Halaman

Minggu, 06 Juli 2014

Bagian IV : Album Foto


------------------------------------------------------------

Pria itu masuk ke ruang kerjanya, menarik nafas panjang. Ia menarik dasinya tergesa-gesa. Seharian, benda kecil itu cukup mencekik dan membuat sesak ruang geraknya. Selagi sibuk mengistirahatkan diri, ketukan pintu pun terdengar. "Masuk" jawab Kaisan. "Selamat siang, Pak. Ini dokumen yang bapak minta tadi pagi" jawab seorang wanita berbusana terusan pastel selutut yang dilapisi blazer krem sambil tersenyum simpul penuh makna. "Oh, baik. Terimakasih banyak bu Nattan" balas Kaisan sopan. "Apa bapak Kaisan mau saya buatkan kopi? Bapak nampak lelah" ucap wanita itu lagi dengan nada yang dilembutkan. "Tidak, ibu bisa bekerja kembali" tegas Kaisan sambil tersenyum. Nampak kecewa, wanita itu pun pergi dari ruangan. "Aaaaah" Pria itu segera merebahkan kepalanya dengan lelah ke  kursi empuknya. Kosong, ia memandang langit-langit. "Lelah juga kerja formal seperti ini ya" ucap Kaisan pada dirinya sendiri. 

Ia menarik laci meja, lalu mengeluarkan sebuah album foto hitam. Ia tersenyum tipis. Membuka setiap lembar dan menyelami kenangan di masa lalu. Kaisan pun terpaku pada satu lembar foto. Terlihat dua anak laki-laki yang cukup serupa tengah berada di antara satu anak perempuan. Keduanya memegang mainan gundam rakitan mereka masing-masing dengan bangga seakan memamerkan pada dunia, sedangkan sang anak perempuan sibuk tersenyum sangat lebar. Bahagia. Di belakang anak-anak itu, terlihat ada dua wanita dewasa, yang satu berambut ikal sebahu, satunya lagi berambut lurus sepinggang. Kerut wajah tak mampu mengurangi sinar wajah bahagia mereka saat berusaha merangkul ketiga anak kecil itu. Sebagai pelengkap, dua orang pria berdiri tegap di samping kiri dan kanan. Pria berambut jabrik tersenyum puas dengan aksesori hidung badut yang ia kenakan sambil mengacungkan dua jari ke arah kamera, sedangkan pria berambut klimis dan rapi sibuk menahan tawa. Foto itu begitu hidup.

Beberapa saat kemudian, Kaisan kembali menarik nafas, menutup album, dan kembali menyimpannya di dalam laci, entah untuk berapa lama. 

-----------------------------------------------------------

Ashiya berjalan lunglai ke arah gerbang sekolah. Sepanjang koridor, ia sibuk menepuk-nepuki bahunya yang pegal. Rapat singkat dengan pengurus kelas tadi cukup menghabiskan tenaga. Ia memandangi 3 lembar potongan kertas berisi kandidat ide untuk penampilan kelas di festival. Ashiya memandangi kertas tersebut lama hingga sebuah bola sepak menabrak mesra kepalanya. DUENG. Ashiya sempat bengong beberapa detik sampai tersadar sempurna. Ia menoleh galak dan lagi-lagi mendapati sesosok anak laki-laki yang ia percaya sebagai sumber malapetaka dunia. Anak laki-laki itu hanya menatap datar lalu mengulurkan tangannya "Tolong lempar kembali bolanya ke sini. Kaichou-chan" ucapnya dengan wajah tak berdosa. "BUKANNYA MINTA MAAF MALAH MINTA BOLA! MAKAN NIH BOLAAA!" jerit Ashiya sambil menghempaskan lemparan maut lurus menuju wajah Hideki. Beruntung, Hideki sempat menghindar, sesaat kemudian terdengar suara teriakan dari korban 'lemparan meleset' tersebut. Ashiya terengah-engah sebal. Dia tak peduli kalau yang tumbang bukanlah target utamanya. Dia hanya lega. Dia pun fokus memunguti kertas-kertas yang berjatuhan lalu segera beranjak pergi meninggalkan si alien api. Ya. Itu gelar kebangsaan yang dibuat Ashiya untuk Hideki - Alien Api. Dia selalu berharap suatu saat rambut merah nya Hideki berubah sungguhan jadi api dan membakar cowok punk itu. Ashiya tentu akan ada di sana sambil melakukan tarian hawaii penuh kemenangan lengkap dengan batok kelapa dan rok rumbai-rumbai. 

Setelah beberapa langkah, Ashiya berhenti. Menoleh ke belakang dengan ketus. "MAUMU APA SIH?!" teriak Ashiya pada sang alien yang sedaritadi mengikutinya. Selayaknya tidak punya cadangan muka yang lain, dia lagi-lagi menampakkan ekspresi datar "Hey Ashiya" ucap Hideki mulai angkat bicara. "Apa? Apa maumu?!" "Kalau dari mulutmu bisa keluar api keliatannya seru. Kita adakan pertunjukkan naga saja untuk festival. Kau artis tunggal. Keren. Yang lain juga ngga akan capek. Ide bagus kan?" jawabnya seakan serius. Ashiya menatapnya lama. "Aku seperti mendengar suara, tapi tidak ada orang di sini. Darimana ya asal suaranya?" ujar Ashiya sambil pura-pura celingukan. "Oh hanya perasaanku saja sepertinya. Saatnya pulang" jawab Ashiya ceria sambil melompat menuju gerbang dan menghilang meninggalkan si Alien api. 

Hideki hanya bisa tertawa kecil lalu berbalik hendak menuju lapangan. Ia berhenti, terperanjat. Sosok yang paling malas ia temui selama tiga tahun terakhir kini telah ada tepat di hadapannya. "Sudah lama kita tak bertemu" sapa sosok itu. Hideki tak mengacuhkannya dan segera pergi berlalu. Kesal. Walau sekarang ia berhasil menghindar, Hideki tau dia tidak bisa menghindar selamanya.


Tidak ada komentar: