Halaman

Kamis, 26 Mei 2016

Jogja dan malaysia

Selasa 3 Mei 2016




ADA APA DENGAN CINTA 2

Mari pertama-tama panjatkan rasa terima kasih kepada pihak LINE yang telah membangkitkan kembali ingatan pada film AADC tempoe doeloe. Sejujurnya ya, gue bukan termasuk kelompok orang-orang yang menonton film AADC ini sejak dulu. Gue baru nonton (bajakannya) pas udah gede, ya sekarang-sekarang ini. Dulu cuma tau sepotong-sepotong kisah dari cerita teman yang entah bagaimana bisa membuat gue mengerti keseluruhan ceritanya.  Cuma, untuk memuaskan diri gue sendiri, gue pun menonton lagi AADC (bajakannnya) dengan mata kepala gue sendiri.

Nah itu, jadi cuma mau menekankan bahwasanya gue bukan penggemar berat film ini karena meresapi film nya pun masih terbilang baru, ngga sampai 14 bulan purnama begitu. Tapi, strategi pemasaran film ini oke sekali ya. Walau sebenarnya mengingat begitu banyak fans setianya film ini, harusnya cukup dengan sekali mengatakan kalimat 'AADC 2 akan tayang 2016', pasti akan membuat pengumuman ini tersebar viral. Namun ya bagusnya mereka ngga besar kepala ya, tetap gencar, aktif dan total dalam mempromosikan film ini.

Hasilnya bagaimana?

Secara akting, sangat oke. Yaiyalah jelas. Gue sangat suka bagaimana para geng mading itu kembali kumpul. Alami, akrab dan bodoh, persis seperti aktivitas semua geng perempuan kalau ngumpul pada umumnya. Suka juga bagaimana kehidupan masing-masing sahabat digambarkan bervariasi. Ada yang menempuh jalan salah dan akhirnya kembali. Ada pula yang menempuh jalan kekal abadi. Cukuplah merepresentasikan kehidupan yang sangat dinamis hehe Mengekspos jogjanya oke sih, walau ya ngga terlalu terekspos semuanya. Mungkin AADC 2 ini ingin menunjukkan sisi indah jogja yang lain, yang ngga semua orang selalu tau. Kalau secara cerita........ kembali ke masing-masing pribadi ya hahahaha. Gue tidak ingin membahas sisi cerita berdasar endingnya (karena gue punya pemikiran yang berbeda wkwk), namun gue sangat suka bagaimana mereka menyelipkan nafas sastra di dalam dialog dan keseluruhan film ini. Parah ya puisinya bikin kesal. Terlalu keren puisinya. Semua pria yang pandai dalam berkata-kata, apalagi dalam sastra, apalagi ganteng adalah sebuah ba-ha-ya.

Kalimat ini muncul di awal film dan ini yang paling membuat gue (dan mungkin hampir semua penonton AADC 2) jatuh cinta..

"kau yang panas di kening, kau yang dingin dikenang"

Selamat menonton!

--------------------------------------------------------------------

Senin 23 mei 2016

dewinya sangat sedih ngga dapet seat di tempat biasa hiks


MY STUPID BOSS

Film ini mengambil latar malaysia sebagai lokasi syuting. Tidak terlalu banyak pemandangan malaysia yang diambil karena memang bukan itu fokusnya. Cukup perhatikan karakter reza rahadian dalam film ini dan kamu akan tenggelam di dalam.... emosi. Wkwkwk. Pembawaan akting reza rahadian sebagai karakter yang sangat menyebalkan boleh dibilang sangat sukses. Karena yap.... dia benar-benar menyebalkan di film ini. Walau gue masih tidak paham kenapa bossman (karakter reza) harus terlihat buncit dan berbadan besar.. pun sebenernya gue masih bingung si bossman ini memang hanya perutnya saja yang buncit atau juga ingin terlihat besar semuanya.. soalnya ngga pas gitu proporsi badan sama wajahnya. Tapi yasudah, abaikan keabstrakan fisik si bossman, karena lebih dari itu, pikiran dan omongannya lebih berantakan lagi,

Film bergenre komedi ini dikemas sangat....... bodoh dan mengesalkan namun luar biasa! Bagaimana tidak? Hampir setiap menit film ini, ada aja yang bisa diketawain. Gue sampai lelah ketawa. Gue bener-bener lelah :( Dan untuk masing-masing pemainnya, mereka memerankan peran dengan sangat amat epic! Berperan sesuai porsinya dan menambah nilai humornya. Ada yang mukanya datar lah, tukang gombal lah, pokoknya jadi harmonis deh antar karakter. Namun, tetap, bossman yang paling minta dibunuh memang, 

Nilai moral film ini kira-kira adalah... hmm... 
1. sengeselin-ngeselinnya seseorang, mungkin dia benar-benar ngga sadar kalau dia ngeselin. Coba digebukin dulu biar sadar. 
2. seburuk-buruknya perilaku seseorang, mungkin masih ada tersimpan cahaya di hatinya yang menunggu untuk dinyalakan seterang-terangnya. Coba dibakar pakai obor biar terang.   
3. sebaik-baiknya seseorang hari ini, masih ada kemungkinan untuk buruk lagi di esok hari. life is never flat, dude.

Hahahaha. Gitu deh pokoknya mah, I love you Reza Rahadian.

Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh. 

Jumat, 06 Mei 2016

Kencan pertama

Assalamu'alaikum. Sangat menyenangkan bahwa blog ini belum gulung tikar. Bagaimana kabar kalian wahai sahabatku yang super? Melihat pola postingan gue belakangan ini, sudah jarang ada postingan berbentuk cerita suatu kejadian lagi yah. Lebih banyak tentang sekelumit pikiran yang gue rangkai dalam beberapa paragaraf. Sejak kapan gue jadi pemikir begitu... *geleng-geleng kepala*

Di kesempatan yang baik ini, gue akan menceritakan kisah kencan yang pertama kali gue lakukan setelah kurang lebih telah menetap di muka bumi ini selama 22 tahun. Ya, kencan bersama laki-laki yang ketampanannya berada di urutan kedua (saat ini) di dunia (Dewi). Ya, bersama aniki :)

Tolong jangan menampakkan ekspresi bingung seperti itu. Iya, ini kali pertamanya gue dan saudara kandung gue jalan-jalan tanpa ditemani orang tua. Ngga usah dikasihani begitu, gue kuat kok. Anyway i was extremely excited for today. I was gonna watch my tempting and charming iron man with my own brother. What could be better than that? :') Walau sesungguhnya, jika gue bersikeras mengintip rumput tetangga (keluarga teman gue yang lain), mereka justru punya agenda khusus nonton bareng sekeluarga tiap akhir pekan. Well, i'm honestly hoping for that to be happened too to me. Namun, gue sadar bahwa ngga semua rumput harus tumbuh di jenis tanah yang sama. Maksudnya apa? Jangan tanya, gue juga ngga tau. Untuk kasus keluarga gue, kedua orangtua yang gue sayangi sepertinya mendefinisikan 'jalan-jalan' sebagai 'makan bersama di luar'. Kita ngga pernah ke tempat wisata yang ramai dibicarakan orang. Sebagian besar alasannya disebabkan karena ketidak pastian tempat parkir di tempat wisata sih. Ayah sangat benci jika harus ke sebuah tempat yang belum pasti apakah tersedia space untuk parkir atau tidak. Pun mungkin perjalanan terlalu melelahkan di tempat wisata. Gue sudah terbiasa sejak kecil bahwa 'jalan-jalan' artinya 'makan di luar'. Sempat berharap pergi ke tempat wisata, namun gue tidak terlalu suka memaksa. Lagipula, gue juga suka makan. So, it is win-win. Mama sebenarnya suka nonton bioskop pas muda, jadi gue berinisiatif untuk mengajak beliau nonton berdua saat ayah sedang di Aceh. Namun, alih-alih menonton bioskop, mama sekarang lebih mudah lelah berkeliling di mall, jadi gue urungkan. Kasihan mama. Itulah mengapa hari ini gue memutuskan kencan berdua dengan laki-laki yang super gagah namun kadang suka lupa kalau dia gagah ini.

Photobomb level macan berjilbab pink


Biar gue sedikit menceritakan kisah debut perjalanan aniki di bioskop. Selama ia hidup kurang lebih 23 tahun (menuju 24 pada bulan Juni), ia telah sukses mengarungi bioskop sebanyak tiga kali. Iya, tiga kali. Debut pertama adalah film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 2, debut keduanya Star wars : Episode VII serta debut ketiga (dan semoga bukan terakhir) adalah Captain America : Civil war. Ketiga film tersebut adalah film sekuel yang mana Aniki tidak pernah mengikuti film sebelumnya. Aniki memang suka tantangan maupun hal-hal baru serta inspiratif anaknya. Bohong deh. Aniki cuma polos. Saking polosnya, sampai tersasar di Gramedia cuma buat nyari toilet. Papan penanda 'toilet' dan 'mushala' nya memang mengarah agak terlalu ke samping hingga seolah menunjukkan kita untuk turun lagi ke  tempat parkir paling bawah. Dengan gaya cool, aniki berjalan menuruni jalan ke bawah. Gue yang berjalan agak jauh di belakang (dan tau dimana lokasi toiletnya) pun kaget. "Aniki!" gue berusaha agak berteriak. Doi ngga noleh. Gue berteriak lebih kencang sampai orang-orang lain menoleh. Dan untungnya abang gue ini juga noleh. "Bukan di bawah, di atas" ucap gue antara berbisik dan menjerit sambil ngasih isyarat. Aniki hanya mengamati sinyal gue secara khidmat dengan muka tanpa dosanya, lalu lanjut berjalan. Gue kaget, season kedua. Gue takut dia ngga menangkap apa yang gue katakan. Akhirnya gue berlari menyusul Aniki ke bawah, eh tapi gue ngga mendapati Aniki dimanapun. Ternyata, di dekat tempat Aniki berdiri tadi, ada tangga naik. Dan ternyata lagi, Aniki mendengar ucapan gue dan naik lewat tangga itu, cuma gue ngga melihat. 

Aniki : (selesai mengerjakan 'tugas' di toilet, ia mendatangi gue dengan muka malu-malu) Aku jadi ngerasa aku adikknya dan Dewi kakaknya
Gue : Hahahahaha! Baru sadar? Selama 23 tahun ini baru sadar?!   
Aniki : Aku kan cuma ngikutin tanda panah (masih malu)
Gue : (masih tertawa puas)

 Jangan bandingkan perempuan berjilbab hitam dengan perempuan yang di poster belakang. Jangan.

Karena blur lebih asyique

Gue yang memilih film yang akan ditonton, yaitu captain america : civil war. Banyak dramanya sebelum nonton film ini. Aniki memang suka pura-pura menolak mau ikut saat di hari H. Padahal jauh hari sebelumnya, gue udah meminang aniki untuk jalan bareng hari kamis, dan beliau meng-iya-kan. Berikut beberapa percakapan bodoh kami.

R : Duh aku ngga tau cara beli bioskop.
D : Kita cuma beli tiket, ngga beli bioskop.

R : Duh kalau nonton siang, panas, aku gampang keringatan.
D : Di bioskop ada AC.

R : Nanti Dewi aku antar aja ya, lalu aku pulang. Kalau sudah selesai, kabari. Biar aku jemput.
D : Yaudah, kalau gitu biar Dewi cari orang lain yang ngga muhrim untuk menemani Dewi nonton.

R : Dewi ada celana yang bagus ngga? Celanaku ngga bagus nih buat pergi.
D : (berteriak ke mama) Ma, ayah punya banyak sarung kan?

R : Duh kalau siang, panas, keringatan di jalan, terus rambutku jelek. Ngga usah jadi ya.
D : Yaudah, pake kerudung. Ngga keliatan rambutnya.

R : Duh aku ngga tau cara beli bioskop (lagi).
D : Berisik.

Aniki memang gemar bercanda dan memancing gue untuk menghantam kepalanya. 

 Karena blur lebih asyique (2)

Jika sempat melihat postingan lama yang sudah gue hapus, ada satu postingan lain mengenai tingkah gemasnya Aniki. Banyak pula foto-foto gue bersama beliau. Hanya untuk klarifikasi, gue mungkin terlihat seperti hanya menonjolkan Aniki dan jarang mempublikasikan bang Ridwan. Hal ini tak lain dan tak bukan karena abang ngga pernah mau difoto (semenjak kuliah). Abang bilang, "Kalau aku difoto, nanti fotoku tau-tau udah terpampang di blog Dewi". Hahahaha. He just knows me too well. Sejujurnya, gue sangat ingin bisa jalan bareng begini bertiga. Aniki pun berpendapat yang sama. Ada yang kurang pada foto-foto di atas. Gue harusnya diapit dua laki-laki yang ketampanannya berada di urutan kedua (yang satu peringkat 2 A, satunya lagi 2 B) di dunia. Ya mau dikatakan apalagi. Abang masih berjuang di kota pelajar. Pun abang sepertinya betah dan ingin menetap di kota itu. Gue harus siap-siap dapat kakak ipar orang Jawa nih. Asyique.

 Katanya ngga mau difoto

Namun pada akhirnya... (pardon our eye bags, those are prada anyway)

Sesaat sebelum film nya dimulai, gue berbisik "Kalau film ini sudah dimulai, aku ngga akan mengganggap ada orang di sampingku ya. Aniki akan hilang dari peredaran". Sok-sok mau fokus menikmati menonton om Tony Stark soalnya. Aniki hanya menggangguk-angguk. Beberapa menit setelah mulai, Aniki sok-sok memanggil-manggil gue dan buat kegaduhan. Lalu gue menjawab "Maaf, Anda siapa ya?". Aniki pun tertawa dan tidak mengganggu lagi. Kita pun nonton. Ayey!!!

Di tengah film, Aniki sibuk merengek kalau dia ngantuk. 

R :  Harusnya nonton di rumah aja nih, aku udah download Civil War. Bisa sambil makan mie.
D : Astaghfirullah, anak muda. Mereka itu bikin film ngga gampang loh. Hargai dong dengan menonton yang asli (padahal mah nonton film korea masih bajakan).

Dan film terus berlanjut dengan udara yang super dingin. AC nya menyebalkan, gue sempat tersiksa sakit perut selama beberapa lama. Perut gue ini memang sensitif pada udara dingin. Terlebih, hari ini d**i*ar***e gue masih belum membaik. Namun, berbekal gonta-ganti pose duduk, tubuh gue jadi terasa lebih hangat dan sakit perut pun mereda. Di sisi lain, Aniki masih mengeluh ngantuk. Anjing menggongong, kafilah berlalu lah ya. Wkwkwk.

Setelah selesai nonton, kita bergegas kembali ke rumah. Di atas motor, kembali Aniki membuka pembicaraan absurd.

R : Setelah selesai menonton film tadi, aku langsung kepikiran satu hal.
D : Apa?
R : Aku mau nge gym ah.
D : Hahahahaha.
R : Perutnya roti sobek semua tadi.
D : Hahahahaha (lagi).

Masih banyak hal-hal 'menggemaskan' lainnya sepanjang perjalanan tadi yang membuat gue berulang-ulang kali mengucap "Untung aniki abang aku dan untung aniki ganteng". 

Ya, dialah saudara kandung gue, anak tengah yang selalu mengambil jalan tengah : kadang diam, kadang kabur. Saudara kandung yang menjadi penetral di antara bang ridwan dan gue yang cenderung lebih keras kepala. Saudara kandung yang ngga pernah mengatakan gue cantik secara jelas dan lugas. Setiap kali gue tanya "aku sama si X, cantikan siapa An?", aniki selalu menjawab "cantikan mama". Saudara kandung yang tipe perempuan idealnya adalah : pokoknya yang bukan kayak Dewi. Kejam memang hidup ini terkadang. Gue tau sih, tipe Aniki tuh yang imut-imut lemah menggemaskan gitu, plus kalem. Mungkin hanya kriteria kulit putih yang bisa berhasil gue lewati.

Anyway, tadi jam 7 malam gue sempat pergi ke Giant untuk membeli beberapa bahan makanan sama ayah, lalu Aniki melihatnya..

R : Dewi mau kemana?
D : Mau ke Bogor
R : Hah?
D : Aniki sedih ya kalau Dewi ke bogor? Ya kan? Ya kan? Sedih kan? Sedih kan???
R : (pasang muka sedih) Kenapa ngga lebih cepat aja ke Bogor nya. Aku kan bisa senang-senang di sini. Sana pergi, hus hus.

Lalu saat gue kembali dari Giant, ternyata Aniki nanyain ke mama apa benar gue pergi ke bogor. Hahahaha. Polos sekali. Kata mama, muka Aniki sedih begitu "Kok Dewi udah pulang ke bogor aja ma?" "Hah siapa yang ke bogor?" tanya mama. "Itu, Dewi pergi" jawab Aniki lagi. "Oalah! Itu mah mau ke giant!"

Gue yang mendengar pengakuan mama pun tersenyum menyebalkan ke Aniki. Aniki langsung pasang muka jijik "Bohong tuh mama bohong". Lalu gue melanjutkan dengan nyanyian yang liriknya ngarang dan nadanya gue sadur entah dari lagu apa, lupa : "Just tell me if you looooveeee meeee~~~~". "Hoek!" kata aniki.


Ya, begitulah kurang lebih gue dan keluarga gue. Ngga sering jalan-jalan memang. Namun gue baru menyadari, nikmat Allah yang tak terkira, bahwa ngga semua keluarga bisa ngobrol sesantai yang gue lakukan dengan anggota keluarga gue. Gue berharap obrolan gue dan keluarga gue tidak terlihat seperti Lenong. Biasanya sebagian besar percakapan diawali oleh gue dan ayah yang meledek-ledek mama. Aniki diam saja sebagai penengah bak malaikat. Bang ridwan kadang membela ayah, kadang membela mama. Gue mah selalu bela ayah. Mama enak sih buat diledekin wkwk. Namun in sya Allah, mama dan ayah tau kok kalau gue menyayangi mereka secara adil. Walau memang, gue adalah makhluk Depok yang tergolong bang toyib : jarang pulang, tidak berarti rasa sayang gue memudar. Gue hanya... takut ngga mau balik ke Bogor lagi kalau udah di Depok. Wkwkwk. 


Begitu deh, panjang sekali ya postingannya. Sudah lama ngga bercerita sih. Rasain, kalian. Bwek. Akhir kata, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.