Halaman

Sabtu, 19 Maret 2016

Saat kesempatan kedua telah hilang

Jumat, 18 Maret 2016



PESANTREN IMPIAN

Sejujurnya, film ini langsung gue coret dari daftar 'calon film indonesia yang akan gue tonton' setelah melihat judul dan posternya. Kenapa? Karena judulnya ngga asik. Begitu pula poster film nya yang entah mengapa mengingatkan gue pada film twilight yang secara kebetulan tidak gue sukai. First impression gue adalah : film religi bergenre romantis biasa yang dimodernisasi ala twilight. Parah ya. Well, tapi pada dasarnya, calon penonton tak bisa disalahkan bila mereka hanya menjustifikasi melalui kesan pertama. Itulah mengapa selama ini semua dunia sibuk mengatakan bahwa penampilan itu tetap penting, branding penting, kesan pertama itu parameter penentu. Pokoknya gitu. Cukup segitu aja pembelaan dirinya.

Lalu? Kenapa gue jadinya nonton film ini? Special thanks to teman gue (yang bahkan sekarang gue lupa siapa) yang udah ngasitau gue.

X : Dew udah nonton pesantren impian?
D : Haha, belum. Kayaknya ngga pengen nonton hehe
X : Oh, di trailer nya gue lihat ada pembunuhannya gitu. Asma nadia pula yang bikin ceritanya. Dikirain lo nonton.
D : (terdiam) APAAN?! Pembunuhan?! Lah? Bukannya itu film religi biasa? (lebih dengar kata pembunuhannya dibanding nama mbak Asma Nadia nya haha. Tapi gue lumayan impressed sama mbak ini. Variasi genre nya luar biasa!)
X : Engga wi, sepertinya di dalam pesantren itu terjadi peristiwa pembunuhan gitu
D : ALLAHU AKBAR! GAWAT! FILM NYA UDAH LAMA TAYANG LAGI! IBUUU! (menyesal)
X : Sabar dew sabar

Yaudahlah, pasrah.  Di instagram @filmnasional juga status film ini udah "MASIH TAYANG DI BEBERAPA BIOSKOP" yang makna lainnya adalah " SUDAH SANGAT SEDIKIT YANG MASIH NAYANGIN FILM INI, PINTAR!". Plus ini film Indonesia, makanya gue udah yakin aja kalau film ini pasti udah turun layar di bioskop daerah Bogor. Udah menciut semangatnya, dan bodohnya ngga ngecek website dulu haha. Alhamdulillah, bidadari Chevia Nadia hari ini iseng ngecek website 21cineplex dan ternyata film ini masih ada di BTM! Hahahaha. Udah deh, langsung nonton malam. Sendirian, seperti biasa :D


Sekarang baru serius. Review~

Secara konsep cerita, gue suka sekali! Konsep pesantren yang berada di pulau terpencil sendiri gitu. Asik! Plus, nama pemeran wanita utamanya Dewi pula. Hehehe. Bercanda. Briptu Dewi sebagai polisi ditugaskan mencari pelaku pembunuhan di suatu hotel yang diduga akan direhabilitasi di Pesantren Impian ini. Pesantren impian adalah pesantren yang memang sengaja menyeleksi dan mengundang orang-orang dengan masa lalu kelam secara diam-diam untuk dibenahi dan diberi kesempatan kedua menjadi orang yang lebih baik. Namun, pembunuhan berantai pun dimulai di sini. Saat kasus pertama di pesantren impian, briptu Dewi akhirnya memecahkan kasus pembunuh di Hotel yang ia duga juga merupakan pelaku yang sama dengan kasus di Pesantren ini. Seorang perempuan pun ia kurung di ruangan dan ia jaga ketat. Apa yang terjadi? Pembunuhan berantai terus terjadi. JENG JENG JENG JENG!

Yang gue lakukan adalah nyengir (sangat) bahagia selama film. By the way, di dalam film ini juga diselipkan sedikit ajaran untuk kembali beribadah dan berserah diri pada Allah. Tapi ngga banyak, cukup dengan cara halus seperti menyerahkan Al Qur'an sebagai hadiah ulangtahun dan kalimat-kalimat lembut yang menusuk batin. 

"Sepertinya saya ngga pernah lihat kamu  shalat dan mengaji lagi, semoga Tuhan nya kamu ngga lupa sama kamu ya haha"

"Saya kangen sama ibu saya" | "Saya mengerti nak. Ohiya, ngomong-ngomong soal kangen, Allah juga pasti lagi kangen sama kamu"
    
Begitu deh wkwk. Sampai menjelang akhir, gue masih sangat antusias dengan film ini. Namun, lagi-lagi ekspektasi harus berbentur dengan kenyataan bahwa film ini masih belum bisa memuaskan gue. Haha. Mood sudah sangat amat bagus dari awal hingga menjelang akhir. Bagus banget pembawaan suasana film nya (walau kadang ekspresi para korban pas ketemu pelaku kurang asyik). Sayangnya, entah mengapa, justru menjelang pengungkapan si pelaku, banyak scene yang dipaksakan dan aneh. Sangat aneh, kalau boleh jujur. Gue ngga bisa menebak sih kalau ternyata pelakunya orang itu, tapi gue pribadi ngga suka kenapa pelakunya harus orang itu. Hahaha ini mah keegoisan gue sendiri :p

Cuma, serius deh.. banyak scene yang dipaksakan terjadi untuk mengungkap siapa pelakunya. Syedih. Ending memang susah yah. Hmmmm. Dan... sekarang gue penasaran versi asli novel nya mbak Asma Nadia ini kayak gimana. Apakah menggantung juga atau lebih tertuturkan secara cantik jika di dalam tulisan? Entahlah. Sepertinya akan mencoba mencari novelnya. Sepertinya...

Akhir kata, mohon maaf atas segala kesalahan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

2 komentar:

Nadia Azka mengatakan...

wahahah dasar deway dan chevia. btw iya yha judulnya kok ga ada mencerminkan2 jalan ceritanya -_-

Dimas Prasetyo Muharam mengatakan...

baca novel2 Agatha Cristie ga? keren2. tapi cuma beberapa sih yang fantastis kasus pembunuhannya :
D