Halaman

Minggu, 27 Desember 2015

Agama, cinta dan film

Minggu 20 Desember 2015

Ini adalah hari pertama gue menjalankan misi gue : menonton film Indonesia di bioskop. Kalau jiwa dan dompet menyanggupi sih ingin menonton semua film Indonesia yang tayang di layar lebar. Semoga terealisasikan. Saatnya gue memberi kesempatan menyaksikan dan menghargai karya seniman Indonesia menggunakan dompet. Mohon maaf, biasanya cuma bisa kopi soft file film Indonesia dari satu FD ke FD yang lain atau jalan paling mulia (dan paling mager) yang bisa gue lakukan adalah dengan  menunggu film nya tayang di layar kaca televisi. Mohon ampun. Makanya saya sekarang taubat. Film Indonesia hanya perlu dikasih kepercayaan dan kesempatan. Pun dalam misi ini gue mau lihat sendiri  apa benar paradigma gue selama ini yang menyamaratakan film Indonesia  dengan FTV di siaran TV swasta. Di sisi lain, gue punya keyakinan kalau film Indonesia sekarang udah punya banyak banget perbaikan dari segi teknis. Pengambilan gambarnya kan udah cihuy, ngga kayak jaman warkop DKI masih merdeka. Jadi, gitu deh. Saya mendedikasikan diri saya untuk menonton dan mereview film Indonesia. Kalian mendingan ngga usah baca soalnya isinya bakal penuh kesotoyan, saya cuma mau menuntaskan misi saya. Bhay. 


BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA

First of all, gue mau memberi review untuk diri gue sendiri : WOY KALAU MAU KASIH REVIEW LAIN KALI PAS FILM NYA BARU BANGET DI TONTON DONG BIAR MASIH NYANTOL DI KEPALA. UDAH TAU MEMORI SEMPIT BEGITU DI CEREBRUM DAN CEREBELUM, PAKE JADI WAITING LIST SEGALA. UDAH LUMER SEKARANG MAH.

Gitu aja. Yuk lanjut *senyum bidadari*

Oh fyi, gue ngga tau apakah film ini adaptasi dari novel atau tidak, yang gue tau gue hanya mereview film ini dari apa yang sudah gue tonton saja. Yuhu~ Pertama, biar gue puji latarnya. Menurut gue adalah hal yang sangat lumrah jika setting nya bagus, luar negeri tjoy. Yeah, stereotipe nya luar negeri kan gitu : pemandangan bagus dan bersih. Good lah good, memanjakan mata. Kedua, aktor dan artisnya. Gue suka pemeran pria dan perempuan keduanya. Siapa ya namanya lupa, temannya si Rangga. Gue juga suka Rangga. Yailah Abimana bro. Semuanya bagus kok castingnya. Walau gue suka merasa di setiap aktingnya Aca, dia suka memberi ekspresi ngotot atau emosional yang agak sedikit berlebih. Kayak ngga santai gitu kakak. Bukan jelek, gue cuma bisa melihat aura antusias dia dalam berekspresi. Mungkin perasaan adek doang sih, agak berlebih dikiiiiit aja. Ketiga, sisi ceritanya. Cerita mengenai WTC dan Islam bukan kali pertama diangkat sih. (Meski sesungguhnya gue cuma tau film my name is khan hahahaha! maklum, gue bukan penikmat film sih, jadi maafkan lah jika pengetahuan gue akan film di dunia ini minim). Pesan yang mau dikasih ada dua di film ini. Ada pesan mengenai islam, ada juga pesan moral umum mengenai sebuah hubungan. Dari segi cerita lumayan asik, karena ada kisah yang bikin tanda tanya nya. Boleh lah alur drama nya, dan bagaimana cerita saling sambung menyambung dari hulu ke hilir. Walau gue sedikit membayangkan di pertengahan film, gue yakin dia bukan teroris, tapi pertanyaan ini yang membuat gue masih bertahan menyaksikan film dan menunggu kejutan : Bagaimana cara membuktikan bahwa terduga teroris ini tidak bersalah dan bagaimana cerita yang sebenarnya? Gitu sih. Lumayan asik. 

I love Islam, but i lost my pride.

Deuh, dalem. Kalimat ini lebih dalam dari samudera. Itu salah satu dialog dari istrinya si terduga teroris. Skenario nya lumayan halus dan tegas dalam menyatakan bahwa ajaran Islam sudah benar, namun belum tentu dengan muslim nya. Semoga aja dipahami dan ngga perlu lagi saling berselisih atau kucil mengucilkan. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Gitu aja sih.

Tapi... mungkin ngga akan semulus itu sih cara kerjanya, namanya juga masih ada syaitan di dunia ini. Hahaha. Selain mengenai agama, ada juga lho pesan mengenai hubungan laki-laki dan wanita. Bagaimana ya.. mungkin ini semua tentang kepastian. Untuk laki-laki, tidak semua wanita bisa menunggu seumur hidup untuk satu kepastianmu. Untuk wanita, laki-laki yang sudah terikat janji suci aja masih bisa kabur, apalagi yang dibebasin kayak kucing liar. Terlepas dari latar belakang agamamu,   quote ini akan bekerja nih : "sebuah hubungan bisa bertahan jika kamu berjalan ke arah yang sama dengan kecepatan yang sama". Inspired by - salah satu cover buku yang gue jumpai di gramedia. Wkwk.

Overall, gue cukup puas dengan alur ceritanya yang apik ditemani setting nya yang tjantique. Cukup dengan hal-hal baiknya, kini gue beralih ke hal-hal yang bisa diperbaiki untuk outcome yang lebih petjah di kemudian hari~

1. Crowded
Nah loh. Ini menurut gue kurang banget. Kurang pake banget. Ada dua momen krusial yang butuh crowded yang dramatis biar dapet nuansa getirnya. Pertama, momen demo penolakan pembangunan mesjid dan kedua, momen chaos di gedung WTC sesaat setelah peristiwa pemboman. Untuk momen pertama, ada kerusuhan yang terjadi saat demonstrasi sehingga orang berlarian panik saling dorong mendorong, injak-menginjak dan Aca terjebak di antara mereka semua. Pemimpin demonstrasi tersebut yang sangat benci terhadap Islam pun terperangkap di antaranya, terinjak-injak, dan justru Aca (nama di film nya sih Hanum) sang pengemban agama Islam lah yang menolongnya. Begitu kira-kira tujuan adanya kerusuhan ini berdasar simpulan gue. TAPI! Orang-orang yang berlariannya tidak ramai, kurang. Kurang natural. Kurang rusuh. Kurang pressure. Gerakan Aca dalam menanggapi rombongan demonstran yang saling lari dan mendorong pun masih kayak gerakan monoton para artis sinetron sesaat sebelum ketabrak mobil : diam dan melotot menunggu ditabrak. Kurang dramatis, kurang sakit. Andai saja, kerusuhan yang terjadi di antara para gerombolan demonstran itu bisa digambarkan seramai kegaduhan jakmania dengan bobotoh atau seheboh penonton di konser Slank, pasti akan lebih berasa suasananya.  Dan tentunya jika kerusuhan ini berjalan dengan sangat mulus, amplop kuning yang dianggap sebagai nyawa pekerjaan bagi Aca akan terjatuh dengan alami, bukan seperti dengan semena-mena ditinggal kayak bayi haram. Kedua, chaos di WTC. Adegan di tangga tuh kurang petjah. Kurang ramai. Kurang saling menghimpit. Ini bom loh! Bom! Kurang panik, kurang penuh di tangga. Begitulah kira-kira kesotoyan gue. Hehehehehe.

2. Terlalu cantik
Bukan, gue ngga nyalahin pemainnya yang mukanya cantik dan ganteng. Yang gue salahin adalah, permainan mereka yang ingin main cantik dan aman. Untuk dua momen di atas, momen kerusuhan dan momen chaos di WTC. Kalau aja ada adegan Aca dan pemeran penting lainnya terinjak-injak, beeehh... oke punya. Di tangga ada yang terjatuh-jatuh gitu, deuh... sedap. Atau minimal dihimpit-himpit ke dinding kek. Ditunjukin gitu sengsaranya. Kalau di film action kan begitu ya, berasa deritanya. Sayangnya di film ini ngga terlalu ditunjukkan dihimpit-himpitnya, dan lebih main ke... apa ya gue lupa. Efek gitu kayaknya ngga paham gue juga. Kurang di situ sih, kurang sakit.

3. (Sedikit) ngga natural
Perlu digaris bawahi, cuma satu scene yang mengganggu dan gue anggap ngga natural di sini. Dan itu adalah scene terjatuhnya seorang perempuan dari gedung WTC. Kayak.. a bit.. well... terlalu dipaksa untuk jatuh. Dan, ternyata perempuan itu bukan perempuan biasa. Jeng jeng. Lebih oke lagi kalau adegan wafatnya nya beliau diberi attention lebih dalam dan menonjolkan peran yang semestinya terlihat sebagai hero. Cuma segitu aja bisa komentarnya, takut spoiler. Hahaha.


Gue nangis loh di film ini. Gue emang cengeng sih wkwk Udah nonton sendirian, nangis pula. Pake eyeliner dan maskara lagi kan. Untung pas keluar bioskop belum jadi zombie. Overall, I LOVE THIS MOVIE! Alur ceritanya halus dan pintar. Gue tidak menyesal lebih memilih film ini dibanding film starwars. (Yaiyalah, secara, gue ngga pernah nonton starwars sebelumnya. Wk). I HIGHLY RECOMMEND THIS MOVIE, YES. 

*tolong abaikan wafer nisin ataupun bedak wardah yang sesekali lalu lalang wkwk*


Rabu 23 Desember 2015


SINGLE

Akhirnya gue menonton film single besutan Raditya Dika. My first impression is : GET ME OUT OF HERE! PLEASE! SOMEBODY HELP MEEEEEH! PLEAAASEEE!

Iyak. Persis. Itu yang gue rasakan. Gue sangat amat ingin matiin film itu atau keluar dari bioskop sesegera mungkin. Kenapa? Karena ada scene dimana... RADITYA DIKA NYANYI! RADITYA DIKA NYANYI! JELEK BANGET SUARANYA! JE-LEK-BA-NGEEEEEET!

Jikalau ada raditya dika di depan muka gue, gue benar-benar ingin menghujat beliau karena memasukkan adegan paling mengerikan tahun ini. Jelek banget suaranya, serius. Dan dia nyanyiin satu lagu full.. full.. full.. FULL!! *mati*

Gue ngga merasa adegan itu lucu, gue merasa itu adegan paling garing dan annoying yang pernah gue alami selama menonton film Raditya Dika. *tarik nafas* Tapi kalau gue mau objektif, gue suka aktingnya pas lagi nyanyi dengan muka datar bodohnya itu. Ada sesekali dia kayak merapal mantera karena lupa sedikit liriknya dan berlagak mendengar suara radio mobilnya lagi untuk tau lirik lagunya. Itu oke menurut gue dari sisi akting. Alami gitu. Tapi gue benci banget adegan itu. Serius, jelek. Maaf ya :(

ALHAMDULILLAH NYA, the rest of the movie heal my pain perfectly. Radit kembali dengan sense of humor nya yang selalu bisa gue terima dengan baik. Kalau dari segi cerita, sejujurnya gue bosan dengan tema cerita yang sering dibawa oleh Radit : pencarian cinta sejati. Haduh *tepok jidat* Ditambah unsur standup comedy - seperti biasa. Film ini tepat untuk sasaran target tertentu : remaja muda yang masih mencari arti cinta sejati dan golongan lainnnya yang mencari film komedi. Gue termasuk golongan pencari film komedi. Overall, this movie is laughable. That's all *nyengir*

Gue ngga tau kenapa, tapi gue masih lebih suka film marmut merah jambu di antara semua film Raditya Dika. Lebih segar aja gaya ceritanya. (Dan muka Raditya Dika nya paling sedikit di film itu. Wkwk)

Yet, this movie is quite refreshing kok. Pemandangan nya juga keren parrrah. Latarnya nomor satu, asli pula dari tanah Indonesia. Jadi, boleh dibilang gue lebih apresiasi pemandangan cantik di film SINGLE ini  dibanding Bulan Terbelah di Langit Amerika karena kan pemandangannya asli produk lokal #apaansihdew

Kalau ada teman kalian yang masih bimbang dengan perasaannya dan ketakutannya akan status SINGLE, bisa tolong dibawa buat nonton film ini. Teman saya yang super galau juga mengangguk-angguk seperti mendapat pencerahan selama menonton film ini. Kalimat yang paling terngiang dan bermakna dalam di hati teman gue ini adalah : setiap kita suka sama seseorang, IQ kita akan mengalami penurunan sebanyak 10%. Namun, sebego-begonya kita saat lagi suka sama orang, kita harus tetap cukup pintar untuk bisa bedain mana rasa penasaran, mana yang beneran rasa cinta. (kurang lebih begitu ya kalimatnya).

Kalimat itu sudah menggema di kalbu dan jiwa teman gue tertjinta ini. Dan mungkin juga akan menggema buat teman-teman kamu yang lagi natap layar handphone nya selama satu windu menunggu kabar dari si 'dia' yang kebetulan lagi asik sama 'dia-dia' yang lain. Mungkin saja.

Fyi, bonus dari menonton film SINGLE ini adalah : pemeran ceweknya sangat enak dipandang dan dimiliki (jika doi nya berkenan itu juga). Sekian.

------------------------------------------------------------------

TADA~ Inilah akhir dari review film berbekal insting dan feeling gue sebagai penonton. Kurang lebihnya mohon maaf, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabaraktuh. 

*salim tangan*
*salim tangan sendiri*
*bubar*

Tidak ada komentar: