Halaman

Rabu, 30 Maret 2016

Pengingat

Karena perubahan adalah hal yang mutlak
Karena kita bisa dipecah menjadi aku dan kamu
Karena dia bisa bergabung menjadi kami
Karena mereka bisa bertansformasi menjadi kita

Maka bila nanti aku melihat kamu yang kini sedekat nadi menjadi sejauh matahari, aku tak akan panik.
Maka bila nanti aku yang kini tak pernah melihat dia menjadi hampa tanpa kehadirannya, aku tak akan bingung.

Karena kita semua berubah. And no one can be blamed for it.

#ntms

Sabtu, 19 Maret 2016

Saat kesempatan kedua telah hilang

Jumat, 18 Maret 2016



PESANTREN IMPIAN

Sejujurnya, film ini langsung gue coret dari daftar 'calon film indonesia yang akan gue tonton' setelah melihat judul dan posternya. Kenapa? Karena judulnya ngga asik. Begitu pula poster film nya yang entah mengapa mengingatkan gue pada film twilight yang secara kebetulan tidak gue sukai. First impression gue adalah : film religi bergenre romantis biasa yang dimodernisasi ala twilight. Parah ya. Well, tapi pada dasarnya, calon penonton tak bisa disalahkan bila mereka hanya menjustifikasi melalui kesan pertama. Itulah mengapa selama ini semua dunia sibuk mengatakan bahwa penampilan itu tetap penting, branding penting, kesan pertama itu parameter penentu. Pokoknya gitu. Cukup segitu aja pembelaan dirinya.

Lalu? Kenapa gue jadinya nonton film ini? Special thanks to teman gue (yang bahkan sekarang gue lupa siapa) yang udah ngasitau gue.

X : Dew udah nonton pesantren impian?
D : Haha, belum. Kayaknya ngga pengen nonton hehe
X : Oh, di trailer nya gue lihat ada pembunuhannya gitu. Asma nadia pula yang bikin ceritanya. Dikirain lo nonton.
D : (terdiam) APAAN?! Pembunuhan?! Lah? Bukannya itu film religi biasa? (lebih dengar kata pembunuhannya dibanding nama mbak Asma Nadia nya haha. Tapi gue lumayan impressed sama mbak ini. Variasi genre nya luar biasa!)
X : Engga wi, sepertinya di dalam pesantren itu terjadi peristiwa pembunuhan gitu
D : ALLAHU AKBAR! GAWAT! FILM NYA UDAH LAMA TAYANG LAGI! IBUUU! (menyesal)
X : Sabar dew sabar

Yaudahlah, pasrah.  Di instagram @filmnasional juga status film ini udah "MASIH TAYANG DI BEBERAPA BIOSKOP" yang makna lainnya adalah " SUDAH SANGAT SEDIKIT YANG MASIH NAYANGIN FILM INI, PINTAR!". Plus ini film Indonesia, makanya gue udah yakin aja kalau film ini pasti udah turun layar di bioskop daerah Bogor. Udah menciut semangatnya, dan bodohnya ngga ngecek website dulu haha. Alhamdulillah, bidadari Chevia Nadia hari ini iseng ngecek website 21cineplex dan ternyata film ini masih ada di BTM! Hahahaha. Udah deh, langsung nonton malam. Sendirian, seperti biasa :D


Sekarang baru serius. Review~

Secara konsep cerita, gue suka sekali! Konsep pesantren yang berada di pulau terpencil sendiri gitu. Asik! Plus, nama pemeran wanita utamanya Dewi pula. Hehehe. Bercanda. Briptu Dewi sebagai polisi ditugaskan mencari pelaku pembunuhan di suatu hotel yang diduga akan direhabilitasi di Pesantren Impian ini. Pesantren impian adalah pesantren yang memang sengaja menyeleksi dan mengundang orang-orang dengan masa lalu kelam secara diam-diam untuk dibenahi dan diberi kesempatan kedua menjadi orang yang lebih baik. Namun, pembunuhan berantai pun dimulai di sini. Saat kasus pertama di pesantren impian, briptu Dewi akhirnya memecahkan kasus pembunuh di Hotel yang ia duga juga merupakan pelaku yang sama dengan kasus di Pesantren ini. Seorang perempuan pun ia kurung di ruangan dan ia jaga ketat. Apa yang terjadi? Pembunuhan berantai terus terjadi. JENG JENG JENG JENG!

Yang gue lakukan adalah nyengir (sangat) bahagia selama film. By the way, di dalam film ini juga diselipkan sedikit ajaran untuk kembali beribadah dan berserah diri pada Allah. Tapi ngga banyak, cukup dengan cara halus seperti menyerahkan Al Qur'an sebagai hadiah ulangtahun dan kalimat-kalimat lembut yang menusuk batin. 

"Sepertinya saya ngga pernah lihat kamu  shalat dan mengaji lagi, semoga Tuhan nya kamu ngga lupa sama kamu ya haha"

"Saya kangen sama ibu saya" | "Saya mengerti nak. Ohiya, ngomong-ngomong soal kangen, Allah juga pasti lagi kangen sama kamu"
    
Begitu deh wkwk. Sampai menjelang akhir, gue masih sangat antusias dengan film ini. Namun, lagi-lagi ekspektasi harus berbentur dengan kenyataan bahwa film ini masih belum bisa memuaskan gue. Haha. Mood sudah sangat amat bagus dari awal hingga menjelang akhir. Bagus banget pembawaan suasana film nya (walau kadang ekspresi para korban pas ketemu pelaku kurang asyik). Sayangnya, entah mengapa, justru menjelang pengungkapan si pelaku, banyak scene yang dipaksakan dan aneh. Sangat aneh, kalau boleh jujur. Gue ngga bisa menebak sih kalau ternyata pelakunya orang itu, tapi gue pribadi ngga suka kenapa pelakunya harus orang itu. Hahaha ini mah keegoisan gue sendiri :p

Cuma, serius deh.. banyak scene yang dipaksakan terjadi untuk mengungkap siapa pelakunya. Syedih. Ending memang susah yah. Hmmmm. Dan... sekarang gue penasaran versi asli novel nya mbak Asma Nadia ini kayak gimana. Apakah menggantung juga atau lebih tertuturkan secara cantik jika di dalam tulisan? Entahlah. Sepertinya akan mencoba mencari novelnya. Sepertinya...

Akhir kata, mohon maaf atas segala kesalahan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Minggu, 06 Maret 2016

Freeletics

Hey, world! I'm so glad to announce you my new favorite app : Freeletics! The wonderful meeting between me and freeletics was a bit dramatic. It was all started when i yelled out loud, realizing that my weight has raised. NO! PLEASE DON'T BUILD A FAT KINGDOM HERE, HEY BODY!

My very lovely bro (aniki) then ask me "What's the matter sis?". I replied "I'm sick of this weight of mine. It is getting bigger!". Without waiting for his reply, i added "I really wanna be rich as soon as possible! Then, i can buy that thread mill and put it as my coolest decoration in my room." He suddenly reacted like "NO, HELL NO! Cut that crap sis. You don't need that thread mill". I was a bit surprised back then, I thought he was going to scold me and order me to do jogging frequently - like any people do.  His next answer surprised me the most "What you need now is... freeletics". He said that with the eyes full of confidence and peacefulness. I could even see the holy circle above his head, out of the blue. I was like "Wow, what is that? Show me that freeletics, Doraemon"

And... Tada~ Freeletics is a very fascinating application! Thanks, google play store. Thanks, the creator. It is about the tutorial for those who want to do exercise properly. It has some stages, depend on your current condition. For example, me, I told the freeletics that i'm not in a very fit condition and i want to get toned as a result of my (long) exercise. After examining my answer, this freeletics app conclude that i should start the exercise from the very basic technique. This stage is called 'athena' anyway. Such a very hilarious name.  My first workout consisted of three movement, which are mountain climbers, crunches and HH squats. I was like giving birth when doing the crunches. It was the truly nightmare among the three. And my brother just smiled wisely when seeing the pathetic of me, struggling to move my own body. "Relax, everyone is like you at the first, sis. Me either". I took a hard breath, a very hard breath. I felt it was really tormenting, yet also challenging and delighting at the same time.  I laughed, in the middle of my struggling time. 

My bro suddenly gimme a long speech "See? This is not as easy as we watched in the tutorial video, rite? These are what those athletes always face. They experienced a hell exercise. They might want to escape for many times, yet they keep on fight for themselves. This goes the same for those people who do exercise in gym. They're all struggling. While the others are putting an effort to have a better healthy body, the fat girls keep on mocking them by saying 'Blah! Those men in the gym were all gay!' and also keep on eating their favorite chips in the couch. They never knew how hard the exercise is and never want to change"

Hearing the 'eating their favorite chip' keyword, I suddenly interrupted his impassioned speech "Wait.. bro, did you talk about me? I feel offended, somehow". He looked at me first, then laughed so hard at the end. "No sis, it is not about you hahaha". 

In simply, thank you for my super beloved aniki for introducing me to this app. Quite amusing, so far. I highly hope me and freeletics can be a very good friend, now and forever (until i get a tempting body shape like any indian actresses wkwkwk). Kidding. I just wanna be fit. That's all.

Nah, this is the end of my emotional posting. I'm so glad actually for getting this app. Finally i found my way to do a proper exercise without getting out of my room hahaha. Cheers for everybody who wants to change to be a better person! Cheeeeerrssss~~~