Laman

Sabtu, 09 Maret 2013

Inggar dan Aksa

Inggar. Perempuan manis yang ramah dan baik ke semua orang. Setidaknya itulah karakternya saat pertama kali sekelas dengan Aksa di bangku SMP. Aksa dan teman sebangkunya - Rio - selalu duduk tepat di belakang bangku Inggar. 

Rio. Pria manis yang belum terlalu terbiasa berkomunikasi dengan perempuan. Baik dan ramah. Sahabat lama Aksa.

Aksa. Pria yang berparas tampan dan suka menjahili Rio, sahabatnya. Siklus Inggar-Rio-Aksa pun bermula saat Aksa secara asal menjodohkan Rio - yang notabene kalem dan pemalu - dengan Inggar yang kebetulan duduk di depan mereka.

"Tuh, ada cewek cantik tuh di depan kita, Yo. Sana kenalan. Hahahaha"

Lelucon sederhana. Ikatan yang kompleks.

Sejak itu, mereka bertiga semakin dekat. Awalnya, hanya iseng untuk mendekatkan Rio dengan Inggar. Namun, mereka bertiga ternyata cocok dan mulai bersahabat. Tawa yang hangat, lelucon yang bodoh, dan hari yang berkualitas bersama sahabat luar biasa. 

Rio tak begitu mahir mencairkan suasana, selalu ada Aksa di sana, bagaikan mentega, suasana pun meleleh dan hidup kembali. Ya. Selalu ada Aksa di sana. Kehidupan yang dinamis, turut diikuti oleh fakta yang terus bergerak. Ternyata, Aksa tidak hanya dominan dalam siklus Inggar-Rio-Aksa, namun juga dominan dalam gambaran dan sketsa masa depan Inggar.

Di suatu hari setelah istirahat, kelas nampak riuh. Inggar tahu ada yang tidak beres. Namun, Inggar tetap melangkahkan kakinya ke kelas. Inggar cuma bisa tersentak kaget dan bengong. Kelas itu kosong. Semua murid menghilang, lenyap, seperti ditelan dinding kelas. Oh, ternyata mereka semua sudah berdiri cantik di luar, hingga hanya tersisa Rio dan Aksa di ruangan. Plus, papan tulis yang penuh coretan berisikan pernyataan cinta untuk Inggar.......... oleh Rio.

Inggar merah padam, dan semakin merah seiring sorak sorai murid-murid di luar kelas yang semakin membahana. Inggar pun berpura-pura tenang dan menghapus papan tulis. Rio kemudian mengulurkan bunga yang ia bawakan untuk Inggar. Spontan, seluruh penonton di luar kelas semakin gaduh melebihi kehisterisan para suporter bola yang fanatik. Inggar - mau ngga mau - segera mengambil bunga nya karena dia tidak mau ditonton lebih lama lagi. Penonton pun semakin kegirangan karena melihat ftv secara gratis dan live. Beruntung, Guru pun muncul dan memarahi murid-murid untuk kembali ke kelas. Keadaan pun kembali normal. Namun, tidak demikian yang terjadi pada siklus Inggar-Rio-Aksa.

Hati Inggar sudah terlalu penuh. Penuh Aksa. Keadaan menjadi tak sama lagi setelah virus merah jambu itu diketahui telah meradang. Setidaknya, Inggar tidak bisa sama lagi terhadap Rio. Inggar pun menarik diri secara sepihak. Mengambil langkah seribu menjauhi Rio.

Keadaan tidak semulus yang diharapkan. Omongan miring pun lantas ditelan  bulat-bulat tanpa disaring lagi oleh Rio yang belum stabil. Aksa. Entah gosip darimana, namun isu itu menyebar begitu cepat bak virus ganas. Aksa dikabarkan sebagai penyebab Inggar menolak dan menjauhi Rio. Rio pun kalap dan memburu Aksa. Perseteruan terjadi. Entah hanya sekedar luapan emosi karena dituduh oleh sahabatnya sendiri atau memang pernyataan tulus dari hatinya, namun Aksa yang memuncak pun sempat berucap,

"Iya! Gue emang suka sama Inggar!"

Siklus Inggar-Rio-Aksa pun patah, dan hanya tersisa "Inggar dan Aksa". 

Inggar dan Aksa. Mereka tetap bersahabat baik meski sudah tidak lagi satu SMA. Perasaan Inggar pun masih ditutup secara lisan oleh Inggar. Meskipun sesungguhnya bahasa tubuh pun sudah cukup menjelaskan. Hubungan mereka semakin erat. Lingkungan Inggar dan Aksa  beserta semesta pun sudah menyetujui mereka untuk berhubungan. Namun dua-duanya masih bungkam. Entahlah.

Kini, mereka terpisah. Tak hanya bangunan kuliah yang berbeda, kota pun tak lagi sama. Namun, perasaan Inggar masih sama. Ketulusan sayang Inggar itu selalu sukses membuat sahabat di sekitarnya berlinang air mata (di hati) dan kembali percaya bahwa cinta sejati seperti di dongeng itu benar ada.

Inggar. Perempuan manis yang ramah dan baik ke semua orang. Tumbuh menjadi wanita yang supel dengan gayanya sendiri. Dia lebih sering dipanggil "aneh" namun dalam sisi positif. Keanehannya selalu menghibur, walau kadang kelewatan aneh. Namun, semua orang di sekelilingnya sepakat bahwa suasana bisa hambar tanpa Inggar. Tingkahnya memang suka kelewat anomali, namun dia sebenarnya anggun dan bijaksana. Semua sahabatnya yakin itu.

Satu lagi keyakinan para sahabatnya : Inggar akan bersama Aksa di pelaminan

Aksa. Pria yang berparas tampan dan pelopor lahirnya siklus Inggar-Rio-Aksa. Kini dikenal sebagai pria yang jarang dekat dengan wanita. Bukan. Dia bukan homo. Dia juga bukannya tidak laku. Entahlah. Namun, dia tidak terlalu menanggapi perempuan-perempuan di sekitarnya. Teman-teman kontrakannya pun tau sejarah Aksa dengan Inggar. Dan sama seperti para sahabat Inggar, mereka (sahabat Aksa) tak kenal lelah untuk terus meledeki dan menggoda Aksa perihal Inggar.

Satu lagi : Perempuan yang dekat dengan Aksa, cuma Inggar.

Inggar. Aksa.

Dua spesies yang sama. Sama-sama tidak bisa ditebak isi hatinya. Sama-sama tidak mau memulai. Sama-sama diam dan berdoa. Mungkin. Entahlah.

Sebuah sms ucapan selamat ulang tahun untuk Aksa, membuka kembali percakapan lama mereka yang sudah usang. Entah lelucon atau serius, isi-isi sms itu telah sukses mengembangkan sayap harapan bagi para pendukung "Aksa-Inggar couple" yang secara alami terbentuk. 

                                                   *** BERSAMBUNG ***


Kisah ini bersambung hingga waktu yang tak ditentukan. Jangan menunggu lanjutannya. Kerjain aja laporan atau tugas kuliah lo yang menumpuk. Semoga suatu saat kisah ini akan tetap dengan nama tokoh yang sama namun di latar yang berbeda, misalnya pelaminan mungkin? :")

Btw, ini bukan kisah gue ya. Cuma sekedar klarifikasi aja sih :p Tapi gue berdoa dan berharap banyak kalau kisah ini akan berakhir seperti dongeng. Prince  finally marry the princess and they lived happily ever after


.......................
Mohon doanya. Dadah dadah dadah *lambaikan tangan ala teletubbies*

Tidak ada komentar: