Laman

Kamis, 03 Juli 2014

Bagian II : Sepertinya


Kamis 27 Juni
6.47 am

Rombongan murid berjalan menyeruak ke luar kelas, mengikuti perintah. Bermuara ke satu arah, kecuali satu orang. Pria berbadan tinggi, berambut kemerahan dengan seragam berantakan - kemeja yang tak dikancing dilengkapi kaus belel biru dongker - menuju arah berkebalikan, berjalan santai seakan tuli pada lingkungan. "Aula itu ke arah sana! Aku rasa kau sudah cukup senior untuk mengetahui letak setiap sudut sekolah ini" teriak seorang gadis dengan ketus. Pria yang diteriaki itu pun menoleh malas. Menatap datar namun menyelidiki gadis itu seksama. Sejurus kemudian ia menunjuk ujung bibirnya. "Lap dulu liur mu, baru menasihatiku" jawab pria itu kemudian segera berlalu pergi. "Eee?!" Gadis itu kikuk lalu melap seluruh mukanya tergesa-gesa. Pria itu menoleh sebentar, menyeringai, dan segera menghilang di ujung koridor. Gadis itu diam beberapa detik, lalu di detik berikutnya, suaranya memenuhi penjuru sekolah. "HIIIDEKIIIIIIIII!" teriak gadis itu kalap.

BLETAKKK. Sederet kamus tebal huruf kanji kesayangan Pak Matsumoto mendarat sempurna di pusat kepala gadis itu. "Ashiya! Mau kau teriak sekencang apapun, tidak akan ada api yang keluar dari mulutmu! Percuma saja kalau tak bisa membakar anak punk itu. Buang-buang tenaga". Ashiya hanya bisa melirik lirih. "Go- gomen ne sensei". Pria berkacamata itu menarik nafas panjang. "Perjuanganmu menjadi ketua kelas masih panjang Ashiya. Jangan buang-buang umurmu dengan dia. Ayo ke aula" lanjutnya kemudian. "Ah, sensei. Ada apa sebenarnya sampai upacara mendadak di pagi ini? Apa... ada pengumuman penting?" pancing Ashiya yang sesungguhnya telah punya tebakan sendiri di dalam kepalanya. Pak Matsumoto hanya tersenyum. "Ya, kabar baik". 

Tepat seperti dugaan Ashiya. Pria muda yang tengah memamerkan senyumnya ke pelosok Megamendung Utara di depan podium aula adalah si pria terowongan! "Salam kenal, saya Kaisan, mulai hari ini kita akan bekerjasama untuk membawa Megamendung Utara menjadi sekolah teladan. Mohon bantuannya" tutur pria itu dan segera membungkuk hormat. Tepukan riuh dari kalangan guru serta siswa pun mengikuti. Sayup-sayup terdengar pekikan histeris murid perempuan yang mulai terhipnotis ketampanan kepala sekolah baru itu. Beda dengan yang lain, Ashiya sibuk memicingkan mata menatap wajah kepala sekolah itu lekat-lekat. "Heyooo! Naksir ya ashiya?" ledek gadis berambut sebahu di sebelahnya - Asami. "Eeee?! Bukan itu! Bukan itu! Aku hanya merasa sepertinya wajah Pak Kaisan mirip seseorang". Tanpa mempedulikan kalimat Ashiya, Asami mengikuti ritme gadis lain dan memuja-muja kepala sekolah baru itu.

----------------------------------------------------

Kelas usai, waktu istirahat pun disambut siswa dengan sukacita. Ashiya penat dengan segala macam rumus di kepalanya. Gontai, ia pun melangkahkan kakinya ke loteng atas sekolah untuk menghirup udara segar. Menyapa awan lebih efektif untuk pemulihan tenaganya dibanding harus ke ruang kesehatan dan dipaksa minum madu yang rasa manisnya bikin diabetes. Begitu yang Ashiya yakini. Setelah Ashiya membuka pintu, sontak ia kaget. Kepala sekolah ada di sana. "Eh? Kamu perempuan yang kemarin ya?" sapanya sambil tersenyum. Ashiya hanya mengangguk kecil. "Baiklah, silahkan bersantai. Aku akan menjelajahi tempat lain". Ashiya mengamati pria itu pergi. Tak sengaja, matanya tertuju pada name tag yang ada pada kemeja pria itu. "Hideki Kaisan" begitulah yang tertera.

Ashiya diam. "Sepertinya namanya tak asing" gumam Ashiya sambil menelan masuk roti srikaya bulat-bulat ke dalam mulutnya. Dia tak terlalu ambil pusing. Kepalanya sudah cukup pusing, dia tak mau tambahan beban. Ia pun tertidur pulas tanpa tahu apa yang ia lewatkan.

Tidak ada komentar: