Halaman

Senin, 29 Februari 2016

Merasakan yang tak terlihat

Kamis 25 Februari 2016


JINGGA

Film besutan mbak lola amaria ini sudah menyita perhatian gue sejak akun @filmnasional mulai launching posternya. Kebetulan, tema besarnya merupakan salah satu hal yang sejak lama gue taksir - mengenai penyandang disabilitas. Bahkan masih sebuah misteri mengapa dulu belum terpikir untuk mengambil jurusan pendidikan luar biasa di UNJ. Dan sekarang sedang menimbang-nimbang... banyak yang gue timbang sih sebenarnya, terlalu banyak (tipe-tipe bukan orang produktif wkwk).

Nah, maaf jadi ngelantur. Tema kecil film ini adalah tuna netra - difabel tipe A. Plot ceritanya asik banget. Entah gue anaknya terlalu baperan atau gimana, gue nangis sih sejak awal film. HAHAHA. Di awal aja kok. Soalnya emang bagian down nya itu di awal. Saat seorang anak yang tadinya bisa melihat (walau tergolong low vision, tapi tetap kadang bisa melihat jelas), tau-tau harus dipaksa bener-bener tenggelam ke dalam dunia hitam dan hitam. Mainin emosinya oke, pemeran jingga nya juga lumayan. Gambaran yang lumayan merepresentasikan gimana kondisi si terdakwa buta total dan keluarga pasca mendengar kabar duka itu. Itu awal cerita, akhirnya ya kira-kira perjuangannya. Lumayan bikin senyum-senyum dan renungan juga mendengar penuturan para tokoh tuna netra di film ini. Plus sedikit bumbu-bumbu cinta penambah semangat wkwk.

Memang cuma satu adegan yang gue sayangkan ada di film ini : ciuman. Cuma sedetik dua detik sih, bahkan gue pun ragu itu ciuman atau bukan. Antara menyentuh atau tidak gitu, tapi kayaknya seingatan gue sih itu mereka ciuman. Nah iya, adegan yang tidak perlu itu cukup menyakiti hati gue. Oh ralat, sangat menyakiti gue. Tepatnya, ketika gue sedang menimbang-nimbang akan merangkai kalimat seperti apa yang bisa melambungkan nilai murni dan kepolosan untuk review film ini, eh gue dikhianati. Lebih sakit rasanya ketimbang chat tidak dibalas-balas oleh yang di seberang sana. Lebih sakit.

Mungkin ini masalah prinsip dan mindset gue aja tentang 'harusnya karakter film indonesia itu bagaimana'. Adegan ciuman di film luar negeri mah layaknya adegan makan - hal lumrah. Koleksi film gue (luar negeri) juga banyak yang punya adegan seperti itu. Sekali lagi, tapi itu luar negeri. Menurut gue, kita seharusnya lebih santun. Bukan berarti gue berpikir naif bahwa "anak Indonesia ngga ada yang cium-ciuman gitu". Ya ampun, ya adalah pasti, banyak. Banyak. Namanya juga syaitan bebas berkeliaran di dunia. "yang harus santun" di sini adalah nilai-nilai yang kita pertontonkan ke masyarakat. Menurut gue adegan ciuman ini bisa di cut. Bisa banget. Karena nggak memegang peranan penting di film. Ngga penting banget. Kenapa sih harus ada adegan ini kalau adegan ini bisa dibuang? Yang gue khawatirkan, adegan ini pelan-pelan akan menjadi hal lumrah bagi kita di perfilman Indonesia. Dan kalau saat kemarin gue menonton film ini, gue sudah menjadi seorang ibu yang sedang membawa serta anak-anak gue dengan harapan memberi mereka tontonan mendidik mengenai dunia para difabel, gue akan marah, marah besar. Sangat marah. Mana bisa gue prediksi bakal ada adegan ngga penting itu? Di trailer juga ngga keliatan. Terus anak gue gimana? Terpapar sebuah adegan yang terlihat biasa saja tapi bisa membentuk simpulan "oh ciuman itu bisa bebas dilakukan, asal sama-sama suka".  Dan sekali lagi, yang gue khawatirkan, adegan ini pelan-pelan akan menjadi hal lumrah bagi kita di perfilman Indonesia.

"Kamu tidak boleh berpikiran sempit dewi, karya perfilman jauh lebih luas dari yang ada di dalam otakmu. Dan adegan intim seperti itu kadang dibutuhkan"

Jawaban gue : ya jika memang film itu sangat membutuhkan adegan tersebut, terserah. lakukan saja. tapi mohon lakukan jika "hanya sangat membutuhkan". Misal seperti film Jakarta Undercover (2006), kalau adegannya main aman doang kayak duduk bersebelahan sambil senyam-senyum menatap mata satu sama lain.... ya jelas mustahil. Karena ceritanya ngga begitu. Adegan ini jadi penting karena emang di 'adegan intimlah' inti cerita dan nilai film ini. Tapi bedanya, film Jakarta Undercover ini jelas terlihat dewasa sejak awal. Jadi, bagi para kaum ibu-ibu bisa jaga-jaga gerak-gerik ataupun jadwal tontonan anaknya. Jangan sampai nonton film ini, kalau anaknya belum cukup cerdas untuk menelaah.

Kalau ngga penting mah ngga usah lah diada-adakan. Intinya itu.

Ya Allah, panjang juga ya review cuma tentang satu adegan doang. Hahahaha! Balik lagi yuk ke jingga...

Hal yang sangat menarik dari mbak lola ini adalah pemilihan dia terhadap casting. Beliau menggunakan aktor-artis muda yang baru loh sebagai pemeran utamanya. Di saat beliau punya banyak kandidat aktor-artis lain yang sudah melejit namanya, beliau malah memutuskan untuk menggunakan aktor baru. "Supaya penonton tidak mengenali mereka. supaya benar-benar merasa kalau mereka buta". Kira-kira begitu alasan mbak lola kenapa ia memilih para aktor-artis baru ini (mengutip dari salah satu artikel di internet). Dan menurut gue itu pilihan yang sangat oke. Karakter mereka jadi terasa real. Dan film ini emang ga perlu artis terkenal, cukup yang menjiwai saja. Belum berhenti mengagumi film ini, ternyata... film ini satu besutan dengan film yang dulu sempat sangat ingin gue tonton (walau akhirnya ngga jadi) : negeri tanpa telinga! Ya ampun mbak lola! Ya ampun kita berjodoh sekali! Berarti ini sudah kali kedua mbak lola menggelitik rasa penasaran saya melalui sinopsis film besutan mbak. Sayang sekali, dulu saya belum sesemangat ini untuk menelusuri film Indonesia, jadi hanya berakhir sebagai wacana di kepala dan di ujung mulut saja deh. Sedih.

Tak terasa, sudah sampai di penghujung postingan, gue pribadi menyatakan gue sangat suka film ini (terlepas dari adegan satu-dua detik). Gue suka karena gue bisa agak sedikit membayangkan kondisi dan sudut pandang para tuna netra. Dan merupakan tontonan yang baik sebagai teladan untuk lebih menghargai hidup. Kurang lebih begitu hehehe. Pesan dari gue sih : dunia tidak berakhir saat penglihatanmu hilang, namun saat semangatmu padam.

Akhir kata, mohon maaf bila banyak kesalahan karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.