Halaman

Minggu, 16 Desember 2012

MRD Project

Hay! Lemme introduce you to our project. "Our" is refers to Mima, Rizka, Dewi (that's why i named it "MRD Project").

We write any random story consecutively - first chance of writing goes to Mima. Second, me. Third, Rizka. And next, back to Mima.  We don't know what inside each other's mind is.

The thing we have to do is just continue the story which anyone have made beforehand. 

For example : I continue the story which is made by Mima last week. Next, Rizka will continue mine. And this will always happen till we get tired of our own random stories.

"We dont know when we start and how we end. Just go with the flow"

First Chapter is in --> Mima's blog . And the next chapter is must be in --> Rizka's blog

Well, let's see, how big the mess that we (three) could make from this project Hahahaha. Bye, then, see you.

 ---------------------------------------------

Part 2 : Masa Lalu

       “Sa, kenapa?” Yila angkat bicara melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu setelah membaca sebuah SMS. “SMS tagihan utang ya?” tanya Yila asal. Resa menatap Yila datar. “Biasa. SMS php, La” balas Resa seadanya dan lanjut berkencan dengan film animasi yang memang sedaritadi mereka tonton. “PHP? Pemberi harapan palsu? Siapa? Reynold? SMS apa dia??? Cie, finally dia bales sms lo! hahah” tanya Yila antusias dengan mata berbinar seperti anak kucing manja minta makanan. “Gue pikir juga sms dari Reynold, gataunya dari mas-mas operator indosat. PHP kan?” jawab Resa sambil tetap menatap layar laptop dengan khidmat. Tawa Yila pun meledak. Percakapan pun diakhiri dengan dilanjutkannya aktivitas nonton mereka. Sesekali Yila tertawa sangat tidak manusiawi, sementara Resa hanya bisa menatap layar laptop dengan tatapan kosong. Pikirannya menghilang sebentar, tidak di tempat itu. Ada hal lain yang mengusiknya, yaitu SMS yang ia terima beberapa menit lalu – yang sebenarnya bukan SMS dari operator. Resa hanya malas memberitahu dan menjelaskan. “Ketidaktahuan itu kadang lebih baik”, itu yang Resa yakini.

       Dua jam berlalu. Resa asik memeluki guling dan tidur-tiduran di kasur Yila sambil menerawang, dan Yila tetap setia menekuni laptop merah miliknya sambil berinternet ria. Mereka terus asik dengan dunianya masing-masing sambil sesekali berceloteh tentang mimpi dan gosip. “Ohiya, ibu lo besok ulangtaun kan Sa? Ngga ke rumah? Eh.” Yila mendadak berhenti dan terdiam. “Pertanyaan yang bodoh, nona Yila!”, gerutunya sendiri dalam hati. Ada hening yang panjang, dan Yila ngga suka suasana ini. Apalagi kalau sampai menyakiti sahabatnya sejak SMA, Resa.

       “Emm eh kira-kira, nanti suami kita kayak gimana ya mukanya?” tanya Yila sambil berusaha tak melihat ekspresi Resa. Resa spontan tersenyum masam, ia tahu persis kalau itu hanya pengalihan topik, tapi itu tetap lebih baik daripada harus melanjutkan pertanyaan pertama Yila. “Emang ada yang mau sama lo, La?” jawab Resa lalu nyengir. “Ada dong! Muka suami gue pasti ya minimal kayak Shun Oguri!” Yila pun pasang muka mupeng membayangkan aktor jepang kesukaannya itu yang selalu sukses menghipnotis Yila dan memukul mundur semua tumpukan laporan ke deretan waiting list – ngga peduli meskipun deadline laporannya itu tinggal H-1. Resa pasang muka jijik dan kemudian melempari Yila dengan rentetan bantal. “Wahai perempuan haus cinta, mending kepoin kak “dono-kasino-indro” lo aja deh sana! Twitternya kek, facebook kek, atau apanya gitu. Daripada shun oguri yang jadi korban”. Yila menoleh sebentar ke Resa, kemudian nyengir dan melirik ke layar laptop. Resa pun mengikuti arah lirikan Yila, dan kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “HAHAHAHASEM LAH! Udah selangkah lebih maju ya lo ternyata. Hahahah” ucap Resa di sela-sela tawanya. Yila pun ikut tertawa sambil menatap layar laptop yang daritadi sedang membuka halaman account twitter seorang pria – pria yang Yila yakini harusnya mengelilingi kampus dengan menunggangi kuda putih elegan sambil membonceng Yila di belakangnya. “Dono Djiwoseputro”, begitulah nama yang tertera di layar. “Kalau masalah kepoin kak Dono mah gausah diperintah. Itu kebutuhan, Sa” jawab Yila polos dan membuat Resa bingung harus lanjut ketawa atau sejenak diam dan melempari Yila pakai lemari saking jijiknya.
       
       “DRRRT DRRRT DRRRT”. Ada getar yang panjang, bersumber dari telepon genggam Resa. Resa pikir hanya SMS, ternyata kali ini telepon. Tertera nomor asing pada layar teleponnya. Ia pun mengangkat dengan malas sambil izin keluar dari kamar Yila. Yila tengah asik menatap kumpulan foto Oguri-kun saat secara tak sengaja ia keluar untuk mengambil minum dan kemudian melihat ekspresi tegang Resa. Resa tak berbicara sepatah kata pun, namun telepon tetap didekatkan ke telinganya. Tangannya terlihat mengeras dan seluruh emosinya disalurkan ke telepon genggamnya. Yila buru-buru kembali ke kamar. Dan cemas, tentu saja.

       Sejurus kemudian, Resa kembali ke kamar dengan ekspresi tenang dan datar seperti biasa. “Siapa yang nelepon, Sa? Abang-abang indosat lagi?” ucap Yila berusaha terlihat santai. Resa hanya terkekeh. “Kagak. Itu si Maya, nanyain tugas. Sekalian ngegosip ngga jelas, jadi agak lama. Padahal mah, ngga kedengeran juga dia ngomong apa, sinyal jelek sih di kontrakan lo hahaha” jawab Resa yang tentu saja merupakan kebohongan keduanya untuk hari ini. Yila hanya menanggapi jawaban Resa dengan tersenyum tipis. Dia jelas kecewa. Resa berbohong. Tentu yang membuat Yila kecewa adalah Resa tidak mau berbagi masalahnya dengan Yila. Namun Yila berusaha meyakini, Resa akan cerita, tapi mungkin tidak sekarang. Resa kemudian pamit pulang, ada kerja kelompok mata kuliah minor, katanya. Yila menahan diri sekuat mungkin untuk tidak berlari dan membuntututi Resa diam-diam. “Resa berhak punya privasi” gumam Yila dalam hati.
                                           
                                                 *****************

        Resa menghela nafas yang panjang sambil menyandarkan punggungnya yang lelah ke bangku kafe bernuansa vintage di Bogor kota. Ia rela pergi meninggalkan kedamaian dramaga menuju kebisingan Bogor kota hanya untuk mengurusi satu hal, yaitu masa lalunya. Tak berapa lama, pria sumber malapetaka itu pun tiba. Pria itu tersenyum dan memabukkan beberapa kaum hawa yang ada di kafe. Resa melihatnya malas dan nyaris mual.

       “Makasih udah mau dateng” pria itu tersenyum riang sekali seperti anak kecil polos tak berdosa. Seakan dia lupa trauma apa yang pernah ia ciptakan dalam relung hidup Resa. “Kenapa ngga ngomong di kampus? Kita kan satu kampus. Cih, satu departemen pula” jawab Resa sinis, tanpa segan menunjukkan rasa kebenciannya yang menumpuk sejak lama dan kini terkalkulasi. “Jadi cuma itu kalimat sambutan terbaik yang lo punya buat sahabat lo ini?” jawab pria yang berperawakan tak terlalu tinggi tapi manis itu. “Sahabat?? Haha. Lo lagi casting jadi pelawak? Selamat, anda lolos!” jawab Resa lagi dengan nada yang agak tinggi. Pria itu masih tenang dan mengalihkan pembicaraan “Udah lama ya, terakhir kali kita ngobrol bareng gini pas SMP kalo ngga salah”. Resa tertawa kering “Maksudnya, momen pas lo ngebuang gue? Hm. Iya pas SMP”. Pria itu mulai menunjukkan sedikit emosi “Please, Sa! Emang ada gunanya ya ngungkit masa lalu?”

        “OH JELAS ADA!” batin Resa berteriak. Namun Resa hanya diam tak menanggapi. “Kalo emang lo sebegitu bencinya sama gue, kenapa lo mau nemuin gue hari ini?” tanya pria itu lagi. Pertanyaan cerdas, menurut Resa. “Gue ke sini cuma mau mempertegas bahwa hubungan di antara kita sekarang cuma hubungan junior-senior. Nggak lebih! Jangan hubungi gue lagi kalau ngga penting. Sekian. Wassalamualaikum” Resa segera berjalan pergi secepat mungkin. Pergi menjauh dari masa lalunya yang kini hanya terbengong sendiri.

Tidak ada komentar: