Halaman

Senin, 14 Desember 2015

Momen

Momen di saat lo tersadar, 'mengetahui teori' dan 'mengaplikasikan teori' adalah dua keluarga yang tidak selalu tinggal di satu atap. Momen di saat lo tersadar bahwa kalimat 'ini pilihan gue' hanyalah sebatas pengalihan isu dari sebuah kewajiban yang ditelantarkan. Momen di saat lo tersadar bahwa  lo ternyata belum pernah benar-benar berusaha berubah.  Momen di saat lo tersadar bahwa lo tidak lebih baik dari seorang abang tukang bakso yang menggunakan boraks dalam resep rahasia adonan baksonya.  Momen di saat lo tersadar, lo mungkin akan atau sudah mengabaikan teori yang lo ketahui, dan tetap melakukan hal sebaliknya yang tentu membawa mudharat lebih banyak. Momen di saat semua ornamen di dalam kepala saling berseteru untuk menyepakati kehidupan ideal macam apa yang diinginkan dan seberapa besar usaha yang rela dikorbankan. Momen di saat pada akhirnya, seluruh tubuh berkonspirasi dan menghasut bahwa tak perlu berusaha sekeras itu sekarang. Pelan-pelan saja. Pelan-pelan saja berubah. Kelak pun akan berevolusi menjadi makhluk yang lebih indah dan wangi, lebih wangi dari kesturi. Iya, akan wangi. Hingga sampai di suatu momen lain, lo tersadar bahwa lo tidak pernah bergerak kemana-mana. Masih sibuk berguling di dalam kubangan penuh lumpur sementara terus optimis berharap akan memiliki aroma sewangi kesturi sambil menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat untuk mandi dan bebersih diri. Ah, pelan-pelan saja. Terus saja begitu hingga tak ada lagi waktu untuk membuat momen baru.


Ditulis secara acak oleh orang yang pelan-pelan mulai meragu dengan jalan yang akan ia pilih. Banyak mudharatnya kah atau masih ada celah baik yang lebih banyak. Apapun itu, masih ada amanah lain dulu sekarang. Jadi, silahkan tidur nak. 

Wassalamu'alaikum. 

Tidak ada komentar: