Laman

Sabtu, 30 April 2016

Obrolan sore ini

"Kenapa kalian putus?"

"Ya begitu saja. Memang sudah tidak cocok lagi. Sudah beda arah"

"Sudah pernah coba untuk cari cara supaya cocok lagi?"

"Udah. Udah pernah coba buat mempertahankan kok, cuma emang udah ngga bisa"

"Bisa gitu ya"

"Baik-baik kok putusnya. Bukan karena orang ketiga juga"

"Padahal dulu kalian teman baik kan, harusnya emang udah satu frekuensi dong, cuma beda status aja. Kok bisa jadi beda sekarang. Gue ngga percaya kalian bisa putus"

"Iya, gue juga ngga tau kenapa bisa. Gue juga ngga percaya. Tapi emang banyak juga sih yang akhirnya kayak gini. Lagipula pihak sana yang memutuskan"

"Apa kalau untuk berteman dan untuk dijadikan pasangan itu bisa berbeda banget? Kalau dijadikan teman, mungkin cocok. Kalau dijadikan pasangan, belum tentu ya"

"Nah iya, gue juga mikirnya begitu. Mungkin gue seperti itu ya. Mungkin berbeda. Yasudahlah, gue juga udah diajarkan untuk ngga terlalu berharap sama laki-laki. Jadi yaudah gue jalani aja"

"Gue mengerti. Mengerti banget. Mungkin kita sama. Kalau jadi teman, kita mungkin sangat menyenangkan. Tapi entah kalau dijadikan pasangan"
 
*******************

Cuplikan di atas adalah beberapa patah kalimat obrolan sore yang ditemani langit mendung kota hujan di sebuah warung makan. Hanya percakapan ringan biasa mengenai salah satu topik yang tidak pernah habis dibahas di kalangan sesama perempuan. Seiring  bertambah usia, pikiran mengenai suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan pasti menjadi tanda tanya besar. Sebuah pertanyaan yang ingin buru-buru diperoleh jawabannya. Namun, semakin dicari, semakin ngga ketemu. Kalau alih-alih memutuskan untuk pasrah dan ngga memikirkan mengenai perkara hati itu, ujung-ujungnya berbagai undangan pernikahan dari teman sepermainan yang saling susul menyusul akan kembali mengingatkan kita. Ngga habis-habis.

Mendengar cerita mengenai teman gue ini, gue mendadak ingat pernyataan seorang teman gue yang lain : "Dewi ini anaknya gampang bikin nyaman ya. Hati-hati nih bisa bikin gampang suka"

Nyaman ya... Gue pernah dengar dari orang yang lain lagi tentang pendapat serupa. Namun, kalau boleh jujur, gue sedih mendengar pernyataan ini.



Percuma kan, kalau bisa membuat orang merasa nyaman, tapi ngga bisa bikin yakin. Hm.

Tidak ada komentar: