Halaman

Jumat, 01 Februari 2013

Gerbang

Satu kalimat telah meluncur.
Semburat tawa telah ia tawarkan.
Namun,
Hanya satu anggukan dan seulas senyuman tipis yang kuhidangkan
Bukan, bukan aku angkuh.
Semesta pun tau. Semesta pun mendengar gemuruh itu.
Masih dengan gaya sama, harus merapatkan barisan penjaga gerbang.


Kalimat telah berubah jadi paragraf.
Tawa disulap menjadi rangkaian kebahagiaan yang berpotensi.
Namun,
Masih semu sehingga bunga tak bermekaran.
Bukan, bukan tak mampu mekar.
Namun semesta tidak mengizinkan. Belum mengizinkan.
Gerbang itu harus tertutup, dan taman tetap kuncup.


Gerbang harus dibuka oleh kunci.
Bila tidak, gemuruh yang tersimpan 'kan meledak dan gempa bukanlah lagi sebuah dongeng.
Kunci gerbang itu bukanlah percakapan intens.
Kunci gerbang itu bukanlah tawa hangat.
Kunci gerbang itu bukanlah janji yang menguap di udara.
Kunci gerbang itu adalah ikatan segala arah secara sah.
Ikatan yang menaungi aku-kamu dengan anggukan setuju sang induk semesta.


-DEB

1 komentar:

Kid Darkness mengatakan...

beeeeuuuhhhh