Halaman

Senin, 31 Agustus 2015

Wisuda (UI)

Heyho! Assalamu'alaikum!

Sudah baca postingan sebelum postingan ini? Sudah lihat foto abstrak penuh warna? Nah ini nih sekilas cerita tentang hajatannya. Wisuda rima dan rice! Wohooo~ Tepuk tangan, please.

Apa? Rima dan rice itu siapa? Ngga tau? SETELAH GUE BERKALI-KALI CERITA TENTANG MEREKA DI BLOG INI, KALIAN MASIH NGGA TAU?! 

...Fine. Aku emang pantas diginiin.

Lanjut.

Semua bermula dari notifikasi lembut di grup watsap kami. Rice mengumandangkan bahwa hari jumat 28 Agustus, doi dan rima akan melakukan selebrasi resmi atas bertambahnya kata baru di dalam nama mereka. Gelar S. Psi untuk rima dan S. KM untuk rice. So touching. Really. I mean it. Rasanya masih baru kemarin, saat gue, ajeng, rima, tara dan cece masih berlari-lari liar ngga tentu arah di lapangan SMA. Masih sibuk membicarakan hal-hal jarak dekat yang sepele : mau makan apa di kantin,  mau main bareng kapan, ngobrolin gimana caranya taktik minta izin ke orangtua gue buat ngajak pergi jalan jauh, sejenak ngomongin ekskul mading atau ngebahas udah berapa puluh koleksi laki-laki yang dimiliki ajeng.  Masih ngga kepikiran sama sekali dengan yang namanya masa beranjak dewasa. Tau-tau sekarang udah ada tambahan gelar. Tambahan amanah. Semoga kalian semakin kuat untuk menjalani masa-masa lain setelah ini. Masih panjang sekali perjuangan kita, nak. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang jauh lebih mengerikan dibanding 'kapan wisuda'. Kita sama-sama tau lah.

Ya semoga dilancarkan segala urusannya untuk kalian berdua. Ya semoga ada yang berani datang ke rumah kalian dan berbincang hangat namun serius dengan ayah kalian. Iya berbicara serius. Bicara tentang bisnis. Iya. Bisnis yang akan ia bangun agar kelak bisa menghidupi kalian dan anak-anak kalian. Cie. 

Ya semoga juga yang datang ke rumah kalian itu beda pria ya, bukan satu pria yang sekali mendayung empat pulau terlampaui. Nanti keulang lagi insiden empat tahun yang lalu. Hahahaha! 

Eh by the way, jumat lalu, ajeng ngga bisa hadir ke wisudaan rima dan rice. Penyebabnya masih belum diketahui dan tidak diselidiki. Dan by the way lagi, ajeng udah sidang. Tinggal menunggu waktu untuk wisuda. By the way episode kesekian, di antara kita berlima (dewi, ajeng, rima, rice, tara), mahasiswi yang belum melaksanakan ujian tugas akhirnya adalah : gue dan tara. By the way terakhir, gue dan tara sama-sama anak IPB. Rima dan rice UI, sedangkan ajeng UGM. So? Iya, anak IPB emang sangat kompak. Kami tau kok. Hahaha.


Pesan dari perempuan di bogor :

1. Mameh rima. Kalau setelah ini lo akan semakin sulit dihubungi, semakin sulit untuk diajak ketemuan, itu ngga apa-apa kok. Ngga akan pernah ada orang yang bisa terus-menerus ada di samping kita. Pengawal istana aja ngga sebegitunya. Sahabat ngga harus terus bersama-sama. Asal lo ingat kalau kita itu ada. Itu aja cukup. Semoga, rima benar-benar udah melangkah maju. Tidak serta merta membakar yang di belakang, tapi berdamai. Hehe. Langgeng sama Ari, ma. Kita ngga mau ganti ayah lagi. 

2. Nak rice. Gue rasa kalau supply energi nya baterai ABC berasal dari keceriaan lo, baterai ABC beneran ngga bakal abis-abis kayak air zam-zam. So proud to have a strong little girl like ya. Semoga cepat saling menemukan dengan seseorang yang mungkin kamu bisikkan namanya di dalam doa mu, atau dengan seseorang yang membisikkan namamu di dalam doa nya. Dan, atau-atau lainnya. 



rima, dewi, ambar (pendamping wanita cece wkwk), rice dan tara (baca : kiri ke kanan)

senyum

"ayo sok tertawa mengobrol bahagia, jangan lihat kamera"

"lihat ke arah pohon di kanan sana, jangan lihat kamera"

Love ya all

master piece. the most beautiful photo

 dampak kalau berfoto dengan banyak kamera

kiss the wisudawati(s)


Udah. Sekian. Selamat wisuda bagi yang menjalankan! Cheers!

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Jumat, 28 Agustus 2015

Belajar lagi





Ada yang mau wisuda hari jumat ini. Ada yang lagi ingin belajar ngedit foto. Klop deh.

Gue ngga yakin mirip apa engga sama yang asli. Seengganya sih, di mata gue, ini gambar udah ngga kayak monyet. Ngga tau deh di mata kalian mah :')

Jangan lupa shalat shubuh! Bhay!

Kamis, 27 Agustus 2015

Belajar


Iseng coba ngedit foto, cuma kata temen gue jadinya kayak monyet. Hahahaha. Maklum, baru diajarin #carialasan. Next time bakal gue sulap jadi kayak manusia. Tunggu saja. 

Bhay!

Rabu, 19 Agustus 2015

Yang terlewatkan

Bahwa satu waktu yang sempat terlewat, mustahil untuk diputar kembali. Bahwa satu momen yang telah terlewat, tak akan bisa persis diulangi kembali. 


Udah keliatan puitis belum awalnya? Belum? Bagus, berarti ini beneran dewi yang nulis. Ngga dibajak.

Sejak setahun ke belakang, oh bukan, mungkin dua tahun, atau bahkan empat tahun? Banyak, banyak sekali pikiran di kepala ini yang tidak jadi ditulis. Banyak, banyak sekali yang terlalu dipikir sebelum menulis. Banyak, banyak sekali ide tulisan yang hanya menggebu-gebu sementara di dalam otak, lalu idenya mengalir keluar lewat kuping kiri.

Kali ini, postingan akan didedikasikan khusus untuk mereka. Iya. Mereka yang terlewatkan.

#1 Food Day Festival (Foodival)

Mau ketawa dulu apa nangis dulu ya. Hahahaha. Terimakasih untuk acara ini. Manis, asin, asam, garam, umami dan pahit nya acara ini ngga akan gue lupa. Kalau bisa dibilang, Foodival ini bipolar, bisa berfungsi menjadi penyembuh dan juga menjadi luka (cegah gue kalau gue sudah condong menuju ke arah dangdut ya. Please). Di tahun pertama, gue belajar banyak. Belajar bagaimana menghargai leaflet. Benda kecil yang mungkin berarti sangat banyak bagi orang lain. Benda kecil yang mungkin proses pembuatannya jauh lebih kompleks dari kesederhanaan wujudnya. Benda kecil yang didalamnya ditaruh harapan besar untuk dilirik, dibaca dan dipertimbangkan isinya. Belajar bagaimana rasanya ditolak berkali-kali. Belajar bagaimana rasanya memiliki acara. Belajar bagaimana rasanya dikasih kepercayaan. 

"Kalau foodival ngga menggema dan ngga cukup dikenal di kalangan IPB, lo gue gantung di tiang bendera ya"

Mungkin ada kalimat yang agak ngga sesuai, maklum lah ya ingatan gue minimalis. Seengganya itu  kayaknya udah cukup mewakili perkataan ketua event gue dulu. Mau ketawa rasanya. Kenapa pula gue yang harus digantung. Hahaha. Rasanya dikasih kepercayaan, rasanya diburu waktu, rasanya diburu target, rasanya susah bareng, rasanya cari-cari waktu kosong di sela praktikum dan kuliah, rasanya bikin catatan rapi supaya jadwal tidak saling tumpang tindih, rasanya sok sibuk dan asik sendiri, rasanya malu-malu nempelin stiker di angkot, rasanya joget dengan kostum maskot kebanggan : kocu (kotak lucu), rasanya sedih bareng atas acara milik bersama yang tidak semuanya berjalan sesuai keinginan, rasanya kepala ditepuk untuk menyeka tangis, rasanya dilindungi saat merasa jatuh, rasa puas atas segala yang udah dicapai. Rasa yang ngga akan dijual lagi di tempat mana pun. Foodival tahun pertama memberi pelajaran itu semua. Di antara semuanya, saya belajar dari kakak-kakak : rasa kepemilikan dan mimpi. Hal sederhana itu yang bisa terus menggerakkan semua roda. Tanpa ada hal itu, roda satu dan lainnya bisa saja tidak peduli dan memutuskan untuk diam sepihak. Terimakasih emak humas, kak stephanie (fyi, dia selalu ngamuk kalau gue panggil 'emak') serta saudara humas, kak gideon, kak wawan, rahma, ian, rifa, clorin.    

Foodival tahun kedua juga tentu memberi banyak pelajaran. Pelajaran pertama yang tak akan gue lupakan : keinginan mengalahkan kemampuan. Saat kita benar-benar ingin melakukan, kita bisa mengeluarkan kemampuan penuh kita. Saat kita mempunyai kemampuan, tapi tak ada keinginan kuat... ucapkan selamat tinggal. Pelajaran lainnya adalah fenomena nyata dari kalimat bijak "manusia berencana, Tuhan lah yang menentukan". NSPC yang di desain sederhana justru disulap menjadi acara yang super besar dan bergabung dengan acara Food Ingredient Asia. Seminar nasional dan final LCTIP berjalan baik melebihi ekspektasi. Dan tentu tak lupa, bagaimana lokasi food expo mendadak harus diubah H-3. Dan tentu tak lupa, bagaimana di hari H, lokasi expo perlu disterilkan tanpa suara atau musik dikarenakan kedatangan pak presiden di Istana Bogor. Dan tentu tak lupa, kebahagiaan atau keterkejutan yang terjadi di tahun kedua. Di tahun kedua ini, gue belajar untuk berpikir dengan cara yang beda. Belajar untuk tetap menghargai dan ingat pada banyak hal baik yang telah diberikan Tuhan, dibanding mengingat satu bagian kecil lubang yang diberikan Tuhan. Mungkin terdengar sebagai pembelaan diri, namun mungkin harus ada yang gagal agar tersadar apa yang perlu dan tidak, apa yang seharusnya dan tidak seharusnya. Begitulah. Gue tetap sayang sekali dengan foodival tahun kedua. Sayang sekali dengan anak-anak gue. Terimakasih puput, aca, muthi, ravi, zaid, dean, natan, afi, ferdi, bibah, radinal, betris, rahma, amel dan aya. Maaf ya kalau gue suka memaksa kalian untuk menganggap gue ibu kalian haha. Mungkin gue udah ngga sabar buat punya anak :p


Ucapan terimakasih sedalam-dalamnya gue berikan khusus dan sangat terkhusus kepada : Nuriska Rahma Dewanti. Terimakasih sudah betah dengan gue selama 2 tahun. Terimakasih sudah betah untuk jadi tempat sampah sekaligus transporter gue. Terimakasih sudah mau sama-sama menyimpan rasa malu di bawah bantal sejenak sampai acara Foodival selesai. Terimakasih sudah mau keliling bogor sama gue yang bawel. Terimakasih sudah mau mendengar segala rencana gue. Terimakasih sudah mau meminjamkan muka lucu nya untuk membuat gue tertawa lagi jika otot wajah gue sudah terlalu menegang. Terimakasih atas semangatnya yang ngga pernah padam selama dua tahun. Terimakasih karena sudah menjadi pengingat akan mimpi-mimpi kita di tahun pertama. Semoga pelajaran dua tahun ini membuat kita semakin dewasa. Hahaha. Damn, i love you full!

#2 Himitepa

Dua tahun bersama himitepa. Bersama DPPI. Keluarga peduli pangan indonesia. Bersama kalian semua untuk membina sekolah, pedagang dan desa. Jatuh bangun bareng. Atau mungkin dikecewakan oleh imajinasi yang dibuat sendiri. Belajar bagaimana untuk memegang amanah. Belajar untuk mengenal apa yang benar-benar diinginkan. Belajar untuk tidak selalu lari hanya karena merasa sesuatu tidak berjalan dengan sebagaimana yang pernah dibayangkan. Belajar bahwa kenyataan yang tak sesuai itu ada untuk dibenarkan. Belajar bahwa hati gue memang sudah terlanjur ada di Himitepa. Terimakasih kakek Seno dan lainnya yang meyakinkan gue bahwa gue memang sebenarnya ingin tetap di DPPI hehe. Terimakasih untuk BPH himitepa yang selalu memberi usaha terbaik dan mengevaluasi diri menjadi lebih baik dalam mengakomodir pengurus maupun anggota himitepa. Terimakasih juga untuk segenap pengurus himitepa yang baru, terimakasih untuk terus menyulap himpunan ini menjadi lebih baik dan peduli luar dalam. Terimakasih. Perbaikan kalian adalah bukti bahwa kita sama-sama berkembang dan belajar dari kesalahan kita dulu. Terimakasih telah memupuk mimpi-mimpi lalu para sesepuh dan membesarkannya menjadi daun-daun yang segar, batang yang kokoh dan akar yang menguat. 

Terimakasih kak rizki sudah mau menjadi daddy kami. Terimakasih kak ayas yang sudah mau menjadi aunty kami. Terimakasih kak boti yang sudah mau menjadi bibik sekaligus objek bully an kami :p Terimakasih kak gilang, kak muji, kak nia dan kak ais yang rela menyerahkan posisi anak bungsu kepada gue. Terimakasih sudah mau (dengan terpaksa) menjadi saudara gue. Terimakasih kepada ponakan-ponakan istimewa gue : muthi, aca, zaki dan ari. Terimakasih. Kalian sudah membuka lebar jalan yang kita mau. Terimakasih untuk selalu berprestasi. Terimakasih. Titip pesan, jangan terlalu sibuk. Ingat, asas divisi kita adalah keluarga, bukan karyawan kantor hehe.


#3 Praktikum terpadu

Praktikum terpadu adalah agenda sakral di departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB. Kami dibagi menjadi 4 golongan perusahaan : mie jagung, yoghurt, bakery dan sari buah. Iya. Kami dituntut untuk membangun suatu perusahaan. Menjalankannya sebagaimana perusahaan pada umumnya. Seru? SUPER SERU! Gue kebagian untuk menjalankan perusahaan mie jagung, dan dengan suka hati mencalonkan diri menjadi bagian produksi.  Bagaimana rasanya? Duh! Tak bisa digambarkan deh. Dua minggu bekerja bagai kuli, tapi tetap menyenangkan karena kita sama-sama bahagia ngelakuinnya. Berusaha bersaing keuntungan dengan perusahaan lain. Konyol tapi super ngangenin. Apalagi tahun ini gue cuma bisa menonton aksi adik kelas yang akhirnya mengalami PT seperti gue tahun lalu. Gue perlu bilang bahwa tahun ini, mereka sangat amat lebih bersemangat dari kami tahun lalu. Eh tunggu dulu. Bukan berarti kita tahun lalu tidak bersemangat ya. Kita semangat banget kok! Tapi merekanya aja yang tahun ini kelebihan semangatnya, kayak abis minum doping bareng-bareng. Hahaha. Oh ya, tahun ini nambah satu perusahaan, yaitu tempe. Wuh. Heboh deh haha. Bersenang-senanglah kalian PT, sebelum tiba masa skripsimu, dik. Hahahahahaha.

#4 dan lain-lain

Untuk semua cerita yang gue biarkan menghilang dan gue pendam untuk konsumsi pribadi, terimakasih sudah pernah memberi alur naik turun dalam perjalanan hidup yang mungkin singkat ini. Untuk kesalahan, kebodohan, kekonyolan atau bahkan pencapaian luar biasa yang pernah gue alami, walau kalian tidak tertuliskan, walau kalian mungkin terlewatkan, itu tak akan bisa menghapuskan fakta bahwa kalian hidup dalam sejarah gue.




Buat kalian yang sudah terlewatkan, gue akan memberi satu kado manis permintaan maaf. Apa itu? Inilah sebuah janji. 


Proklamasi.
Saya, Dewi emillia bahry, dengan ini menyatakan, komitmen diri. Hal-hal yang mengenai kesalahan dan kekhilafan diri, akan diperbaiki sebenar-benarnya.


Bogor, 19 Agustus 2015
Atas nama diri sendiri
Dewi Emillia Bahry



Ng... oke saatnya istirahat. Semoga kita tergolong orang-orang yang mau terus belajar. Cilukba! Bye!

Sabtu, 01 Agustus 2015

Kalau

Assalamu'alaikum

Kalau bisa dan boleh egois, saya mau egois. Saya mau saya dan semua sahabat saya lulus serempak. Saya mau semua sahabat saya sekantor sama saya. Saya mau saya dan semua sahabat saya memiliki rumah di dalam satu komplek. Saya mau kita semua tetap berkumpul. Saya mau kita semua tetap melakukan hal bodoh dan lucu - yang hanya bisa dimengerti oleh kita- sebagaimana yang biasa kita lakukan.  Saya mau egois. Saya juga mau makan bakso. Sayangnya, cuma saya yang mau. Yang punya kuasa belum tentu mau.

Saya mungkin akan jarang menghubungi kalian, begitu pula kalian. Saya emang ngga romantis, tapi saya sayang kalian semua. Jangan lupakan saya ya. Salam buat partners in crime baru kalian kelak. Nanti saya juga pasti akan cerita banyak tentang kalian ke orang-orang keren yang akan saya temui. Selalu sukses dimanapun kalian berada. Jangan lupa buat makan dan kerja yang halal-halal aja. Walau udah gede, tetep jangan mau nerima permen dari orang asing ya. 

Gitu aja. Bye. 

Salam hangat kebasah-basahan,





Pinguin di kota hujan