjerit sambil ngasih isyarat. Aniki hanya mengamati sinyal gue secara khidmat dengan muka tanpa dosanya, lalu lanjut berjalan. Gue kaget, season kedua. Gue takut dia ngga menangkap apa yang gue katakan. Akhirnya gue berlari menyusul Aniki ke bawah, eh tapi gue ngga mendapati Aniki dimanapun. Ternyata, di dekat tempat Aniki berdiri tadi, ada tangga naik. Dan ternyata lagi, Aniki mendengar ucapan gue dan naik lewat tangga itu, cuma gue ngga melihat. 

Aniki : (selesai mengerjakan 'tugas' di toilet, ia mendatangi gue dengan muka malu-malu) Aku jadi ngerasa aku adikknya dan Dewi kakaknya
Gue : Hahahahaha! Baru sadar? Selama 23 tahun ini baru sadar?!   
Aniki : Aku kan cuma ngikutin tanda panah (masih malu)
Gue : (masih tertawa puas)

 Jangan bandingkan perempuan berjilbab hitam dengan perempuan yang di poster belakang. Jangan.

Karena blur lebih asyique

Gue yang memilih film yang akan ditonton, yaitu captain america : civil war. Banyak dramanya sebelum nonton film ini. Aniki memang suka pura-pura menolak mau ikut saat di hari H. Padahal jauh hari sebelumnya, gue udah meminang aniki untuk jalan bareng hari kamis, dan beliau meng-iya-kan. Berikut beberapa percakapan bodoh kami.

R : Duh aku ngga tau cara beli bioskop.
D : Kita cuma beli tiket, ngga beli bioskop.

R : Duh kalau nonton siang, panas, aku gampang keringatan.
D : Di bioskop ada AC.

R : Nanti Dewi aku antar aja ya, lalu aku pulang. Kalau sudah selesai, kabari. Biar aku jemput.
D : Yaudah, kalau gitu biar Dewi cari orang lain yang ngga muhrim untuk menemani Dewi nonton.

R : Dewi ada celana yang bagus ngga? Celanaku ngga bagus nih buat pergi.
D : (berteriak ke mama) Ma, ayah punya banyak sarung kan?

R : Duh kalau siang, panas, keringatan di jalan, terus rambutku jelek. Ngga usah jadi ya.
D : Yaudah, pake kerudung. Ngga keliatan rambutnya.

R : Duh aku ngga tau cara beli bioskop (lagi).
D : Berisik.

Aniki memang gemar bercanda dan memancing gue untuk menghantam kepalanya. 

 Karena blur lebih asyique (2)

Jika sempat melihat postingan lama yang sudah gue hapus, ada satu postingan lain mengenai tingkah gemasnya Aniki. Banyak pula foto-foto gue bersama beliau. Hanya untuk klarifikasi, gue mungkin terlihat seperti hanya menonjolkan Aniki dan jarang mempublikasikan bang Ridwan. Hal ini tak lain dan tak bukan karena abang ngga pernah mau difoto (semenjak kuliah). Abang bilang, "Kalau aku difoto, nanti fotoku tau-tau udah terpampang di blog Dewi". Hahahaha. He just knows me too well. Sejujurnya, gue sangat ingin bisa jalan bareng begini bertiga. Aniki pun berpendapat yang sama. Ada yang kurang pada foto-foto di atas. Gue harusnya diapit dua laki-laki yang ketampanannya berada di urutan kedua (yang satu peringkat 2 A, satunya lagi 2 B) di dunia. Ya mau dikatakan apalagi. Abang masih berjuang di kota pelajar. Pun abang sepertinya betah dan ingin menetap di kota itu. Gue harus siap-siap dapat kakak ipar orang Jawa nih. Asyique.

 Katanya ngga mau difoto

Namun pada akhirnya... (pardon our eye bags, those are prada anyway)

Sesaat sebelum film nya dimulai, gue berbisik "Kalau film ini sudah dimulai, aku ngga akan mengganggap ada orang di sampingku ya. Aniki akan hilang dari peredaran". Sok-sok mau fokus menikmati menonton om Tony Stark soalnya. Aniki hanya menggangguk-angguk. Beberapa menit setelah mulai, Aniki sok-sok memanggil-manggil gue dan buat kegaduhan. Lalu gue menjawab "Maaf, Anda siapa ya?". Aniki pun tertawa dan tidak mengganggu lagi. Kita pun nonton. Ayey!!!

Di tengah film, Aniki sibuk merengek kalau dia ngantuk. 

R :  Harusnya nonton di rumah aja nih, aku udah download Civil War. Bisa sambil makan mie.
D : Astaghfirullah, anak muda. Mereka itu bikin film ngga gampang loh. Hargai dong dengan menonton yang asli (padahal mah nonton film korea masih bajakan).

Dan film terus berlanjut dengan udara yang super dingin. AC nya menyebalkan, gue sempat tersiksa sakit perut selama beberapa lama. Perut gue ini memang sensitif pada udara dingin. Terlebih, hari ini d**i*ar***e gue masih belum membaik. Namun, berbekal gonta-ganti pose duduk, tubuh gue jadi terasa lebih hangat dan sakit perut pun mereda. Di sisi lain, Aniki masih mengeluh ngantuk. Anjing menggongong, kafilah berlalu lah ya. Wkwkwk.

Setelah selesai nonton, kita bergegas kembali ke rumah. Di atas motor, kembali Aniki membuka pembicaraan absurd.

R : Setelah selesai menonton film tadi, aku langsung kepikiran satu hal.
D : Apa?
R : Aku mau nge gym ah.
D : Hahahahaha.
R : Perutnya roti sobek semua tadi.
D : Hahahahaha (lagi).

Masih banyak hal-hal 'menggemaskan' lainnya sepanjang perjalanan tadi yang membuat gue berulang-ulang kali mengucap "Untung aniki abang aku dan untung aniki ganteng". 

Ya, dialah saudara kandung gue, anak tengah yang selalu mengambil jalan tengah : kadang diam, kadang kabur. Saudara kandung yang menjadi penetral di antara bang ridwan dan gue yang cenderung lebih keras kepala. Saudara kandung yang ngga pernah mengatakan gue cantik secara jelas dan lugas. Setiap kali gue tanya "aku sama si X, cantikan siapa An?", aniki selalu menjawab "cantikan mama". Saudara kandung yang tipe perempuan idealnya adalah : pokoknya yang bukan kayak Dewi. Kejam memang hidup ini terkadang. Gue tau sih, tipe Aniki tuh yang imut-imut lemah menggemaskan gitu, plus kalem. Mungkin hanya kriteria kulit putih yang bisa berhasil gue lewati.

Anyway, tadi jam 7 malam gue sempat pergi ke Giant untuk membeli beberapa bahan makanan sama ayah, lalu Aniki melihatnya..

R : Dewi mau kemana?
D : Mau ke Bogor
R : Hah?
D : Aniki sedih ya kalau Dewi ke bogor? Ya kan? Ya kan? Sedih kan? Sedih kan???
R : (pasang muka sedih) Kenapa ngga lebih cepat aja ke Bogor nya. Aku kan bisa senang-senang di sini. Sana pergi, hus hus.

Lalu saat gue kembali dari Giant, ternyata Aniki nanyain ke mama apa benar gue pergi ke bogor. Hahahaha. Polos sekali. Kata mama, muka Aniki sedih begitu "Kok Dewi udah pulang ke bogor aja ma?" "Hah siapa yang ke bogor?" tanya mama. "Itu, Dewi pergi" jawab Aniki lagi. "Oalah! Itu mah mau ke giant!"

Gue yang mendengar pengakuan mama pun tersenyum menyebalkan ke Aniki. Aniki langsung pasang muka jijik "Bohong tuh mama bohong". Lalu gue melanjutkan dengan nyanyian yang liriknya ngarang dan nadanya gue sadur entah dari lagu apa, lupa : "Just tell me if you looooveeee meeee~~~~". "Hoek!" kata aniki.


Ya, begitulah kurang lebih gue dan keluarga gue. Ngga sering jalan-jalan memang. Namun gue baru menyadari, nikmat Allah yang tak terkira, bahwa ngga semua keluarga bisa ngobrol sesantai yang gue lakukan dengan anggota keluarga gue. Gue berharap obrolan gue dan keluarga gue tidak terlihat seperti Lenong. Biasanya sebagian besar percakapan diawali oleh gue dan ayah yang meledek-ledek mama. Aniki diam saja sebagai penengah bak malaikat. Bang ridwan kadang membela ayah, kadang membela mama. Gue mah selalu bela ayah. Mama enak sih buat diledekin wkwk. Namun in sya Allah, mama dan ayah tau kok kalau gue menyayangi mereka secara adil. Walau memang, gue adalah makhluk Depok yang tergolong bang toyib : jarang pulang, tidak berarti rasa sayang gue memudar. Gue hanya... takut ngga mau balik ke Bogor lagi kalau udah di Depok. Wkwkwk. 


Begitu deh, panjang sekali ya postingannya. Sudah lama ngga bercerita sih. Rasain, kalian. Bwek. Akhir kata, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

5 komentar:

Nadia Azka mengatakan...

MASYA ALLAH

sdyasdiggory mengatakan...

💃💃💃💃💃

sdyasdiggory mengatakan...

💃💃💃💃💃

hanin novia mengatakan...

Udah lulus kak? Aku ipb jg hehe

hanin novia mengatakan...

Udah lulus kak? Aku ipb jg hehe