Laman

Rabu, 26 Juni 2013

(Super Late) MRD Project

Halo. How are you? You're fine? Thankyou? And me? I'm fine too thankyou 
*ngunyah text book bahasa inggris anak SD*

So, in simply, now i'll try to wake the (almost) expired story up. What story? Well, a little project of me and friends. MRD project. It's okay if you already forget, me either #kicked

Then? Enjoy
-----------------------------------------------------

Rencana yang tidak berjalan sesuai dengan realita selalu berulang pada semua orang, dan tentu juga berlaku dalam siklus Yila. Tujuan mulianya untuk memburu kado ulang tahun Ressa pun gugur di tengah jalan. Langkah kakinya mendadak membelok dan gravitasi bumi seakan berubah. Ya. Bumi Yila. 

"Maaf, rak komik di sebelah mana ya?" ucap sebuah suara berat namun terdengar merdu dan tegas. Laki-laki berbadan tegap itu akhirnya berjalan menuju lokasi yang dijelaskan oleh salah satu penjaga toko. Dan tak lupa ada seorang perempuan yang berjalan mengekor di belakangnya. Ya, perempuan itu Yila. Yila tengah memutar berbagai rekaman cuplikan FTV romantis di kepalanya yang dangkal itu sambil mengikuti Dono secara diam-diam. Tak lupa ia berharap bahwa satu dari beragam adegan romantis itu akan terjadi padanya saat ini juga, dengan orang yang tepat. Dono.

Wajah Yila telah sangat mengembang walau dia hanya menghabiskan waktu satu jam dengan senyum  bodoh sendiri sambil memperhatikan kak Dono yang berjarak belasan meter dari tempatnya berdiri. Bahagia itu sederhana dalam dunia Yila. Dan, kebodohannya pun jauh lebih sederhana lagi.

                                                         ****************************

"Masih ingat ini?" tanya sesosok pria memecah suasana.
"Hm?" jawab Ressa sambil memicingkan mata berusaha mengingat benda  yang dipegang pria itu.
"Oke, memang agak berubah, karena aku berusaha memperbaikinya hehe. Gimana kalau lihat tanda ini? Sudah ingat?" pria itu pun memiringkan boneka kelinci kecil yang dipegangnya dan memperlihatkan sebuah inisial nama 'RK'.

Ressa mulai sadar, pipinya sempat memerah beberapa detik sebelum akhirnya ia meledak. "Buat apa sih bawa-bawa rongsokan itu?!" ledak Ressa. "Buat kamu mungkin ini rongsokan, tapi buat aku ini harta. Ya, karena kamu yang udah bikin ini buat aku" jawab pria itu santai. "Gue baru makan 3 sendok. Kalau mau bikin gue jadi muntah dan ngga selera makan, jangan sekarang, nanti aja, sayang banget ini makanan udah gue bayar tadi. Mahal!" balas Ressa malas. "Resss....."

Ressa tak peduli dan segera lanjut melahap makanannya secepat mungkin. Otaknya mendidih sejadi-jadinya. Berputar lagi di kepala Ressa, memori lama yang ingin segera ia bakar. Nada-nada usang yang perlahan masuk dan berdengung lagi di kepalanya. Momen bahagia yang kini tak lebih dari sekedar mimpi buruk. Muak. Lebih muak saat menyadari bahwa kini ia tengah berhadapan dengan sumber mimpi buruknya.

Pria itu kembali menatap Ressa dengan tenang, tangannya - entah sejak kapan - mulai menggenggam Ressa. "Gue masih sayang sama lo, Sa". Rasa mual Ressa pun sudah mencapai puncak. Dia melepas paksa tangannya, menggebrak meja, lalu bangkit dan berdiri. "Gue balik" jawab Ressa dingin. Pria itu segera menarik tangan Ressa dan berteriak dengan suara yang tak kalah tinggi. "Hentikan sifat gengsi lo ini, Sa! Gue tau kalau lo juga masih sayang sama gue!". "Apaan sih? Sakit tau! Gue engga sayang sama lo!" Pria itu masih tidak melepas Ressa dan berusaha menariknya pergi. "Lepasin!!!!" jerit Ressa. "Ngga usah sok jual mahal. Cuma gue satu-satunya pria khilaf yang mau sayang sama lo, Sa! Lo harusnya berterimakasih sama gue yang udah cukup sabar menangani lo! Coba aja cari se-antero Bogor, cowok mana yang tahan sama lo hah??!" ucap pria tadi asal. Ressa baru saja ingin mendaratkan tangannya ke pipi pria terkutuk itu saat mendadak sebuah lengan yang cukup besar dan kekar menarik dirinya menjauh dari pria terkutuk itu. 

Beberapa detik kemudian Ressa menyadari sosok yang tengah menolongnya. "Jangan perlakukan Ressa seakan dia itu najis mughaladah. Gue sayang sama Ressa! Dan inget! Jangan pernah sekali-kali elo berani buat ganggu dia lagi!" kecam Dono yang kemudian segera pergi menyingkir membawa Ressa. Pria yang tadi bersama Ressa pun terdiam. Kaget. Sama kagetnya dengan perempuan yang sedaritadi mengekor Dono. Yila. 

  







Tidak ada komentar: