Halaman

Rabu, 29 Januari 2014

Kota Pelajar

"Less expectation = Happier"

Formula rumus itu selalu berlaku dalam siklus kehidupan kecilnya dewi. Saat gue berekspektasi tinggi, saat itu juga gue langsung dihantamkan ke tembok kekecewaan. Langsung. Ngga basa-basi. Sebaliknya, saat gue berpikir 'ah mustahil', saat itulah gue dibawa terbang naik naga emas.

Well, kali ini kisahnya tentang perizinan liburan. Koloni sahabat-sahabat SMA gue yang biasa gue sebut sebagai 'Keluarga RI' atau 'DARRT', mendadak menanyakan perihal agenda liburan. Ya, gue selalu deg-degan karena takut mereka punya rencana yang aneh-aneh.

From : RI Rice
Meh, tanggal 21 bisa berangkat jalan-jalan ke Jogja ngga?

DANG! Sudah gue duga. Semenjak satu millenium sebelum masehi emang si rice dan tara selalu memendam hasrat buat pergi ke luar kota.  Namun, karena emang kita udah kenal busuk-busuknya satu sama lain, mereka juga hapal kebiasaan mama dan ayah. Dapet restu jalan-jalan lucu dari mama dan ayah adalah suatu keajaiban. Dapet ridho buat jalan-jalan ke luar kota? Mimpi. Itulah mengapa gue cuma bisa ketawa renyah plus pasang muka miris setiap mereka ngajak ke luar kota. "Silahkan tanya mama langsung aja ya boleh atau engga he he he he". Teman-teman gue spontan langsung senyum miring semua. Everyone knows the answer : BIG NO.

Gue super-males-banget minta izin. Alhamdulillahnya, tanggal 21 emang gue masih ada urusan di kampus, jadinya punya alasan  deh *smirk*

To : RI Rice
Maaf ce, gue masih di bogor tanggal segituuu

Kemudian sms yang cerdas dan memojokkan pun datang.

From : RI Rice
Tapi kalo selain tanggal segitu bisa meh?

Skakmat bos. Terus? Bagaimana gue menyikapi sms dari cece tersebut? Apakah gue akan langsung menelan HP nya dan pura-pura ngga baca sms? Oh engga kok. Alhamdulillah engga. Gue dengan lemah lesu lunglai serta malas pun mengangkat telpon, memencet nomor kramat : nomor HP mama.  Awalnya hanya berniat bertanya untuk formalitas. Yeah, soalnya gue tau pasti ngga akan diizinin. Tak berapa lama telepon berdering di seberang, suara yang familiar pun menyapa dengan gembira.

"Halo anakkuuuu ada apa sayang?"
"Engga ma, begini dewi mau ngomong sesuatu"
"Iya ada apa dewi?"
"Rice ngajak ke jogja ma, bareng keluarga lain. Mungkin sekitar tanggal 22-an abis aku balik dari bogor"
"Oh iya? Oke boleh kokkk. Naik kereta ya? Kayak bang ricky waktu itu? :D"
"........... (bengong) Bener ma boleh?"
"Iya kok boleh sayang"
"Oh.......... Oke ma, makasih."
"Sama-sama :D"
"(telepon mati)"

Gue masih menganga tak percaya. Gue akhirnya bales sms cece. Bilang kalau gue dibolehin jalan-jalan. Sekeluarga langsung heboh kayak menang lotre. Oh fyi, keluarga yang gue maksud itu tara, cece, ajeng, rima, gue. Mereka pada ngga percaya kalau akhirnya gue diizinkan dengan sebegitu mulusnya..... GUE ANAKNYA AJA JUGA NGGA PERCAYA. 

Di saat bahagia ini, mendadak cece langsung nelepon seakan masih meragu atas sms gue. Belum terakreditasi mungkin menurut dia. Dan ternyata doi konfirmasi ulang kalau dalam rencana jalan-jalan lucu ini rima ngga ikut serta. Ya. Rima ngga bisa ikut. Rima berhalangan untuk berpartisipasi..... Well..... Rima.....

RIMA NGGA IKUT JALAN-JALAN?!!! *piring pecah*

Bagi kalian mungkin itu biasa aja. Terdengar sederhana. "Yaudah sih satu orang doang yang ngga pergi". Selain ditinjau dari sisi persahabatannya, kasus ketidakadaannya rima ini sangat berarti bagi kita, terutama bagi perizinan gue. Kenapa? Entah mengapa secara ajaib, orangtua gue sangat percaya sama rima. Dia ibarat kartu truf sob! Ujung tombak atas segala perizinan jalan-jalan gue. Kalau ngga ada dia.......... sangat dikhawatirkan adanya perubahan pikiran yang sangat  signifikan. Karena itu cece bilang dulu ke gue kalau rima masih dalam perjalanan pulang kampung dan ngga bisa ikutan. Demi kemanan dunia akhirat, akhirnya gue memastikan ulang ke mama, konfirmasi bahwa rima ngga ikut. Dan... Lulus sensor! Mama tidak mempermasalahkan! WOHOOO! Ya Allah peristiwa ini ibarat fenomena komet Halley kayaknya. Langka sob! :")

Akhirnya perjalanan pun dimulai tanggal 23 malam, naik kereta Senja Utama Solo. Sempat terjadi kesalah pahaman dan unjuk rasa dari mama, namun semua telah terselesaikan dengan cara kekeluargaan #apapula. Sampai di stasiun pun gue masih merasa mimpi. Engga, bahkan sampai sekarang gue tulis postingan ini pun masih berasa mimpi.

Destinasi               : Jogjakarta
Tempat menginap : Rumah nenek Tara
Pasukan                : Ajeng, Dewi, Rice, Tara
Tour Guide           : Gajah Jogja (read: Ajeng)
Tanggal                : 23 - 28 Januari 2014
Persiapan              : Sebongkah nyali dan GPS

Sekian paragraf abstract-nya. Kalau kalian penasaran kisah perjalanan kami, silahkan cari pembahasannya di website jurnal-jurnal ilmiah terdekat. Wassalamu'alaykum warrahmatullahi wabarakatuh *salim tangan*

Tidak ada komentar: