Halaman

Minggu, 30 Desember 2012

The Closest thing

Kemarin pagi, awan duka merundung civitas ITP. Bapak Arif Hartoyo berpulang ke rahmatullah. Beliau adalah dosen biokimia pangan dasar kami. Berdasar kabar, beliau jatuh pingsan saat sedang memimpin liqo. Sempet shock dan ngga percaya pas nerima sms jarkoman duka itu. Beliau masih seger-seger aja dari kemarin, dan masih mengajar dengan penuh dedikasi. Ngga keliatan tanda-tanda sakit sedikit pun. Tapi ya... kalau sudah kehendak Allah mah sekuat apapun badan, ngga akan ada yang bisa melawan.

Gue cukup blank beberapa saat. Masih ngga percaya kalau dosen yang selama ini ngajarin gue harus pergi secepat ini. Masalahnya, gue ngerasa banyak banget dosa sama beliau. Gue itu hampir ngga pernah dengerin kuliah biokima pangan dasar. Malah kadang sengaja berlama-lama di kantin, ngobrol, ngalur ngidul, baru masuk kelas. Sedangkan, Alm. Pak Arif masih berusaha menjelaskan materi sekuat tenaga......................

Penyesalan emang selalu datang terlambat. Banyak banget balesan sms dari temen-temen gue yang serupa. Mereka juga ngerasa bersalah sama Alm. Pak Arif. Kita mahasiswa emang kadang (atau selalu?) lupa diri. Lupa kalau dosen sebenernya menghabiskan energi lebih besar daripada mahasiswanya. Mereka juga letih, bahkan lebih letih dari kita. Tapi mereka masih berusaha semampu mereka untuk menjelaskan dan memberi beragam ilmu. Sedangkan kita?


Salah satu comment dari postingan berita duka di grup. 
Menurut gue ini sangat mewakili doa kami. 
Semoga terkabul. Aamiin.

                                         ****************************
".... yang paling dekat dengan kita adalah kematian" - Imam Ghazalli
Terlepas dari penyesalan teramat dalam, berita duka ini pun menjadi peringatan kecil buat gue. Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kondisi kita, saat Allah telah berkehendak, ruh kita akan segera berpisah dari badan. Dan, hari dimana kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan pun tiba. 

Pertanyaan : Siap kah kita untuk itu?


Senin, 24 Desember 2012

Kembaran



Konon katanya, kita punya 7 kembaran yang tersebar seantero penjuru muka bumi. Gue ngga tau bener apa engga. Tapi sih ya, emang banyak juga orang-orang di sekitar gue yang mukanya sekilas mirip satu sama lain. Paling sering kejadian sih, temen kuliah sekarang mukanya mirip sama temen SMA gue. Errr banget. Kan jadi kangen temen SMA! :"|

Gue termasuk orang yang ngga berharap ada orang yang kembar sama gue. Men... Nama aja udah pasaran. Masa muka juga sih? :|

Sayangnya, takdir "pasaran" gue udah ditulis di qada dan qadar mungkin. Banyaaaaaaaaak banget oknum-oknum yang mengaku melihat orang yang mirip gue. Berikut data kembaran-kembaran gue :

1. Temen SMA yang gue juga kenal
2. Temen seasrama (tapi ngga kenal)
3. Temen sepermainannya emak temen gue (Ngga pernah lihat. Katanya sih tante-tante. Sedih)
4. Temen cowok di kampus (CO-WOK!)
5. Temennya senior gue (kata dia mirip, gue ngga tau)
6. Senior ITP gue
7. Cewek di selebaran brosur bimbel pas SMA
8. Mirip Velove Vexia (Yang mau muntah, muntah aja. Jangan salahin gue. Ini kata temen gue loh. tapi ini kembaran gue yang tercantik. seneng deh huahahaha)
 
Itu udah gue generalisasi, detailnya banyak banget sebenernya. Sumpah. Bukan cuma nama loh ternyata yang pasaran. Muka juga... Gue gatau harus bangga apa nangis -_-

Ada dua yang bakal gue bahas :

1. Temen SMA yang gue juga kenal
Doi anak UI fakultas budaya. Putri namanya. Dia waktu itu lagi libur deh kayaknya terus berkunjung ke IPB dan nginep di asrama (pas masih jaman TPB). Nginepnya di kamar temen SMA gue yang lain. Dan............ Ada yang menyangka Putri itu gue. Jeng jeng!

Ceritanya, si Putri lagi bengong kece gitu di suatu tempat di kampus / asrama (gue lupa dimana). Terus, ada yang teriak manggil nama gue "Dewiiii! Dewiii". Manggilnya ke arah si Putri. Nah, Putri diem aja dong. Jelas! Kemudian suara itu tetap konsisten menyapa "Dewi!! Dewi!!! Ihhhh Dewiii" Putri tetap berusaha tak bergeming walau batinnya terganggu. Akhirnya sang sumber suara menyerah dan menggerutu "Ah dewi mah suka pura-pura ngga kenal! Huh!" Kemudian melengos pergi. Ya. Dia ngomel-ngomel ke Putri.

................ Gue dan Putri cuma bisa ketawa pasrah pas menceritakan ulang kisah ini.

2. Senior ITP gue
Nah. Ini dia. Katanya sih ya, mirip sama gue. Paket komplit bahkan. Muka + sifat + nama nya sama! Ya. Nama nya juga Dewi. Ha. Ha. Ha. Ha. #ketawacookies #menghilangdiujunggang

Gue kenal orangnya, tapi gue ngga bisa menilai mirip apa engga. Kayaknya kak dewi jauh lebih normal dan lebih mendingan daripada gue :| Ini yang berpendapat kalau gue mirip doi adalah temen gue (ITP 48) sama senior ITP gue yang lain (seangkatan sama kak dewi). Gue ngga tau. Gue bener-bener ngga tau *angkat tangan*

                                             **********************

Kalo di ITP 48, ada tuh yang mirip! Mujahid sama dimas! Hahahaha! Mirip banget bro! Terakreditasi ini mah miripnya. Pfff.

Gue juga banyak sih ngeliat orang-orang yang mukanya mirip walau tak sedarah. Seru deh hahah. Kalo lo? Udah nemu kembaran lo yang terpisah belum? Go find them! ;)


Bye! (~˘▾˘)~

Selasa, 18 Desember 2012

Lucu ya

Lucu ya,
uang Rp 20.000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid,
tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket
 
Lucu ya,
45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir,
tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan sepakbola.

Lucu ya,

betapa lamanya 2 jam berada di Masjid,
tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop.

Lucu ya,

susah merangkai kata-kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat,
tapi betapa mudahnya mencari bahan obrolan bila ketemu teman.

Lucu ya,

betapa serunya perpanjangan waktu dipertandingan bola favorit kita,
tapi betapa bosannya bila imam sholat tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.

Lucu ya,

susah banget baca Al Qur’an 1 juz saja.
tapi novel best-seller 100 halaman pun habis dilalap

Lucu ya,

orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton konser atau bola,
tapi berebut cari shaf paling belakang bila shalat Jum’at agar bisa cepat keluar

Lucu ya,

Kita perlu undangan pengajian 3-4 hari sebelumnya agar bisa disiapkan di agenda kita,
Tapi untuk acara lain jadwal kita gampang diubah seketika

Lucu ya,

Kita begitu percaya pada yang dikatakan koran,
Tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al-Qur’an.

Lucu ya,

Semua orang pengennya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara ataupun melakukan apa-apa.

Lucu ya,

Kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email,
Tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering berpikir dua kali
 
                                            --------------------------------------

Postingan di atas berasal dari grup ROHIS ITP angkatan gue. Temen gue yang bikin. Gue baca, terus gue diem...
 
Ada yang pernah bilang kalo gue tipe orang yang ngga tau malu. Tapi setelah liat postingan ini, gue semakin tau rasa malu itu apa. 
 
Postingan ini tuh kayak tamparan jarak jauh. Lebih ampuh dari tendangan legenda nya tsubasa. Hem. Kalimat itu emang paling efektif, kontak fisik sih enggak, tapi batinnya langsung terkoyak.
 
Jadi, mau tetep ngebiarin hal-hal "lucu" ini terjadi? Monggo silahkan di jawab di hati masing-masing aja.
 
Babay :3

Minggu, 16 Desember 2012

MRD Project

Hay! Lemme introduce you to our project. "Our" is refers to Mima, Rizka, Dewi (that's why i named it "MRD Project").

We write any random story consecutively - first chance of writing goes to Mima. Second, me. Third, Rizka. And next, back to Mima.  We don't know what inside each other's mind is.

The thing we have to do is just continue the story which anyone have made beforehand. 

For example : I continue the story which is made by Mima last week. Next, Rizka will continue mine. And this will always happen till we get tired of our own random stories.

"We dont know when we start and how we end. Just go with the flow"

First Chapter is in --> Mima's blog . And the next chapter is must be in --> Rizka's blog

Well, let's see, how big the mess that we (three) could make from this project Hahahaha. Bye, then, see you.

 ---------------------------------------------

Part 2 : Masa Lalu

       “Sa, kenapa?” Yila angkat bicara melihat perubahan raut wajah sahabatnya itu setelah membaca sebuah SMS. “SMS tagihan utang ya?” tanya Yila asal. Resa menatap Yila datar. “Biasa. SMS php, La” balas Resa seadanya dan lanjut berkencan dengan film animasi yang memang sedaritadi mereka tonton. “PHP? Pemberi harapan palsu? Siapa? Reynold? SMS apa dia??? Cie, finally dia bales sms lo! hahah” tanya Yila antusias dengan mata berbinar seperti anak kucing manja minta makanan. “Gue pikir juga sms dari Reynold, gataunya dari mas-mas operator indosat. PHP kan?” jawab Resa sambil tetap menatap layar laptop dengan khidmat. Tawa Yila pun meledak. Percakapan pun diakhiri dengan dilanjutkannya aktivitas nonton mereka. Sesekali Yila tertawa sangat tidak manusiawi, sementara Resa hanya bisa menatap layar laptop dengan tatapan kosong. Pikirannya menghilang sebentar, tidak di tempat itu. Ada hal lain yang mengusiknya, yaitu SMS yang ia terima beberapa menit lalu – yang sebenarnya bukan SMS dari operator. Resa hanya malas memberitahu dan menjelaskan. “Ketidaktahuan itu kadang lebih baik”, itu yang Resa yakini.

       Dua jam berlalu. Resa asik memeluki guling dan tidur-tiduran di kasur Yila sambil menerawang, dan Yila tetap setia menekuni laptop merah miliknya sambil berinternet ria. Mereka terus asik dengan dunianya masing-masing sambil sesekali berceloteh tentang mimpi dan gosip. “Ohiya, ibu lo besok ulangtaun kan Sa? Ngga ke rumah? Eh.” Yila mendadak berhenti dan terdiam. “Pertanyaan yang bodoh, nona Yila!”, gerutunya sendiri dalam hati. Ada hening yang panjang, dan Yila ngga suka suasana ini. Apalagi kalau sampai menyakiti sahabatnya sejak SMA, Resa.

       “Emm eh kira-kira, nanti suami kita kayak gimana ya mukanya?” tanya Yila sambil berusaha tak melihat ekspresi Resa. Resa spontan tersenyum masam, ia tahu persis kalau itu hanya pengalihan topik, tapi itu tetap lebih baik daripada harus melanjutkan pertanyaan pertama Yila. “Emang ada yang mau sama lo, La?” jawab Resa lalu nyengir. “Ada dong! Muka suami gue pasti ya minimal kayak Shun Oguri!” Yila pun pasang muka mupeng membayangkan aktor jepang kesukaannya itu yang selalu sukses menghipnotis Yila dan memukul mundur semua tumpukan laporan ke deretan waiting list – ngga peduli meskipun deadline laporannya itu tinggal H-1. Resa pasang muka jijik dan kemudian melempari Yila dengan rentetan bantal. “Wahai perempuan haus cinta, mending kepoin kak “dono-kasino-indro” lo aja deh sana! Twitternya kek, facebook kek, atau apanya gitu. Daripada shun oguri yang jadi korban”. Yila menoleh sebentar ke Resa, kemudian nyengir dan melirik ke layar laptop. Resa pun mengikuti arah lirikan Yila, dan kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “HAHAHAHASEM LAH! Udah selangkah lebih maju ya lo ternyata. Hahahah” ucap Resa di sela-sela tawanya. Yila pun ikut tertawa sambil menatap layar laptop yang daritadi sedang membuka halaman account twitter seorang pria – pria yang Yila yakini harusnya mengelilingi kampus dengan menunggangi kuda putih elegan sambil membonceng Yila di belakangnya. “Dono Djiwoseputro”, begitulah nama yang tertera di layar. “Kalau masalah kepoin kak Dono mah gausah diperintah. Itu kebutuhan, Sa” jawab Yila polos dan membuat Resa bingung harus lanjut ketawa atau sejenak diam dan melempari Yila pakai lemari saking jijiknya.
       
       “DRRRT DRRRT DRRRT”. Ada getar yang panjang, bersumber dari telepon genggam Resa. Resa pikir hanya SMS, ternyata kali ini telepon. Tertera nomor asing pada layar teleponnya. Ia pun mengangkat dengan malas sambil izin keluar dari kamar Yila. Yila tengah asik menatap kumpulan foto Oguri-kun saat secara tak sengaja ia keluar untuk mengambil minum dan kemudian melihat ekspresi tegang Resa. Resa tak berbicara sepatah kata pun, namun telepon tetap didekatkan ke telinganya. Tangannya terlihat mengeras dan seluruh emosinya disalurkan ke telepon genggamnya. Yila buru-buru kembali ke kamar. Dan cemas, tentu saja.

       Sejurus kemudian, Resa kembali ke kamar dengan ekspresi tenang dan datar seperti biasa. “Siapa yang nelepon, Sa? Abang-abang indosat lagi?” ucap Yila berusaha terlihat santai. Resa hanya terkekeh. “Kagak. Itu si Maya, nanyain tugas. Sekalian ngegosip ngga jelas, jadi agak lama. Padahal mah, ngga kedengeran juga dia ngomong apa, sinyal jelek sih di kontrakan lo hahaha” jawab Resa yang tentu saja merupakan kebohongan keduanya untuk hari ini. Yila hanya menanggapi jawaban Resa dengan tersenyum tipis. Dia jelas kecewa. Resa berbohong. Tentu yang membuat Yila kecewa adalah Resa tidak mau berbagi masalahnya dengan Yila. Namun Yila berusaha meyakini, Resa akan cerita, tapi mungkin tidak sekarang. Resa kemudian pamit pulang, ada kerja kelompok mata kuliah minor, katanya. Yila menahan diri sekuat mungkin untuk tidak berlari dan membuntututi Resa diam-diam. “Resa berhak punya privasi” gumam Yila dalam hati.
                                           
                                                 *****************

        Resa menghela nafas yang panjang sambil menyandarkan punggungnya yang lelah ke bangku kafe bernuansa vintage di Bogor kota. Ia rela pergi meninggalkan kedamaian dramaga menuju kebisingan Bogor kota hanya untuk mengurusi satu hal, yaitu masa lalunya. Tak berapa lama, pria sumber malapetaka itu pun tiba. Pria itu tersenyum dan memabukkan beberapa kaum hawa yang ada di kafe. Resa melihatnya malas dan nyaris mual.

       “Makasih udah mau dateng” pria itu tersenyum riang sekali seperti anak kecil polos tak berdosa. Seakan dia lupa trauma apa yang pernah ia ciptakan dalam relung hidup Resa. “Kenapa ngga ngomong di kampus? Kita kan satu kampus. Cih, satu departemen pula” jawab Resa sinis, tanpa segan menunjukkan rasa kebenciannya yang menumpuk sejak lama dan kini terkalkulasi. “Jadi cuma itu kalimat sambutan terbaik yang lo punya buat sahabat lo ini?” jawab pria yang berperawakan tak terlalu tinggi tapi manis itu. “Sahabat?? Haha. Lo lagi casting jadi pelawak? Selamat, anda lolos!” jawab Resa lagi dengan nada yang agak tinggi. Pria itu masih tenang dan mengalihkan pembicaraan “Udah lama ya, terakhir kali kita ngobrol bareng gini pas SMP kalo ngga salah”. Resa tertawa kering “Maksudnya, momen pas lo ngebuang gue? Hm. Iya pas SMP”. Pria itu mulai menunjukkan sedikit emosi “Please, Sa! Emang ada gunanya ya ngungkit masa lalu?”

        “OH JELAS ADA!” batin Resa berteriak. Namun Resa hanya diam tak menanggapi. “Kalo emang lo sebegitu bencinya sama gue, kenapa lo mau nemuin gue hari ini?” tanya pria itu lagi. Pertanyaan cerdas, menurut Resa. “Gue ke sini cuma mau mempertegas bahwa hubungan di antara kita sekarang cuma hubungan junior-senior. Nggak lebih! Jangan hubungi gue lagi kalau ngga penting. Sekian. Wassalamualaikum” Resa segera berjalan pergi secepat mungkin. Pergi menjauh dari masa lalunya yang kini hanya terbengong sendiri.

Minggu, 09 Desember 2012

Kontrakan

"Bisa karena terbiasa" . Itu quote paling ampuh sedunia. Menurut gue.

Banyak banget kejadian yang udah ngebuktiin kevalidan quote ini. Begitu pun halnya pada kasus gue dan kontrakan manis gue yang awalnya terlihat mirip banget kayak rumah tua yang sering digambarin di goosebumps. 

"jauh banget ini kontrakan"
"keliatan dari luar, serem"
"kalo mesti pulang malem, apa kabar dunia?"
"taun depan fix banget mesti nyari kontrakan lagi"

Begitulah kira-kira beberapa pikiran dangkal yang terbersit di kepala gue (dan juga sebagian teman-teman gue) pas banget setelah kita udah nyicil bayar sewa kontrakan. Padahal waktu itu posisinya kita belom menempati kontrakan loh, masih di asrama, belom mindahin barang. Belom dicoba, udah keasikan parno. Old bad habit.

Setelah nyaris satu semester mendiami rumah hijau ini (cat kontrakannya hijau), pikiran gue pun berubah. Total.

Kontrakan gue ngga jauh-jauh amat. Normal ternyata. Kalo pas awal, gue masih empot-empotan jalan dari gang menuju rumah, sekarang mah udah berasa make sayap trus terbang, cepet gitu nyampe depan kontrakan. Udah terbiasa soalnya, jadi ngga berasa.

Kontrakan gue? Serem? Ah, mitos.

Gue sering pulang malem dan dunia baik-baik saja. Tetap bulat dan berputar pada porosnya. Dan gue sendiri? Tetap kalem, anggun, memesona, cantik, dan ganteng seperti biasa. Pokoknya, kalo mau ngelakuin sesuatu, jangan dibayangin terlalu berlebihan! Ngga usah mendadak jadi sutradara teater roman picisan yang selalu mendramatisir setiap inci adegan. Kalo kebanyakan dan kelamaan mikir, bakalan banyak setan yang silaturahmi dan ngebisikin hal-hal negatif. Jadi parno lah, pesimis lah, dan sodara-sodaranya.

Pindah kontrakan? Jangan sampe deh ya Allah. Entah, karena gue males mindahin barang-barang lagi, atau emang udah jatuh cinta sama rumah hijau, atau keduanya. Gue jadi ragu buat pindah kontrakan taun depan.

-------------------------------------

Sekilas kontrakan

Kontrakan gue ini dua tingkat dengan tiga kamar. Awalnya dari luar keliatan spooky, tapi pas udah di dalem rumah, dijamin mager total. Nyaman banget! Rumah hijau memiliki banyak sekali personel. Banyak banget. Terdiri atas penghuni tetap, penghuni gelap tetap, tamu-tamu alien serta makhluk sumber pahala tetap.

Penguni tetap : Gue, Rika, Galih, Anggi, Lina, Kharisma
Penghuni gelap tetap : Prima (HAHAHA)
Tamu-tamu alien : Temen-temen kita yang silaturahmi pokoknya
Makhluk sumber pahala tetap : ................... ini dia!

Apa sih maksudnya "makhluk sumber pahala tetap"?
Maksudnya, mereka adalah sumber pahala bagi kami

Gimana caranya mereka nyumbang pahala?
Dengan menzalimi kita

HA? Emang siapa sih?
Bukan "siapa". Tapi, "APA".

Lemme explain you what "makhluk-makhluk sumber pahala tetap" are :

Ayam dan kucing #JENGJENG

Kenapa gitu?

Yang pernah kepoin twitter gue (emang ada?) pasti langsung tahu masalah pribadi gue dengan ayam. Mereka. Ya. Ayam-ayam tersebut dengan cantik, lihai, dan anggunnya, mendaratkan beberapa ranjau di teras kontrakan kita. Nyaris setiap hari. Tanpa rasa dosa! 

Sering banget kejadian, setelah tepat kita (penghuni kontrakan) membereskan hajat mereka yang dibuang secara tak bertanggung jawab, ayam itu pun datang lagi dengan senyuman iblis. Dan.............. meluncurkan bom lagi. Subhanallah.

Itu tuh teras kontrakan, bukan jamban! hey wahai makhluk Allah :"""""")

Untungnya, gue belom dapetin ilmu dari departemen gue tentang gimana caranya mengolah daging ayam jadi nugget. Kalo engga, ayam-ayam itu pasti udah tersimpan rapi di freezer.

Nah, kalo kucing, dia bertanggung jawab besar atas jejak-jejak kaki mungil yang menodai keperawanan lantai di teras kontrakan gue. Alhamdulillah, dia ngga ikutan buang hajat. Palingan dia cuma ngotorin lantai pake jejak kaki plus  doi suka menginvasi kursi tamu di teras. Yap. Kursi tamu itu disulap menjadi the best bed ever bagi sang kucing.

Total "makhluk sumber pahala tetap" ini kurang lebih ada delapan : 5 ayam dan 3 kucing :")

Tapi, sekarang kita udah belajar ikhlas. We are all friends now. Yang akan terjadi, ya terjadilah *menatap lantai teras dengan tatapan nanar*

------------------------------

Lingkungan kontrakan? How is it? TOTALLY GREAT!
Yang bikin gue betah ya salah satunya ini, lingkungan di kontrakan gue tuh enak banget. Tetangganya pada ramah lah ya lumayan. Tapi yang paling penting...................... banyak anak kecil! ♥

Lagi lemes banget pulang dari kampus, terus mendadak ada suara-suara lembut yang menyapa:
"kak dewiiiii" sambil pasang muka polos dan senyum.

AAAAAAAAAAA IMUUUUUUUUT!

Rasa seneng karena disapa sama anak-anak kecil ini 1000x lebih gede daripada disapa cowok ganteng. Bener deh. Ampuh banget. Langsung seger. Gue ngerasa candu buat dipanggil "kak dewi ~". Candunya melebihi candu nasi padang yang biasanya sukses bikin gue mupeng selama pelajaran. Aih.

Dengan segala hal positif di kontrakan ini beserta penghuninya yang super lovable, gue makin enggan untuk pindah.

Tapi ada isu yang cukup bikin gempar, katanya kontrakan ini mau dijual...... #hening Sedih. Banget. Belom pasti sih. Tapi ada kemungkinannya.

We'll see later :|

Doain semoga kita ngga usah pindah kontrakan ya ~ Sekian. Sampai ketemu lagi.

*sebenernya mau nyeritain secara rinci tentang tiap penghuni kontrakan dan aktivitas-aktivitas bodoh kita yang entah bagaimana tetap menyenangkan. Tapi nanti postingan gue panjangnya bakalan bisa menyaingi skripsi. Jadi gue urungin niatnya. Kapan-kapan deh. Dalam bentuk novel mungkin? wkwk :p